sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 272, 17 juni 2017

Tulisan lain

Teheran Dalam Stoples 37 - Aminatul Faizah

Bibury

Ical Morotai Yang Menyeberang Lautan - Arifah Nugraheni

G3 WA 8 (Gara-gara Grup WhatsApp) Tamat - Liston P Siregar

Buat Album D.S. - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 36 - Aminatul Faizah

Arlington

Mimpi Buruk Pilkada Jakarta - Liston P Siregar

Dengan Mirat - Chairil Anwar

G3 WA 7 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 35 - Aminatul Faizah

Folkestone

Kepada Pelukis Affandi - Chairil Anwar

Menanti kerja kelas menengah Jakarta - Liston P Siregar

G3 WA 6 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 34 - Aminatul Faizah

Chilham

Seandainya Ahok di rezim Orde Baru - Liston P Siregar

Lagu Siul - Chairil Anwar

G3 WA 5 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 33 - Aminatul Faizah

Beachy Head

Ciri Orang Indonesia di Era Digital - Liston P Siregar

Siap Sedia - Chairil Anwar

G3 WA 4 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 32 - Aminatul Faizah

Ide Hill

 

sajak Senja di Pelabuhan Kecil
          buat Sri Ajati

Chairil Anwar

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
***
1946

Cintaku Jauh di Pulau

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya

Di air yang tenang di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta sambil berkata
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja."

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri
***
1946

ceritanet©listonpsiregar2000