ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 26, Selasa 30 Oktober 2001
___________________________________


novel
Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu
Bramantyo Prijosusilo

"Hey, sis, how about a coffee before we go to your flat?" Keith memecah kesunyian. Jagger terhenyak, mobil mereka kini sedang menyusuri satu jalan yang dipenuhi dengan kios-kios di tepinya, tak jauh beda dari kaki lima di Indonesia.

"Ini jalan Portobello, Jagger, ingat, aku pernah cerita di London ada jalan seperti jalan Malioboro di Jogja?" Jelas Elaine pada suaminya. Benar juga, sepanjang jalan yang sempit itu, terlihat kios-kios kaki lima yang menjajakan berbagai jenis barang kerajinan. Bedanya dengan Malioboro, adalah barang yang di jual di Portobello berasal dari seluruh dunia; India, Afghanistan, Thailand, Brazil, Peru, Vietnam, Cina, dan banyak negara lain, juga dari Indonesia. Sedangkan barang yang dijajakan pedagang kaki lima di Malioboro hanya berasal dari Jogja dan sekitarnya saja.

Keith mengendarai mobilnya dengan perlahan menyusuri jalan satu arah yang penuh sesak dengan orang yang berjalan kaki itu. Mobil hampir saja tak bisa bergerak. Ini satu lagi perbedaan antara jalan ini dengan Malioboro. Di sini, pejalan kaki memperoleh prioritas, sedangkan di Malioboro, pejalan kaki seolah samasekali tak mempunyai hak untuk selamat.

"A coffee would be nice, Keith!" kata Elaine, lalu disambung
"How about we stop at the Portugese café at Golbourne road?"
"That is what I was thinking of."
"Do you like Portuguese cakes and coffee, Jagger?"
"Like Portugis? No! Portugis is Indonesia enemy!"

Mendengar disebutnya Portugis, Jagger, teringat kasus Timor Timur yang ruwet. Cuci otak dan seleksi informasi yang dipraktekkan Orde Baru cukup berhasil membentuk opini Jagger mengenai negeri Timor Timur. Belum lama berselang, ada peristiwa Dili. Terekam kamera video dan ditayangkan dalam berita TV di seluruh dunia: tentara Indonesia dengan brutal membantai rombongan peziarah di sebuah kuburan tua yang berdinding tembok tinggi. Dunia geger, termasuk Indonesia.

Dengan ditayangkan dan dicetaknya gambar-gambar orang-orang panik terkurung di dalam dinding pekuburan, ditembaki tanpa bisa melarikan diri ataupun berlindung, maka versi resmi penyerbuan Indonesia ke Timor Timur mulai mendapat sangkalan dari pers nasional secara terbuka. Orang mulai mempersoalkan brutalitas tentara dan korban sipil tak berdosa, namun Jagger sangat percaya bahwa memang seharusnyalah Timor Timur menjadi propinsi ke 27 dari Indonesia Raya. Jagger merasa tersinggung rasa nasionalismenya, beranggapan bahwa Portugis itu musuh Indonesia maka sekaligus juga musuhnya. Elaine segera menengahi dalam bahasa Indonesia:

"Yang dimaksud Keith itu café Portugis, Jagger. Café, kue dan kopinya enak sekali. Kita mampir sebentar sebelum ke rumah. Ini Portugis rakyat, bukan politics, OK?"

"Kalau cuma ngopi, sih, ayo saja. Tapi Portugis tetap musuh Indonesia!"

"Let's go to the Portugese café, Keith. Jagger was thinking of East Timor and the war there. I am sure he will like it!" Lalu kepada Jagger ia menjelaskan lagi;

" Kafe Portugis ini terkenal di sini, Jagger, langganannya semua orang di sekitar sini. Banyak juga orang Rastafarian di situ. Kamu bisa ketemu orang-orang yang jual ganja, juga di kafe itu!"

"Ganja? Nah, kalau itu aku mau!" Jawab Jagger.

Kepada Keith, Elaine menjelaskan lagi "Jagger and his mates in Indonesia are all spliff-heads! They spend all their time hanging around smoking! Don't you Jagger?"

