ceritanet situs karya tulis - edisi 287, desember 2018/januari 2019                                             Facebook    Twittwr    Instagram
 sampul     sajak      laporan     cerpen    novel      memoar     catatan      foto     edisi lalu     kirim tulisan     tentang ceritanet      mailing list

memoar Kisanak Ging, Yang Ku (dan Banyak Orang ) Kenang
Liston P Siregar

Malam pada hari  Ging Ginanjar wafat, ada media online yang meminta saya untuk menulis obituari. Mereka tahu saya pernah bekerja sekantor dengan Ging namun juga sudah berteman lama sebelum jadi rekan kerja. Ingin saya iyakan, namun yakin sekali kalau obituari itu akan jadi amat personal, jadi –saya yakin- tak layak dimuat di media massa dan lebih cocok untuk blog yang dibaca sesama kawan saja.

Tapi saya bayangkan, jika situasinya dibalik, maka kemungkinan besar Ging akan bersedia menulis obituari saya, karena Ging berani untuk menerobos batas-batas lumrah, tembok-tembok prosedur standard, atau garis-garis wajar. Ging berani dan juga kreatif.

Sekitar 15 tahun lalu, ketika ceritanet menerbitkan buku Keping Kenangan, Kumpulan Memoar Orang Biasa, pilihan potongan kisah hidup yang ditulisnya istimewa: tentang masa kecil yang berupaya memenuhi rasa ingin tahu tentang seks. Setelah bukunya  terbit, ada beberapa kawan yang mempertanyakan kelayakan kisah itu, tapi saya malah bangga bisa memberi  ruang kepada Ging, yang sepenuhnya jujur saat mengenang masa kecilnya.

Jelas kehidupan anak kecil bukan cuma main layang-layang, mandi di got, memanjat pohon jambu, ke sekolah, sembahyang di langgar atau berdoa di sekolah minggu, maupun bikin PR. Benak dan perilaku anak kecil tak terbatas, termasuk rasa ingin tahu terkait seksualitas –walau memang bisa ditekan oleh norma sosial sehingga ada yang harus ditutupi- dan Ging mengungkap seadanya walau tidak biasa. Dia memang selalu berani melawan arus secara alamiah, bukan dibuat-buat.

Begitulah karakter hakiki Kisanak -salah satu gayanya saat menyapa- Ging, yang meninggal dunia pada usia 54 tahun, Minggu 20 Januari 2019 di Jakarta.
***

Sekitar tahun 1990-an, saya masih jadi reporter ingusan di Tempo dan mendapat penugasan rubrik seni tentang penari topeng Cirebon yang akan mentas ke Eropa. Ibu penari itu, saya lupa namanya, amat terkenal di kalangan seni tari topeng Cirebon namun seni masih merupakan ruang yang amat asing buat saya. Cilakanya di Tempo, waktu itu, reporter harus mampu meliput apapun dan kalau tidak tahu, maka belajarlah kau. Dan penugasan itu tergolong yang berat: tari saja saya tidak paham apalagi tari topeng Cirebon. Matilah awak!

Untunglah di tempat persiapan di kawasan Jakarta Selatan, ada sepasang anak muda yang sabar sekali menjelaskan tari  topeng Cirebon, yang bukan amat menolong saat wawancara, juga ketika menulis laporannya belakangan. Keduanya, Mas Ging Ginanjar dan Mbak Lea Pamungkas, berjanji pula kelak akan mengirim foto-foto. Kami sempat ngobrol lepas sebentar dan berjanji akan terus menjalin kontak. Sarana komunikasi masa itu yang tak semudah sekarang, ditambah ternyata tak ada alasan yang amat kuat dari kedua belah pihak- membuat kontak non-kerja itu tidak pernah terjalin.

Bulan Juni 1994, ketika rezim Soeharto membredel Tempo, Editor, dan Detik, saya ikut meramaikan unjuk rasa di Gondangdia, Jakarta Pusat, dan tiba-tiba, pundak saya ditepuk lembut dari belakang. Rupanya 'Mas Ging' yang selain pegiat seni ternyata juga koresponden Tabloid Detik di Bandung. Masa-masa itu pulalah, beberapa wartawan memutuskan berkumpul rutin setiap malam -yang merupakan kontak pertama saya dalam perjuangan demokrasi- yang menjadi cikal bakal Aliansi Jurnalis Independen AJI. Dan jika Ging datang -bukan Mas Ging lagi- pasti dia bersama Lea -juga sudah bukan Mbak Lea lagi. Pasangan asyik itu - sama dengan yang lainnya- sudah menjadi kamerad-kamerad.

