sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 266, 16 desember 2016

Tulisan lain

G3 WA 2 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Saat Petani - Jajang Kawentar

Isa, Kepada Nasrani Sejati - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 30 - Aminatul Faizah

Greenwich

G3 WA 1 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Sepatu Linda dan Seorang Murid - Arifah Nugraheni

Jangan Kita Di Sini Berhenti - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 29 - Aminatul Faizah

Tilbury

Membara - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 12 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Merdeka - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 28 - Aminatul Faizah

Berlin

Apa Cita-citamu Nak? - Arifah Nugraheni

Purnama Tak Bisa Memilih - Liston P Siregar

Mulutmu Mencubit di Mulutku - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 11 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Teheran Dalam Stoples 27 - Aminatul Faizah

Tangkahan

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra salju

Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sajak Putih - Chairil Anwar

Ada satu kelemahan kerja malam yang tak bisa kuatasi: lapar dan makan. Istriku bilang bawa saja buah, “Bisanya kau tahan. Lapar ada di pikiranmu jadi lawan dan nanti hilang sendiri. Yakinkan kau yang menang,” nasehatnya kayak Mario Teguh. Aku tak suka Mario Teguh -bahkan sebelum heboh kasus menolak anaknya itu- dan juga kawan-kawan sejenisnya. Jadi aku selalu makan lengkap bekal yang sudah kusiapkan sama seperti makan pagi, siang, dan malam: ada nasi, satu lauk, sayur, sambal, dan pisang. Satu paket lengkap. Perkara perut makin besar, nantilah itu. Di ruang makan kusantap bekalku sambil lihat-lihat WA. G3 WA 3 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Greenwich

“Kau baik-baik saja kan?” tanya ibu beberapa minggu kemudian.
“Ya. Aku baik-baik saja.”
“Kau yakin?”

“Ibu... pernahkah ibu merasa kalau kita asing di tempat kita?”
“Iya. Itu rindu sayang. Apa yang kau rindukan?”
“Masa laluku.”

Teheran Dalam Stoples - Aminatul Faizah

ceritanet©listonpsiregar2000