sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 267, 12 januari 2017

Tulisan lain

Siap Sedia - Chairil Anwar

G3 WA 4 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 32 - Aminatul Faizah

Ide Hill

Sajak Putih - Chairil Anwar

G3 WA 3 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Teheran Dalam Stoples 31 - Aminatul Faizah

Greenwich

G3 WA 2 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Saat Petani - Jajang Kawentar

Isa, Kepada Nasrani Sejati - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 30 - Aminatul Faizah

Greenwich

G3 WA 1 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Sepatu Linda dan Seorang Murid - Arifah Nugraheni

Jangan Kita Di Sini Berhenti - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 29 - Aminatul Faizah

Tilbury

Membara - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 12 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Merdeka - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 28 - Aminatul Faizah

Berlin

Apa Cita-citamu Nak? - Arifah Nugraheni

Purnama Tak Bisa Memilih - Liston P Siregar

Mulutmu Mencubit di Mulutku - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 11 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Teheran Dalam Stoples 27 - Aminatul Faizah

Tangkahan

komentar Ciri Orang Indonesia di Era Digital
Liston P Siregar

Rasanya agak meremehkan mendiang Mochtar Lubis jika pandangan ini disebut meniru enam atau (12) ciri manusia Indonesia yang jadi salah satu karya terkenalnya.  Soalnya, tidak ada pengamatan sistematis berdasarkan bukti-bukti yang teruji dalam pandangan ini, jadi sebut sajalah terinspirasi mendadak oleh Mochtar Lubis dan berdasarkan pengamatan serampangan.

Tapi yang  paling penting adalah maknanya bukan penilaian baik atau buruk: cuma sekedar pengamatan pribadi atas perlintasan percakapan di media sosial dan internet.  Ibaratnya, kalau ada yang suka bikin meme lucu, yang suka buat foto meriah, yang memilih video gembira, maka ada juga yang menulis pendapat, seperti saya.    

1. Punya Facebook dan WA Grup
Yang pertama ini sulit dibantah. Jalinan pertemanan antara kedua media itu agak saling tumpang tindih: orang-orang berkawan di keduanya (beberapa meluas sampai ke Twitter, Instagram, Path, atau Snapchat). Isinya agak berbeda, dengan WA Grup lebih banyak ke urusan reuni, komunitas kerjaan, kelompok keluarga, atau kepentingan praktis.

Sementara Facebook selain untuk hal-hal perkawanan maupun persaudaraan, juga untuk curhat, catatan harian, maupun mengarahkan opini dan sekaligus forum berdebat. Para pengguna aktif Facebook dan WA Grup mungkin sudah mengembangkan ketrampilan khusus untuk memilih yang mana untuk Facebook dan yang  mana pula untuk WA Grup. Jarang sekali rasanya pengguna aktif -yang  bersentuhan dengan saya- yang menulis pesan, meme, foto, atau video  yang sama untuk Facebook dan WA Grup.

Seorang teman, misalnya, mengirim foto bunga segar dengan latar belakang terbitnya matahari dan pesan ‘Selamat pagi kawan-kawan sekalian, mari kita mulai kerja’ tapi di Facebook dia cuma menulis status ‘Ayo, ayo semangat kerja’. Kenapa dia tidak juga memposting foto bunga segar dan matahari terbit tadi di Facebook? Mungkin perlu wawancara lebih dalam kepada para pengguna aktif  tentang ‘kebijakan redaksi Facebook dan WA Grup-nya’.

2. Suka merekam dan menyebarkan
Rasanya juga tak akan banyak perdebatan tentang ciri kedua ini. Segala macam: foto, video, meme, lelucon, saran, tragedi, duka, kesedihan, dan… praktis semua yang bisa didigitalkan disebarkan lewat berbagai media sosial –juga dengan kebijakan editorial untuk masing-masing media. Mungkin sentuhan fisik –sudah dicoba di Jepang-  dan bau kelak juga akan disebar ke berbagai tempat jauh). 

Dengan layanan Facebook Live, ada kawan yang menyiarkan acara makan siang keluarga di salah satu restoran maupun acara naik sepeda akhir pekan.  Banyak beredar berbagai foto makanan di warung kaki lima, restoran mewah di Jakarta atau di kampung pelosok, maupun foto bersama di depan karangan bunga perkawinan dan karangan bunga duka kematian.

Saya sempat tertanya-tanya sendiri aspek privasi tentang foto orang yang sakit terbaring di atas tempat tidur rumah sakit dengan selang infus dikeliling kawan-kawannya yang sedang membesuk berpose sambil mengangkat dua jari.  Tapi apa soalnya, pasien senang dikunjungi, kawan-kawan senang melihatnya dalam proses pemulihan, sementara kawan-kawan yang tidak punya waktu bisa ‘ikut membesuk pula’. 

Foto-foto sadis kecelakaan atau kekerasan juga sering disebar, kadang dengan seruan untuk ikut mengucap ‘Amin’maupun untuk mengingatkan agar berhati-hati.  Mungkin ada yang bertanya tentang aspek kepantasan untuk foto-foto sadis seperti ini, namun pada akhirnya dalam satu jaringan pertemanan atau perkawanan, rasanya tentu nilai-nilainya tak jauh berbeda. Kalaupun timbul perbedaan, maka akan memicu perdebatan, seperti yang sering terjadi dan inilah dia pula gunanya media sosial: menjalin pembicaraan.