"Yes." Jawab Jagger "I like smoking the ganja! They sell ganja in the café?"

"No, of course not. London is not Amsterdam. Ganja is not really legal here in England. But even so, police are more concerned about cocaine and heroin and other hard drugs, and they don't bother the people who sell ganja. It is part of the culture of the black people and the Muslims here, anyway!"

Keith menjelaskan bahwa meski tidak legal, polisi tidak pernah mengganggu pedagang ganja karena ganja bukanlah drug yang keras, lagipula merupakan bagian dari kebudayaan orang-orang kulit hitam dan kaum Muslim di sana.

"What? Is ganja Muslim culture?" tanya Jagger, heran, masa, ganja dikatakan bagian dari budaya Muslim.

"Well, yes, isn't it?" Keith, heran atas keheranan Jagger. Setahu Keith, ganja itu merupakan bagian dari budaya masyarakat Islam yang melarang alkohol.

"The best hashish is made by the Muslims in Afghanistan and North Africa!"

Jagger bingung dengan pernyataan ini. Hashish terbaik dibuat kaum muslim di Afganistan dan Afrika Utara? Jagger tidak tahu. Memang, dia pernah mendengar dan membaca bahwa kata assassin, atau pembunuh bayaran, masuk ke dalam bahasa Inggris melalui Perang Salib, ketika ada satu pasukan rahasia kaum Muslim yang sangat ditakuti, dan konon mereka menghisap hashish sebelum berangkat menyerang. Jadi Jagger berpikir bahwa sangat mungkin Keith memang benar mengatakan ganja budaya Islam. Tapi dia diam saja, khawatir membuka belang ketidak-tahuannya akan budaya Islam, agamanya sendiri.

Mobil mereka sampai di ujung jalan Portobello dan berbelok ke kanan. Terbaca nama jalan yang tertera pada sebuah plat logam yang ditempel di dinding gedung di sudut jalan: Golbourne Road, W10. Jagger melihat banyak toko-toko kecil yang memasang papan nama bertuliskan huruf Arab.

Di trotoar terlihat banyak pria dan wanita berpakaian sweater dan jaket berwarna terang mencolok, bertubuh besar berkulit hitam, berdiri santai sambil merokok. Hampir semua mereka berambut gimbal, baik yang masih muda maupun yang sudah tua dan beruban. Jagger memperhatikan rokok mereka, semua lintingan sendiri. Jangan-jangan mereka semua sedang menghisap ganja, pikirnya.

"There, look Jagger!" kata Keith "There are all the Caribbeans hanging out, smoking their ganja now!"

Wah, keturutan gue ngegele di London ini, pikir Jagger. Pemandangan orang-orang berkulit hitam di trotoar itu, tua muda lelaki dan wanita yang semuanya menghisap ganja, menyenangkan hatinya. Mungkin beginilah kehidupan Bob Marley di Jamaika dulu, pikir Jagger. Pernah Jagger melihat satu majalah luar negeri mengenai kehidupan Bob Marley, termasuk foto panen bunga di ladang ganja di rumahnya. Teringat, Jagger ngiler juga melihat foto bunga-bunga ganja yang nampak berminyak penuh bius itu. Jelas terlihat Bob Marley tersenyum bangga, mengangkat kedua tangan yang menggenggam tangkai-tangkai bunga-bunga ganja yang teruntai penuh padat dan panjang. Jika di Indonesia, untaian bunga ganja yang demikian subur itu dinamakan buntut bajing.

Tak jauh, dari situ Keith memarkir mobil. Begitu melangkah keluar dari mobil, udara dingin menampar wajahnya membuyarkan lamunan Jagger. Barulah dia sadar betapa dinginnya cuaca di luar. Cepat-cepat mereka semua berjalan mengikuti Elaine yang menggendong Sanca, memasuki kafe yang dituju. Dinding kafe terbuat dari kaca, terlihat kabut dengan uap yang mengembun. Keith mendorong pintu kafe, dan mereka berempat segera masuk.
***
bersambung


ceritanet
kirim tulisan
©listonpsiregar2000