ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 26, Selasa 30 Oktober 2001
___________________________________


sajak
Rakyat Tak Mungkin Merdeka
Sutrisno Budiharto

Orang dunia banyak tahu, pada 17 Agustus 1945 lalu negeri yang dinamai Indonesia ini telah merdeka, dengan pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan oleh Soekarno-Hatta atas. Sejak itu yang mengklaim sebagai para pejuang mulai mengklaim Indonesia telah bebas dari penjajahan, merdeka dari penindasan kolonial. Tapi apakah pembacaan teks proklamasi itu telah mengantarkan rakyat Indonesia benar-benar menjadi merdeka dari segala penindasan? WS Rendra menilai rakyat Indonesia tetap belum merdeka --Rendra, Mei 2000. ''Saya memberi kesaksian bahwa meskipun Negara Indonesia adalah negara merdeka, tetapi rakyat Indonesia atau bangsa Indonesia, belum merdeka.'' Para penindas rakyat utama, kata Rendra, adalah pemerintah Orde Lama-Orde Baru, dan semua partai politik.

Lantas Hamid Jabbar, seorang penyair parodi, membuat sebuah sajak mengenai kemerdekaan Indonesia yang kedua kalinya. Judulnya Proklamasi 2, isinya seperti ini;

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia untuk kedua kalinya! Hal-hal mengenai hak asasi manusia, utang-piutang, dan lain-lain yang tak habis-habisnya INSYA ALLAH akan habis diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 25 Maret 1992
Atas Nama Bangsa Indonesia Boleh siapa saja

Mantan Sekretaris Dewan Kesenian Jakarta (1993-1996) itu pernah juga bersajak;

Tekdung tralala, tekdung tralala! Kepada Bangsaku, Bangsa Hilang, ingatlah kita telah berjaya di pasar yang bebas lepas ini, berpacu laju menuju pusat kendali rasa monopoli paling strawberry dalam kerja merampok abad-abad mendatang. Tekdung tralala, kendalikan diri! Sebab tak ada guna berang ataupun sayang yang berlebihan kepada siapa saja, juga kepada para tetangga, apalagi kepada anak bini yang suka hati gagah berani mengaku sebagai koruptor yang belum masuk kalkulator...

Kalau Rendra menganggap rakyat belum merdeka dan Hamid Jabbar membuat Proklamasi 2, maka saya berpuisi rakyat memang tidak mungkin bisa merdeka;

Rakyat belum merdeka, katamu
itu bukan hanya kau yang tahu
para gelandangan dan lalat-lalat di bak sampah
para pengamen jalanan dan
tikus-tikus di lorong pertokoan
para babu dan anjing-anjing penjaga di perumahan parlemen
juga bisa merasakan itu

Rakyat belum merdeka, katamu
aku juga tahu itu
sebab, rakyatmu memang tetap menjadi rakyat sejak dulu
entah sudah berapa ribu politisi menawarkan
keadilan dan kemakmuran
entah sudah berapa juta janji
dikobarkan di panggung-panggung orasi politisi
tapi keadilan selalu terperosok ke dalam perut para politisi sendiri

Rakyat belum merdeka, katamu
aku juga sangat tahu itu
mana mungkin bisa merdeka, bila keadilan hanya menjadi tulisan dan puisi
mana mungkin bisa merdeka,
bila mereka hanya jadi tunggangan kesana-kemari
mana mungkin rakyat bisa merdeka, bila kerakusan selalu menjadi nabi

Rakyat belum merdeka, katamu
ya, aku juga sangat tahu itu
sebab, rakyatmu memang tak kan mungkin merdeka
sebab, tanah air ini hanya bagai penjara bagi mereka

Rendra mengaku pernah diingatkan seorang mahasiswa Unpad bahwa Che Guevara, seorang revolusioner romantik dari Cuba, pada akhirnya juga melihat bahwa rakyat yang sudah terlalu lama ditindas amat sulit dibawa merdeka. Karena secara tidak disadari lama-kelamaan rakyat yang tertindas itu sangat terpengaruh oleh sistem dan mental para penindasnya. Sehingga saat mereka sudah dimerdekakan melewati revolusi, tanpa disadari mengadopsi sistem, metode, mental dan tingkah laku para penindasnya tempo dulu. Persoalannya, apakah rakyat Indonesia masa kini, yang nota benenya generasi kelahiran Orde Baru, banyak yang sulit diajak merdeka setelah lama ditindas Orde Baru?

Ketika ngobrol ngalor-ngidul di internet, saya pernah mencorat-coret puisi;

Di Indonesia ini,
antara Sabang-Merauke,aku tak tahu;
apakah masih ada bahasa yang mampu ungkapkan kebenaran tentang cinta dan ketulusan.
Sebab, bahasa Tuhan-pun, kudengar, sering diperkosa.
Dengarlah sendiri, o duniaku
di Indonesia ini banyak mulut-mulut suci yang selalu nyanyikan suara Tuhan
tapi tengoklah sendiri ke dalam hati
Tuhanku sering ditikam dengan ayat-ayat firman-Nya sendiri
darahpun hanya bagai mainan kanak-kanak
di Aceh, Maluku, Sampit dan entah di mana lagi.
Lihatlah sendiri, o duniaku
orang-orang salah itu tetap saja tak mau kalah dan menyerah
seolah malah ingin menjadi Tuhan.
Dan, Merah-putih itupun semakin pucat kehabisan darah
Di Indonesia ini, o duniaku
Tuhan-ku telah ditikam dengan ayat-ayat firman-Nya sendiri

Jalaluddin Rumi, seorang sufi dan penyair besar Timur Tengah, pernah memaparkan betapa mulianya jiwa yang merdeka, betapa pentingnya pemimpin yang berjiwa merdeka. Rumi mengutip hadis Nabi Muhammad SAW ;

Seburuk-buruknya ulama adalah ulama yang mengunjungi penguasa, dan sebaik-baik penguasa adalah penguasa yang mengunjungi ulama. Berbahagialah seorang penguasa yang berada di depan pintu orang miskin dan celakalah orang miskin yang berada di gerbang
penguasa.

Seorang Mahatma Gandhi punya daftar tujuh dosa orang-orang yang menodai prinsip atau nuraninya;

meraih kekayaan tanpa kerja, kenikmatan tanpa suara hati, pengetahuan tanpa karakter, perdagangan tanpa etika, ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, agama tanpa pengorbanan, dan politik tanpa prinsip

Orang yang berjiwa merdeka, setidaknya tidak akan menjadi pelacur penjaja kebenaran. Rakyat tidak butuh orang cerdas yang kecerdsannya hanya untuk membajak keadaulatan rakyat. Semoga saja para pemimpin di bawah komando Megawati Soekarnoputri banyak yang berjiwa merdeka.

Merdeka!
***

ceritanet
kirim tulisan
©listonpsiregar2000