ceritanet situs karya tulis - edisi 284, agustus 2018                                             Facebook    Twittwr    Instagram
 sampul     sajak      laporan     cerpen    novel      memoar     catatan      foto     edisi lalu     kirim tulisan     tentang ceritanet      mailing list

sajak Kepada Peminta-Minta
(Saduran oleh) Chairil Anwar

Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menhyerahkan diri dabn segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku

Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari luka
Sambil berjalan kau usap juga

Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Semabarang kau merebah

Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku

Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jagan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku

***

-. Juni 1943

Krawang-Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak 'Merdeka' dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang
         berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debut
Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan
arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang
berserakan

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan
kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami

Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Syahrir

Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan
impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
***

1948

Tulisan lain

Dari Ibu Aku Belajar Mencintai - Woro Wahyuningtyas

Somme

Ibuku Perempuan Perkasa - Eliakim Sitorus

Derai-derai Cemara - Chairil Anwar

Merapi

Kasih Mamak Sama Panjangnya - Liston P Siregar

Aku Berkisar Antara Mereka - Chairil Anwar

Sipirok

Mirat Muda, Chairil Muda - Chairil Anwar

Warung Kopi -Jajang Kawentar

London

Buat Gadis Rasid - Chairil Anwar

Menegaskan ibadah orang Bali - Liston P Siregar

Ubud

Jangan REPLY ALL!! - Liston P Siregar

Puncak - Chairil Anwar

Lucerne

Saya Sie Yoe Lien, Dan Ini Bukan Fitnah - Linawati Sidarta

Persetujuan Dengan Bung Karno - Chairil Anwar

Kent

Robert Mugabe dan Setya Novanto, beda-beda mirip - Liston P Siregar

Malam Di Pegunungan - Chairil Anwar

St Agnes

Mereka-reka Pemerintahan Jokowi Mendatang, Kesabaran Masyarakat Sipil Masih Perlu - Liston P Siregar

Sorga - Chairil Anwar

Labuhan Bajo

©listonpsiregar2000