sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 268, 14 februari 2017

Tulisan lain

Seandainya Ahok di rezim Orde Baru - Liston P Siregar

Lagu Siul - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 33 - Aminatul Faizah

Beachy Head

Ciri Orang Indonesia di Era Digital - Liston P Siregar

Siap Sedia - Chairil Anwar

G3 WA 4 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 32 - Aminatul Faizah

Ide Hill

Sajak Putih - Chairil Anwar

G3 WA 3 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 31 - Aminatul Faizah

Greenwich

G3 WA 2 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

-Saat Petani - Jajang Kawentar

Isa, Kepada Nasrani Sejati - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 30 - Aminatul Faizah

Greenwich

G3 WA 1 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Sepatu Linda dan Seorang Murid - Arifah Nugraheni

Jangan Kita Di Sini Berhenti - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 29 - Aminatul Faizah

Tilbury

Membara - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 12 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Merdeka - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 28 - Aminatul Faizah

Berlin

novela G3 WA 5 (Gara-gara Grup WhatsApp)
Liston P Siregar

Tidak mengirim daftar harga ke Amelia dan tidak menelepon George ternyata membuat aku harus menjelaskan rincian perkejaan yang aku lakukan pada malam sebelumnya, di depan Bos Operasi dan Bos Personalia.

Di depan keduanya ada beberapa kertas dan aku lirik sekilas ada cetakan pembicaraan WA Viva Teamwork! dan beberapa email, kuduga ada email Amelia di sana. Aku sempat bingung sekejap tapi seperti yang mereka minta maka kujelaskan secara rinci semua yang kujalani pada malam itu.

Mulai dari kerja sendiri, ada email Amelia yang tidak minta buru-buru tapi sebenarnya langsung dikerjakan, ternyata filenya masih terpisah. Juga ada saran untuk riset-riset kecil dan tentu saya laksanakan, maupun instruksi telepon George, serta WA yang masuk yang harus dilihat karena hanya kerja sendirian. Dan aku juga menjelaskan, dengan rinci, kebingunganku untuk mendahulukan yang mana pula?

Keduanya mengangguk-angguk waktu aku menjelaskannya panjang lebar tanpa menyela atau bertanya sama sekali. Sesekali mereka mencatat. Kerap juga mereka melirik ke HP-nya, menggeser layarnya, sambil mengangguk-angguk sementara di kantungku beberapa kali pula terdengar dan terasa ding ding, sret sret.

Karena mereka diam saja, aku merasa jadi tertekan untuk menjelaskan lebih banyak lagi dan lebih rinci pula, sambil merasa perlu menyimpulkannya sendiri pula dengan tujuan agar mereka akan lebih mudah memahami situasiku daripada harus menyerap sendiri semua rincian satu demi satu.

“Jadi ketika saya sedang fokus di satu pekerjaan, sudah ada pula pekerjaan baru. Dan ketika sedang menimbang-nimbang prioritasnya, ada perdebatan tentang pekerjaan itu, yang tentu harus saya ikuti pula,” jelasku untuk meyakinkan bahwa saya sungguh benar-benar melakukan pekerjaan sebagaimana mstinnya pada malam itu.
“Saya bahkan sempat screen grab beberapa hasil riset kecil saya tentang Cina, tapi tak sempat semuanya karena harus menyelesaikan yang lain.”
“Kenyatannya tidak ada yang selesai,” kata Bos Personalia, akhirnya.

Aku pun langsung membalasnya. “Tapi saya kerja sendirian Bu, dan file yang dikirim ke Amelia masih terpisah-pisah, harus digabung dan dirapikan.”

Kami bertiga diam sejenak. Kutatap mata Bos Operasi dan pindah ke mata Bos Personalia.

Mereka tampak sempat canggung dan Bos Personalia mengambil salah satu keras cetakan.
“Dari semua pesan WA, Anda hanya membalas satu kali, tapi Anda tadi mengatakan sibuk memperhatikannya. Secara professional, sejatinya Anda membalas, tak usah panjang, cukup ‘baik saya akan telepon’ atau ‘segera saya akan periksa.”

“Saya kan membalas, Baik Bu sedang dalam proses’” saya ingat betul karena itulah pesanku satu-satunya pada malam itu.
“Ya hanya satu itu,” katanya lagi dingin tidak biasa.

Bos Operasi orangnya bersemangat dan juga berenergi tinggi –aku sejak dulu menduga bahwa dialah penemu judul WA Viva Teamwork. Dengan energi tingginya itu, sebenarnya sering orang merasakan pula ‘kehangatan komunikasinya’, tapi tidak kali ini.

“Kalau saya harus membalas semuanya, malah tak kerja-kerja Pak,” saya menjawab spontan.
“Itu masalahnya, apa yang Anda kerjakan sepanjang malam,” sambar Bos Operasi.
“Saya sudah menggabungnya file dan sudah menelepon George tapi sibuk. Dan saya teruskan ke Haryono,” tukas saya.
“Tujuh jam tidak cukup untuk menyelesaikan dan mengemailnya dan mencoba menelepon lagi?”
“Cukup mestinya tapi itu tadi Bu, saya bingung mau memprioritaskan yang mana. Ketika saya sedang dalam proses yang satu, tiba-tiba ada instruksi yang baru, dan ketika sedang mau memahami instruksi baru, ada pula perdebatan tentang instruksi itu. Jadi saya itu sempat grambyangan tidak bisa fokus,” jelasku bersemangat sambil menggerakkan kedua tangan ke sana ke mari untuk mengambarkan gerambayangan ke mana-mana.
“Baik, kalau begitu. Terimakasih atas waktunya,” putus Bos Personalia, dingin.
“Jika perlu, kita akan bertemu lagi,” kata Bos Operasi, ikut-ikutan sok dingin,
***
bersambung

G3 WA 1 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

G3 WA 2 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

G3 WA 3 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

G3 WA 4 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

ceritanet©listonpsiregar2000