sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 269, 16 maret 2017

Tulisan lain

Kepada Pelukis Affandi - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 34 - Aminatul Faizah

G3 WA 6 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Chilham

Seandainya Ahok di rezim Orde Baru - Liston P Siregar

Lagu Siul - Chairil Anwar

G3 WA 5 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 33 - Aminatul Faizah

Beachy Head

Ciri Orang Indonesia di Era Digital - Liston P Siregar

Siap Sedia - Chairil Anwar

G3 WA 4 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 32 - Aminatul Faizah

Ide Hill

 

Sajak Putih - Chairil Anwar

G3 WA 3 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 31 - Aminatul Faizah

Greenwich

G3 WA 2 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Saat Petani - Jajang Kawentar

Isa, Kepada Nasrani Sejati - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 30 - Aminatul Faizah

Greenwich

G3 WA 1 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Sepatu Linda dan Seorang Murid - Arifah Nugraheni

Jangan Kita Di Sini Berhenti - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 29 - Aminatul Faizah

Tilbury

komentar Menanti kerja kelas menengah Jakarta
Liston P Siregar

Para pendukung Ahok, kesan saya, panik dengan hasil putaran pertama Pilkada DKI Jakarta.

Didukung rapinya organisasi Teman Ahok yang relawan, penggalangan satu juta tanda-tangan walau belakangan tak ada gunanya, dan flashmob yang meriah, ternyata Ahok hanya mampu meraih selisih tiga persen dari Anies Baswedan, yang kampanye-nya berkesan membosankan.

Keyakinan menang satu putaran bukan cuma tidak tercapai, tapi kemenangan di putaran kedua kok rasanya juga menjadi tidak pasti.

Untunglah SBY -dengan bekal perolehan suara anaknya sekitar 17%- sudah bertemu Presiden Joko Widodo, yang oleh beberapa orang dianggap sebagai awal dari kesepakatan mengalihkan suara Agus Yudhoyono -yang masih cuma boneka bapaknya- ke Ahok.

***

Ada meme tentang Raja Salman dan Anies Baswedan, yang hampir pasti sudah dilihat orang-orang yang punya akun media sosial. Mengulang kembali: Raja Salman disebut membawa Rp150 miliar untuk rombongan 1.500 orang sementara Anies Baswedan membawa Rp146 miliar untuk 123 orang (ke Festival Buku Frankfurt 1015 lalu).

Meme -yang niatnya untuk memperlihatkan bahwa Anies membuang-buang uang itu-muncul setelah putaran pertama dan disusul lagi dengan dilaporkannya Anies ke KPK karena dianggap biaya untuk festival buku itu terlalu tinggi.

Ada pula lagi meme yang megejek Anies tiba-tiba jadi orang saleh, "Sebelum didukung FPI bla bla "take a beer bro!" Setelah didukung bla bla bla "takbir" sodare!"

Singkirkan sajalah soal benar tidaknya, namanya juga manajemen politik masa kini memang penuh dengan perang pencitraan.

Yang menjadi perhatian adalah tiba-tiba, menurut pengamatan saya, karakter pendukung Ahok berubah setelah jagoannya yang 'cool dan berprestasi' hanya meraih selisih tiga persen suara dari calon 'yang dipecat dari jabatan menteri pendidikan karena cuma bisa omong doang'.

Mereka sepertinya sudah berubah dari kelompok cerdik dan -lebih penting lagi- yang tidak tertarik dengan karakter saingan Ahok dengan hanya memusatkan perhatian untuk menghadirkan pencapaian Ahok dalam membersihkan Kali Ciliwung, menjaga kebersihan Jakarta, menggusur kawasan kumuh sambil menawarkan apartemen penampungan baru, menutup kompleks perdagangan seks, maupun mendirikan kantor bersama untuk pekerja kreatif.

Sekarang kelompok itu menjadi sama dengan kelompok-kelompok pendukung 'hewan politik' lainnya: menang bukan dengan menggalang suara tapi juga karena mengurangi suara lawan.

Panik?

***

Menjelang referendum Brexit, tak ada yang memperkirakan kelompok warga yang ingin Inggris ke luar dari Uni Eropa (atau Leave) yang ternyata menang. Perkiraan jajak pendapat adalah kubu yang ingin tetap bersama Uni Eropa (Remain) bakal menang dengan selisih sekitar 4%-5%.

Bahkan Nigel Farage -pemimpin Partai UKIP, yang antiimigran dan pendukung utama Inggris ke luar dari Uni Eropa- sempat mengakui kekalahan pada malam setelah pemungutan suara. Belakangan dia tertawa lebar dan sudah lupa kalau sempat mengaku kalah.

Jika dilihat dari peta hasil referendum, selain di Skotlandia maka di kawasan Inggris bisa dilihat bahwa kemenangan kubu Remain antara lain di London dan sekitarnya, sedang wilayah-wilayah pelosok direbut kubu Leave.

Pemilihan presiden Amerika Serikat lebih ngeri lagi.

Perkiraan kemenangan Hillary Clinton lebih meyakinkan dengan koran ternama New York Times pada hari pemungutan suara, 8 November, memperkirakan peluang kemenangan Clinton sampai 85% sementara Donald Trump cuma 15%.

