sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 268, 14 februari 2017

Tulisan lain

Seandainya Ahok di rezim Orde Baru - Liston P Siregar

Lagu Siul - Chairil Anwar

G3 WA 5 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Beachy Head

Ciri Orang Indonesia di Era Digital - Liston P Siregar

Siap Sedia - Chairil Anwar

G3 WA 4 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 32 - Aminatul Faizah

Ide Hill

Sajak Putih - Chairil Anwar

G3 WA 3 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 31 - Aminatul Faizah

Greenwich

G3 WA 2 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

-Saat Petani - Jajang Kawentar

Isa, Kepada Nasrani Sejati - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 30 - Aminatul Faizah

Greenwich

G3 WA 1 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Sepatu Linda dan Seorang Murid - Arifah Nugraheni

Jangan Kita Di Sini Berhenti - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 29 - Aminatul Faizah

Tilbury

Membara - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 12 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Merdeka - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 28 - Aminatul Faizah

Berlin

 

novel Teheran Dalam Stoples
Aminatul Faizah

-. Memoar
Aku berjalan ke kantor dengan membawa sebuah kiriman dari ibu yang belum kubuka.

Aku berdiri seperti pegawai lainnya dan melihat papan pengumuman yang menyajikan rencana majalah untuk edisi berikutnya noir-blanc -hitam putih.  Sebagai seorang fotografer dalam tim kreatif, makna itu terlalu ambigu. Yang dimaksud hitam putih itu unsur tulisan atau unsur foto yang akan ditampilkan atau kedua-duanya ataukah ada makna lainnya yang tak aku mengerti dan juga di luar jangkauanku. Mungkin juga hanya sebuah tema yang lain.

Sambil menggigit ujung jempolku dan terdiam, aku berpikir mencari ide dengan langsung mematungkan diriku. Seorang pria setengah baya datang.

Dia bosku, melirikku diam terpaku dengan banyak hal yang membingungkan. Seperti biasa lelaki botak berambut cokelat dan perut setengah buncit itu menyapa. Ia juga akan memandangi pola penampilanku yang selalu sama. Memakai kerudung tipis dengan baju berlengan panjang dan celana panjang. Kerudungku memang hanyalah sebuah selendang yang kadang beralih fungsi menjadi penutup leherku.

“Bonjour Leila!” (pagi Leila.)
“Bonjour monsieur,” (pagi, Pak) kataku sambil menurunkan tanganku.

Dia melirikku dengan dalam. Aku tak bertanya tentang yang ia tulis, karena semua pertanyaan tentang makna akan dijawabnya dengan: "Buatlah sesuai dengan pemahamanmu.”

Lalu kami di bidang kreatif akan berkerja keras untuk mencari ide. Setelah persentasi lalu dipilih satu ide dan barulah semua mulai bekerja sama. Begitulah prosedur di kantor kami: tim kreatif bercerai menjadi kepingan mozaik lalu menyatu dalam satu ide.

Aku berjalan menuju ruangku, yang hanya berisikan satu set meja tulis, satu sofa, satu almari namun aneka foto tertempel di dinding, baik foto penghargaan atau foto lainnya. Ruanganku tepat di depan, hingga saat aku melihat candela aku bisa dengan leluasa melihat langit, taman kota, dan juga banyak merpati. Di salah satu dinding dekat pintu masuk, ada banyak sekali disain majalah dan majalah yang sudah terbut, yang sengaja aku tempel untuk memancing ide.

Aku menaruh kiriman ibu di laci depan, mencium aroma kopi di meja. Secangkir kopi sudah siap untuk aku minum. Aku terdiam dan menyandarkan bahuku di kursi. Aku duduk mulai membayang-bayangnay ide yang akan aku kembangkan. Semua beban pikiran aku tumpuhkan pada benda mati yang menopang tubuhku.

Kugoreskan ide yang tiada ujung dan tiada logikanya pada kertas putih. Dua jam aku menulis-nulis berbagai kata, mencoret-cret beragam bentuk, namun hasilnya nihil.

Aku membuka laci, mengambil bingkisan ibu. Sebuah amplop yang penuh dengan foto. Ada sebuah surat yang berisi kalau ibu menemukan foto-fotonya di gudang dan mungkin aku membutuhkannya.

Kulihat satu per satu, pertama adalah foto tentang Indonesia: bendera yang berkibar dengan latar biru. Lalu banyak hal, semuanya pernah aku lihat 15 tahun lalu atau bahkan lebih tua. Foto-foto yang dulunya tersimpan dalam kotak dan ibu selalu menyimpannya dengan sangat hati-hati.

Secara teknik kumpulan foto ini hanya foto amatiran, untuk koleksi pribadi. Namun jika ditelaah lebih dalam lagi beberapa foto hitam putih yang pernah aku lihat, terpancar keindahannya. Bukan cuma lebih artistik, juga menyajikan banyak hal yang mistik. Banyak makna dalam sebuah foto yang hanya diwakili dengan warna yang sangat sederhana. Hitam dan juga putih, kesederhanaan yang justru mampu memunculkan sesuatu yang lain. Sederhana namun bermakna.

