ceritanet situs karya tulis - edisi 290, april 2019                                             Facebook    Twittwr    Instagram
 sampul     sajak      laporan     cerpen    novel      memoar     catatan      foto     edisi lalu     kirim tulisan     tentang ceritanet      mailing list

komentar Mereka-reka para pemain utama di Pilpres 2024
Liston P Siregar

Baiklah, semua orang sudah memamerkan ujung kelingking yang tercelup tinta biru di berbagai media sosial sebagai bukti sudah melaksanakan tugas mulia sebagai warga negara yang bertanggung-jawab. Beberapa yang lain mau menunjukkan posisinya yang agak lebih tinggi, dengan foto sedang atau usai melaksanakan tugas sebagai anggota tim pelaksana pemungutan suara di TPS. Tak sedikit pula yang tetap berani tak bergeming kena gertak, memajang gambar kelima jari yang sama sekali bersih tinda dengan kutipan 'Saya Golput'.

Setelah itu?

Sama seperti pemilihan presiden 2014 lalu, capres Prabowo Subianto sudah merayakan atau menyatakan kemenangan sementara hitung cepat dari berbagai lembaga jajak malah mencatat kemenangan untuk Joko Widodo, yang masih belum menanggapi hasil hitung cepat. Sejumlah pendukung Prabowo juga sudah menyatakan terjadi kecurangan saat pemberian suara dan penghitungan suara, konsisten dengan pesan-pesan pada masa kampanye: dizalimi penguasa. Hampir dipastikan pula akan ada gugatan ke Mahkamah Kontitusi, seperti tahun 2014 -yang sempat membuat seorang saksi dari kubu Prabowo, Novela Nawipa, menjadi terkenal- namun MK akhirnya menolak semua gugatan kubu Prabowo-Hatta.

Hampir pasti pula, gugatan ke MK tidak akan menghambat Jokowi kembali berkuasa untuk masa jabatan kedua -TNI sudah menyatakan tidak akan mentolerir 'aksi inskonstitusionil' sebagai tanggapan atas ancaman 'people power' dari Amien Rais- dan di sinilah ada salah satu harapan yang berbeda. Karena tak perlu lagi investasi politik untuk masa jabatan berikut, semoga Jokowi lebih berani menanggapi kasus-kasus pelanggaran HAM, intoleransi, dan juga tidak sibuk urusan pencitraan dengan foto-foto atau naik motor, namun kembali sepenuhnya ke seruan awalnya dulu: 'bekerja' dan 'revolusi mental'.

Yang juga berbeda, Jokowi tampaknya tak terikat lagi pada PDI-P, persisnya Megawati Soekarnoputri. Usai pencoblosan, Jokowi tidak langsung sowan ke rumah Ketua Umum PDI-P itu, seperti saat Pilpres 2014 lalu. Dan PDI-P tidak bisa lagi mengklaim 'presiden sebagai petugas partai' tapi sekedar salah satu partai pendukung Jokowi. Dan karena didukung secara keroyokan, susunan kabinet mungkin akan langsung mencerminkan 'politik dagang sapi', tidak seperti 2014 yang awalnya masih pura-pura terdiri oleh para menteri yang bukan orang partai.

Tapi dengan Jokowi yang sudah akan hilang dari Pilpres 2024 -tidak mungkin rasanya konstitusi diubah untuk membuka masa jabatan presiden lebih dari dua kali berurutan- maka siapa yang kiranya para pemain berikut. Prabowo, yang sudah gagal dua kali sebagai capres dan satu kali sebagai cawapres, mungkin saja masih berambisi namun akan amat berat untuk mendapat dukungan seperti sekarang.