Di AJI –sebelum dan setelah resmi berdiri- saya bisalah dibilang masuk kubu Ging. Waktu itu ada beragam jenis wartawan yang bergabung dalam cikal bakal AJI, antara lain kelompok pegiat, kelompok politisi, kelompok pragmatis, dan kelompok wartawan naïf yang sok-sok ikut berjuang -seperti saya- maupun kelompok penggembira yang ‘okelah asal kumpul-kumpul’. Keragaman itu membuat rapat-rapat malam di AJI selalu panjang dan bertele-tele karena semuanya anak-anak muda yang punya banyak energi dan gagasan, plus keras kepala pula. Soal pemilihan satu kata untuk pernyataan pers saja perlu perdebatan serius dari berbagai aspek, biarpun tak bakal dimuat di media-media nasional selain kantor berita asing.

Saya rasanya cocok, antara lain dengan Ging, Item, Heru, dan Hasudungan, yang langsung-langsung saja tanpa harus rumit mikir sana-sini. Ada yang mau disampaikan atau dicapai maka mari dikerjakan dan kalaupun ada risiko maka itu sudah jadi bagian melekat . Ging, Item, Heru , dan Has juga lucu, bukan seperti mendiang Ahmad Taufik atau Opik dan Dadang maupun Roy yang maunya kami semua langsung ‘berjihad’ unjuk rasa di depan Istana Negara memekik ‘Suharto turun’, atau Santoso dan Stanley yang serius dan hati-hati, maupun Ati dan Titi yang ngayomi, sedangkan Yudha dan Satrio selalu njelimet mengkaitkan semua hal dengan politik koran tempat kerjanya atau bahkan politik tingkat nasional.

Sekarang saja masih bisa terbayangkan dengan mudah rapat-rapat AJI di flat Tanah Abang yang rumit, repot,  bising, heboh, dan panjang lebar.

Buat anak baru seperti saya di medan perjuangan, maka Ging, Item, Heru, dan Hasudungan jadi semacam penyemangat bahwa melawan rezim otoriter tak selalu harus was-was, cemas, dan curiga. Walau rasanya kami semua sadar sepenuhnya bakal kelak digrebek dan bakal ada yang masuk penjara,  bukan berarti tak boleh ketawa-ketawa. Dan belakangan makin cocok lagi karena kami sama-sama doyan bir.

Jelas bukan cuma lucu dan bir yang belakangan membuat saya terus menjalin kontak rutin dengan Ging - yang punya amat banyak teman dekat- ketika saya sudah tinggal di London sementara dia pindah dari Jakarta, ke Jerman, dan Belgia. Keberaniannya untuk menjadi tidak biasa adalah satu alasan lain yang tak kalah kuatnya, ketika di Indonesia -pada era Soeharto- menjadi tidak biasa saja bisa membuat orang dikucilkan, dibuli, tidak mendapat kerja, dipenjara (belakangan mendiang Opik, Item, dan Danang, yang ditangkap dan masuk penjara), diculik, atau bahkan hilang.

Ging juga berani menantang orang-orang yang munafik –yang di zaman Orde Baru justru banyak yang berkuasa- dan secara terus terang serta keras mengungkapkan pandangannya. Alasan lainnya, dia suka membela kaum yang lemah, yang tersingkirkan, atau minoritas yang tertekan, maupun sekedar orang lugu yang pemalu. Dalam banyak hal, Ging menjadi semacam juru bicara untuk pandangan-pandangan saya, yang saat itu memang belum terbiasa memekik keras berhubung bergabung ke dalam perjuangan demokrasi karena cuma emosi semata: mimpi lama jadi wartawan yang sudah terwujud malah dimusnahkan dengan amat mudah oleh Soeharto.

Di grup email AJI –masa ketika grup WA belum ada- Ging yang sudah pindah ke Jerman dan Brussels, misalnya, sering mengingatkan supaya wartawan dan media tidak begitu saja takut sama gertakan FPI dan kelompok-kelompok konservatif lain.  Dia juga yang mengkampanyekan militansi wartawan dalam liputan peristiwa-peristiwa tentang Papua, Aceh, dan isu-isu HAM lain dengan mengutip arti militansi sebagai ‘ketangguhan dalam berjuang’, walau sempat juga memicu kontroversi karena ada yang menganggapnya cuma berani memanas-manasi dari jauh tanpa harus ikut menanggung risiko.

