cerpen Jangan REPLY ALL!!!
Liston P Siregar

Dua tahun lebih kerja, baru sekali ini aku, akhirnya, menikmati perbincangan panjang di grup email kantor, yang sama sekali tak ada urusan dengan kerjaanku sehari-hari. Sempat juga bingung, kok bisa aku masuk ke grup itu.

Banyak grup email di kantor sekarang: kontraktor perminyakan dengan sekitar 700-an karyawan dan kantor cabang kecil di beberapa kota, selain Jakarta. Bahkan aturannya adalah tidak membahas urusan kerja resmi apapun di luar email kantor, bertolak belakang dengan kantor sebelumnya, yang mengharuskan masuk grup WA kantor untuk siap menerima pesan –dan membalasnya, kalau harus dan juga kalau mau- setiap detik.

Di sini membahas secara tertulis urusan kerja harus lewat email kantor, atau, kalau mendesak, telepon langsung. Titik.

Bos besar mengingatkan lagi aturan itu dalam rapat umum akhir tahun, forum tempat aku melihatnya langsung dua kali. Sosoknya kaku, mata tajam terfokus, langsing tapi tegap –orang bilang pak bos joging 5 km tiap ada waktu luang- dan auranya dingin namun –kata banyak karyawan pula- hatinya baik: sabar mendengar dengan penuh perhatian.

Konon salah satu alasan harus menggunakan email kantor adalah bos tak mau rahasia-rahasia kantor jadi lebih berisiko bocor ke luar, namun versi lain bilang dia tak mau orang masih mikirin kerja di luar kantor –“kalau cuma bocor, emangnya email kantor nggak bisa dibobol,” celutuk Andi, tetangga meja kerjaku. 

Ada juga versi yang agak aneh, karena takut kelak karyawan menagih biaya kalau kebanyakan urusan kerja dibahas di WA di telepon pribadi masing-masing. “Nanti pada minta telepon, lengkap sama tagihan bulanannya,” kata Tini di meja seberang.

Apapun versinya, jadi banyak grup email di kantor. Karena di bagian arsip dan dokumentasi, tak banyak rasanya grup email yang aku masuk. Selain sesama sebelas karyawan plus pimpinan unit, ada juga yang gabung sama bagian hukum, unit produksi, dan para sekretaris direktur.

Jadi, misalnya, masuk satu email ‘boleh minta tolong kopi dokumen kontrak… (tak boleh disebut persisnya)’ maka salah satu dari kami yang kosong akan me-Reply All: ‘segera’ atau ‘siap laksanakan’ atau ‘perlu kapan?’ maupun ‘hard copy atau attachment?’. Si pemohon tenang dan kami juga tahu kalau sudah ada yang mengerjakan.

Nah tadi, balik dari makan siang, kulihat ada barisan panjang email berjudul ‘Mohon akses’. Apa pula ini? Tapi aku harus memastikan tidak ada permintaan kerjaan-kerjaan mendesak: benar tidak ada.

Kubukalah dari yang paling bawah, naik satu persatu. Mulai dari pingin tahu akupun terbawa menjadi agak kesal menyaksikan kok orang-orang dungu berat, lantas terhibur karena lucu, namun sempat kecewa karena lucunya pelan-pelan habis, sebelum akhirnya muncul rasa lega.

Persis seperti nonton film-film laris Hollywood.

Beginilah email-email itu, beberapa tanpa nama karena merasa tak perlu lagi sopan santun dan toh sudah muncul langsung di kepala email. Juga dengan catatan yang terlintas di benak usai membacanya.
______________________________

Salam,

Dua minggu lalu, saya pindah ke produksi dan tidak bisa masuk ke akses Pembelian. Saya perlu akses mendesak dan sudah kontak bagian IT tapi mereka bilang, harus lapor ke atasan, yang bilang tidak tahu menahu.
Ada yang tahu kemana ya saya harus minta aksesnya.
Arifin
________________________________

Halo Arifin
Saya cek segera ya. Mohon bersabar
Salam,
Dina
HR
_________________________________

Halo lagi Arifin
Baru sadar Anda di kantor Dumai rupanya, saya cuma bisa untuk yang di Jakarta untuk kasih otoritas ke Pembelian tapi akan saya cari tahu siapa yang bisa kasih akses untuk kamu.
Salam,
Dina
HR
__________________________________

*. Entah kenapa si Dina HR ini me-Reply All lagi email keduanya, mestinya biarkan sajalah jadi urusan mereka berdua.Tapi mungkin juga si Dina semacam mengumumkan ke 700-an karyawan lain bahwa dia cuma ngurusin Jakarta. Dan pikiranku sejalan dengan si Johan, entah siapa dia aku tak tahu, tapi hampir pasti sedang tak banyak kerjaan juga kayak aku.
_______________________________________

