sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 274, 17 agustus 2017

Tulisan lain

Mengibarkan Bendera Merah Putih - Sekelompok warga Indonesia

Dari Dia - Chairil Anwar

Medan

Lanjutan kelicinan puluhan tahun Setya Novanto - Liston P Siregar

'Betina'-nya Affandi - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 38 - Aminatul Faizah

Herne Bay

Senja di Pelabuhan Kecil - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 37 - Aminatul Faizah

Bibury

Ical Morotai Yang Menyeberang Lautan - Arifah Nugraheni

G3 WA 8 (Gara-gara Grup WhatsApp) Tamat - Liston P Siregar

Buat Album D.S. - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 36 - Aminatul Faizah

Arlington

Mimpi Buruk Pilkada Jakarta - Liston P Siregar

Dengan Mirat - Chairil Anwar

G3 WA 7 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 35 - Aminatul Faizah

Folkestone

Kepada Pelukis Affandi - Chairil Anwar

Menanti kerja kelas menengah Jakarta - Liston P Siregar

G3 WA 6 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 34 - Aminatul Faizah

Chilham

 

catatan Ini (Jalanan) Medan Bung
Liston P Siregar

Kalau Anda mengeluh tentang kekacauan lalu lintas di Jakarta, atau kota-kota lain di Indonesia, cobalah datang ke Medan. Hampir pasti standard kekacauan Anda akan berubah –yang tadinya amat kacau akan menjadi agak sedikit kacau, atau agak kacau menjadi mendingan.

Medan Sama seperti dengan kota-kota besar lain di Indonesia, kemacetan lalu lintas di Medan rasanya semakin parah. Alasannya sederhana -juga berlaku di banyak kota besar dunia lain yang mengalaminya: pertambahan pengguna jalan raya lebih tinggi dari peningkatan sarana jalan raya.

Tapi di Medan, agaknya, kekacauan menjadi karakter utamanya.

Persatuan segala moda
Di Medan, jalan raya menjadi tempat persatuan segala jenis transportasi, termasuk di jalan raya pusat kota. Memang ada Jalan Sudirman dan Jalan Diponegoro yang bebas becak mesin, becak dayung, dan becak barang, tapi ya cuma itulah.

Selebihnya, semua mendapat hak yang sama.

Becak mesin boleh –atau ditemukan- berada di jalur kanan, sepeda motor –kereta, istilah orang Medan- mengisi semua ruang kosong di manapun, dan mobil mendahului dari sebelah kiri, berhubung becak yang di jalur kanan tadi amat pelan, sementara pejalan kaki berliuk-liuk mencari celah untuk menyeberang. Dan dari arah depan di jalur kiri ada pula kereta barang -yang dengan gagah berani- melawan arah.

Istilah persatuan terdengar seperti mengada-ngada, tapi hampir semua jalan raya di Medan adalah tempat persatuan dari segala jenis transportasi dan beragam karakter pengemudi, pengendara, serta pejalan kaki.

Jika Anda naik Mercedes Benz dan mengebut maka di samping atau di depan, ada Toyota Avanza yang berjalan pelan –mungkin sambil menelepon atau mencari-cari nomor ruko atau bisa juga terkategori Sunday’s driver –yang di Medan banyak yang beredar di hari kerja.

Di tengah kesantaian Avanza tadi, bukan hanya kereta yang menyilang ke depan, juga becak mesin, Kijang Innova, mobil barang maupun angkutan kota yang bernama Sudaco (ada bagian khusus untuk ini). Sementara di jalur paling kiri, ada mobil Suzuki Ertiga yang melaju cepat untuk memanfaatkan langsung ruang kosong dari kenderaan-kenderaan yang tadi menyilang ke depan Toyota Avanza yang sedang santai.

Itulah persatuan yang sebenarnya: beragam tapi bersatu. Mengutip semboyan kita: Bhineka Tunggal Ika!

Waspada untuk segala arah
Sekali waktu saya hampir menabrak sepeda motor. Hanya selisih satu detik dan selamatlah si pengendara kereta  –atau lebih tepat hanya selisih satu detik dan selamatnya saya. Di Jalan Dr Mansyur –siapa tahu Anda mau melihat di Google Map- ada pemisah jalur dari tembok rendah. Dari persimpangan Jalan Dr Hamzah, saya mau menyeberang berbelok ke kanan di Jalan Dr Mansyur.