Saya yakin sama sekali bukan memanas-manasi tapi begitulah Ging: lantang mengungkapkan keyakinannya.
***

Sekitar awal 2014, tidak biasa dia menelepon karena biasanya cuma beremail saja. Rupanya dia mau melamar untuk posisi produser BBC Indonesia di Jakarta, sekaligus ada pula peluang pasangan tetapnya saat itu, yang asal Prancis, untuk mendapat pekerjaan di Indonesia.  Saya dengar-dengar dia memang pingin pulang ke Indonesia –setelah setahun sebelumnya sempat ikut jadi tim sukses Rieke Diah Pitaloka/Teten Masduki di Pilgub Jabar. Walau sibuk menjadi koresponden beberapa media Indonesia untuk Belgia, termasuk Tempo, dia sepertinya tak terlalu betah berada jauh dari aksi-aksi di lapangan. Seorang kawan yang pernah amat dekat dengan dia di Belanda, menyebut 'Ging selalu perlu pentas, perlu khalayak' dan di Brussel -walau hidup tenang, nyaman, dan teratur dengan pasangannya dan seorang putra- tampaknya terlalu hening buatnya.

Karena saya tidak masuk tim seleksi, jadi sah-sah saja bagi untuk memberi saran saat menyusun lamaran, persiapan tes awal, dan belakangan semacam latihan kecil untuk wawancara setelah lolos tes tertulis. Dia diterima dan selama tiga bulan bekerja sambil latihan di London sebelum tugas tetap di Jakarta. Maka untuk pertama kalinya kami berdua bekerja sama di dunia jurnalis di media yang sama, selain di majalah perjuangan berani mati, Independen, pada masa-masa AJI dulu.

Selama tiga bulan di London, saya terpukau dengan kehandalannya sebagai presenter radio. Dia punya aura yang kuat, suaranya juga bagus dan jelas, dengan pengucapan lafal yang terang, serta intonasi yang terasa. Dan karena berani untuk tidak biasa maka tidak ragu-ragu pula dengan pertanyaan singkat dan telak, jadi bukan seperti kebanyakan presenter yang suka berpanjang-panjang saat bertanya agar berkesan ‘pintar’. Berita internasional yang kalau saya baca terdengar datar-datar saja karena ‘konten penting dan serius’, jadi amat berbeda jika dibaca Ging, yang memainkan intonasi dengan tepat dan warna suara yang renyah.

Dia adalah bukti presenter yang berkarakter. Pernah terbayang kami menjadi duet kerja yang hebat: saya sebagai produser yang suka persiapan dengan kehati-hatian dalam memilih sumber demi keseimbangan maupun menentukan peristiwa yang akan diliput dan angle-nya sementara Ging menghidupkannya menjadi siaran yang meriah, nakal, dan sekaligus bisa juga jenaka. Dan saya yakin bukan hanya di radio, tapi juga untuk siaran TV karena Ging adalah pria yang tampan dan tinggi pula –terbukti dengan pacarnya yang amat banyak.

Cilakanya saya ternyata cuma pegawai ‘penakut’ sehingga bayang-bayang itu tak pernah ke luar dari benak saya, yang tetap bekerja sebagai presenter ‘sok serius’ di London sementara Ging malah menjadi produser yang penuh semangat turun ke lapangan. Jika ada liputan, dia tak terlalu pusing dengan kesepakatan rapat redaksi yang sudah mereka-reka angle tertentu. Semangat pejuang dan senimannya sepertinya lebih mengemuka dengan mengamati hal yang nyata dan mengolah langsung hal yang nyata itu pula.

Turun langsung ke medan liputan, juga membuat dia seperti 'ikan yang kembali masuk ke kolam’: bukan hanya menjalin kontak kembali dengan kawan-kawan seperjuangan dulu, juga berkenalan dengan anak-anak muda tanpa menjaga jarak. Dan di grup WA AJI, sama seperti di grup email jaman dulu, dia masih saja punya banyak energi untuk berdebat atau bersepakat dengan wartawan-wartawan muda, yang kalau menurut saya tak perlu capek-capek kalilah. Tapi bagi Ging, itu semua adalah bagian dari sebuah perjuangan demi keragaman dan kesetaraan, yang di Indonesia hingga sekarang masih belum saatnya dihentikan.

“Biar kaum-kaum sempit pandangan tak merasa benar terus,” begitulah kira-kira jawabannya ketika saya pernah menulis pesan ‘apa perlu kau tanggapi si A yang kolot itu’. Dia agaknya mendapat kembali panggung dan khalayaknya.

