ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 27, Kamis 15 November 2001
___________________________________

novel Dokter Zhivago 27
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
Disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru.

Menjelang musim semi 1906, sebelum Lara mencapai kelas tertinggi di sekolahnya, hubungannya yang enam bulan dengan Komarovsky telah memburunya sampai ke ujung batas tenaganya. Dia pandai menggunakan kesulitannya dan bila dianggapnya perlu, ia ingatkan dia pada kehormatannya yang ternoda itu, dengan cara seolah tak ada dibuatnya begitu. Sindiran-sindiran begitu membawanya dalam keadaan bingung; justru itulah yang diperlukan seorang buaya untuk menjatuhkan perempuan serta membuatnya tak berdaya guna melawan hantu keganasan yang menakutkan dia, tiap kali ia menyadarkan diri kembali. Dunia kontradiksi tak sehat yang dihuninya waktu malam itu tak dapat diuraikan, tak beda dengan magi hitam. Di situ segala hal menjadi terbalik dan bertentangan dengan logika; nyeri yang menyengat dinyatakan oleh gelak ketawa yang berdenting bagai perak; perlawanan dan penolakan berarti setuju dan ciuman yang berhutang budi menaburkan diri ke tangan si penyiksa.

Ini agaknya akan berlangsung tak henti-hentinya; tapi dalan musim semi itu, ketika ia mendengarkan pelajaran sejarah pada akhir tahun, sedang berpikir tentang liburan, dimana sekolah dan pekerjaan di rumah malahan tak akan lagi memisahkan dia dari Komarovsky, tiba-tiba diambilnya putusan yang merobah jalan hidupnya.

Pagi itu panas dan badai mempersiapkan diri. Lewat jendela kelas yang terbuka terdengar gemuruh kota dari jauh, tunggal nada seperti dari sarang lebah dan juga teriakan anak-anak yang main-main di pekarangan. Bau tanah berumput dan daun-daun muda membikin kepala pusing seperti kalau kita terlalu banyak makan apam dan minum vodka sesudah berpuasa.

Pelajaran mengenai peperangan Napoloeon di Mesir. Ketika guru tiba pada pertempuran di Frejus, langit menghitam berderak-derak, dibelah oleh kilat dan guntur; kepulan debu campur pasir meluncur dalam kelas bersama bau hujan. Dua murid yang sudah mendapat pujian, lari keluar dengan patuhnya guna memanggil pelayan, agar jendela-jendela ditutupnya; ketika mereka membuka pintu, angin meniup semua kertas isap beterbangan dari lesenar-lesenar.

Jendela-jendelapun ditutup. Hujan turun lebat di atas kota, kotor oleh debu. Lara menyobek satu halaman dari buku latihan dan menulis kepada tetangganya, Nadya Kologriva;

"Nadya, aku ingin tinggal lepas dari ibu. Tolonglah mencarikan pekerjaan guru yang dibayar sebaik mungkin. Kau kenal banyak orang kaya."

Nadya menjaba dengan tulisan :

"Ibu dan ayak mencari pengasuh untuk Lipa. Mengapa tak tingal bersama kami? Senang sekali bukan? Kau tahu mereka sayang padamu."
***

ceritanet
kirim tulisan
©listonpsiregar2000