ceritanet situs karya tulis - edisi 282, mei & juni 2018                                             Facebook    Twittwr    Instagram
 sampul     sajak      laporan     cerpen    novel      memoar     catatan      foto     edisi lalu     kirim tulisan     tentang ceritanet      mailing list

memoar Kasih Mamak Sama Panjangnya
Mengenang Gerda Riana Gultom : Makassar 6 Februari 1932 - Medan 19 Mei 2018

Liston P Siregar

Aku –di kalangan keluarga dekat- sering disebut anak kesayangan Bapak-Mamak. Kalau tante-tante atau adik Mamak –dia nomor dua tapi perempuan tertua dari tujuh bersaudara- merujukku sebagai siampudan, bahasa Batak untuk si bungsu. Maknanya bisa amat meluas. Salah satunya bisa menjadi entah seberapa tua pun aku, entah seberapa jauhnya pun aku merantau, entah seberapa seriusnya pun aku, maka bagi tante-tante itu, aku akan tetap –sekali lagi akan tetap- anak kecil yang kalau kakinya kena duri akan ngadu ke Mamak.

Mak, kakiku berdarah”,  misalnya.

Dan Mamak akan membersihkan dengan air hangat, melap, menaruh obat merah, dan menempelkan plester ke kaki siampudan. Habis itu diummaknya kepala si ampudan itu dan: “Lain kali hati-hatilah”.

Siampudan juga boleh nangis kalau diganggu kedua abangnya, boleh nangis kalau tidak dikasih abangnya ikut berkemah semalaman di depan rumah, boleh pula nangis ketika janji membeli View Master hanya tertunda sehari.

View Master, yang sekarang sudah musnah, adalah alat untuk melihat slide-slide pemandangan dunia yang populer tahun 1970-an. Dalam sebuah perjalanan ke Bandung dan menginap di rumah tulang, pertengahan 1970-an, aku -walau mungkin sudah SMP- menangis panjang karena janji untuk membeli View Master sore itu ditunda jadi besoknya. Aku tak dimarahi, hanya diminta diam. Cuma karena tidak mau diam, ya diabaikan saja.

Mamak
Gerda Riana Gultom dengan rutinitas pagi membaca Alkitab, Februari 2018.

Itu mungkin makna lain si ampudan:  tak usah dianggap serius. Si ampudan cuma anak kecil yang manja, yang kalau didiamkan tidak akan berarti apa-apa, tidak mengubah apa-apa, tidak akan menjadi apa-apa. Dia tidak akan melawan dengan melempar meja, atau lari ke luar rumah, atau  memekik marah. Senjatanya cuma nangis.

“Tak usah kalian perdulikan, nanti diam sendiri, “ begitulah aku masih ingat kata Mamak ke tulang-ku, yang sempat tergoda untuk pergi petang itu membeli View Master. Tapi mereka pun akhirnya terus ngobrol, kedua abangku terus nonton TV, dan aku terus menangis sampai diam sendiri, setelah capek dan sadar senjata nangisku, lagi-lagi, tidak berhasil.

Kedua abangku tidak pernah nangis, bahkan ketika Bapak meninggal aku memang melihat mereka banyak diam merenung tapi tidak menangis. Aku tak tahu kenapa.

Mungkin karena cara pembesaran mereka sebagai laki-laki Batak yang tegas dan tangguh berhasil meresap ke jiwa raganya. Sedangkan untuk si ampudan, mungkin, cara pembesaran itu tak perlu diterapkan.

“Dia kan si ampudan. Anak kecil”. Mungkin begitulah cara pikir Ompung boru –yang tinggal sama kami sampai dia meninggal dunia tahun 1983. Jadi aku -mungkin, karena soal ini tak pernah dibahas- bolehlah tak usahlah dididik terlalu keras.
***

Mamak
Gerda Riana Gultom dan dua dari lima cucunya, Juli 2017.

Di umur 50-an tahun aku yakin sebenarnya aku bukan anak kesayangan. Persisnya tidak pernah ada anak kesayangan di antara kami bertiga.