Suatu kali, kantor YLBHI dikepung sekelompok orang yang menentang diskusi tentang PKI dan sekitar 100 orang terkurung di dalam sampai selepas tengah malam. Kami di London sudah berupaya menghubungi para pegiat dan peserta diskusi yang dikepung namun tak berhasil. Foto-foto untuk berita online juga belum ada, karena jelas tak bisa mencaplok begitu saja foto dari media lain. Meminta kawan di Jakarta untuk meliput rasanya tidak enak karena mereka sudah kerja seharian. Kamipun hanya bisa terus mencoba menelepon.

Tiba-tiba masuk pesan WA dari Ging –yang sudah naik pangkat jadi Desk Editor di Jakarta- bahwa dia ternyata sedang berada di sana. 'Haleluya' kadang celutuknya kalau lagi senang. Maka laporan utama siaran subuh itupun beres: ada suara para pengunjuk rasa, pegiat HAM yang meggelar diskusi, dan aparat polisi, plus foto-foto untuk berita internet. Saya membayangkan dia mendapat info dari jaringan pejuangnya dan langsung meluncur, dengan semangat perjuangannya.

Kebanyakan editor, rasanya termasuk saya, besar kemungkinan akan menimbang-nimbang dulu reporter mana yang akan ditugaskan, dan kemudian ‘berkoordinasi’ dengan reporter peliput yang terpilih, entah itu tentang angle liputan, pertanyaan yang layak untuk masing-masing kubu, sambil mengingatkan standar keselamatan meliput aksi massa, serta meyakinkan satu hari ekstra untuk istirahat. Bukan karena malas –karena editor juga pingin ke lapangan- tapi begitulah biasanya.

Namun pada saat itu –dan dalam beberapa liputan lain- instink jurnalis dan pejuang Ging yang langsung terpicu dan lebih mengemuka dibanding jabatannya. Urusannya memang jadi bukan 'biasanya' tapi 'hasilnya'.
***

Kisanak Ging, rasanya memang bukan editor yang rapi tapi lebih banyak sebagai orang lapangan handal yang berdedikasi sepenuh hati, jiwa, dan raga. Dia adalah pejuang dengan kobaran semangat tinggi walau -mungkin sejalan dengan bertambahnya usia- tenaganya tidak sebanyak dulu lagi. Dia pernah mengeluh sakit pinggang sewaktu di London dan karena saya –yang seusia- juga pernah menderita sakit serupa dan bisalah dikatakan sembuh karena rutin berenang, maka saya yakinkan 'terapi air' itu kepadanya.

Rupanya Kisanak Ging tak bisa berenang, dan masih belum putus asa saya tegaskan bahwa di London tak perlu ada rasa malu untuk belajar berenang walau sudah mencapai usia paruh baya sekalipun. Soalnya saya saksikan sendiri beberapa pria dan perempuan yang sudah beruban yang belajar renang di jalur pelan di kolam renang rutin saya. “Nanti cukup berenang gaya lonte atau gigolo,” saran saya lagi, merujuk perempuan dan pria yang berenang santai dengan kepala tetap di atas permukaan air. Kami tertawa dan sempat sepakat, namun tak pernah dilakukannya.

Keitka Pilkada 2018 lalu, saya bertugas di Jakarta dan sedikitnya dua kali dia minta izin istirahat karena, ‘badan tak enak’, ‘meriang’ atau di sekitar-sekitar situlah. Mungkin kebetulan dia merasa lebih ringan untuk istirahat karena saya bisa menutup tugas Desk Editor di Jakarta sehari-hari. Tak pernah kami bahas lebih lanjut soal ‘tak enak badan’ itu dan dia hanya perlu istirahat sehari lantas sudah merasa kuat lagi masuk kantor seperti biasa, mengemban tugas Desk Editor.

Penyebab kematiannya –yang disebut awalnya serangan jantung namun juga ada kemungkinan stroke batang otak- membuat saya mengenang-ngenang lagi ke belakang. Ada beberapa kali yang lain di pesan WA kalau dia tak masuk kantor atau pulang lebih cepat karena merasa kurang sehat –yang jelas bukan pula sakit pinggang- namun besoknya sudah balik kerja lagi. Akhir tahun lalu dia ikut perlatihan di Delhi India, dan rencananya akan berlanjut dengan tugas singkat di London -plus acara minum bir bareng- sekalian membesuk putranya, Luan, di Brussel. Tapi dia terpaksa pulang langsung dari Delhi berhubung sakit saat pelatihan yang menurut dokter karena ada masalah di usus, dan belakangan menjawab di WA, “Iya eh, ini gua mau periksa lagi di Jakarta.”

