ceritanet situs karya tulis - edisi 284, agustus 2018                                             Facebook    Twittwr    Instagram
 sampul     sajak      laporan     cerpen    novel      memoar     catatan      foto     edisi lalu     kirim tulisan     tentang ceritanet      mailing list

memoar Dari Ibu Aku Belajar Mencintai
Woro Wahyuningtyas

Namanya Endang Sumarni, cukup modern di jamannya. Nama yang indah, tentunya.

Lahir pada tahun 1947, dua tahun setelah proklamasi kemerdekaan RI. Dialah ibuku, orang yang sampai hari ini sering berdebat denganku. Tetapi jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, aku mengaguminya sebagai sosok perempuan yang kokoh pendirian.

Ibu lahir dari seorang perempuan yang tidak tamat SD. Padahal dia bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, karena nenekku lahir dari keluarga berada di jaman itu. Tetapi apalah daya, dia anak perempuan pertama. Jadi dia punya tugas untuk mengasuh adik-adiknya, sekaligus membantu ibunya dalam menjalankan perannya. Seluruh kakak dan adiknya lulus perguruan tinggi.

ibuWaktu menginjak umur remaja, ibu sudah dititipkan kepada buliknya (adik nenek) di Wonosari, Gunung Kidul, dan menuntut ilmu di SLTP. Salah satu alasan kenapa dia dititipkan agar bisa belajar dengan baik, karena ibunya (nenekku) adalah pedagang pasar yang sibuk. Sedangkan bapaknya (kakekku) adalah seorang aktivis gerakan partai politik jaman itu. Mungkin tidak mudah bagi ibu untuk hidup bersama bulik dan pakliknya (adiknya bapak). Menurut penuturan ibuku, beberapa kali dia dididik dengan cara yang 'kasar' untuk membuatnya disiplin. Alhasil, belum tuntas dia belajar sampai tingkat SLTP, pulanglah ia ke tanah kelahirannya di Klaten.

Dia pun melanjutkan sekolah sampai lulus tingkat SLTP.

Aktivitas kakek yang sibuk di partai dan juga gerakan seni di partai membuat ibu harus memilih untuk tidak melanjutkan sekolah, karena jika melanjutkan sekolah maka dia harus ikut keluarga lainnya. Akhirnya membantu nenek di pasar menjadi pilihan untuk terus membuat hidup berjalan dan menyokong perjuangan kakek.

Hampir setiap malam dia mendapati rumah untuk latihan kegiatan seni: karawitan, wayang orang, ketoprak dan jenis kesenian yang lain. Kakek memiliki seperangkat gamelan untuk menunjang proses latihan. Ibu juga sering bersama beberapa kelompok seni mengikuti latihan. Menurut penuturannya, dia menikmati kegiatan seni tersebut. 

Dalam setiap pergumulan dengan kakek dan nenekku, ibuku menjadi orang yang cukup keras karena sempat dididik dengan cara keras. Kegiatan ekonomi praktis ditopang oleh nenek dengan dibantu ibu, karena kakek konsentrasi pada perjuangan partai di kala itu. Kegiatan di partai menuntut kakek tidak terlalu konsentrasi pada kegiatan ekonomi keluarga dengan komitmennya pada perjuangan yang tidak perlu diragukan.

Kegiatan seni di rumah kala itu sempat terhenti karena gamelan yang dimiliki kakekku dijual. Alasannya sederhana, untuk dana perjuangan. Akhirnya kegiatan seni tidak lagi berjalan seramai biasanya.

Tibalah pada 1955, tahun ketika Pemilu dimenangkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Sebagai aktivis dan fungsionaris partai itu, kakek mendapat pekerjaan baru sebagai opsir pasar dan menjadi PNS, sementara kakak iparnya menjadi salah satu anggota DPRD di Kabupaten Klaten. Sedangkan kakak iparnya yang lain sebagai fungsionaris DPP partai dan Dewan Redaksi Harian Rakyat.

Walaupun PKI menang kala itu, aktivitas kakek tidak berkurang. Beliau masih sering bepergian untuk melakukan konsolidasi di desa dan daerah lain. Kehidupan ekonomi di rumah pun tetap ditopang oleh nenek yang dibantu ibuku.

Saat itu, adik ibu sedang berada di Semarang untuk menuntut ilmu setingkat SMEA. Kehidupan keluarga berjalan baik walaupun agak berat bagi nenekku dan ibuku. Tibalah ada masa yang dinamakan Gerakan 30 September 1965.

Itulah awal kehidupan yang sangat tidak menyenangkan bagi ibu dan nenek.

Mereka menyebutnya dengan 'geger' yang dalam bahasa Indonesia sering diberi arti sebagai kegiatan semacam 'perang'. Saat itu kondisi di desa sangat mencekam, orang hampir tidak pernah ke luar rumah. Jika tidak menyukai seseorang, maka akan mudah untuk menunjuk dan melaporkan, agar orang tersebut ditangkap. Tetap dalam konsolidasi partai, kekek sering tidak ada di rumah. Intimidasi sering diterima oleh ibu dan nenek.

Bahkan rumah kakak nenekku dibakar karena beliau adalah anggota DPRD dari PKI. Kakaknya itu hilang, besar kemungkinan dibunuh.
Kakekku sempat mengungsi selama beberapa bulan di desa tetangga, dan setiap harinya ibu datang untuk membawakan makanan untuknya, agar tidak merepotkan keluarga yang menerima dia. Dalam bayanganku, betapa menakutkan tugas yang diemban ibu, karena saat itu kakekku adalah salah satu orang yang dicari.

