memoar Saya Sie Yoe Lien, Dan Ini Bukan Fitnah
Linawati Sidarta

Saya lahir di Jakarta di bulan April 1966. Orang tua saya, Sie Hian Liat dan Nyo Tjie Sioe, meminta kakek saya, Sie Hiem Tjiat, untuk memberi nama kepada saya, karena kedua orang tua saya tidak fasih berbahasa Cina. Memberi nama dalam tradisi Cina tidak bisa sembarangan: nama itu harus ada artinya, secara umum dan dalam konteks keluarga besar Sie. Saya diberi nama Yoe Lien oleh kakek saya, yang lalu tertera di surat lahir saya.

Setahun kemudian, mengikuti ‘rekomendasi’ dari pemerintah Orde Baru –yang baru berkuasa menyusul perguncangan di bulan September tahun sebelumnya– papa yang pegawai negeri pergi ke kantor pemerintah setempat. Dengan mengisi satu lembar formulir, keluarga kami selanjutnya dikenal sebagai Jos, Sutjiningsih, Julianto (kakak saya Joe Liang) dan Linawati Sidarto. ‘Jos’ adalah nama yang diberi guru SD papa ketika dia pertama memasuki bangku sekolah di tahun 1930-an di jaman Hindia Belanda. Terlalu sulit rupanya untuk lidah si guru Belanda untuk mengucapkan ‘Hian Liat’, dan lebih mudah untuk merubah nama panggilan papa menjadi ‘Jos’.

Seumur hidup saya, jarang sekali nama ‘Yoe Lien’ terdengar, kecuali dari beberapa sanak keluarga mama di Jawa Timur, seperti sepupunya yang pemilik toko Jamoe Iboe di Batu. “Ooh, iki Yoe Lien toh!” Mereka semua berbahasa Jawa, dicampur dengan sedikit bahasa Indonesia dan Belanda.

Nama ‘Sie Yoe Lien’ jarang juga tersirat di ingatan saya. Di tahun 1980-an, nama itu kadang muncul kalau saya harus mengurus surat-surat seperti KTP, paspor, atau lapor diri ke Kedutaan Besar RI ketika saya tinggal di Amerika. Sungguh lega saya –dan saya yakin jutaan orang Indonesia lain yang memegang surat ganti nama- bahwa sejak tahun 1998, dokumen tersebut tidak diminta lagi dalam proses perpanjangan kartu identitas.

Tapi dua hari yang lalu, nama yang sudah bertahun-tahun tidak saya ingat itu kembali dengan amat jelas menyusul pemberitaan dari tanah air yang sebetulnya tidak terlalu besar: ‘Istri Panglima TNI Hadi Ketiban Fitnah’, seperti ditulis kebanyakan media cetak dan online nasional.

Difitnah korupsi? Selingkuh? Tindakan kriminal lain?

Bukan: difitnah bahwa istrinya bernama Lim Siok Lan.

Ini sungguh suatu ‘wake-up call’ buat saya. Setelah Reformasi 1998, kita warga minoritas Cina Indonesia sempat menarik napas lega: Sincia boleh dirayakan lagi, karakter kanji tidak lagi dilarang. Keponakan-keponakan saya bertanya-tanya mengapa mereka tidak diberi nama Cina.

Tapi mungkin saya harus menahan napas lagi. Mengapa sekarang, hampir duapuluh tahun setelah Reformasi, nama Lim Siok Lian dianggap ‘fitnah’? Apakah beritanya akan sama ramainya andai istri Marsekal Hadi salah disebut sebagai Nani Pasaribu, misalnya? Apakah mempunyai darah Cina sudah kembali menjadi sebuah ‘dosa’ di Indonesia? Sedemikian jauhkah pengaruh Pilkada DKI tahun ini sehingga sebutan nama yang salah bisa menjadi ‘fitnah’? Atau lebih buruk lagi: apakah kemajuan Reformasi sekedar semu saja?

Identitas saya adalah Linawati Sidarto: Lince, Lin atau Lina untuk mereka yang mengenal saya. Tapi itu bukan berarti bahwa saya malu dengan nama Sie Yoe Lien, yang telah dipilih dan diberi oleh kakek saya dengan penuh cinta. Nama itu adalah bagian dari sejarah keluarga saya. Dan siapapun di Indonesia, yang menyimpan secarik surat ganti nama di laci dokumen mereka, tidak pernah harus merasa malu dengan nama yang diberikan oleh keluarga mereka.
***

Diambil dengan izin dari Facebook Linawati Sidarta

Tulisan lain

Persetujuan Dengan Bung Karno - Chairil Anwar

Kent

Robert Mugabe dan Setya Novanto, beda-beda mirip - Liston P Siregar

Malam Di Pegunungan - Chairil Anwar

St Agnes

Mereka-reka Pemerintahan Jokowi Mendatang, Kesabaran Masyarakat Sipil Masih Perlu - Liston P Siregar

Sorga - Chairil Anwar

Labuhan Bajo

Pemberian Tahu - Chairil Anwar

Dartmoor

Mengibarkan Bendera Merah Putih - Sekelompok warga Indonesia

Ini (Jalanan) Medan Bung - Liston P Siregar

Dari Dia - Chairil Anwar

Medan

Lanjutan kelicinan puluhan tahun Setya Novanto - Liston P Siregar

'Betina'-nya Affandi - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 38 - Aminatul Faizah

Herne Bay

©listonpsiregar2000