ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 27, Kamis 15 November 2001
___________________________________

esei
Reformasi atau Status Quo
Maria Pakpahan

Berbagai aksi di tanah air yg terjadi dalam berbagai level di dalam beberapa waktu terakhir ini kini memasuki periode frontal. Tulisan ini bisa berkesan eratic atau tidak menentu karena mau bicara banyak mengenai hal yang begitu kompleks. Sifatnya yang lebih berupa opini memberikan keleluasaan untuk jadi sepotong-potong dalam point-pointnya.

Pertama,, pemerintahan Megawati dihadapkan dengan first wave sehubungan dengan politik luar negeri Indonesia yang berpedoman pada politik luar negri bebas aktif, demikian sering didengung-dengungkan. Di tingkat regional sendiri , di kalangan ASEAN sudah ada ajakan dari Philipina untuk bekerja sama dalam menghadapi dan menumpas terorisme. Bahkan di kalangan kerjasama ekonomi regional Pacific Rim, seperti APEC, terorisme pun tidak bisa luput dari agenda.

Kedua, di banyak kalangan pada tingkatan global --mulai dari para peraih nobel hingga kaum Sosialis Internasional-- mendesak agar terorisme bisa didefinisikan dalam cakupannya. Jadi perlunya bench mark yang disepakati dan tidak subyektif , bukan yang seenaknya, yang tergantung sudut pandang masing-masing pihak. Perlu adanya frame work yang disepakati bersama.

Di dalam negri, secara frontal tindakan militer Amerika dan juga Inggris yang terus menerus membom Afganistan direspon dengan tindakan sweeping yang terjadi pada warga asing dan solidaritas terhadap rakyat sipil Afganistan yang bertahun-tahun menjadi korban perang. Rakyat sipil itu kini dibombardir karena suatu teori yang dibangun oleh pemerintahan Amerika --yang dalam kedukaan, mencari keadilan dan rasa marah atas malapetaka di NYC dan Washington-- untuk menyeret hidup atau mati mereka, yang oleh pihak Amerika diyakini sebagai biang kerok serangan teroris tersebut.

Ketiga, jangan hendaknya dilupakan kalau dunia berduka atas petaka tersebut dan juga atas korban terorisme sebelumnya. Saat ini kita semua menjadi rentan dan menyadari bagaimana rasa aman menjadi kebutuhan dasar manusia, yang mungkin bagi banyak penduduk negara maju secara umum sering taken for granted. Dan bagi penduduk negara yang penuh konflik dan kekerasan bersenjata, dianggap sudah nasib, dari sononya. Jadi janganlah juga menjadi fatalis.

Point keempat yang juga sangat relevan adalah bagaimana instrumen international criminal court of Justice dilewati begitu saja dalam saga yang terjadi saat ini. Dan ini sangat berkaitan dengan keyakinan mengenai biang kerok keruntuhan WTC dan siapa yang bertanggung jawab dan siapa pelakunya. Begitu banyak yang belum terjawab dan semakin banyak korban jatuh, serta tidak ada jaminan kita akan mendapatkan jawaban-jawaban yang kita cari.

Mengamati dari kejauhan berbagai protes yang terjadi di Indonesia, dalam konteks negeri, saya cenderung untuk melihat bagaimana pemerintahan Megawati merespon fenomena ini. Jelas, sudah dideklarasikan pernyatan prihatin yang mendalam, bantuan terhadap warga Afganistan, dan juga dilarangnya sweeping terhadap warga asing.

Sangat bisa dimengerti bila sebagian dunia memprotes penyerbuan Amerika ke Afganistan, termasuk Indonesia. Sama halnya bagaimana kita mengutuk kebiadaban serangan terrorist di World Trade Center dan Washington.
Blessing in disguisenya , bila saja bisa diupayakan menjalin dan memperkuat solidaritas sesama sipil dari banyak negeri , yang sebenarnya juga tidak setuju dengan cara gegabah menghadapi terorisme yang terjadi tanggal 11 September.
Memang sudah saatnya bangunan tata baru dunia direformasi. Kecuali bagi mereka yang pro status quo.

Saya membawa status quo ini teringat pada Alexander Pope dalam Essay on Man, dalam Epistle pertama,

" Cease then, nor Order imperfection name:
Our proper bliss depends on what we blame.
All nature is but Art, unknown to thee;
All chance , Direction, which thou canst not see;
All Discord, Harmony, not understood;
All partial evil, universal Good.
And, spite of Pride, in erring Reason's spite,
One truth is clear, "Whatever is, is Right".

Dalam karyanya ini Pope melihat humanitas yang pasif total , tidak melakukan apapun, mengingkari kemungkinan perubahan reformasi dan kemajuan. Secara standar, karya Pope ini menjadi patokan dan diinterpretasikan sebagai ide laissez faire atau pasae bebas yang menjadi dasar intellektual untuk jangan mengintervensi , biarlah yang ada ada. Tentunya bisa saja orang lain menginterpretasikan bahwa pesan Pope bukanlah hal yang politikal.

Tetapi di Epistle kedua, Alexander Pope kembali berargumen :

" Two principle s in human nature reign:
self love, to urge, and reason to restrain "

Hal ini mengenai self love dan bagaimana keegoisan pribadi dilihat menjadi kebajikan publik, bisa diterima . Bisa dilihat bagaimana kalau setiap orang hanya mau tahu urusan dan kepentingannya sendiri.

Dalam konteks pemerintahan Megawati dan kepentingan dan martabat kita sebagai bangsa yang mustinya anti kekerasan, maka Megawati dan pemerintahannya jangan lagi mempertahankan status quo. Bila reformasi di koridor hukum kita sudah amburadul, dan sangat memalukan, mengenaskan.

Kasus yang sedang gres, soal hukum adalah Akbar Tanjung dengan persoalan dana Bulognya dan indikasi dimalingnya uang rakyat untuk kepentingan partai Golkar. Bila ini luput dari jaring hukum, maka memang pemerintahan Megawati akan mendudukan posisinya sebagai pro status quo, menolak reformasi hukum.

Maka seharusnya --dan ini menjadi pokok kelima dalam tulisan ini-- pemerintahan Megawati saat ini bisa melakukan hal yang berarti dalam politik luar negri kita dan juga mengambil bagian aktif dalam melucuti dan mereformasi hegemony the new world order yang jelas-jelas bertentangan dengan prinsip keadilan sosial dan politik bebas aktif Indonesia. Serta merta memerangi terorisme. Karena sebenarnya kedua hal ini saling terkait dan tidak bisa diabaikan satu sama lain.

Kecuali pemerintahan Megawati adalah pengikut Pope, kelompok pro status quo, pendukung dogma laissez faire. Walaupun sebenarnya Pope juga mengindikasi dalam bagian lain mengenai perjalanan dan bagaimana konflik politik ada sebelum munculnya human society. Bagian ini penting diketahui mereka yang anyem-anyem dalam status quonya.
***

ceritanet
kirim tulisan
©listonpsiregar2000