MedanMencari ruang kosong di arus lalu lintas yang melaju dari sebelah kanan bukan perkara mudah karena setiap ruang di jalan raya di Medan harus diperebutkan dengan upaya serius.

Jadi saya serius melihat ke arah kanan, mencari celah untuk, paling tidak, ke luar mendekati tembok pemisah jalur dan barulah dari sana pertarungan dilanjutkan kembali untuk mencari celah di arus lalu lintas yang menuju dari arah kiri.

Karena perjuangan harus serius, saya konsentrasi sepenuhnya melihat arus lalu lintas dari sebelah kanan dengan pegangan ‘ada lobang sikit, masuklah’. Dan begitu ada lobang sikit, saya siap melaju namun istri berteriak panik ‘stop’ dan saya refleks hingga tak jadi menginjak pedal gas.

Persis di depan hidung mobil pinjaman kami, ada kereta yang santai lewat melawan arah. Satu detik saja dan saya tak jadi menabrak dua anak muda yang goncengan di kereta itu, yang tidak perduli dengan keterkejutan saya akibat ulah mereka. 

Pengalaman yang mirip dengan di Jalan MH Thamrin, di kawasan Pecinan Medan. Setelah berjuang mensiasati kemacetan, berhasillah mobil pinjaman kami bergeser ke kiri perlahan-lahan untuk bisa masuk ke Thamrin Plaza. Ketika baru saja bersiap-siap untuk menarik nafas lega, saya harus mengerem karena ada becak mesin datang dari depan! Becak itu berpenumpang dua orang.

Pertarungan tiap detik
Sebenarnya ‘tidak ada jalur’ di jalanan Medan -atau lebih jujur: jalur jalan tak terlalu dihormati oleh orang Medan. Dengan semangat persatuan di jalan raya tadi, maka prinsipnya adalah carilah dan rebutlah setiap celah karena kita semua memiliki hak yang sama dalam sebuah sistem tanpa penegakan hukum –persis, itu dia: anarki!

Maka mobil Toyota Fortuner yang ke luar dari pusat pertokoan di sebelah kiri berhak untuk langsung pindah ke jalur kanan jauh karena di lampu lalu lintas –yang tak sampai 50 meter di depan- dia mau belok kanan.

Medan

Karena jalanan tergolong padat, maka perpindahan jalur Toyota Fortuner tadi tidak mulus, tapi perlahan-lahan penuh perjuangan. Dia menyodokkan kepala sedikit dan jika mobil lain mengalah, majulah dia sedikit tapi kalau mobil lain tak gentar dengan ancamannya dan tetap berkeras maju, maka dia berhenti  menunggu jika ada supir ‘lemah’ lainnya. Merangkak-rangkak dan akhirnya memang berhasil.

Cuma saat merangkak-rangkak itu, Toyota Fortuner tadi menahan arus lalu lintas dari belakang.
Situasinya menjadi makin kacau karena di belakang sana, banyak mobil lain yang mau belok kiri di lampu merah kemudian mengambil prakarsa sendiri. Karena jalur kiri sudah macet tertahan si Toyota Fortuner, maka ada mobil–sebutlah Honda CVR- yang meneruskan perjalanannya di jalur kanan dan mendesak ke jalur kiri ketika makin mendekati lampu merah herhubung dia memang mau belok kiri.

Pada satu titik, Toyota Fortuner akan bertarung langsung dengan Honda VCR, dan terlihatlah supir mana yang lebih ‘lemah’.

Jika Anda kelak ke Medan, cobalah ke Jalan Diponegoro di sekitar jalan ke luar dari Sun Plaza, salah satu pusat pertokoan terkenal yang sebagian langit-langitnya satu kali dulu pernah rubuh. Rubuh di sini artinya jatuh ke lantai.

Atau coba lihat lewat Google Map: di sekitar lampu merah Jalan Diponegoro dan Jalan KH Zainul Arifin -atau lebih dikenal sebagai Kampung Keling.