Walau masih ada lima tahun lagi, bisa direka-reka para pemain utama politik mendatang adalah:

1. Sandiaga Uno
Pengusaha muda ini pastilah akan berupaya menjaga momentum sebagai pemain penting dalam pentas politik nasional dan Partai Gerindra sepertinya juga tidak keberatan untuk memberikan platform politik baginya. Ada yang berpendapat bahwa Prabowo sebenarnya tak yakin bisa menang dalam Pilpres 2019 namun dia berharap pencalonannya bisa mengangkat perolehan suara partai bentukannya itu (dari 11.81% atau urutan ketiga setelah PDI-P dan Golkar pada pemilihan parlemen 2014). Dan jika kelak Gerindra berhasil mengantar Sandiaga ke Istana Negara, Prabowo setidaknya masih berperan sebagai 'mentor presiden'.

2. Agus Harimurti Yudhoyono
Kalau Sandiaga, bagaimanapun masih harus perlu mendekati Gerindra, maka putra mantan Presiden SBY ini pasti akan mendapat dukungan penuh dari Partai Demokrat, dengan jabatan Ketua Umum tinggal soal waktu saja. Namun masih jadi pertanyaan seberapa besar perolehan Partai Demokrat kali ini (10.19% pada tahun 2014, anjlok dari 20.85% tahun 2009) karena ketidak-jelasan sikapnya -tak mendukung Jokowi juga tak sepenuh hati mendukung Prabowo. Memang bisa jadi sikap 'tak jelas' bisa mengantar AHY mendapat kursi menteri, yang membuatnya punya landasan untuk memperkuat posisi di 2024 nanti. Yang jelas, AHY diarahkan bapaknya untuk menjadi presiden, dan segala cara dan akal tampaknya akan ditempuh. 

3. Puan Maharani
Melemahnya pengaruh PDI-P atas Jokowi membuka kemungkinan Puan Maharani tidak lagi masuk kabinet dan dengan kapabilitasnya yang biasa-biasa saja, kemungkinan besar putri Megawati Soekarnoputri ini tersingkir dari barisan elite politik Indonesia. Mungkin keraguan akan Puan juga yang membuat Megawati mengaktifkan putranya, Prananda Prabowo -yang sebelumnya tak banyak terdengar- sebagai petugas partai. Generasi ketiga Bung Karno lainnya, Puti Guntur Sukarno, ternyata tak mampu mendongkrak perolehan suara Saifullah Yusuf dalam pemilihan gubernur Jatim tahun lalu. Bisa jadi, pemilihan presiden dan parlemen 2019 ini menjadi awal dari berakhirnya dinasti Bung Karno, apalagi jika perolehan PDI-P turun, dari yang terbesar pada 2014 dengan 18,95% suara. Sudah hampir pasti pula Megawati bakal mundur dari jabatan Ketua Umum PDI-P, dan akan mengagetkan jika Puan Maharani yang meneruskannya.

4. Ahok (Basuki Tjahaja Purnama)
Pasti banyak orang yang mengharapkan Ahok menjadi salah satu capres 2024, tapi sama banyaknya pula -atau bahkan lebih banyak lagi- yang akan berupaya setengah mati untuk mencegahnya menang. Sepertinya untuk 2024 nanti sekalipun, Ahok masih terlalu cepat untuk maju menjadi calon presiden, bukan karena etnis Cina saja tapi juga karakternya yang langsung sikat, walau untuk hal yang benar, masih sulit diterima mayoritas pemilih. Videonya yang menegur petugas TPS di Osaka, Jepang, menyebar cepat dan sebagian senang melihatnya tetap menyuarakan kebenaran tanpa basa-basi, sebagian lain berkomentar, 'ya masih marah-marah terus'. Peluang Ahok mungkin baru terbuka, jika dia mau -dan bisa- berpasangan dengan Rizieq Shihab sebagai cawapres -di panggung politik semua kemungkinan terbuka, seperti Jokowi yang ternyata bisa berpasangan dengan Ma'ruf Amin atau Prabowo Subianto, yang didukung partai Islam, PKS. Jadi siapa tahu?