Punya dua anak -satu ucok 19 tahun dan satu butet 16 tahun- makin meyakinkan aku dan istriku –yang juga siampudan dari empat bersaudara- bahwa anak kesayangan cuma karakter buatan di novel picisan dan film cengeng Hollywood/Bollywood.

Karakter yang berbeda antara bayi yang satu dan bayi yang lain sejak detik dia lahir –cara lahirnya (sungsang atau tidak), nangisnya (keras atau cuma basa basi), bangun malamnya (dua kali atau lima kali semalam), menyusuinya (banyak atau sedikit)-- jelas ada. Mungkin –karena memang tidak akan pernah ada cetak biru panduan menjadi orang tua- beda karakter membuat orang tua punya pendekatan berbeda pula pada anak-anaknya.

Mamak –yang baru bercerita kepadaku setelah aku sudah tamat kuliah- bermimpi satwa yang berbeda menjelang kami bertiga lahir. Dua kali mimpi harimau dan satu kali mimpi lintah. Dia tafsirkan mimpi itu sebagai petunjuk langsung dari Tuhan bahwa:“dua anakmu akan mandiri dan satu lagi akan tergantung terus sama sama kau.”

Dan dia hidup dengan ‘petunjuk Tuhan’ itu.

Memang kalau aku ingat-ingat lagi dengan seksama, aku bisa menemukan rangkaian bukti bahwa  sepanjang hidupnya ‘petunjuk Tuhan’ itu tak bisa lepas dari pendekatannya atas kami bertiga. Jelas dikombinasikan juga dengan budaya Batak dan ilmu pendidikan modern –dia tamatan sekolah guru dan menjadi guru sampai pensiun- rasanya mimpinya tersebut berperan besar dan juga kok rasanya tercermin pula dalam kenyataan hidup kami bertiga –ya tentu dengan penafsiran tertentu.
***

Mamak
Gerda Riana Gultom (tengah), SD Immanuel Medan sekitar 1960-an.

Bekerja jauh di rantau ada saatnya –setelah tugas selesai- aku pulang sendiri ke rumah di Kampus USU, Medan, tanpa isteri dan anak. Kami berdua cakap-cakap di depan TV. Dia tidur larut malam tiap Jumat malam untuk nonton Kick Andy,  pas biasanya aku sampai rumah selepas kerja di Jakarta memanfaatkan libur akhir pekan dan terbang pulang ke London pada Minggu siangnya lewat Jakarta. Itu semacam rutinku kalau sedang pas ada tugas ke Indonesia.

Abang sulungku, Tumpal, yang tinggal tak jauh di Tanjung Morawa –sedang yang satu lagi Martin merantau ke Sanggau, Kalimantan Barat- biasanya nongol beberapa jam saja jika aku pulang ke Medan dan ziarah bersama ke kuburan Bapak. Selebihnya aku dan Mamak berdua saja.

Jadi banyak waktu kami berdua: duduk-duduk di teras rumah atas atau naik becak makan pangsit ke Selat Panjang, makan durian Bang Ucok di Pasar Pringgan. Ketika dia masih kuat, kami juga cakap-cakap sambil dipijatnya kepala, pundak, dan leherku. Aku duduk di lantai dan Mamak di kursi di depan TV yang nyala tapi tak terlalu ditonton.

"Keras kali badanmu ‘Ton,” komentarnya sekali waktu.
“Iya Mak, aku naik sepeda sama berenang,” jawabku agak senang –berguna juga rupanya olahraga rutin hampir tiap hari, pikirku.
“Baguslah. Badan harus terus bergerak biar sehat,” balasnya.

Untuk usia 84 tahun saat itu, Mamak tergolong sehat karena sejak kecil dulu sudah jadi orang sibuk yang tak bisa diam dan aktif di berbagai organisasi sosial dan gereja, juga rajin datang ke pesta kawin. Ya, memang dia tiap hari harus minum pil obat jantung, mengurangi gula, agak pekak, dan pakai tongkat, tapi pikirannya masih sepenuhnya berfungsi. Dia juga masih naik tangga sendiri sambil berpegangan ke pagar tangga setiap malam karena masih berkeras tidur di kamarnya di atas sampai akhir 2017. Jadi banyak yang mengakui dia sebenarnya tergolong amat sehat pada usianya.