3. Sering membuat lelucon
Masih ingat ‘Di situ kadang saya merasa sedih’?  Komentar yang disampaikan Polwan Dewi Sri Mulyani dengan serius untuk kampanye tentang polisi tersebut paling banyak dipermak jadi lelucon.  Rasanya seperti berlangsung kompetisi meme nasional berbasis komentar Ibu polisi Dewi.  Memang begitulah hidup ini, seperti kata peribahasa: tragedi seseorang adalah komedi bagi orang lain. Dengan bantuan media sosial dan teknologi digital yang semakin diakrabkan dengan pengguna, maka sering memang tragedi menjadi komedi.

Salah satu yang teringat adalah gambar seorang perempuan jilbab yang sedang berfoto narsis atau selfie di depang seorang penyerang bom Sarinah, 14 Januari 2016 lalu. Walau banyak orang yang berfoto narsis di sekitar tempat kejadian, lelucon yang satu tu tetap saja kentara biarpun bisa juga mengecoh. Variasi foto perempuan berjilbab tersenyum yang dilengkapi ‘Mas-mas ntar malam Jumat lho’ juga termasuk yang sempat banyak menyebar di Facebook dan WA.  

Kasus ‘Om Telolet Om’ berkembang pula menjadi lelucon, antara lain  dengan mempermak video yang memperlihatkan pesawat yang sedang terbang atau sedang mendarat membunyikan klakson telolet. Wajah kakek atau nenek tua yang sudah keriput maupun bocah lugu juga sering menjadi basis untuk membuat lelucon, yang mungkin agak dipaksakan walau -saya cukup yakin- niat sejujurnya cuma untuk membuat teman-teman senang bisa tertawa lepas.  

4. Pentingnya berkelompok
Salah satu hakekat manusia adalah hidup secara bekelompok dan dalam masyarakat Indonesia yang secara umum masih didasari kekerabatan luas, jelas kehidupan kelompok menjadi salah satu hal penting. Bagi yang tinggal di rantau, Facebook dan WA Grup menjadi salah satu media penting untuk menjalin semangat kelompok.

Tapi ada sedikit kerumitan, ketegasan dalam menarik garis kelompok itu. Di WA Grup, misalnya, ada persyaratan angkatan, jurusan,  bahkan kelompok lebih kecil lagi yang dulunya kawan berkumpul sehari-hari. Tak berarti seseorang bisa masuk grup lain dengan mudah. Sementara di Facebook, selain urusan alumni-alumni ada ribuan kelompok dan sejumlah besar -yang berbeda dengan WA Grup- malah berharap anggotanya terus bertambang banyak. Pada satu sisi semakin ekslusif semakin keren tapi di sisi lain semakin inklusif  semakin hebat

Sentimen kelompok belakangan agak memanas ketika merembet ke soal politik. Pendukung Ahok dan penentang Ahok, adalah salah satu contoh, yang sama-sama aktif mengangkat maksud dan tujuan masing-masing, baik di Facebook dan WA Grup -walau banyak yang menetapkan larangan membahas tema-tema tertentu. Kadang rasanya bukan isu lagi yang menjadi perdebatan tapi lebih pada saya dan kelompok saya.

Bagaimanapun era digital -dengan media sosial dan internet- yang memungkinkan orang menegaskan kelompoknya itu pula yang sekaligus membuat terjadinya perdebatan langsung antar anggota kelompok tanpa perlu melalui perwakilan sehingga terasa lebih spontan dan jujur –walau kerap pula menjadi sengit, panas, dan menghina. Seperti biasa, perkembangan teknologi selalu bisa bermata dua.

5. Punya banyak tenaga dan waktu
Ini mungkin semacam kesimpulan dari keempat ciri di atas. Jelas merupakan asumsi yang salah bahwa orang-orang yang aktif di Facebook dan WA Grup, yang sering berfoto,  rajin membuat meme, berdebat, dan membuat grup-grup adalah orang-orang yang tidak bekerja. Di kelompok usia saya –manusia paruh waktu-  banyak kawan-kawan yang aktif malah justru sedang di puncak karier maupun usaha, jadi bukan orang-orang yang sudah mentok. Dalam kelompok lintas usia, banyak terlihat yang masih muda yang sedang menapak karier dan secara berbarengan rutin serta bersemangat tinggi meramaikan Facebook dan WA Grup dengan kreatifitasnya, yang tak sedikit pula tergolong istimewa.

Saya sempat berencana untuk memasukkan ciri suka berfoto narsis tapi rasanya ciri itu mungkin lebih umum ke orang Asia dan pelan-pelan, dalam beberapa tahun belakangan, terlihat mulai menyebar ke orang Eropa. Sementara pada sisi lain, rasanya semakin sering orang Indonesia menyebar beragam foto yang bukan lagi sekedar cuma foto narsis tapi foto-foto makanan, kegiatan, maupun pemandangan, atau hal-hal menarik lain yang terlihat.

Akhirnya, semua manusia, di manapun, sama saja. Selamat Tahun Baru.

ceritanet©listonpsiregar2000