sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 269, 16 maret 2017

Tulisan lain

Kepada Pelukis Affandi - Chairil Anwar

Menanti kerja kelas menengah Jakarta - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 34 - Aminatul Faizah

Chilham

Seandainya Ahok di rezim Orde Baru - Liston P Siregar

Lagu Siul - Chairil Anwar

G3 WA 5 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 33 - Aminatul Faizah

Beachy Head

Ciri Orang Indonesia di Era Digital - Liston P Siregar

Siap Sedia - Chairil Anwar

G3 WA 4 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 32 - Aminatul Faizah

Ide Hill

 

Sajak Putih - Chairil Anwar

G3 WA 3 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 31 - Aminatul Faizah

Greenwich

G3 WA 2 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Saat Petani - Jajang Kawentar

Isa, Kepada Nasrani Sejati - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 30 - Aminatul Faizah

Greenwich

G3 WA 1 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Sepatu Linda dan Seorang Murid - Arifah Nugraheni

Jangan Kita Di Sini Berhenti - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 29 - Aminatul Faizah

Tilbury

novela G3 WA 6 (Gara-gara Grup WhatsApp)
Liston P Siregar

Saya pernah suka Bos Personalia, ketika dia baru diangkat. Dia datang ke meja semua orang, mengenalkan diri dan menyediakan diri untk siap membantu jika diperlukan kapan saja.

“Datang ke saya Pak Simatupang atau email atau telepon, kapan saja perlu, semoga bisa saya bantu. Saya juga akan sering belajar ke Bapak, pastilah banyak yang bisa dipetik dari orang senior seperti Bapak,” katanya waktu itu.

Dan waktu itu aku juga rada tersentak, menyadari bahwa aku memang menjadi karyawan yang paling lama bekerja di kantor.

Memang ada yang hanya selisih beberapa bulan lebih lama dari satu dua kawan yang tidak pernah naik pangkat dan naik gaji selain peyesuaian dengan tingkat inflasi resmi pemerintah itu. Tapi berdasarkan catatan resmi, aku yang paling lama, dan Bos Personalia itu melihat file-file tiap orang dulu sebelum bertemu orang. Cerdas dan professional, pikirku.

Ternyata tiga tahun sudah cukup untuk menghancurkan seseorang, kalau memang dilakukan secara sistematis demi mencapai jabatan tinggi dan -yang lebih penting lagi- kalau memang yang bersangkutan rela dihancurkan.

Yang pertama kali hancur adalah kesopanannya karena setiap berpapasan saja dia tidak membalas sapaan, apalagi menyapa lebih awal. Juga kecerdasan dan profesionalismenya, paling tidak untuk urusan denganku.

Ketika Bos Utama baru datang -salah seorang keponakan pemilik perusahaan- kami semua harus diaudit lagi dari segi job deskripsi, sasaran, dan capaian, termasuk tingkat gaji. Yang dibayangkan oleh kelompok tak naik pangkat dan tak naik gaji adalah Bos Personalia atau salah seorang staf personalia duduk bersama kami di meja dan mengobservasi pekerjaan kami sehari-hari sambil bertanya sana sini yang tidak jelas.

Kenyataannya, kami dipanggil satu per satu untuk menjawab sejumlah pertanyaan, yang menurut kelompok kawan-kawan senasib saya tadi- lebih tepat dengan istilah diinterogasi lagsung oleh Bos Personalia.

Waktu giliranku, di ruangannya yang luas dengan meja rapat kecil dan empat kursi, terlihat ada lukisan besar berbingkai tebal warna emas di dinding belakang kursinya.

Lukisan Persistence of Memory karya Salvador Dali, tapi cuma cetakan poster massal yang murahan. Kebetulan aku punya teman penggemar berat Dali dan kalau sudah minum segelas bir saja akan nyreocos tak habis-habisnya tentang Dali.

Demi ‘pendidikan Dali’, alasannya, dia pernah memberi aku sebuah poster lukisan Dali, yang sama dengan yang di ruang kerja Bos Personalia. Waktu itu kawanku itu wanti-wanti: “Jangan salah, ini yang murahan dari Orchard Street,” jadi aku gulung simpan di garasi karena poster murahan, katanya, dengan logo kecil mencolok dari perusahaan percetakan di sudut kanan poster.

Jadi pajangan poster murahan itu –ada logo kecil yang sama di kanan bawah- sudah membuat aku rada jijik. Ditambah lagi dengan bahwa fileku belum ada di mejanya. Dia juga tidak berdiri menyambut kedatanganku, selayaknya sopan santun professional, tapi cuma dingin seperti mesin menyilahkan duduk sambil matanya tetap menatap layar komputer.

Dipencetnya tombol dan sekretarisnya nongol, “Tolong file Simatupang,” katanya biarpun daftar interogasi sudah disebar ke semua karyawan sejak sepekan lalu dengan rincian lengkap hari, jam, dan korbannya.

Sambil menunggu beberapa menit, dia tetap menatap komputernya dan aku menatap tajam mukanya, yang tidak memperdulikan aku pula. Interogasiku berjalan lancar karena dia secara mekanis mengajukan daftar pertanyaan yang sudah disiapkan dan aku menjawab dengan yang sudah kupersiapkan –sesuai dengan saran salah seorang kawan dari kelompok yang pangkat dan gajinya tidak pernah naik yang sudah dipanggil lebih dulu.

Usai tanya jawab, dia mengucapkan terima kasih, aku juga mengucapkan terima kasih dan aku ke luar dengan dari ruangan interogasi murahan itu.

Aku yakin banyak orang yang memberi komentar basa-basi atas lukisan Dali di ruang kerjanya, entah itu memuji bagus, bertanya, atau berlagak membahasnya. Tapi senang resanya aku masuk dalam sedikit orang yang tidak berkomentar tentang lukisan Dali-nya, yang amat pretensius untuk menunjukkan kesan bahwa prinsipnya adalah kerja, kerja, dan kerja tanpa mengenal waktu.

Paling tidak begitulah penafsiran yang kuyakini dan jelas tak mungkin pula kusampaikan kepadanya.
***
bersambung

G3 W 1 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

G3 WA 2 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

G3 WA 3 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

G3 WA 4 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

G3 WA 5 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

 

ceritanet©listonpsiregar2000