sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 270, 20 april 2017

Tulisan lain

Dengan Mirat - Chairil Anwar

G3 WA 7 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 35 - Aminatul Faizah

Folkestone

Kepada Pelukis Affandi - Chairil Anwar

Menanti kerja kelas menengah Jakarta - Liston P Siregar

G3 WA 6 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 34 - Aminatul Faizah

Chilham

Seandainya Ahok di rezim Orde Baru - Liston P Siregar

Lagu Siul - Chairil Anwar

G3 WA 5 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 33 - Aminatul Faizah

Beachy Head

Ciri Orang Indonesia di Era Digital - Liston P Siregar

Siap Sedia - Chairil Anwar

G3 WA 4 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 32 - Aminatul Faizah

Ide Hill

Sajak Putih - Chairil Anwar

G3 WA 3 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 31 - Aminatul Faizah

Greenwich

G3 WA 2 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Saat Petani - Jajang Kawentar

Isa, Kepada Nasrani Sejati - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 30 - Aminatul Faizah

Greenwich

novel Mimpi Buruk Pilkada Jakarta
Liston P Siregar

Bagi sejumlah orang -termasuk saya- kekalahan Ahok menjadi pukulan yang cukup kuat. Tak sampai membuat jatuh atau cedera, tapi cukup untuk menimbulkan rasa sakit. Juga tetap mengejutkan, biarpun dulu sempat terlintas kalau kekalahan itu hanya tinggal menunggu waktu.

Mungkin sejumlah orang tadi punya alasan yang berbeda dengan saya, yang tak punya hak memilih. Mereka antara lain merasakan langsung kebersihan Jakarta berkat 'Pasukan Oranye', pembersihan sungai dan bantarannya, serta pemberantasan pungli di kelurahan-kelurahan. Ahok bekerja dan menghasilkan, menurut mereka.

Alasan saya berbeda, walau mungkin saja banyak juga yang sama dengan saya. Karena tidak tinggal di Jakarta, sebenarnya -sungguh- tak terlalu menjadi soal besar jika yang menang Ahok atau Anies. Tapi ada soal lain di luar kemampuan Ahok dalam mengelola Jakarta dan kepiawaian Anies untuk merangkai kata-kata. Soal yang amat serius.

Dalam acara kemenangan Anies-Sandi, Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, menyampaikan ucapan terimakasih kepada beberapa ulama atau kiai dan yang pertama disebut namanya adalah Rizieq Shihab, si Ketua FPI. Inilah sebenarnya pukulan yang cukup kuat itu.

Setelah Ahok gagal menang langsung dalam satu putaran dan hanya mencapai selisih sekitar 3% dari Anies, maka ada banyak faktor yang diduga bakal bisa menyebabkan kekalahannya.

Salah satu adalah karakternya yang tidak cocok dengan sejumlah pemilih. Juga ada faktor arahan partai, biarpun Ahok diusung partai pemenang pemilu PDI-P, jelas basis pendukung Gerindra, PKS, PAN, tak bisa dimusnahkan begitu saja. Ada lagi kemalasan kelas menengah Jakarta yang asyik sendiri karena tak mau ke luar dari zona nyaman saat berkampanye untuk Ahok (baca Menanti kerja kelas menengah Jakarta). Barulah masuk faktor agama Islam dan tuduhan penistaan agama.

Ucapan terimakasih Prabowo kepada Rizieq Shihab membuktikan faktor agama Islam dan tuduhan penistaan agama itu ternyata merupakan taktik penting dalam kubu Anies. Dan ini seharusnya memukul semua orang Indonesia selama Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika masih merupakan pegangan kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Tahun 1999 lalu, Megawati Soekarnoputri pernah menjadi korban dari 'politik agama' yang waktu itu dipimpin oleh Ketua Umum PAN, Amien Rais. Dengan kampanye pemimpin perempuan tidak sesuai dengan ajaran agama Islam, Gus Dur yang kemudian dipilih MPR menjadi presiden.

Ternyata walau cuma memimpin selama dua tahun, Gus Dur adalah presiden yang paling banyak dikenang dengan baik rakyat Indonesia -lupakan sajalah bahwa Amien Rais pula yang ikut menjadi motor dalam menggulingkan Gus Dur dan sekaligus mengangkat Megawati ke kursi presiden.

Delapan belas tahun berlalu, 'politik agama' dimainkan lagi dalam skala yang lebih kecil namun lebih memecah. Kali ini juga diwujudukan secara brutal walau pesannya sederhana: umat Islam tidak boleh memilih pemimpin yang bukan Islam.

Rekayasa video yang disusul dengan penafsiran subyektif serta lembaga peradilan yang tertekan adalah bentuk kebrutalan itu. Unjuk rasa umat Islam 411 dan rangkaian yang menyusul tak banyak beda dengan massa dari satu kelompok agama yang ingin 'membunuh' satu orang tersangka penistaan agama. Peristiwa yang biasa terjadi di zaman pertengahan dulu atau pada masa kini negara-negara terbelakang.

Kebrutalan lainnya menolak menyembahyangkan pemeluk Islam yang mendukung Ahok dan puncak kebrutalan itu adalah mengusir pemeluk Islam yang berbeda aliran politiknya bersembahyang di masjid kelompok Anies. Upaya memecah belah bahkan sampai pada tingkat sesama umatnya.

Jadi ketika Prabowo, bapak koalisi pengusung Anies-Sandi, mengucapkan terima kasih kepada Rizieq Shihab atas kemenangan calon mereka, maka tak banyak lagi ruang penafsiran yang tersedia. Faktor-faktor lain yang sebenarnya juga mendukung kemenangan Anies-Sandi menjadi tersingkirkan.

FPI dengan hasutan kebencian, dengan pengerahan massa, dengan seruan sektarianisme adalah faktor paling penting dalam kemenangan Anies-Sandi. Taktik yang dikhawatirkan pula akan dibawa ke persaingan-persaingan politik berikutnya karena efektifitasnya, walau bertentangan dengan etika kenegaraan dan kemasyarakatan di Indonesia.

Itu dia alasan saya.

Jadi bukan sekedar mendukung Ahok atau Anies -siapalah saya ini yang tidak tinggal di Jakarta- tapi bahwa di Indonesia pada Abad 21 -di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang diharapkan reformis dan demokratis- agama seseorang dan latar belakang etnisnya mestinya tidak relevan dalam sebuah pertarungan politik.

Bahwasanya 'politik agama' masih efektif untuk menggalang suara secara praktis, maka mestinya pula negara dengan seluruh lembaga dan aparatnya menjamin agar politik agama yang sektarian itu tidak berkembang, atau setidaknya meminimalkannya. Hal yang sepertinya masih kurang terasa.

Pukulan dari Pilkada Jakarta pun terasa lebih menyakitkan lagi.
***

ceritanet©listonpsiregar2000