sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 272, 17 juni 2017

Tulisan lain

Senja di Pelabuhan Kecil - Chairil Anwar

Bibury

Ical Morotai Yang Menyeberang Lautan - Arifah Nugraheni

G3 WA 8 (Gara-gara Grup WhatsApp) Tamat - Liston P Siregar

Buat Album D.S. - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 36 - Aminatul Faizah

Arlington

Mimpi Buruk Pilkada Jakarta - Liston P Siregar

Dengan Mirat - Chairil Anwar

G3 WA 7 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 35 - Aminatul Faizah

Folkestone

Kepada Pelukis Affandi - Chairil Anwar

Menanti kerja kelas menengah Jakarta - Liston P Siregar

G3 WA 6 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 34 - Aminatul Faizah

Chilham

Seandainya Ahok di rezim Orde Baru - Liston P Siregar

Lagu Siul - Chairil Anwar

G3 WA 5 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 33 - Aminatul Faizah

Beachy Head

Ciri Orang Indonesia di Era Digital - Liston P Siregar

Siap Sedia - Chairil Anwar

G3 WA 4 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 32 - Aminatul Faizah

Ide Hill

 

novel Teheran Dalam Stoples
Aminatul Faizah

-. Kenangan rumah
Aku tiba di rumah yang tak berubah sedikitpun. Ayunannya masih sama, pohon aprikot yang berbunga, anggur yang merindangi taman samping rumah dan juga perabotan yang sama.

Hanya aku seorang dengan sejuta kenangan yang tertanam di benakku. Kubiarkan koperku terdiam dan tergeletak di ruang tamu, duduk di anak tangga paling bawah.

Seperti menyentuh kayu pohon oak merah yang tak mulus, terlihat ada bekas goresan di lantai. Aku tak pernah memiliki memori tentang goresan itu. Di masa laluku, tak pernah ada kejadian yang menyisahkan luka di lantai kesayangan ayah.

Rumah yang tak berubah padahal di luar tempat tersebut sudah berkembang menjadi kawasan elit. Memang isinya berubah, dengan kulkas, mesin cuci, dan juga alat memasak yang jelas tak pernah tergambar di benakku.

Rupanya ibu menyuruh Mahmud menganti. Apa yang kulihat dari cendela kini berbeda dengan 15 tahun yang lalu. Ini bukan lagi kawasan kumuh dengan batu bata yang berserak. Juga rumah ini bukan lagi tergolong rumah mewah dengan garasi mobil walau sudah berada di kawasan elite.

Mahmud berhenti mengecek kondisi listrik rumah. Ia menaruh kunci di meja ruang tamu dan mendekati aku.
"Itu goresan apa?" aku menunjuk ke lantai.
"Saya kurang tahu. Namun kata pengurus rumah sebelumnya goresan itu sudah ada. Saya akan pulang apakah Anda mau ikut?"
"Tidak. Aku mau istirahat. Sampaikan salamku untuk Mullah Fairus."
"Baik Khanum akan saya sampaikan."
"Leila saja."

Dia hanya tersenyum kecil, senyum bulan sabit, "Permisi, assalamualaikum."
"Alaikumsalam."

Aku berjalan menuju lantai dua, menuju kamarku saat aku masih kecil. Semuanya sama seperti saat terakhir aku di sini. Kubuka gorden kamarku. Kubiarkan cahaya sinar menyimbakkan tubuhku.

Aku melihat ranjang munggilku, juga melihat bunga pinus kering di meja samping ranjangku. Pinus dari Ali. Bahkan pinus itu masih ada, sama seperti terakhir kali aku menaruhnya.

Aku mengenggamya. Kurebahkan tubuhku, aku tekuk kakiku agar ranjang mampu menampung tubuhku. Kugenggam erat-erat dan aku berdoa semoga aku bisa bermimpi tentang Ali.

"Ya… Allah semua doa yang berisikan harapanku dan juga sumpah serapaku aku tujukan hanya padamu Ali. Pertemukan kami jika Engkau berkenan. Aku mohon Ya Allah."

Aku tertidur dalam ruangan yang bersudut. Ruangan yang gelap. Di sana aku tak bisa membedakan mana jalan ke luar dan juga jalan masuk. Mana yang benar dan juga salah. Semuanya hitam dalam artian yang luas. Tak berujung dan sunyi senyap.

Tak ada satu titikpun yang menandakan kalau aku akan bisa melihat sesuatu. Tak ada satu titik pun yang melambangkan cahaya. Tak ada cela... yang ada hanya hitam.

Aku mendengar butiran jatuh seperti pasir namun lebih lembut. Ibuku di sana menabur tepung dari tangan yang menggenggam ke adonan roti. Ia melakukannya dan tak memperhatikan apapun kecualia adonan roti yang sempurna.

Ghazali tertawa di permadani dari Iran yang ada di ruang tamu. Ia tertawa bukan karena bahagia namun karena tak tahu apapun. Aku dan juga Ali yang masih berbau debu jalanan mendekatinya.

Ibu tak marah ataupun menunjukan ekpresi ketidaksukaannya. Ia mendekati aku yang usiaku waktu itu tujuh tahun. Dia menabur sebuah tepung yang ada ditangannya, membersihkan tangannya dan berlalu menuju kamar mandi. Dia mengambil handuk, melap wajah kami sambil melempar senyuman kepada Ghazali.
“Ibu, ibu buat apa?"
"Kamu mau apa?" tanyanya sambil menaruh handuk.
"Aku mau kue kering."

Ia terhenti lalu melihat Ali, "Kau Ali?”

Ali hanya tersenyum manis dan juga manja. Matanya berkata, "Iya aku mau kering."

“Baiklah akan Ibu buatkan. Cuci tangan kalian dan tolong jaga Ghazali."

Aku tak pernah tahu adonan apa yang ibu buat tadi. Kue basah ataukah kue kering. Aku hanya tahu kalau adonan itu sudah mendarat di bak sampah setelah kami mencuci tangan. Di sanalah aku tahu, jika salah satu saja di antara kami mengatakan mau kue basah, mungkin adonan itu tak akan ibu buang. Namun kami terlalu kecil untuk bersimpati kepada yang sudah dikerjakan ibu.

Ibu tak protes karena dia mau kami semuanya senangi. Dengan lihai ibu menaruh kue di oven dan sambil menanti bermain dengan kami.

"Ali nak, kau mau sekolah?’ tanya ibu tiba-tiba. Ali hanya menggelengkan kepala.

Ibu lalu diam dan tak bertanya lagi.

Sekolah bagi Ali adalah hal yang menakutkan dan juga sekaligus yang sebenarnya paling ia mau. Aku tahu itu. Jika ia tak mau sekolah, mungkin ia tak akan suka jika aku bercerita tentang sekolahku, tak akan suka jika ia melihatku mengerjakan tugas atau jika Ali ikut ibu saat mengantarku ke sekolah.

Matanya sangat ingin untuk bersekolah seperti aku namun sekali lagi hal itu tak akan mungkin terjadi jika ia tak mau bicara. Bicara adalah kuncinya.
***
bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000