sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 271, 13 mei 2017

Tulisan lain

G3 WA 8 (Gara-gara Grup WhatsApp) Tamat - Liston P Siregar

Buat Album D.S. - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 36 - Aminatul Faizah

Arlington

Mimpi Buruk Pilkada Jakarta - Liston P Siregar

Dengan Mirat - Chairil Anwar

G3 WA 7 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 35 - Aminatul Faizah

Folkestone

Kepada Pelukis Affandi - Chairil Anwar

Menanti kerja kelas menengah Jakarta - Liston P Siregar

G3 WA 6 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 34 - Aminatul Faizah

Chilham

Seandainya Ahok di rezim Orde Baru - Liston P Siregar

Lagu Siul - Chairil Anwar

G3 WA 5 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 33 - Aminatul Faizah

Beachy Head

Ciri Orang Indonesia di Era Digital - Liston P Siregar

Siap Sedia - Chairil Anwar

G3 WA 4 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 32 - Aminatul Faizah

Ide Hill

Sajak Putih - Chairil Anwar

G3 WA 3 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 31 - Aminatul Faizah

Greenwich

catatan Ical Morotai Yang Menyeberang Lautan
Arifah Nugraheni

Sungguh, jika ada kata di atas terimakasih yang bisa aku ungkapkan untuk semua pelajaran hidup yang diberikan oleh Pulau Morotai sudah tentu kugunakan kata-kata itu. Jika Pulau Morotai bisa membaca surat, sudah pasti akan sering-sering kukirimi surat berkalimat mesra.

Aku banyak belajar selama setahun di Morotai, bahwa hidup bukan melulu soal uang, pergi ke mal dan memborong sepatu serta baju-baju. Bisa mendapat air tawar untuk diminum saja sudah sebuah kebahagiaan yang besar. Ketika akhirnya harus meninggalkan desa ini, yang tanpa sengaja aku telah jatuh cinta kepadanya, bukanlah hal yang mudah.

Aku sadar bahwa l hidup harus berjalan dan harus berlanjut di tempat lain. Tapi jelas pengalaman satu tahun hidup bersama masyarakat terluar Republik Indonesia itu ini adalah hal berharga untuk menjalankan kehidupan seterusnya.

Pergi ke sumur desa mengangkat air setiap sore, mencuci pakaian bersama warga yang lain, berenang di laut bersama anak-anak, atau pergi berkebun mencari sayur dan buah. Rutinitas ternyata tak pernah membuat hari-hariku menjadi datar tak bernyawa tapi selalu penuh semangat dan keriangan.

Sinyal telepon yang hanya di tempat-tempat tertentu, listrik seringkali datang dan pergi tanpa permisi, serta akses yang jauh ke pusat kota besar tidak penah menjadi gangguan yang mengesalkan. Aku selalu sangat bahagia dan tidak tergesa-gesa menjalani waktu-waktu di Morotai.

Untuk urusan makan pun tidak ada masalah: banyak pisang, singkong, ubi, dan juga ada beras meskipun harganya lebih mahal dibanding kampung asalku. Meskipun jauh dan terasa berat tapi tidak pernah aku merasa terisolasi tinggal di pulau kecil yang sebelum kudatangi amat asing untukku.

Aku hanya sedikit merasa terisolasi jika melihat peta, sebab Pulau Morotai seringkali tergambar sangat kecil bahkan hanya tergambar setitik hitam di atas peta Indonesia.

Kedua mata ini menyelinap di balik jendela pesawat setelah lepas landas, seperti tidak puas dengan hal-hal baik yang diberikan Morotai. Daratan yang hijau, lautan biru, dan rumah-rumah penduduk yang terlihat semakin kecil saat pesawat mulai menjauh.

Setahun bukanlah waktu yang singkat, bukan pula waktu yang lama. Tapi cukup untuk memiliki keluarga baru, teman-teman baru, dan pengalaman yang baru.

Ical adalah salah satu muridku, yang juga menjadi anggota keluarga baruku, teman-teman baruku, dan yang membawaku ke pengalaman-pengalaman baru itu.

Beberapa kali, anak itu bercanda ingin bersekolah di Jawa. "Supaya bisa bertemu lagi dan supaya bisa menjadi seorang arkeolog," katanya.

Tentu saja aku sangat ingin keinginan itu bukan hanya sekedar canda. Dia belajar dengan keras dan banyak membaca buku-buku yang aku punya. Bila aku pergi ke ibukota provinsi dia selalu minta dibelikan buku sejarah yang ada gambarnya.

***

Beberapa minggu kembali ke kotaku di Pulau Jawa, sedikit demi sedikit aku mulai terbiasa dengan kehidupan baru lagi. Tapi seringkali aku merindukan Morotai dan segala isinya, terutama Ical.

Belakangan aku mendapat kabar bahwa dia tidak mau lagi masuk sekolah. Rasanya seperti tersambar petir di siang hari jika mengingat Ical yang belajar penuh semangat. Yang dia kerjakan, kudengar, hanya bermain, berenang, mengail, dan berkebun. Aku gusar dan ingin membantunya tapi beberapa kali aku telepon, Ical selalu menghindar. Dia sama sekali tidak mau diajak bicara. Berbulan-bulan Ical tidak masuk sekolah, padahal dia baru masuk SMP.