Belakangan agak perih kembali rasanya hati, karena ada rencana otopsi untuk memastikan penyebab kematiannya. Agaknya Kisanak Ging masih juga harus bekerja keras ketika sudah wafat sekalipun. Apapun penyebabnya, saya hanya bisa membayang-bayangkan saja karena sejak Agustus 2018 kami sudah tidak berkerja di departemen yang sama- beratnya beban dalam beberapa bulan terakhir masa hidupnya.

Di penghujung 2018 ada beberapa bencana besar di Indonesia yang jadi berita utama di media internasional: dua gempa di Lombok, satu gempa dan tsunami di Donggala dan kawasan Anyer, serta ada juga beberapa peristiwa kekerasan berwarna separatisme di Papua, yang layak jadi berita dunia. Sebagai Desk Editor BBC Indonesia di Jakarta, dia jelas mengemban tugas ujung tombak peliputan. Dia memang tidak langsung meliput ke lapangan, namun menjadi titik kunci dari keingintahuan berbagai program BBC News di London, dengan zona waktu tujuh jam di belakang Indonesia, sekaligus bertanggung jawab atas peliputan BBC Indonesia sendiri.

Seorang editor biasanya mengelola timnya dengan pembagian kerja yang merata namun karakter Ging lebih sebagai jurnalis lapangan dengan semangat pejuang yang hebat. Maka saya membayangkan dia, dengan nalurinya, siaga terus setiap saat, dari pagi waktu Indonesia sampai malam waktu London. Ada kalanya -yang jelas bukan sekali dua kali- dia kerja sampai tengah malam di kantor Jakarta karena meliput acara pada satu malam untuk disiarkan di radio dan diterbitkan di internet subuh itu juga. Waktu yang lain, dia kerja sampai malam mengedit laporan reporter atau koresponden dan kalau saya lihat messenger-nya masih menyala, saya sapa dan dibalas 'ini laporannya hancur'. Dia turun tangan langsung membereskannya, bukan, misalnya, mendelegasikan kepada editor harian.

Keaktifannya sehari-hari di sedikitnya tiga grup WA jurnalis –yang saya juga ikut- bisa pula menjadi petunjuk jelas bahwa dia belum meredakan semangatnya untuk berdebat, bersepakat, berbagi informasi, atau sekedar bercanda, pada waktu manapun. Kadang jika subuh-subuh dia masih berkomentar, saya japri, “baru pulang minum lu, kok masih belum tidur”. Pernah pula subuh-subuh dia mengirim WA ke London, menemukan satu salah ketik di satu laporan internet.

Terlintas dugaan kalau dia kerja amat berat dalam beberapa bulan atau sepanjang setahun terakhir: perpaduan antara naluri perjuangan, tekanan kuat di tengah persaingan media yang semakin ketat, dengan skala operasi liputan yang semakin besar, dan ditambah pula dengan bergabungnya jurnalis-jurnalis muda yang belum langsung masuk ke irama kerja dan standar baku editorial. Kombinasi itu mungkin tidak didukung lagi oleh energi seperti sekitar 20-an tahun lalu. Jadi amat mungkin semangat dan dedikasi yang berkobar-kobar itu yang mendorongnya untuk menyepelekan ‘meriang’, ‘tidak enak badan’, dan ‘lemas-lemas’ itu.

Tentu saya cuma membayang-bayangkan saja. Kenyataannya, saya menangis terisak-isak dipeluk istri dan putri di salah satu warung makan di kawasan London Bridge, Minggu 20 Januari 2019.
***       

Tulisan lain

Santa Klaus Tak Singgah di Rumah - Sanie B Kuncoro

Surat Kepada H.B. Jassin 3 - Chairil Anwar

Cambridge

Makan Seisi Hutan - Liston P Siregar

Surat Kepada H.B. Jassin 2 - Chairil Anwar

London

Ibuku Dalam Kenangan - Sanie B Kuncoro

Surat Kepada H.B. Jassin 1 - Chairil Anwar

Herne Bay

Dari Ibu Aku Belajar Mencintai - Woro Wahyuningtyas

Kepada Peminta-Minta - Chairil Anwar

Somme

Mirat Muda, Chairil Muda - Chairil Anwar

Warung Kopi - Jajang Kawentar

London

Buat Gadis Rasid - Chairil Anwar

Menegaskan ibadah orang Bali - Liston P Siregar

Ubud

Jangan REPLY ALL!! - Liston P Siregar

Puncak - Chairil Anwar

Lucerne

Saya Sie Yoe Lien, Dan Ini Bukan Fitnah - Linawati Sidarta

Persetujuan Dengan Bung Karno - Chairil Anwar

Kent

©listonpsiregar2000