sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 265, 14 november 2016

Tulisan lain

G3 WA 2 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Saat Petani - Jajang Kawentar

Isa, Kepada Nasrani Sejati - Chairil Anwar

Greenwich

G3 WA 1 (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Sepatu Linda dan Seorang Murid - Arifah Nugraheni

Jangan Kita Di Sini Berhenti - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 29 - Aminatul Faizah

Tilbury

Membara - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 12 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Merdeka - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 28 - Aminatul Faizah

Berlin

Apa Cita-citamu Nak? - Arifah Nugraheni

Purnama Tak Bisa Memilih - Liston P Siregar

Mulutmu Mencubit di Mulutku - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 11 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Teheran Dalam Stoples 27 - Aminatul Faizah

Tangkahan

Ladu - Tosca Santoso

Surat dari Jawa: Menimbang Ladu - Wahyudi Nugroho

Dari Kehidupan Para Jutawan 10 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Selamat Tinggal - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 26 - Aminatul Faizah

Herne Bay

novel Teheran Dalam Stoples
Aminatul Faizah

-. Pertemuan itu
Saat itu, aku bertemu dengannya sepulang sekolah. Aku sengaja menunggunya di depan sekolahnya. Aku melihatnya sedang duduk sambil hendak menaiki sepedanya. Aku tersenyum dan ia mengurungkan niatnya. Aku mendekatinya dan aku serahkan bungkusan cokelat berpita emas yang terbuat dari kertas.

“Apa ini?’
“Anu.. itu… sapu tangan... aku kemarin mengotorkan sapu tangan kamu,” aku berbohong dan semoga saja itu yang terakhir.
“Ah..ngak apa-apa.” Ia mengulurkan sapu tangan itu kepadaku lagi.
“Tidak. Ambillah. Aku mohon jangan buat aku tambah salah.”

Ia tersenyum dan aku bergegas memacu sepedaku.

Aku ingin berpacu sebelum ia berubah pikiran. Aku tak pernah melihatnya menggunakan sapu tangan itu. Aku agak kecewa namun tak mau menunjukannya.

Kedekatan kami belakangan sangat mengundang banyak biang gossip. Terutama temanku Reni dan juga para ibu tetangga. Mereka bilang kami adalah pasangan yang sangat cocok. Aku sangat berbangga hati. Aku akui, di mana aku ada maka di situ ia pasti ada. Kami adalah pasangan yang sangat lengket.

Saat itu kenaikan kelas. Aku tahu dan juga sangat sadar saat itu terjadi. Hari itulah yang menjadi titik balik diriku dan juga kenaifanku. Aku adalah mahluk yang terlalu berbangga hati seperti kesombongan Musa, ketika salah satu kaumnya bertanya siapa yang paling pandai melebihinya.

Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat Khasan berjalan dengan mesra. Ia berjalan besama gadis yang tampak alim dan juga sangat cantik. Gadis putih yang tubuhnya ramping. Berhidung mancung, berjilbab, dan berbibir merah. Aku iri dengannya. Aku terdiam dan kubiarkan melihatnya dengan seksama.

Tubuhku lemas. Asahku melayang dan aku tak tahu apa yang terjadi dengan separuh nafasku. Keringatku mengucur. Aku menahan tangis dan hanya bisa diam. Aku menundukan kepala.

Kubiarkan lampu neon jalanan menerangi jalanku yang menghitam. Reni yang merangkul mukenah hanya bisa menahan, katanya. Ia merasa heran dengan apa yang kulakukan. Aku menundukan kepala, menyembunyikan betapa sakitanya hatiku. Salat isya’ yang kami lakukan tak ubahnya seperti salat jenazah atas cintaku.

Hatiku hancur

Berkeping-keping hingga menjadi abu.

Terbang dan menyisakan luka.

Menyesakkan dada.

Membakar amara dan inilah cinta yang menyesatkan.

"Siapa dia?” tanyaku dengan tiba-tiba.
“Oh... anak gadis itu. Namanya Salamah, kukira kau tahu siapa dia. Bukankah kau dan Khasan juga sangat dekat. Malahan dia mengaku kalau kalian sahabat. Dia pacarnya… dia adik kelas kita loh.”
“Oh..”

Sialan. Khasan merendahkan cintaku. Apakah selama ini ia buta hingga tak mampu melihat kalau aku jatuh cinta dengannya. Kata persahabatan adalah kata yang merendahkan derajatku.

Aku Leila, kenapa aku tak bisa meluluhkan hatinya? Apa yang harus aku lakukan? Apa???

