ceritanet situs karya tulis - edisi 280, maret 2018                                             Facebook    Twittwr    Instagram
 sampul     sajak      laporan     cerpen    novel      memoar     catatan      foto     edisi lalu     kirim tulisan     tentang ceritanet      mailing list

laporan Menegaskan ibadah orang Bali
Liston P Siregar

Dibanding dengan banyak orang Jakarta yang belakangan ini sering ke Bali untuk sekedar berakhir pekan -begitulah yang terdengar- saya jelas tergolong naif dalam soal Bali. Terakhir kali, sebelum kunjungan Februari lalu, rasanya sekitar belasan tahun lalu kami sekeluarga liburan ke Bali dan lebih banyak bersantai di Ubud dengan hanya dua hari terakhir berkelana di sekitar Kuta. 

Walau tergolong naïf dan tinggal di seberang lautan sekitar 11.000 kilometer, saya yakin tetap ‘ngelokal’ saat liburan ke Bali, pada pertengahan Februari, ketika bekunya musim dingin Inggris masih menusuk ke tulang. Apa kata dunia kalau saya ternyata sama saja dengan turis Australia, Jepang, Amerika, dan Cina –rombongan turis baru, kata supir yang menjemput kami dari bandara. Jadi anak Medan harus lebih ‘ngelokal’ dari orang-orang asing itu walau tak ‘selokal’ orang-orang Jakarta yang menjadikan Bali sebagai vila akhir pekannya.

BaliTapi sebenarnya sama dengan kebanyakan orang yang mau berlibur ke Bali, maka sinar matahari, pantai pasir putih, dan Kecak langsung masuk ke benak saya. Juga sama dengan sebagian orang, bir Bintang dingin sudah terdengar memanggil-manggil ketika masih di dalam pesawat. 

Begitu ke luar dari bandara internasional Ngurah Rai, baru kemudian tersentak tentang Bali yang lain: ketaatan beragamanya. Sesajen kecil, canang sari, terlihat di mana-mana. Malu juga rasanya, sudah yakin ‘ngelokal’ tapi malah luput karakter utama orang Bali, pemilik Pulau Surga yang memeluk agama Hindu Bali, semacam sinkretisme Hindu dengan tradisi Bali. Dan jelas tak perlu jauh-jauh atau lama-lama untuk teringatkan kembali inti dari kehidupan di Bali tersebut. 

Orang Bali bukan cuma berdoa dan menaruh sesajen di sekitar rumah, warungnya, atau di salah satu sudut jembatan kecil. Yang banyak uang punya kuil kecil sendiri di rumahnya, juga ada pula kuil di banjar, dan kuil besar untuk upacara-upacara khusus.    

Di satu Sabtu pagi, di desa Penestanan, Ubud -tempat kami menginap di belakang rumah utama penduduk- saya dengan semangat tinggi dan sehat, memaksa bangun jam sekitar enam pagi. Pasang Spotify, hidupkan aplikasi Endomondo, buka pintu kecil secara perlahan-lahan karena di rumah utama keluarga Made tampak kehidupan di akhir pekan masih belum menggeliat.

Udara sejuk dan segar langsung ternikmati dan rencana menjelajahi bagian belakang desa Penestanan pun dimulai. Di salah satu lintasan di tengah pematang sawah ada patung untuk menaruh sesajen dan pagi itu sudah ada sesajen di sana. Jadi sudah ada orang Bali yang ternyata bangun lebih awal dari saya untuk berjalan menelusuri pematang sawah dan berdoa di patung kecil: langsung saja perasaan ssok sok hebat-hebat saya yang sebelumnya padam. 

Melewati patung itu, ada dua pilihan jalur: ke kiri dan ke kanan. Yang kanan menuju sebuah pusat yoga, jadi saya teruskan lari ke arah kiri sampai ada tulisan ‘Private House’. Bah, cemana pulak. Terlihat di ujung pematang ada satu rumah yang tampak biasa-biasa saja, tapi jadi amat mewah rasanya karena sendiri dikelilingi sawah hijau. Rumah yang tenang, yang percaya diri, yang bisa berjarak dari kehebohan dunia. Terpaksalah berbalik dan entah kenapa saya yakin rumah itu bukan milik orang Bali, atau mungkin rumah orang Bali yang disewakan ke orang asing.