Keberduaan kami amat menyenangkan, untuk mengingat masa kecil, membahas cucu-cucunya, mengenang Bapak, juga ngegosip tetangga, keluarga, termasuk marah panjang ke salah seorang menantunya –yang menurut hampir semua orang yang mengenalnya amat layak untuk diputus hubungan dan –dengan bangga- aku memproklamirkan diri pula masuk dalam kelompok tersebut.

Dalam salah satu kesempatan itu, aku sempat bertanya soal kami bertiga, dan dia menyebut lagi mimpi soal harimau dan lintah itu.

“Ada yang harus dapat perhatian lebih, dapat bantuan lebih. Kalian tiga itu lain-lain. Itunya,” jawabnya.
***

Mamak
Gerda Riana Gultom (kiri) bersama sahabatnya, Nyonya Sirait boru Nainggolan, Februari 2018.

Menjadi anak bungsu Bu Regar, panggilannya yang jauh lebih top dibanding nama resminya Nyonya Siregar-Gultom, tak terlalu enak.

Di kalangan murid-murid pada masa 1970-an akhir hingga 1980-an di Perguruan Kristen Immanuel Medan, tempatnya mengajar puluhan tahun, aku cuma ‘anak Bu Regar.’

Rasanya Liston cuma eksis di kawan-kawan seangkatan, sedang sisanya adalah : ‘anak Bu Regar’ -sebuah rujukan yang tidak terlalu banyak digunakan untuk kedua abangku.

Sering sekali, kalau bertemu dengan mantan seniorku di SMA, maka yang mengenalku akan menjelaskan kepada yang tidak mengenalku dengan: “Anaknya Bu Regar yang paling kecil.’ Maka “Oh” pun ke luar.

Pernah di Lapo Ni Tondongta di Senayan pada awal 1990-an, ketika masih kerja di Majalah Tempo- aku bertemu dengan dua senior yang dua tahun di atasku waktu di SMA. Aku kenal wajah keduanya jadi kudekati dan kukasih tahu namaku tapi keduanya cuma mangguk-mangguk seperti ‘ngak nyambung’. Tak enak mendapat tanggapan dingin maka kukeluarkanlah, “Aku anaknya Bu Regar.”

Keduanya pun lebih bersemangat, “Oh”. Salah satu kemudian menambahkan, “Adiknya Martin…” merujuk abang tengahku yang paling bergaul di antara kami bertiga.

Kedua abangku sepertinya diberi peluang untuk menjaga jarak dari Bu Regar biarpun sama sekali tidak bisa bebas total dari sosok Kepala Sekolah SD II Immanuel yang rapi, yang selalu pakai hak tinggi, yang bisa akrab dengan murid tapi tegas, yang disayang banyak orang tapi juga mungkin tak disukai beberapa murid dan orang tua murid karena disiplin dan berani berbicara terus terang.

Kalau Bapakku yang pendiam bisa jadi abu-abu, atau istilah zaman sekarang no-frill atau minimalis, sehingga bisa lewat begitu saja tak dianggap kebanyakan orang, maka Bu Regar rasanya tak mungkin tak melibatkan afeksi: suka atau tak suka. Dan aku tak tahu apakah ‘rasa’ dari orang-orang itu ke Mamak juga melekat ke aku juga atau tidak.

Mamak
Rutinitas pagi lainnya Gerda Riana Gultom, Februari 2018.

Tapi jelas dalam posisi siampudan, sulit kali rasanya aku bisa lepas dari sosok Bu Regar. Di kotak kumpulan foto lama di rumah kami, ada fotoku berdiri di depan murid-murid Mamak di depan kelas, seolah aku sedang ulang tahun. Pernah pula ada murid yang jauh di atasku yang mengingat aku dengan: “Dulu waktu kecil kau siang-siang masuk kelas kami minta peluk Bu Regar…” Waktu itu Mamak ngajar di kelas enam SD.