Boleh nggak jangan di-Reply All!
Johan
_____________________________

Johan, gua juga kadang ngalamin kayak gitu. Coba matikan dulu komputermu dan masuk ke Pembelian pakai login desktop-mu. Kalau nggak bisa juga minta ke IT supaya diresetnya.
Kalau nggak jalan juga, gua saranin ngubungin e keuangan.
Makasih
Andin
________________________________

Saya tidak perlu akses! Saya minta jangan klik Reply All!
Johan
________________________________

*. Si Johan ini juga sudah sama gobloknya. Email si Andin –yang kurasa bingung salah tulis karena maksudnya Arifin- juga di reply all-nya. Mungkin makin kesal dia, sama seperti aku. Cuma kutahan diri supaya tidak usah ikut campur, biar saja jadi pengamat.
__________________________________

Tolong dong, gua nggak usah dapat kopi email ini
_____________________________________

Gua juga
Tongam
______________________________________

Sekali lagi SETOP!!!
_______________________________________

Lu juga nggak usah Reply All dong, Julian!
________________________________________

*. Di titik ini Arifin dan Dina sudah menghilang. Kuduga mereka sudah berjapri dan bisa jadi masalah aksesnya sudah terpecahkan, tak sadar ekor mereka berdua masih memanjang.
__________________________________________

Keluarkan gua dong dari grup ini, pleaseeeee….
Maria Rumondang
Finance Department
PT (detail nama perusahaan dan nomor telepon harus dihapus)
_____________________________________

Dengan segala hormat,
Saya tidak ada urusan dengan pembelian, jadi yang memasukkan saya ke dalam grup ini mohon mengeluarkan juga secepat mungkin.
Terimakasih
Dora

_____________________________________

Nggak usah dibuat rumit… nggak usah baca, langsung delete.
_______________________________________

lu kok baca juga sis…
Ahmad
________________________________________

Cuma ngusul
________________________________________

Whatever…. Do not Reply All!!!!
____________________________________

Arifin,
Sudah cek ke orang keuangan? Saya sudah ke IT dan mereka bilang tak ada login khusus tapi yang dipakai biasa. Jadi mungkin soal otoritas login.
Dina
HR
__________________________________________

*. Bah ternyata Dina belum juga berjapri sama si Arifin karena dia muncul lagi. Dungu? Atau mungkin dia kategori orang keras kepala, 'lu kasar sama gua, nggak peduli, Ini urusan kantor dan gua justru harus kerjakan'.
___________________________________________

Bolehkan minta tolong, tidak usah reply all lagi.
Kunang
__________________________________________

Kalau mau ngontak orang tertentu bisa cari di address book Outlook
_______________________________________

Arifin-nya salah, gua dari safety, nggak ada urusan. Japrinya jangan ke gua.
_________________________________________

ye kasih tau aje di japrinya itu, kok malah reply all
______________________________________

*. Persis, aku sepakat dengan si Hendi, bukan karena di kawan futsal, tapi ya reply-lah email yang salah itu, kok malah ngadu ke Reply All lagi. Ngaco. Tergoda lagi aku ngemail ke Arifin yang salah itu -yang entah siapa dia-: 'pake otak dong bos'. Tak jadi karena semakin menikmati pula aku mengamati dan berkomentar tanpa harus bikin front langsung sama orang-orang tertentu.

______________________

Yok email gua yang ini dijadikan yang terakhir Reply All
Bandowo

________________________________________

setuju, tapi sekalian cabut nama gua dari grup ini yo
_________________________

Me too, me too
Kartini
_______________________________

Me three
Ardian

___________________________________

Unsubscribe saja lagsung. Tulis unsubscribe di kolom judul
Reni Wijaya
PA to Director of Finance
PT (tak boleh ditulis)
_______________________________________

Me four atau udah sampai Me ayam...
______________________________________

Tidak lucu
Ian
_______________

@Reni: Nggak bisa, tadi udah gua coba masih lanjut juga
Hendra
________________________________

Di kantor ini, kalau nggak salah ada 700-an orang. So kalau nulis email di grup ini pikirkan apakah relevan nggak sama semua 700-an itu. Kalau nggak, ya jangan bro/sis. Kok susah banget
_______________________________

Dari 700 itu banyak yang anak jaman old... nggak bisa nggak reply all.
Vera
_________________________________

Cie cie, anak jaman now ni ye Vera
___________________________________________

Dibandingin yang lain 'Tri
Vera
____________________________________

*. Ini si Vera sama Astri rasanya sudah sama seperti aku dan beberapa yang lainnya, jadi asyik sendiri.

_______________________________

Ini orang IT kemana sih…
Basaria

_______________________________

Maaf,
Grup ini bukan dibuat IT dan bukan wewenang kami mencabut nama dari daftar. Kami cuma pelaksana.
Beni
IT Support
_______________________________________

*. Haiya orang IT langsung cuci tangan tak mau dituding-tuding.