Di jalur itu warnanya merah atau hijau?

Jelas bukan hanya di persimpangan jalan itu saja terjadi pertarungan untuk merebut setiap celah. Di Jalan Jamin Ginting dekat Pajak Sore, misalnya, semua kenderaan sebenarnya tak punya pilihan untuk berjalan lurus karena ada tembok pemisah sehingga orang tak bisa mengambil jalur berlawanan arah. Tapi tetap saja terjadi insiden pindah jalur karena ada potongan untuk berbalik arah. Salip menyalip, lintas menyintas, dan potong memotong juga terjadi.

Prinsipnya: mintalah maka tidak akan diberi, paksalah maka akan mendapat. 

Sudaco si raja jalanan
Angkutan umum dari modifikasi Daihatsu Hijet ini diberi nama Sudaco, singkatan dari Sumatera Daihatsu Company.  Seperti angkutan umum di banyak kota besar di Indonesia, Sudaco mengebut kencang  atau memelan sesuai dengan kebutuhan alias suka-suka sendiri tanpa perduli kenderaan lain.

Mereka mengebut untuk kejar setoran -walau banyak supir Sudaco adalah pemiliknya langsung- atau memelan karena sedang kosong penumpang. Ini karakter sebagian besar angkutan umum di banyak kota besar Indonesia.

Medan Bedanya, atau kacaunya, adalah Sudaco relatif kecil sehingga memiliki ruang manuver yang lebih luas, sekaligus pula amat berbahaya. 

Sudaco bisa mengebut di jalur kanan dan tiba-tiba sang supir melihat ada calon penumpang menunggu di pinggir jalan dan dengan gesit langsung menukik ke jalur kiri, berhenti, penumpang masuk, dan tarik melaju lagi sebisa mungkin ke jalur kanan atau tetap di jalur kiri, jika memang sedang pas kosong.

Di lain waktu, Sudaco lainnya ‘berjalan santai di jalur kiri sambil melihat-lihat para calon penumpang’ yang menunggu di tepi jalan. Dan selama mereka bersantai, maka semua orang harus bersabar. Sedang jika Sudaco sedang perlu mengebut, maka hanya perlu ruang sikit saja untuk menyerodokkan kepalanya dan begitu kepala Sudaco masuk sedikit, maka Anda harus mengerem untuk memberi jalan atau Anda menabrak.

Sungguh. 

Datanglah ke Medan untuk melihat sendiri kelakuan para Sudaco ini, yang warnanya mencolok: coklat muda, merah, dan biru. Sudaco adalah bukti nyata dari menyetir suka-suka sendiri.

Saya menduga, dari cara menyetirnya yang ‘amat istimewa beraninya atau kacaunya’ beberapa pengemudi Sudaco itu menenggak alkohol.

Rutinitas sehari-hari
Waktu saya –anak Medan asli, termasuk dengan karakter merantaunya- bercerita tentang pengalaman terbaru lalu lintas di Medan lewat grup WA kawan-kawan SD Immanuel Medan, ada beberapa tanggapan.

Seorang kawan yang tetap tinggal dengan membuka usaha sendiri di Medan mengatakan kemacetan dan kekacauan itu soal biasa bagi orang Medan. “Namanya juga INI MEDAN BUNG. Jadi nggak usah heran kau,” tulis kawan itu lengkap dengan tiga ikon tawa besar.

Dia menyarankan agar jangan membandingkan dengan London –tempat saya merantau- dan tiap hari di jalan, diapun sudah kebal terbiasa. “Awakpun kadang jadi ikut-ikutanlah main serobot.”

Teman lain, yang sudah merantau ke Jakarta, menulis, “Kalau ke Medan, aku nggak mau mikirin lalu-lintasnya, yang aku pikirin makanannya,” juga pakai dua ikon tawa besar. Medan memang sudah jadi salah satu tujuan para penggemar makanan, dan saya setuju bahwa lalu lintas tak menjadi halangan untuk makan mi pangsit Selat Panjang, babi panggang Karo, atau durian Bang Ucok.