“Halo Ibu, hari ini Ical sekolah tidak?” aku menelepon Bu Mila untuk menanyakan Ical dan jawabannya selalu sama.
“Ical bolos lagi, cuma bermain-main. Kemarin sempat berangkat sekolah tapi saat jam istirahat dia pulang dan bolos lagi. Saya bekerja jadi tidak tahu. Ampun! Anak itu.”
“Kenapa Ical jadi begitu, Bu?”
“Ical minta dikirim ke Jawa. Saya sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, dia masih kecil.”

Ini memang soal sulit. Ternyata dia tidak bercanda tapi dia rasanya masih terlalu kecil untuk menyeberang lautan jauh dari keluarganya demi mewujudkan mimpinya itu. Orang tuanya jelas belum siap melepasnya bersekolah jauh dari rumah. Meskipun ada aku, Linda, dan Henny, tetap saja orang tuanya merasa berat.

Aku sangat paham dan ingin membantunya untuk memahami kerumitan itu. Dan sekali waktu akhirnya dia mau menjawab, namun dengan nada tinggi.

“Untuk apa sekolah cuma begitu saja, saya tara suka. Lebih baik bolos!” hanya itu sebelum dia memutus sambungan telfonnya. Sejak saat itu sekitar satu bulan, upayaku berkomunikasi tidak pernah berhasil lagi. d

Aku selalu ingat wajah Ical saat menceritakan hal-hal yang dia alami, hewan-hewan yang dia temui, dan buku-buku yang dia ingin baca tapi tidak boleh dipinjam oleh penjaga perpustakaan SD Inpres Momojiu. Betapa dia adalah seorang anak yang menggebu-nggebu jika menginginkan sesuatu. Mungkin keengganannya bersekolah menjadi pemberontakan dari tidak tercapainya keinginan dia.

Ical sangat ingin menjadi arkeolog. Dia tahu dari buku-buku yang dibacanya kalau bersekolah di Jawa akan membuatnya semakin dengan cita-citanya itu. Sebetulnya jelas bukan cuma di Jawa saja yang bagus tapi dia merasa Morotai tidak bisa memberikan sekolah yang seperti dia inginkan.

Aku senang bahwa dia sadar pendidikan. Akan sangat keren jika Morotai punya paling tidak seorang arkeolog. Peninggalan Perang dunia II tersebar di sana-sini di seluruh pulau, di daratan dan di lautan. Peta yang mengisolasinya membuatnya jauh dari kemajuan padahal sangat layak di perjuangkan.

Bulan Desember menyapa terlalu cepat.

Namun ternyata ada yang lebih cepat lagi: kabar bahwa Ical akhirnya hijrah ke Pulau Jawa untuk bersekolah. Aku kaget dan sekaligus bercampur bahagia mendengarnya.

“Halo bu, Ical sudah di Jawa dua hari ini, dia nyantri di Magelang,” terdengar suara Bu Mila bersemangat mengabarkan anak ketiganya yang sudah sampai dengan selamat.

Juga ada nada kebanggaan dari suara Bu Mila yang timbul tenggelam di ujung telepon.

Lhah, naik apa? Sama siapa, Bu?”
“Dia naik kapal sama Haris, temannya di sekolah, sama Ustadz Arif.”
“Naik kapal dari Morotai?”
“Iya, lima hari baru sampai.”
“Luar biasa, besok saya tengok, Bu.”

***
Kami akhirnya bertemu.

Ical, yang dulunya suka makan ayam hutan itu masih tetap sama. Badannya kurus, kulitnya hitam khas pesisir, senyumnya lebar namun agak sedikit bertambah tinggi. Dia memakai baju Muslim panjang warna biru, kepalanya dihiasi peci khas anak pesantren.

Dia bercerita bahwa dia senang bisa sampai di pesantren di Jawa. Dia senang bisa belajar di sini. Katanya tahun depan Papa Mamanya akan menjenguk.

“Ical, kamu tidak takut naik kapal lima hari?”
“Tidak, kan ada Ustadz Arif dan Haris. Saya lima hari di kapal sampai handphone saya hilang diambil orang di kapal.”
“Mama Papa bagaimana?”
“Mama Papa senang sekali, mereka akan menengok tahun depan sama-sama deng Ita.”
“Lalu Cal, kamu sekarang senang?”

Dia tertawa lebar, matanya berbinar-binar, “saya senang sekali, saya su dekat deng say apecita-cita."

Pertemuan kami yang singkat itu meyakinkan aku, Ical perlahan-lahan kelak akan semakin dekat lagi dengan cita-citanya hingga tiba waktunya untuk terwujud nanti.

Dan aku akan berdoa untuk itu.
***

Baca tulisan Arifah Nugraheni lainnya:

Ibu Izin Membaca Buku Di Sini, Rabu-Rabu* Saja 

"Itu Maleo, Nak. Bukan Ayam Besar. Jangan Dimakan Lagi!" 

Ada Lelah Tanpa Upah

Apa Cita-citamu Nak? 

Membara

Sepatu Linda dan Seorang Murid

ceritanet©listonpsiregar2000