Sumpah serapah dan juga dendam yang menggebuh-ngebuh kuucapkan di sela isak tangisku. Semalaman aku menangisi sesuatu yang samar, semalaman aku menyembunyikannya. Menyembunyikan cinta yang menjadi augerah Tuhan yang paling hakiki. Cinta ini kuubah menjadi kedengkian yang membakar semua tiang imanku.

Aku ingat ketika itu aku bersumpah.

“Ingatlah aku Khasan. Aku akan rebut semuanya. Akan aku tunjukan kalau aku sangatlah lebih dibandingkan Salamah. Aku akan menjadi yag lebih terpandang, lebih kaya dan juga lebih segalanya.”

Dengan sumpah serapah itu aku tetap hidup.

Bukan dengan cinta dan juga asah seperti remaja lainnya. aku berubah menjadi gadis yang ambisius dan juga gadis yang ingin meraih yang terbaik. Kututupi semua itu dengan senyuman dan pernghargaan persahabatan.

Aku rekam setiap memoriku saat itu. Setiap luka yang ia sebabkan. Setiap luka yang mengiring tawanya. Tawa atas kemesraan mereka berdua. Teganya ia lakukan itu padaku. Teganya ia lakukan itu semua dihadapan hatiku yang remuk.

Aku terdiam di taman sambil mendengarkan Reni yang mengoceh. Aku mengambil sekuntum bunga nyelir yang tumbuh di dekat kamar mandi sekolah. Aku melihat span abu-abuku. Sebentar lagi aku akan menanggalkannya.

Di saat itu aku akan pergi jauh meninggalkan semua yang ada. Di saat itulah aku akan bebas dan mungkin akan melupakan segala hal yang ada. Tentang Khasan dan cintaku yang tak terbalas. Itulah yang kuingat dengan jelas.

Reni merapikan kuncirannya sambil mengoceh tentang bab sejarah yang tak ia pahami. Aku hanya diam sambil sesekali menghela nafas panjang.
“Hai… apa yang akan kau lakukan?’
“Apanya?” tanyaku padanya.
“Aku dengar dari Ghazali kalau kau mau jadi fotografer. Kalau aku setelah lulus nanti mau jadi bidan desa. Masa orang sepertimu yang pandai hanya mau jadi juru foto. Gajinya kecil tau?”
“Aku bekerja bukan untuk gaji tapi kesenangan.”
“Ah… dasar anak orang kaya. Tak mau uang. Emang orang kaya sulit dimengerti ya…”

Dia terus saja mengoceh namun aku tak mendengarkannya. Aku melihat ruang kelas 14 yang ada di hadapanku. Kulihat Salamah yang sedang bercengkrama dengan temannya. Aku tersenyum balik saat ia tersenyum. Lalu diam dan melirik pohon mangga yang ada di atas.

Aku tak membayangkan berapa buah yang akan kami petik saat rujak’an nanti, juga tak bisa membayangkan bagaimana manisnya karena terbang melayang dengan hal lainnya. Ada awan unik dan juga awan yang indah hingga aku bisa melupakannya. Melupakan semua dukaku dan memulai sesuatu dari awal.

“Kau baik-baik saja kan?” tanya Reni padaku.
“Apakah Salamah itu pandai?” tanyaku sambil membuang anyelirku.
“Iya, tak sepandai kau namun kataya jadi kandidat ikut Olimpiade Kimia. Kau cemburu ya?”
“Iya,” kataku merendahkan nada suara. “Kenapa ia lebih memilih gadis itu dari pada aku?”
“Karena cinta. Pendek kata ia cinta dia walau memiliki banyak kekurangan. Masya Allah kenapa kau menangis.”

Reni mengangkat wajahku yang menitikan sebutir air mata.

“Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit meluapkan emosiku. Rasanya ingin berubah menjadi pribadi yang baru. Rasanya ingin menjadi seseorang yang lain. Ke tempat yang jauh agar aku tak bisa mengingatnya kembali.”
“Masalahnya bukan pada tempatnya namun pada hatimu. Kau lari kemanapun masalah itu tak akan selesai karena hatimulah yang sakit.”

Aku tersenyum dan melirik kedua teman lelakiku yang memanjat pohon mangga untuk mengambil banyak mangga. Mereka membawanya ke dalam kelas.

“Hapuslah air matamu... ntar kamu ditertawai teman,” saran Reni lembut.
“Iya,” dan kuambil sapu tangan.

Tradisi anak muda desa Kediri adalah rujak’an. Kami akan dengan senang hati berbagi buah, memakan potongan buah dalam satu wadah besar dan tertawa seolah seluruh kebahagiaan ada di tangan kami.