Memang ada masa-masa sampai kelas dua SD, ketika murid-murid sudah pulang jam 11.00 tapi karena Immanuel adalah sekolah ‘keluarga’ maka beberapa masih main di sekolah sampai jam 13.00. Mereka menunggu kakak dan abangnya untuk pulang bareng sedang aku nunggu Mamak dijemput Bapak naik Vespa-nya: Mamak digonceng di belakang dan aku berdiri di depan sedang kedua abangku numpang mobil keluarga dokter kaya yang punya mobil Land Rover Defender panjang yang tinggal dekat rumah.

Saat penantian, kalau sudah capek maka aku –tidak terlalu ingat jelas kali sebenarnya, tapi diperjelas dengan berbagai cerita orang-akan langsung saja berjalan masuk ke ruang kelas enam SD di ujung gedung dan mendapat kenyamanan dari Mamak. Kadang aku terus duduk di pojok di bawah papan tulis dan kadang –setelah mendapat pasokan energi pelukan Mamak- main lagi ke luar.

Samar-samar ada memang gambar yang agak kabur: aku memeluk salah satu kaki Mamak di depan banyak orang yang tersenyum-senyum.

Kedua abangku tidak pernah melakukannya.  Mungkin cara pembesaran atas mereka membuat bahwa ‘jangan ganggu Mamak’ kalau sedang mengajar sudah menjadi ‘default’ di benak mereka. Sudah otomatis.

Sedang aku ‘default’-nya: ‘siampudan yang ngadu ke Mamak kalau ada masalah.’
***

Selepas meliput pemilihan presiden 2014 di Papua dan beberapa kota Pulau Jawa, aku sempatkan lagi pulang ke Medan di salah satu akhir pekan.

Karena sudah jauh hari direncanakan, kami bertiga sempat pula mengatur untuk berkumpul di Medan. Martin dari Pontianak tiba pada hari yang sama denganku tapi pulang belakangan, sedang Tumpal berjanji akan lepas dari rutinitas akhir pekannya supaya kami bisa bereuni kecil.

Dua hari tak banyak yang kami lakukan.

Selain tak segesit dulu, pada usia 84 tahun, Mamak juga sudah tidak secerewet dulu lagi walau masih saja tetap ‘nenek lincah’ atau Neli -kata beberapa orang karena mau saja diajak jalan kemanapun.

Kami sempat ziarah ke kuburan Bapak, berkunjung ke rumah Amangboru Pane, yang sejak bebas dari penjara karena cap PKI pada tahun 1970-an akhir, menjadi teman cakap-cakap kami yang asyik. Juga makan BPK atau Babi Panggang Karo di Tessalonika –restoran BPK yang sekarang paling terkenal di Medan- maupun makan pangsit di Petisah.

Tak banyak hal penting yang kuingat dari cakap-cakap kami berempat. Mamak juga tak terlalu memperlihatkan emosinya, dia tak terlalu gembira tapi juga jelas tak sedih. Terkesan datar saja. Sulit rasanya menaksir-naksir perasaannya. Tapi mungkin dia memang sudah melepas kami menjadi orang-orang lain yang bukan miliknya lagi, yang tidak tergantung padanya lagi. Tiga pria yang sebenarnya tidak asing tapi sudah ‘menjauh.’

Dia memang masih kasih perintah-perintah: “Tum, kalau sudah ada waktumu kita urus rekening Tanrit,” atau: “Tin nanti kunci pintu belakang gantungkan di bawah jendela,” karena dia tidur di kamar yang terpisah dari rumah utama, maupun: “Ton, jangan lupa kau matikan lampu dapur nanti kalau selesai nonton”.

Jadi bukan lagi: “Jangan terlalu malam kau tidur.” Juga bukan: “Bereskan kamar tiap bangun pagi” atau “Kurangi rokokmu itu.”

Masih bernada perintah, tapi seperti ada jarak antara si pemberi perintah dan si pelaksana perintah. Aku merasakan ada ‘rasa’ yang menempatkan kami bertiga sebagai tiga unit yang berbeda dan berjarak dari unitnya.
***

TumTinTon
Liston, Tumpal, Martin.