5. Ridwan Kamil
Ridwan Kamil berpeluang mengikuti jejak Jokowi, mulai dari walikota dan naik ke gubernur sebelum menjadi presiden. Sama seperti Jokowi, Kang Emil juga populer di kalangan kelas menengah berpendidikan dengan program kerja yang langsung terasa oleh kelas menengah itu. Dia juga mendapat dukungan dari partai Islam maupun partai nasionalis saat terpilih sebagai gubernur maupun walikota, jadi tampaknya tak sulit baginya untuk menggalang dukungan partai politik guna memenuhi kuorum 20% kursi DPR atau 25% suara- walau masih perlu mengangkat profilnya di luar Jawa Barat dan Jakarta. Bagaimanapun mantan arsitek yang cerdas ini, pada tahun 2024 nanti sudah akan menjadi politikus kawakan.

6. Tri Rismaharini
Walikota perempuan pertama di Surabaya ini juga dikenal sampai ke luar Jawa Timur, dengan keberaniannya melawan yang salah dan juga kesiapannya untuk turun tangan langsung membereskan masalah. Namun sepertinya panggung politik nasional -yang bisa sadis- belum menjadi perhatiannya dan waktu lima tahun masih terlalu cepat baginya meroket sebagai calon presiden, apalagi mentor utamanya, Megawati Soekarnoputri, mungkin sudah tak berperan kuat lagi dalam politik masa depan.

7. Anies Baswedan
Keberhasilannya -atau sebenarnya keberhasilan partai pendukungnya- mengalahkan tokoh terkenal Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 -dengan memainkan kartu Islam- bisa jadi akan menggoda partai-partai tertentu untuk mengulang formula 'pemilih Islami' yang sama di tingkat nasional walau sepertinya tak terlalu berhasil di Pilpres 2019. Jelas terlalu dini jika dia langsung diterjunkan di Pilpres 2019, tapi masih ada waktu lima tahun lagi baginya untuk meningkatkan profil politiknya di tingkat nasional. Walau popularitasnya menurun di kalangan kelas menengah berpendidikan akibat 'taktik' kemenangannya di Pilkada 2017 lalu, peluang untuk merebut kembali dukungan itu tetap terbuka.

Ketujuh pemain utama di Pilpres 2024 jelas membutuhkan dukungan partai politik, yang sebenarnya lebih berperan, karena UU menetapkan ambang batas 20% kursi di DPR atau 25% suara nasional untuk penetapan calon presiden. Artinya, sepopuler apapun seseorang, tetap perlu dukungan partai utama atau koalisi sejumlah partai kecil, dan hanya Jokowi -saat Pilpres 2019 ini- yang tak perlu mendekati partai politik tapi justru didekati partai politik, antara lain untuk menjamin kursi menteri bagi kadernya dan juga mendongkrak perolehan suara partai di pemilihan parlemen.

Jadi 'kartel' partai politik yang masih akan berperan, dan dengan 'beresnya' urusan Pilpres, maka perhatian beralih ke perolehan suara partai.
***

Tulisan lain

Surat Kepada H.B. Jassin 6 - Chairil Anwar

Berkshire

Kiri Kanan Tak Oke, Jangan Mau Digertak - Liston P Siregar

Surat Kepada H.B. Jassin 5 - Chairil Anwar

Oxford

Sudah Pura-pura, Terlambat Lagi - Liston P Siregar

Surat Kepada H.B. Jassin 4 - Chairil Anwar

Brighton

Kisanak Ging, Yang Ku (dan Banyak Orang) Kenang - Liston P Siregar

Santa Klaus Tak Singgah di Rumah - Sanie B Kuncoro

Surat Kepada H.B. Jassin 3 - Chairil Anwar

Cambridge

Makan Seisi Hutan - Liston P Siregar

Surat Kepada H.B. Jassin 2 - Chairil Anwar

London

Ibuku Dalam Kenangan - Sanie B Kuncoro

Surat Kepada H.B. Jassin 1 - Chairil Anwar

Herne Bay

Dari Ibu Aku Belajar Mencintai - Woro Wahyuningtyas

Kepada Peminta-Minta - Chairil Anwar

Somme

Mirat Muda, Chairil Muda - Chairil Anwar

Warung Kopi - Jajang Kawentar

London

Buat Gadis Rasid - Chairil Anwar

Menegaskan ibadah orang Bali - Liston P Siregar

Ubud

©listonpsiregar2000