Tiba waktunya kakek pulang ke rumah, atas anjuran banyak orang -yang sampai saat ini ibuku kuat menduga bahwa itu adalah taktik untuk menangkap kakek. Beberapa saat setelah di rumah -ibu sudah tidak mampu mengingat berapa lama- kakek kemudian kembali pergi mencari tempat yang aman. Tetapi, makin lama ibu dan nenek menunggu, kakek tidak lagi pulang. Kabar dibunuhnya kakek didengar oleh nenek di pasar.

Nenek adalah seorang perempuan pemberani. Kepada seorang istri tentara dia mencoba menanyakan keberadaan kakek dan mendapat jawaban kurang lebih seperti ini: “Sudahlah, nak.

ibu Relakan dia pergi. Dia tidak akan pernah kembali”.

Nenek pun pulang, menerima kondisi itu. Tentu bukan hal mudah.
Dari penuturan ibu, nenek sering menjadi makin temperamental, sering marah-marah hanya karena persoalan kecil. Pun, saat suatu malam, ada gerombolan orang datang masuk dengan paksa. Istilah yang digunakan nenekku saat bercerita adalah 'grayak' -dalam bahasa Indonesia dekat dengan istilah rampok. Beberapa barang berharga warisan dari orang tuanya tidak luput dari jarahan mereka. Lekat dalam ingatanku saat nenek bercerita, ada sebuah kemarahan yang sangat.

Sebagai seorang anak yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Ibu mencari penghidupan di pasar dengan berjualan, kadang membantu orang yang kesulitan untuk menggadaikan barangnya. Hari-hari itu mereka berdua jalani dengan baik. Entah apa yang terjadi saat itu, tiba-tiba ibu ditangkap.
Cerita penangkapan yang sebenarnya sangat tidak masuk akal, tetapi toh semua kejadian di seputar tahun 1965-1967 menjadi masuk akal semua, bagi siapapun.

Ibu dalam usia senja

Tahun ini ibu berumur 68 tahun, dengan kondisi kesehatan mata yang sangat jauh berkurang. Ibu menderita low vision karena saraf matanya rusak sehingga praktis tidak bisa melihat dan hanya mengandalkan hapalannya atas kondisi rumah untuk tetap bisa beraktivitas. Tetapi, dalam kondisinya yang seperti itu, beliau tetap ingin melakukan pekerjaan domestik di rumah.

Di ulang tahunnya yang ke 68, kami anak-anak dan cucunya berkumpul, yang menjadi kebiasaan jika salah seorang dari keluarga berulang tahun. Tidak ada perayaan istimewa, kami hanya makan bersama dan yang menjadi bagian penting adalah berdoa bersama. 

Di antara beberapa pergumulan yang terjadi pada hari-hari ini adalah bahwa sudah sangat layak aku bersyukur kepada Tuhan, karena 68 tahun ibuku. Dalam setiap hal yang terjadi di antara kami -aku anak perempuannya dan dia seorang ibuku- pada hari ini aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk mengucapkan selamat ulang tahun dan mengusahakan selalu makan bersama dengannya.

Ibuku memang jauh dari sosok harapanku, sambil membandingkan dengan ibu-ibu yang lain tentunya, namun di sisi ini kembali aku merasa bersalah: merasa tidak adil karena membandingkannya dengan para ibu yang lain. Dan belakangan kusadari bahwa perasaan membandingkan sosok itu semata-mata justru ternyata karena aku yang belum mampu menerima kasih sayang ibuku dengan caranya. 

Aku adalah orang yang percaya bahwa setiap ibu mencintai anak-anaknya, dengan caranya masing-masing, yang pasti tidak sama satu dengan yang lain. Dalam keterbatasan ibuku saat ini, baik secara fisik maupun psikologis, rasanya aku harus tetap dan terus belajar untuk menerima kasih sayangnya dengan caranya.

Jika dalam keterbatasan itu ibu tidak mampu berubah, rasanya aku yang justru harus mengubah caraku untuk memandangnya, mencintainya dengan segala yang ada dalam dirinya.

Karena aku yakin, dia mencintaku. 

Ibu, dalam setiap fase dalam kehidupanmu, ada kehidupanku, dan hari ini aku bersyukur atas percakapan ringan kita tadi. Di penghujung hari, akhirnya aku harus kembali bersyukur bahwa engkau adalah ibuku. 
***

Selamat ulang tahun uti, dalam kesadaran dan keyakinanku, kita bisa belajar bersama-sama untuk bisa saling mengerti dan mencintai dengan cara kita masing-masing. Semoga doa-doamu tetap mengalir darimu untuk kami anak cucumu.

Tulisan lain

Kepada Peminta-Minta - Chairil Anwar

Somme

Ibuku Perempuan Perkasa - Eliakim Sitorus

Derai-derai Cemara - Chairil Anwar

Merapi

Kasih Mamak Sama Panjangnya - Liston P Siregar

Aku Berkisar Antara Mereka - Chairil Anwar

Sipirok

Mirat Muda, Chairil Muda - Chairil Anwar

Warung Kopi -Jajang Kawentar

London

Buat Gadis Rasid - Chairil Anwar

Menegaskan ibadah orang Bali - Liston P Siregar

Ubud

Jangan REPLY ALL!! - Liston P Siregar

Puncak - Chairil Anwar

Lucerne

Saya Sie Yoe Lien, Dan Ini Bukan Fitnah - Linawati Sidarta

Persetujuan Dengan Bung Karno - Chairil Anwar

Kent

Robert Mugabe dan Setya Novanto, beda-beda mirip - Liston P Siregar

Malam Di Pegunungan - Chairil Anwar

St Agnes

Mereka-reka Pemerintahan Jokowi Mendatang, Kesabaran Masyarakat Sipil Masih Perlu - Liston P Siregar

Sorga - Chairil Anwar

Labuhan Bajo

©listonpsiregar2000