____________________________________

Keluarin gua dong…mohon., Udah ngeesalin banget nih
_______________________________________

Aku jangan dikeluarin, mulai asyik….
Pantas

_____________________________

SAYA INGIN KELUAR DARI GRUP INI. MINTA TOLONG.
Helen Ismanti
_____________________________

:) botul kali Pantas… awak juga mulai sor
Situmorang
_______________________

Makin ngeselin kalau dijadikan canda!
_______________________

Gua juga rasanya juga mulai asyik… jarang-jarang ngobrol santai gini sama kawan sekantor
Pinta
___________________________

Mohon jangan Reply All!
Imran
________________________________

Sekarang ogut benar-benar pingin tahu pegimane caranya si Arifin bakal dapat akses ke tadi... :)
_______________________________

Gua nggak… cuma pingin tahu caranya ke luar dari sini
_______________________________

Sama
D
__________________________

Di bawah tombol HOME ada label IGNORE. Klik itu jadi semua email judul ini langsung masuk sampah.
Gerald
_____________________________________

Tapi gua mau lain kali nggak kemasukan email tak jelas kayak gini. Jadi keluarin dong gua…
Ani
____________________________________________

Beneran… ikut asyik bacanya.
_____________________________________________

Kawan-kawan, pada tahu nggak ketika minta dikeluarkan dari grup ini, ente juga membuat onar dengan mengirim Reply All. Jadi jangan Reply All! Ntar pelan-pelan juga bakal berhenti. Maka dengan demikian oleh karena itu stop.

Jane, cuma sekali

PS: Maaf kirim ke Reply All biar semua tahu: stop!
_______________________________________

INI NGESELIN BANGET. BISA NGGAK ADA YANG NGELUARIN GUA. TOLONG BANGET
_____________________

Dengan hormat,
Anda mendapat email ini karena masuk dalam daftar Grup Pembelian, yang sebenarnya sudah tidak aktif lagi.
Oleh karena itu mohon jangan REPLY ALL lagi. Jika Anda tetap REPLY ALL maka tidak akan henti-hentinya email akan terkirim ke 700-an penerima lebih.
Sekali lagi grup ini sudah tidak beroperasi dan sudah dimatikan namun jika Anda REPLY ALL masih tetap berlanjut untuk email yang satu ini.
Terimakasih atas kerjasamanya

Supriyadi
Kepala Bagian Umum
PT…. (dihapus)
___________________________________________

Akhirnya….
___________________________________________

Lama banget Mas Supriyadi munculnya
D
__________________________________________

Come on… stop! Back to work!!!
__________________________________________

Aye sir…
Totok
__________________________________________

Nggak nyangka ya kantor ini banyak orang ndablek… JANGAN REPLY ALL!
Frida
___________________________________________

Ngaca dong mbak….
______________________________________________

Tenang-tenang… jangan sampai esmosi
D
___________________________________________

*. Hebat. Beberapa orang memang punya energi berlebihan, bisa memperpanjang urusan sampai tak ada ujungnya. Dan setelah pesan Bahasa Inggris, bentar lagi bakal muncul Bahasa Jawa atau Belanda…
_______________________________________________

Salam,
Mohon ini menjadi email terakhir. Jangan ada satupun lagi yang membalas.
Terimakasih

Rina
PA to President Director

PT... (dihapus)
________________________________________________

Ah lagi nunggu Bahasa Jawa atau Bahasa Belanda malah selesai sudah urusannya. Akupun tertanya-tanya apakah pesan itu dari Pak Bos beneran atau prakarsa Rina doang.

Juga ada sedikit kecewa, perasaan yang serupa dengan masa kecil dulu, ketika masih asyik main bola sore-sore malah harus berhenti karena ada beberapa anak yang sudah dipanggil ibunya pulang.

Aku tutup layar Outlook dan kembali ke rencana awal: selepas makan siang aku rencananya mau meneruskan riset kecil tentang produksi minyak Irak dalam 10 tahun terakhir.

Cuma sekali-kali kuintip juga Outloook, siapa tahu masih ada yang Reply All lagi.

Untunglah –ah.... sialnya- tak ada.
***

 

Tulisan lain

Puncak - Chairil Anwar

Lucerne

Saya Sie Yoe Lien, Dan Ini Bukan Fitnah - Linawati Sidarta

Persetujuan Dengan Bung Karno - Chairil Anwar

Kent

Robert Mugabe dan Setya Novanto, beda-beda mirip - Liston P Siregar

Malam Di Pegunungan - Chairil Anwar

St Agnes

Mereka-reka Pemerintahan Jokowi Mendatang, Kesabaran Masyarakat Sipil Masih Perlu - Liston P Siregar

Sorga - Chairil Anwar

Labuhan Bajo

Pemberian Tahu - Chairil Anwar

Dartmoor

Mengibarkan Bendera Merah Putih - Sekelompok warga Indonesia

Ini (Jalanan) Medan Bung - Liston P Siregar

Dari Dia - Chairil Anwar

Medan

Lanjutan kelicinan puluhan tahun Setya Novanto - Liston P Siregar

'Betina'-nya Affandi - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 38 - Aminatul Faizah

©listonpsiregar2000