Seorang kawan yang juga merantau ke Jakarta –kesan saya- membela Medan karena menduga saya mengejek Medan padahal –sungguh- hanya berupaya mengisahkan pengalaman berlalu lintas selama seminggu pada akhir Juli 2017, yang menurut saya lebih buruk dibanding setahun sebelumnya.

“Tapi terus terang Medan yang kaco itu yang bikin aku tetap rindu. Kalau Medan jadi teratur, nanti jadi nggak sodap lagi,” tulisnya. Romantisme kawan yang satu ini memang kencang kali, dan dia mendukung kekacauan karena, satu: di Jakarta juga kacau, atau kedua: dia hanya sesekali ke Medan untuk liburan, jadi tak terlalu masalah.

Namun seorang kawan yang merantau ke Bogor, menanggapi, “Seru kali cerita transportasi Medan ya. Kemarin waktu aku di Medan, mobil sewa kami ditabrak becak mesin sampai rusak pintunya,” ditambah dua ikon tawa besar bertetes keringat. Beberapa bulan lalu dia rupanya jalan-jalan ke Medan bersama keluarganya untuk napak tilas masa kecilnya dan ‘menjadi korban’ langsung dari Grand Theft Auto ala Medan.

Terbiasa atau dilindungi
Hari pertama dan kedua menyetir lagi di Medan, putri dan istri saya beberapa kali berteriak kecil terkejut. “Itu cuma mau melepas stress,” kata putri saya yang berusia 19 tahun, yang duduk di bagian belakang. Istri saya –asli Jakarta dan sudah belasan tahun tidak menyetir lagi di Jakarta- rasanya memang ketakutan dengan serbuan motor, mobil, becak, dan Sudaco dari kiri maupun kanan. Putra saya lebih suka tertawa kecil membandingkan dengan  Grand Theft Auto –yang pemainnya punya beberapa nyawa tapi di Medan, orang jelas hanya punya satu nyawa.

Memasuki hari ketiga dan seterusnya, perilaku putri saya sudah berubah total: “Awas Pak, dari kiri ada mobil,” dan sayapun merapatkan celah dengan mobil di depan untuk menutup Civic Mobilio itu menyodokkan kepalanya. Jika berhasil menghalanginya, diapun ‘Yes’. Atau istri saya membantu untuk menyodok kepala Daihatsu Xenia pinjaman ke ruang kosong sebelah kiri. “Ya, bisa, masukkan sikit,” kata istri saya bergaya cakap Medan.

Kemacetan dan kekacauan menjadi semacam permainan dan saya ternyata hanya perlu dua tiga hari untuk menyesuaikan diri dengan habitat asal saya. Kami juga bekerja sama untuk bergabung dengan semangat persatuan di jalan raya Medan.

Sekali waktu di kawasan Padang Bulan, istri saya membaca ada tulisan Mazmur 20:2 di jendela belakang sebuah Sudaco. Menulis salah satu kitab di belakang Sudaco mendorong istri berkomentar, entah bercanda atau serius. “Mungkin karena mereka merasa dilindungi makanya berani-berani semua. Tuhan melindungi mereka.”

“Hmmmm…,” saya tak tahu menanggapinya. Tapi sepekan menyetir di Medan tak sekalipun saya melihat tabrakan, juga hanya sekali melihat dua polisi bertugas di salah satu persimpangan Jalan Lintas Sumatra karena lampu lalu lintasnya sedang mati.

Akan halnya Mazmur 20:2 tadi, saya sudah mencarinya dan beginilah isinya: “Kiranya Tuhan menjawab engkau pada waktu kesesakan! Kiranya nama Allah Yakub membentengi engkau!”

Saya tak tahu apakah memang ayat itu dikutip pemiliknya untuk melindungi Sudaco-nya di tengah ‘kesesakan’ lalu lintas di Medan, tapi istri saya –setelah di rumah saya beritahu isi ayat tersebut- yakin bahwa pemilihannya berkaitan dengan perlindungan oleh yang Maha Kuasa di jalan raya Medan.

"Kan sudah kubilang, kaunya yang tak percaya," tegasnya dengan gaya cakap Medan yang semakin kental.
***

ceritanet©listonpsiregar2000