sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 267, 12 januari 2017

Tulisan lain

Ciri Orang Indonesia di Era Digital - Liston P Siregar

Siap Sedia - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 32 - Aminatul Faizah

Ide Hill

Sajak Putih - Chairil Anwar

G3 WA 3 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 31 - Aminatul Faizah

Greenwich

G3 WA 2 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Saat Petani - Jajang Kawentar

Isa, Kepada Nasrani Sejati - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 30 - Aminatul Faizah

Greenwich

G3 WA 1 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Sepatu Linda dan Seorang Murid - Arifah Nugraheni

Jangan Kita Di Sini Berhenti - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 29 - Aminatul Faizah

Tilbury

Membara - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 12 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Merdeka - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 28 - Aminatul Faizah

Berlin

Apa Cita-citamu Nak? - Arifah Nugraheni

Purnama Tak Bisa Memilih - Liston P Siregar

Mulutmu Mencubit di Mulutku - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 11 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Teheran Dalam Stoples 27 - Aminatul Faizah

Tangkahan

novela G3 WA 4 (Gara-gara Grup WhatsApp)
Liston P Siregar

Aku kembali ke layar komputer dan mulai merge file. Rencanaku sesuai alfabet maka yang paling atas Amerika dan paling bawah Timur Tengah.

Pas mau mencet Enter, ada ding ding, sret sret yang aku tunggu-tunggu. “Clinton sakit, pulang cepat dari upacara 9/11,” tulis Bos Operasi.

Bukan WA yang kutunggu, tapi tergoda juga aku dengan berita itu dan bergegas ke ruang makan, menyalakan TV. 

Ada gambar Clinton yang ditayangkan berulang-ulang ketika dia mau masuk mobil dan hampir terjatuh oleng namun cepat ditolong para asistennya. Naskah Breaking News tetap berjalan: “Juru bicara mengatakan karena kepanasan.” Rencana kampanye ke California mungkin akan dibatalkan, tapi masih ditunggu seberapa serius masalah kesehatannya.”

Ding ding, sret sret, “OMG, Trump must be happy,” komentar Bos Perencanaan. “Pasar turun nggak Bro/Sis,” tanya Badu yang rupanya masih nyala.

Aku balik ke meja, berniat melanjutkan kerjaan dan wemencet Enter.

Barulah aku tahu kenapa Kartika tidak langsung menggabung file. Rupanya jenis filenya beda-beda, dan begitu dijadikan satu, maka penampakannya berantakan. Pusing aku, apakah aku harus sesuaikan menjadi satu jenis dari masing-masing sejak awal?

Tapi Kartika bilang yang asli dibiarkan, jadi pilihannya adalah merapikan ketika sudah menjadi satu gabungan file. Masih ada sekita satu jam lagi, semoga sempat.

Ding ding, sret sret. “Peres juga sudah kena stroke,” tulis Bos Operasi dan dijawab sama Bos Perencanaan: “Nggak ngaruh kalau dia.”

Kumulai menata file gabungan dan aku bertekad tak perlu memperdulikan ding ding, sret sret.

Jam empat subuh konsentrasiku –dan siapapun, rasanya- sudah mulai melemah. Menyaksikan angka-angka dan spesifikasi rinci menjadi perjuangan berat. Kuhapus spasinya, kutambahkan titik, kuubah koma jadi titik, kubuang tanda-tanda ular kecil di mana-mana. Bergerak juga yang kukerjaanku, tapi berat sehingga menjadi lamban.

Kulihat Samsung-ku dan tinggal setengah jam. Oh ya George. Segera kutelepon tapi nada sibuk dan nanti aku masih bisa mencoba lagi sebelum pulang.

“Oh ya screen grab situs harga Cina tadi apa masih bisa kuselesaikan?” tanyaku dalam hati. Kujawan sendiri di dalam hati, “Itu bisa besok..”

Maka aku kembali lagi membersihkan datar harga dan semakin berat rasanya karena harus memusatkan fokus otak dari awal lagi. Akhirnya Asia Pasifik sesuai dengan yang Amerika, dan giliran Eropa.

Sepanjang kerjaanku itu ada beberapa ding ding dan sret sret, cuma aku tak sanggup lagi membukanya dan tetap fokus untuk merapikan file. Semakin berjalan waktu semakin pelan pula laju kerjaku.

Jam lima lewat beberapa menit, Eropa belum selesai, dan Haryono yang menyambung shift berikut sudah datang.

“Pagi Ndan,” katanya saat melewati mejaku, menuju mejanya di ujung jendela. Haryono anak pintar tapi ambisius dan bahayanya anak ambisius adalah tak segan-segan menghalalkan segala cara.

Dia memang tidak termasuk kelompok yang menyebut hopeless untuk kelompok kami yang tak naik-naik pangkat dan gaji, tapi jelas dia merasa lebih unggul dari kami-kami, yang tak naik pangkat dan tak naik jagi itu.

Aku save dan aku datang ke mejanya. “Tadi ada perintah kirim price list ke Amelia di Prancis dan telepon George di Boston.”

“Oh ya,” katanya sambil menata layar komputernya tanpa melirikku.
“Aku baru merapikannya, tolong kau teruskan dan kirimkan. Kalau soal George ada di WA.”
“Gua masuk sendiri, dan perlu ngurusin order dari Selandia Baru,” jelasnya masih belum melihatku sambil membersihkan mejanya dengan tisu basah.
“Pokoknya gitulah. Aku juga masuk sendiri tadi,” kubalas ketus dan kesal karena secara fisik dan psikis tak sanggup lagi rasanya aku menyediakan kesabaran setelah bergadang sekitar sembilan jam.
“Yoi,” katanya dingin.

Aku balik ke mejaku, kuambil Post It Note, kutulis nama file yang tadi kukerjakan, nomor telepon George dan kumatikan komputer. Sebelum ke luar, aku jalan ke mejanya dan kutempelkan di sisi kiri mejanya. “Ini file dan nomor George.”

Dia tak menjawab dan tak melihatku, akupun tak perlu jawaban dan pandangannya.
***

Aku terbangun sekitar jam dua siang dan langsung disambut istriku, “Tadi kantor telepon, kau disuruh telepon balik.”  Kulihat Samsung-ku, ada tanda tiga missed call, 1.130 pesan WA dengan 69 pesan di Viva Teamwork!

Dan ada satu WA japri dari Bos Operasi: “Mohon segera ke kantor sebelum jam lima sore. Shift malam sudah diisi yang lain.”
***
bersambung

G3 WA 1 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

G3 WA 2 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

G3 WA 3 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

ceritanet©listonpsiregar2000