Lembaran demi lembaran foto aku lihat. Banyak kisah yang tertoreh. Banyak kenangan yang terintas. Jiwaku melayang, mengingat masa lalu, terjebak dalam ruangan yang hanya berisi aku dan kenangan masa laluku.

Kulihat ada foto pohon cemara, ada foto awan, ada foto tentang Teheran dan tanganku terhenti saat aku melihat fotoku dan Ali. Senyuman itu tergeletak di antara bibir munggil kami. Aku merangkul Ali, siap berpose di sekitar tangga rumah kami. Aku melihat lesung pipit di pipinya, yang akan terlihat saat ia tersenyum. Pipi yang indah. Kusentuh halus foto-foto itu.

Ada sebuah kesalahan yang tak mungkin mampu aku tembus dengan mudah. Aku mungkin bisa melupakannya namun tidak untuk Ali. Selamanya, saat ia melihat cermin ia pasti tahu dan selalu ingat aku. Bekas luka yang ada di keningnya. Aku ingat pertama kali melihat luka itu, saat air whudu menyiram wajahnya. Aku tertegun: kaget dan juga tak percaya dengan yang kulihat itu. Wajahnya yang tampan harus aku nodai dengan bekas luka permanen. Andai aku bersabar dan tidak melakukan perlombaan konyol, luka itu dan bekasnya akan pernah ada.

“Ali temanku kau ada di mana sekarang? Apakah kau akan tetap diam temanku, ataukah kau sudah menjadi dokter? Ali bagaimanakah kabarmu hari ini teman?”

Aku mengelus pipinya di foto seperti aku mengelusnya 15 tahun yang lalu. Aku berandai-andai ketika ia menyentuh daguku. Ketika aku tersenyum meliahtnya sedang marah dan banyak hal yang tak bisa aku ungkapkan dengan jelas.

“Kau suda dapat ide?” tanya temanku Isaac.
“Belum. Aku menaruh foto Ali di atas foto lainnya, yang sedang berserakan di atas meja.
“Siapa dia?” tanyanya sambil mengambil fotoku bersama Ali.
“Ali teman masa kecilku.”
“Kalian masih berhubungan? Tampan sekali anaknya.”
“Tidak Isaac. Hubungan kami terputus saat aku pindah. Ia bahkan tak mau mengatakan selamat berpisah padaku, padahal aku selalu menjaganya. Selalu berharap kalau suatu hari nanti ia mau bicara denganku. Sebenarnya ia bukan tidak bisa namun tidak mau. Aku kecewa namun tak bisa kupungkiri kalau ia temanku.”
“Banyak hal yang memang sengaja mengabur di dunia ini teman. Banyak hal yang tidak kita mengerti. Kadang kita merasa menderita namun kita menyukainya. Kita memang tak merasa menyukainya, tapi itu sangat kabur hingga saat kita berusaha menafsirkan sesuatu, itu akan nampak nyata.”

Isaac meletakkan kembali foto itu.

“Kau sudah dapat ide?”
“Ya... sedikit tapi aku tak yakin. Kita harus menyelesaikannya dua hari kata bos. Besok lusa sudah harus mempresentasikannya.”

Dia berdiri dan berjalan berjalan menjauh. Kantor yang cukup sepi mampu membuat telingaku merekam secara jelas setiap derap langkah yang melintasi di luar ruangku. Bahkan aku bisa membedakan antara sepatu hak tingi perempuab dengan sepatu pria. Jelas dan tanpa kesangsian.

Tak ada adzan di Paris. Setelah jam makan siang aku langsung menuju masjid kecil di ujung blok kantor. Masjid yang dibangun atas swadaya kaum Turki dan hibah dari Kerajaan Arab Saudi. Aku masuk ke masjid, ada baba Haci Omar Sabanci. Aku mengenalnya dengan baik. Setiap hari aku selalu bertemu dengannya. Meski sakit sekalipun, ia tak pernah absen dari masjid ini. Ia sudah menasbihkan dirinya pada Allah SWT dan Al Qur’an telah mendarah daging dalam tubuhnya.

Dia tersenyum melihatku yang terburu-buru memasuki tempat wudhu. Air kran mengucur dan kulakukan seperti biasanya. Aku tak merasakan kejanggalan seperti dulu. Kutatap sekeliling masjid: hening, tak seperti biasa. Sebelum aku meninggalkan rumah Tuhanku, kusempatkan duduk sejenak untuk menikmati teduhnya rumah Tuhan.