Kenyataannya Trump menang, yang menurut Politico sebagai 'kekecewaan terbesar dalam sejarah Amerika Serikat'. Kalahnya perolehan total suara Trump juga sekaligus merupakan yang terbesar, dengan total sekitar 2,8 juta suara lebih sedikit dari Clinton.

Namun Trump yang jadi presiden karena merebut 306 wilayah pemilihan sedang Clinton hanya 232 suara, dengan selisih 74 wilayah pemilihan, yang tidak termasuk selisih besar walau juga jelas bukan yang terkecil pula.

Setelah kalah, seorang pegiat kampanye Hillary Clinton mengungkap mantan presiden Bill Clinton marah-marah kepada tim kampanye Hillary, "reach out, reach out."

Bill -yang tahun 1992 menang meyakinkan melawan George W Bush dengan selisih 202 wilayah pemilihan dan tahun 1996 mengalahkan Bob Dole dengan selisih 220 suara- tampaknya paham betul bahwa yang menentukan itu para pemilih yang tinggal di semua pojok Amerika Serikat. Jadi bukan cuma yang tinggal di New York dan Washington (keduanya direbut Clinton).

Pada masa kampanye, kubu Clinton -yang 'terangkat' oleh media massa dan media sosial- sepertinya sudah asyik sendiri dengan dukungan para kelas menengah. Mereka juga sibuk menggalang dana hingga mencapai (versi Bloomberg) hampir US$1,2 miliar (nyaris dua kali lipat dari dana Trump US$646 juta).

Tapi agaknya kubu Clinton tertinggal dalam mencapai para pemilih yang 'kurang bermodal, rendah pendidikannya', yang dari jumlah total memang tidak lebih banyak dari yang mendukung Trump tapi -berdasarkan sistem pemilihan Amerika Serikat- cukup untuk membuat Clinton kalah.

***

Pendukung Ahok mungkin bisa belajar dari Brexit, Pilpres AS, dan juga pemilihan umum Belanda: bahwa para pemilih bukan hanya yang aktif di meda sosial dan tidak terpana dengan media massa kelas menengah, yang mendukung kinerja daripada isu sara.

Flashmob para pendukung Ahok, misalnya, memang menarik jadi liputan media, dibahas di media sosial, tapi sekaligus memberi kesan yang bisa keliru bahwa Ahok didukung oleh massa pemilih. Padahal ada 7 juta pemilih di DKI Jakarta.

Memang ada kemungkinan kubu Ahok mendapat perolehan suara 17% dari SBY, yang pasti mengantarkan Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta. Tapi itu disebabkan dagang politik oleh para elite. Jika memang itu terjadi, maka kelas menengah pendukung Ahok bisa nyaman lagi di bawah lindungan patron-nya: kaum elite politik Indonesia.

Pemilu Belanda mungkin menjadi salah satu contoh dari kerja keras untuk menanggapi kekhawatiran akan politik kanan yang diusung partai PVV pimpinan Geert Wilders yang antipendatang. PVV sempat diperkirakan akan menjadi partai terbesar namun akhirnya di peringkat dua.

Kekhawatiran akan PVV itu, antara lain mendorong, GroenLinks atau partai hijau kiri, bekerja keras untuk menarik kaum muda berpartisipasi. Partai ini dipimpin oleh Jesse Klaver, yang sering disebut sebagai Justin Trudeau-nya Belanda, karena daya tariknya di kalangan kaum muda.

Para pegiatnya yang muda turun ke jalan-jalan di Belanda bukan hanya untuk mempromosikan partainya tapi mendorong kaum muda -yang biasanya apatis terhadap sistem politik konvensional- agar memberikan suara: agar mereka tidak cuma duduk-duduk pasif menanti pemenang pemilu melainkan ikut memilih pihak yang sebaiknya memerintah.

Hasilnya tingkat partisipasi pemilih di Belanda mencapai 80,2% -naik dari 74,6% pada 2012 lalu- dengan jumlah pemilih sebanyak 10,3 juta yang merupakan rekor terbanyak, menurut lembaga penyiaran pemerintah NOS. Para pengamat memperkirakan tingginya partisipasi itu yang menangkat suara partai penentang PVV -yang tetap dapat tambahan lima kursi menjadi 20 namun di bawah perkiraan awal sampai 30-an kursi.

Pilkada DKI Jakarta 19 April mungkin bisa jadi gambaran dari kelas menengah Jakarta, yang jika disederhanakan apakah seperti pendukung Clinton yang seru-seru sendiri di kelompoknya atau para pendukung Klaver yang bekerja keras mencapai orang-orang di di luar partainya.

Kekalahan Ahok jelas jadi bukti 'kenyamanan kelas menengah Jakarta' yang tidak mau berkeringat ke luar dari rumahnya sedang kemenangan dengan selisih 14% juga bisa mencerminkan 'kenyamanan kelas menengah Jakarta' yang dapat warisan 17% suara dari 'bapak' mereka yang bernama SBY.

Berbeda dengan putaran pertama, buat saya, kemenangan tipis di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta justru membuat bahwa pendukung Ahok 'meniru' pendukung Klaver.

***

ceritanet©listonpsiregar2000