Kami anak muda yang sangat bersemangat sekali untuk mencicipinya sedikit demi sedikit dan akhirnya rujak terampil itu berakhir sudah.
**
*

Pelajaran bahasa Indonesia dimulai.

Bu guru Ningsih sedang berjalan mondar mandir di setiap kelas. Ia memperhatikan aku yang sedang menulis sebuah cerita. Narasi adalah temanya, jadi aku bisa dengan leluasa menulis cerita. Aku tak seterampil ibu dalam merangkai kata-kata namun lumayan diperhitungkan di kelasku.

Bu Ningsih memakai sepatu berhak rendah dengan baju dinas, juga dengan kaca mata tebalnya. Dia melirikku dan karyaku. Ia adalah penganggum rahasia ibuku. Ia menyimpan rapi buku ibu di mejanya, tapi ia masih tetap gengsi untuk mengakuinya.

Aku baru menulis satu kalimat dan terhenti saat aku melihat awan yang berbentuk pesawat. Awan yang mungkin sama dengan awan di rumah Faris. Aku terdiam dan terhenti menulis. Aku memandangi awan itu dan terdiam.

Perasaan yang aneh tiba-tiba muncul. Perasaaan ingin sesuatu namun tak tahu apa. Semua pikiran jadi kosong. Ingin menangis dan tak tahu yang akan di tangisi. Ingin tertawa namun hati terasa hampa.

Reni sudah menumpahkan penanya di kertas perawan. Kertas itu kini sudah ternoda. Ia melirikku yang selama satu jam hanya menulis satu kalimat. Satu persatu secara acak murid dimina membaca tulisannya di depan kelas. Aku berdoa semoga bukan aku yang dipanggil tapi doaku tak terkabul.

“Aduh… aku.”
“Ini bawa bukuku,” kata Reni cepat sambil menyodorkan bukunya.
“Tidak kalau kau maju bisa repot aku nanti.”

Aku membawa buku tulisku yang baru berisi satu kalimat itu. Aku terdiam dan juga berpikir banyak hal. Aku tak bisa membaca satu kalimat itu. Aku berbalik menghadap guruku.

“Bacalah!”
“Saya belum selesai bu.”
“Bacalah apa yang ada dan lanjutkan dengan apa yang ada dipikiranmu.”

Tadinya aku mau bercerita tentang cinta pertamaku yang kandas. Sebuah masalah yang menyita hampir semua akal sehatku. Aku memulai dengan kalimat pendek.

“Aku rindu seseorang.” Kalimat itu terhenti. Aku terdiam sejenak dan menutup mataku. Aku tuangkan semua emosiku dan aku ingin semuanya kembali seperti semua. Tak tahu apa yang akan aku ceritakan namun sungguh aku ingin bercerita. Tapi tak bisa. Aku hanya diam.

“Keluarlah dari kelas. Kerjakan di luar! Masuklah setelah selesai.”
“Baik bu.”

Semua temanku kaget dengan apa yang terjadi. Bintang kelas kebanggaan mereka dihukum karena mata pelajaran yang sama mudahnya dengan meludah. Itu hal yang ganjil bagi mereka namun bukan hal yang ganjil bagiku. Aku, sekarang, memang sedang tak waras. Aku bukanlah diriku, ini bukan aku dan ini adalah hal yang lain dari diriku.

Aku duduk di depan kelas. Duduk di ubin abu-abu yang dingin, yang rasanya membuat tulang sumsumku memecah. Namun mataku tertuju pada langit yang berubah menjadi abu-abu. Gerimis turun dan aku tetap tak mengerti. Aku tetap diam dan juga diam.

Aku hanya melihat hampa gerimis menguyur tanah lapang. Apa yang terjadi denganku? Kenapa seperti ini? Kenapa aku merasa rindu seseorang dan yang terpenting dari segala kerinduanku adalah: aku kehilangan logikaku.

Berita aku dihukum guru menguat ke seantero sekolah. Bahkan beritanya seperti mengalahkan pengangkatan Habibie menjadi presiden dan juga kebijakan-kebijakan yang ia ambil.

Pak Bon sekolah pun menanyakan dan mulutku hanya bisa tertutup rapat. Malu mengakui dan juga malu berkata pada setiap jengkal sekolah kalau aku ini gila. Pada rumput, pada kodok, dan pada guru-guru.

Aku adalah pendatang baru bagi kelompok cukong kelas. Para pendatang yang tak pernah bisa mereka bayangkan. Pendatang yang bagi mereka adalah hal yang sangat ganjil.
***
bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000