Baba buru-buru memakai sandal. Dia seperti laki-laki di Iran yang suka pakai jas. Dia tidak terlalu tua, dan jelas tidak muda lagi. Tubuhnya sangat kekar dan keriputnya tak melukis secara jelas wajahnya. Ia tersenyum menatapku dan aku membalas senyumannya. Lalu ia beranjak pergi.

Tak berapa lama aku mengikuti langkahnya, meninggalkan masjid. Langkahku terhenti ketika seseorang memanggilku dengan panggilan yang lebih pelan dari suara angin. Hanya sebuah desahan namun aku tahu itu panggilan untuk namaku. Ya, aku pernah merasahkann panggilan seperti itu, namun lupa persisnya.

Hatiku berdegup kencang mana kala mendengar suara gaduh. Suara yang berbentuk kepingan namun tak berwujud. Seperti memutar kaset ulang, seperti sebuah gambaran yang hanya hitam putih, yang tak bisa ku tebak gambaran nyatanya dan tak mampu kuterka walau hatiku mengatakan aku cukup mengenalnya.

Inikah rinduku? Kenapa perasaanku jadi tak enak sejak melihat foto Ali. Ada apa?

Aku berjalan menuju taman dekat kantorku. Hanya lima puluh meter jaraknya. Aku menatap sekeliling taman seperti biasa. Meski udara sedikit tak bersahabat, tetap saja anak-anak bermain dengan lincah. Mereka main ayunan, prosotan, atau sekedar berlarian, berlompatan.

Aku duduk santai, mendengarkan daun-daun yang mulai menguncup sambil menatap wajah anak-anak yang ceria. Aku memperhatikan mereka yang tak peduli pada apapun kecuali mereka sendiri.

Lucu, naif, bahagia, senyum yang lepas, konyol, jujur, dan polos. Akankah ada manusia seusiaku yang memiliki sifat seperti itu. Aku pernah seperti mereka. Pernah… ah…entah apa yang kupikirkan.

“Hai…. Leila…”
Aku menoleh dengan sapaan itu. Kulihat sahabatku Jane yang tengah melintas.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya sambil menyodorkan aku secangkir ukuran kopi instan.

“Menikmati udara segar.”
“Tak biasanya kau lakukan ini.”

Dia lalu duduk dan membuka kotak sandwichnya di depanku.

“Iya. Aku hanya ingin udara segar. Apa yang kau lakukan?”
“Aku mampir untuk memberi tahu kalau aku ada rapat nanti malam, jadi mungkin pulangnya larut malam. Kau kenapa?”
“Apanya?” tanyaku tanpa beban sambil meminum kopinya.
“ya…. Kau ada apa?”

Aku menatap temanku itu, lalu  berpikir sejenak memahami apa sebenarnya yang terjadi denganku. Ada yang aneh dengan hatiku. Ini bukan aku yang biasa. Bukan aku yang biasanya mengerjakan sesuatu dengan cekatan tanpa berpikir bertele-tele. Ini bukan aku, dan aku yakin itu.

“Pernah merasa kalau kau bukan kau?”

Dia menatapku dan kulihat ia berhenti mengunyah. Ia terfokus padaku. Ia biarkan makanannya menunggu di mulutnya. Aku lalu terdiam, menatapnya. Dan aku mulai mengerakkan tangan kananku. Ingin aku gambarkan rasaku pada udara agar ia bisa mengerti.

“Aku bingung.”
“Kenapa? Apa kau mencintai seseorang?” tanyanya sambil mulai mengunyah.

Aku menggeleng pelan lalu dia terdiam sejenak. Memikirkan yang mungkin terjadi denganku.

“Kau kesepian?”
“Mungkin.”
“Kurasa tidak. Kau tak kesepian namun kau merindukan seseorang.”

Aku terdiam sejenak dan menatapnya. lalu aku tersenyum sambil mengibaskan pelan ke arahnya.

“Sudah jangan mengasihaniku.”
“Hei… non…. Siapa yang mengasihani? Kau yang mulai kan?”

Apa yang dikatakannya benar. Mungkin aku merindukan Teheran. Mungkin…

Mmerindukan masa kecilku hingga aku menatap anak bermain berjam-jam, karena aku begitu damai kala menatap mereka. Aku ingin sekali menjadi kembali seperti mereka untuk sekali lagi. Sahabat-sahabatku, mungkinkah gambaran itu yang terjadi barusan. Mungkinkah mereka memanggilku? Mungkinkah itu: mereka merindukanku? Apa kabar kalian sahabatku?

Esok adalah hari terakhir. Kami melakukan banyak persiapan karena pagi-pagi sekali akan ada presentasi. Tak ada ide yang terlintas dibenakku. Aku bahkan tetap mencecerkan foto-foto di atas mejaku. Aku tak tahu fotografer yang akan aku pilih untuk pengambilan gambar. Walau hanya sebuah perencanaan tapi kami seharusnya punya sebuah cerita yang  biarpun tak kongkrit namun cukup matang.

***
bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000