sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 271, 13 mei 2017

Tulisan lain

Ical Morotai Yang Menyeberang Lautan - Arifah Nugraheni

Buat Album D.S. - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 36 - Aminatul Faizah

Arlington

Mimpi Buruk Pilkada Jakarta - Liston P Siregar

Dengan Mirat - Chairil Anwar

G3 WA 7 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 35 - Aminatul Faizah

Folkestone

Kepada Pelukis Affandi - Chairil Anwar

Menanti kerja kelas menengah Jakarta - Liston P Siregar

G3 WA 6 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 34 - Aminatul Faizah

Chilham

Seandainya Ahok di rezim Orde Baru - Liston P Siregar

Lagu Siul - Chairil Anwar

G3 WA 5 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 33 - Aminatul Faizah

Beachy Head

Ciri Orang Indonesia di Era Digital - Liston P Siregar

Siap Sedia - Chairil Anwar

G3 WA 4 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 32 - Aminatul Faizah

Ide Hill

Sajak Putih - Chairil Anwar

G3 WA 3 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 31 - Aminatul Faizah

Greenwich

novela G3 WA 8 (Gara-gara Grup WhatsApp) Tamat
Liston P Siregar

Gugatanku didasarkan pada ‘pemutusan hubungan kerja secara tidak adil’. Dalam gugatan disebutkan bahwa penggugat ingin direhabilitasi alias dipekerjakan kembali biarpun aku sudah tidak mau balik kerja lagi di kantor itu. Tapi –menurut tim pengara dari LBH dan Serikat Buruh Merdeka- kalimat gugatan itu lebih sebagai landasan bagi perundingan untuk pensiun dini, yang menjadi tujuan utama.

Selain rehabilitasi, memang ada gugatan ganti rugi dengan pertimbangan perusahaan telah menghina profesionalismeku, yang selama 18 tahun tidak pernah ada masalah karena memang tidak pernah ada keluhan resmi atas kinerjaku.

Maka seandainya aku menang, di atas kertas aku bisa dapat pensiun dini –yang jelas tidak sedikit untuk orang yang sudah bekerja selama 18 tahun- plus ganti rugi –yang nilainya akan dibicarakan belakangan jika sudah ada keputusan.

Tapi sebenarnya yang lebih hebat adalah Serikat Buruh Merdeka berhasil memperjuangkan lewat keputusan sela bahwa selama persidangan yang belum memiliki kekuatan hukum tetap maka perusahaan harus tetap membayar gaji pokok, minus tunjangan transport atau shift malam. Intinya adalah bahwa aku tetap merupakan karyawan karena keputusan PHK masih diperdebatkan biarpun cuma berstatus karyawan nonaktif.

Itulah yang membuatku senang-senang saja setiap datang ke pengadilan menyaksikan para penasehat hukum berdebat panjang lebar dan kadang terdengar kosong melompong. Mau sidang setahun, dua tahun atau tiga tahun, gaji pokok cukuplah untuk kebutuhan kami sekeluarga. Kalaupun kelak kalah di Mahkamah Industri pertama, masih bisa banding sekali lagi ke Mahkamah Tinggi Industri.

Singkatnya, hidupku masih bisa diperpanjanglah kalaupun memang kelak di ujungnya akan kalah.

Cuma aku jadi punya tambahan tiga WA grup lagi, semua terkait gugatan hukum. Yang pertama terdiri orang-orang LBH dan Serikat Buruh Merdeka, yang kedua grup kawan-kawan di kantor yang belum juga naik pangkat dan naik gaji dan menganggap kasusku bisa jadi model untuk mereka jika kelak terjadi hal serupa, dan satu lagi WA grup para wartawan yang meliput di Mahkamah Industri.

Dua grup akhirnya kubungkam juga, karena pelan-pelan hanya beda tipis dengan dengan WA grup lainnya. Tapi WA grup para wartawan kubiarkan nyala karena persis sama dengan Viva Teamwork! yang heboh tidak karuan seperti kebanyakan WA grup lain tapi aku punya kepentingan praktis. Grup WA wartawan kuperlukan demi peliputan bisa jalan terus yang sekaligus jadi tekanan buat perusahaan.

Akan halnya Viva Teamwork! aku dikeluarkan pada hari mendapat surat PHK dan kulihat yang mengeluarkan adalah Bos Personalia langsung. Tapi setelah keputusan sela aku minta pengacaraku supaya dimasukkan lagi karena statusku tetap karyawan walau non-aktif. Soalnya bukan sekedar terkait pesan-pesan tapi juga kenikmatan membayangkan para bos-bos merasa tak nyaman membayangkan pembicaraan mereka dipantau oleh 'musuh' bersama mereka.

Beberapa hari setelah surat resmi pengaktifan aku ke grup WA dikirim ke Bos Personalia, akupun bergabung lagi.

Kali ini Aryati yang memasukkan nomorku.

Begitu masuk aku tulis pesan: ”Terimakasih Aryati” dan dijawabnya lagi, “Sama-sama Pak Simatupang.”

Aku senang mendapat pesan dari orang baik yang tidak mau dihancurkan oleh sistem apa pun.

Dan setiap akhir pekan, ketika ditinggal istri untuk arisan dan kedua anakku yang lontang lantung, aku punya hiburan lagi: Viva Teamwork!

Tiba-tiba pula Badu menjadi favoritku. Pesan terbarunya dikirim Jumat jam 00.46:

“Obrolan PRT.
Inem: Eh Presiden Jokowi itu rupanya pernah pacaran sama Megawati.
Parti: Masak sih, kamu sok tau Nem.
Inem : La TV-TV bilang Megawati itu mantan presiden.
Selamat tidur Bro/Sis. Peace”

***
Tamat

G3 W 1 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

G3 WA 2 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

G3 WA 3 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

G3 WA 4 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

G3 WA 5 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

G3 WA 6 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

G3 WA 7 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

ceritanet©listonpsiregar2000