Bali Pariwisata menjadi pendapatan utama di Bali -bagi pemerintah daerah maupun warga biasa- dan terus berkembang. Tahun 2017 -ketika letusan Gunung Agung September hingga November sempat mempengaruhi kedatangan wisatawan asing- tetap saja tercatat peningkatan turis sampai 15,62% dibanding setahun sebelumnya (Dinas Pariwisata Provinsi Bali). Sementara pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga 2017 di Bali, menurut Bank Indonesia, tercatat 6,22%,  naik dari 6,01% pada periode yang sama pada tahun sebelumnya.  Pertumbuhan itu lebih tinggi dari angka rata-rata nasional Indonesia yang hanya 5,06%. Memang catatan itu sebelum meletusnya Gunung Agung, yang diperkirakan berdampak pada kondisi ekonomi kulartal keempa 2017. Tapi artinya, tanpa faktor luar biasa berupa bencana alam itu, Bali terus menikmati pertumbuhan ekonomi.

Singkirkan angka-angka dan di sekitar Seminyak saja bisa terlihat pertumhuhan ekonomi, yang sayangnya -sama seperti di sejumlah tempat dunia lainnya- sejalan dengan kemacetan lalu lintas dan ruang terbuka yang semakin langka. Dengan pemasukan pariwisata terbesar berasal dari wisatawan asing, maka di kawasan-kawasan perkotaan, gampang sekali menemukan ‘gaya hidup global’ yang antara lain tercermin dengan Starbuck, KFC, Hard Rock Café, restoran Prancis, Italia, atau Yunani, dan bahkan menu Sunday Roast ala Inggris di pub Inggris. Di Jalan Raya Seminyak, misalnya, yang macet abis, tiba-tiba saya merasa berada di salah satu kawasan hipster atau anak muda trendi di Hackney, London timur.

BaliBenar bahwa pantai-pantainya masih indah dan bersih, juga ada masih ada sudut-sudut baru yang belum terlalu terkena ‘globalisasi’ seperti Canggu, yang dulu, katanya, terkenal sebatas bagi para pesilancar. Masih gampang pula ditemukan warung-warung makan Bali, yang sederhana tapi lezat. Tapi pada pertengahan Februari –yang bukan tergolong musim libur- saya menderita kemacetan lalui lintas, restoran yang padat, dan antrian panjang di salah satu toko cendera mata yang luasnya seperti gudang besar. Jelas tanda-tanda itu baik buat perekonomian lokal, jadi orang seperti saya yang cuma sok ‘ngelokal’ lebih baik tutup mulut saja karena tak punya hak untuk mengeluhkan pembangunan di Bali.  

Pada suatu siang, setelah makan babi guling di RM Ibu Oka yang terkenal di Ubud, yang beberapa jalan utamanya juga macet abis, saya dan istri berjalan melewati upacara di depan sebuah rumah di Jalan Raya Ubud. Upacara itu –menurut seorang bapak di sana- untuk keluarganya yang baru meninggal.Keluarga itu menunaikan ibadahnya,antara lain dengan membakar sesajen persis di pinggir jalan,sementara dunia materialisits harian berjalan seperti biasa dengan barisan mobil yang merambat pelan mengeluarkan CO2.  Terharu juga melihat kedua kenyataan yang kontras itu bisa hidup berdampingan di Bali pada abad ke-21 ini.   

Frekuensi kunjungan saya ke Bali masih berupa hitungan jari, yang pertama ketika masih SMA dulu di akhir 1970-an dan tiba-tiba rekaman gambar dari era itu tentang sesajen yang terlihat dimana-mana muncul kembali, juga gambar kuil, dan orang yang berdoa singkat dan teduhu di salah satu pojok jalan. Tahun 2018,teduh juga terasa hati karena masih menyaksikan ketaatan yang sama dan –yang rasanya lebih penting, ketika agama belakangan ini bisa menjadi perdebatan panjang dan sengit di Indonesia- orang Bali membuktikan bahwa beribadah itu tak selalu perlu harus mengganggu kegiatan duniawi orang lain.  
***

Tulisan lain

Buat Gadis Rasid - Chairil Anwar

Ubud

Jangan REPLY ALL!! - Liston P Siregar

Puncak - Chairil Anwar

Lucerne

Saya Sie Yoe Lien, Dan Ini Bukan Fitnah - Linawati Sidarta

Persetujuan Dengan Bung Karno - Chairil Anwar

Kent

Robert Mugabe dan Setya Novanto, beda-beda mirip - Liston P Siregar

Malam Di Pegunungan - Chairil Anwar

St Agnes

Mereka-reka Pemerintahan Jokowi Mendatang, Kesabaran Masyarakat Sipil Masih Perlu - Liston P Siregar

Sorga - Chairil Anwar

Labuhan Bajo

Pemberian Tahu - Chairil Anwar

Dartmoor

Mengibarkan Bendera Merah Putih - Sekelompok warga Indonesia

Ini (Jalanan) Medan Bung - Liston P Siregar

Dari Dia - Chairil Anwar

Medan

Lanjutan kelicinan puluhan tahun Setya Novanto - Liston P Siregar

'Betina'-nya Affandi - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 38 - Aminatul Faizah

©listonpsiregar2000