Aku yang pulang pertama kali dari reuni kecil itu dan kedua abangku mengantar ke Bandara Kuala Namu. Mamak, tak biasanya, memutuskan tidak ikut.“Aku di rumah sajalah amang.” Dan kami berpelukan di depan rumah, aku menangis kecil dan bisa kusembunyikan.

Biasanya, kalau ada yang menemani maka dia ikut mengantarku ke Bandara Polonia, yang letaknya dekat dari rumah kami. Tapi waktu itu bandara sudah pindah ke Kuala Namu, sekitar 40 km dari Medan, dan dia sudah ikut menjemput Martin waktu tiba dari Pontianak.

Aku menduga dia mungkin sengaja membiarkan kami bertiga-tiga saja, biarpun tak ada hal serius yang akan kami bahas.

Setelah check in, kami bertiga ngobrol di warung kopi. Aku tergolong kolot untuk soal penerbangan dan memilih lebih cepat daripada terburu-buru. Jadi kami punya banyak waktu untuk cakap-cakap tanpa bentuk dan tanpa arah. Hanya soal operasi katarak mata Mamak saja yang kami bahas agak serius bahwa , mereka berdua akan mengawani Mamak ke dokter.

Selebihnya sana sini, termasuk soal Tumpal yang akan pensiun dan belum punya rencana jelas tapi kira-kira akan buka perusahaan konsultan. Juga ada cerita tentang kebun karet Martin, dan beberapa kenangan plus update tentang kawan-kawan yang kami kenal bersama.

Ceritaku tak banyak. “Siampudan mendengar sajalah, dan juga tak akan terlalu didengar,” pikirku tapi juga merasa sudah senang-senang saja kami bertiga bisa berkumpul lagi sejak sekitar 10 tahun lalu.

Saatnya masuk ke ruang tunggu, aku minta peluk mereka berdua,“Peluklah sikit,” kubilang.

Otomatis air mataku menetes, cukup banyak untuk tidak bisa lagi disembunyikan. Martin nyelutuk, “Kenapa kau nangis?”

Tak bisa kujawab. Giliran memeluk Tumpal, dia ketawa kecil sambil memukul pundakku, ”Sudah tenang kau, aman aman semuanya. Salam untuk Lisa, Juang dan Matta.”

Mereka sempat menungguku masuk ruang tunggu dan satu lambaian tangan lagi sebelum aku bergabung dengan gerombolan penumpang lain. Turun kembali ke dunia nyata, air mataku mengering cepat, dan akal mengambil alih kendali hati.

“Kasih Mamak sama panjangnya. Tapi mungkin yang satu lebih cengeng dari yang dua lagi," pikirku.
***

Catatan:
Siampudan = Anak bungsu.
Diummak = Dicium
Tulang = Adik pria ibu
Amangboru = Suami dari adik/kakak perempuan ayah.

Tulisan lain

Aku Berkisar Antara Mereka - Chairil Anwar

Sipirok

Mirat Muda, Chairil Muda - Chairil Anwar

Warung Kopi - Jajang Kawentar

London

Buat Gadis Rasid - Chairil Anwar

Menegaskan ibadah orang Bali - Liston P Siregar

Ubud

Jangan REPLY ALL!! - Liston P Siregar

Puncak - Chairil Anwar

Lucerne

Saya Sie Yoe Lien, Dan Ini Bukan Fitnah - Linawati Sidarta

Persetujuan Dengan Bung Karno - Chairil Anwar

Kent

Robert Mugabe dan Setya Novanto, beda-beda mirip - Liston P Siregar

Malam Di Pegunungan - Chairil Anwar

St Agnes

Mereka-reka Pemerintahan Jokowi Mendatang, Kesabaran Masyarakat Sipil Masih Perlu - Liston P Siregar

Sorga - Chairil Anwar

Labuhan Bajo

Pemberian Tahu - Chairil Anwar

Dartmoor

Mengibarkan Bendera Merah Putih - Sekelompok warga Indonesia

Ini (Jalanan) Medan Bung - Liston P Siregar

Dari Dia - Chairil Anwar

Medan

©listonpsiregar2000