sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 264, 15 oktober 2016

Tulisan lain

Sepatu Linda dan Seorang Murid - Arifah Nugraheni

Jangan Kita Di Sini Berhenti - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 29 - Aminatul Faizah

Tilbury

Membara - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 12 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Merdeka - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 28 - Aminatul Faizah

Berlin

Apa Cita-citamu Nak? - Arifah Nugraheni

Purnama Tak Bisa Memilih - Liston P Siregar

Mulutmu Mencubit di Mulutku - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 11 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Teheran Dalam Stoples 27 - Aminatul Faizah

Tangkahan

Ladu - Tosca Santoso

Surat dari Jawa: Menimbang Ladu - Wahyudi Nugroho

Dari Kehidupan Para Jutawan 10 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Selamat Tinggal - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 26 - Aminatul Faizah

Herne Bay

novela G3 WA (Gara-gara Grup WhatsApp)
Liston P Siregar

Sama seperti Anda sekalian, aku punya belasan grup WA, dan –juga mungkin sama dengan Anda sekalian- sebagian besar dibungkam supaya aku yang menentukan kapan membaca dan meramaikannya.

Grup WA-ku sebenarnya cuma belasan –kawan SD, SMP, SMA, universitas, tetangga, pomparan Ompu* dari garisku dan garis istri, kawan main bola, kawan kolektor kaset jadul- tapi semuanya setali tiga uang atau bahasa gaul jadul yang artinya mirip miriplah.

Selain lomba melucu, lomba foto makanan, good morning, good night, selamat hari Jumat atau Minggu, ucapan ulang tahun, undangan kawin, cerita kawan yang sakit –lengkap degan foto pasien yang sedang terkapar sambil memaksa senyum dengan selang infus di lengannya- ada juga rencana reuni, foto-foto copy darat, serta beraneka macam peringatan. Misalnya ‘jangan pakai gelas plastik di microwave’ atau ‘hati-hati kamera yang disembunyikan di dalam toilet’ maupun ‘jangan beli gorengan dua ribu tiga karena sekarang dua ribu enam belas jadi gorengan itu sudah 13 tahun lamanya’.

Silang pesan dan foto antar grup grup juga amat sering terjadi, seperti foto korban penjarahan yang babak belur terlelentang di lantai dengan darah bergelimang atau seorang anak dengan ukuran kepala sebesar bola senam Zumba berpesan: ‘Tuhan berkati’.

Foto-foto yang sama ditemukan di berbagai grup.

Tapi tiga grup WA tidak kubungkam: grup anak istri –sepi, kecuali kedua anak minta tolong dibelikan keperluannya sepulang kantor- grup abang dan kakak –kami berlima bukan tukang ngobrol- dan –yang paling penting- grup kantor.

Yang belakangan ini sebenarnya agak merepotkan karena aku punya tiga bos yang ternyata doyan kirim pesan ke grup WA yang judulnya –pastilah pilihan salah satu bos itu- Viva Teamwork!

Ya memang pakai tanda seru, dengan foto bersama dari acara Team Building sepanjang akhir pekan di Cisarua sekitar tiga tahun lalu.

Bos pertama judulnya Direktur Perencanaan, pos yang baru setahun dibentuk demi efisiensi dan efektifitas, katanya. Kenyataannya -menurutku dan beberapa kawan yang sudah belasan tahun kerja tapi tak naik-naik pangkat dan gaji selain penyesuaian berdasarkan tingkat inflasi resmi pemerintah-  dia harus berjuang habis-habisan supaya kelihatan bekerja.

Setelah itu dia masih harus lebih berupaya habis-habisan lagi supaya pekerjaanya tadi itu ada gunanya.

Bos kedua adalah Direktur Operasi, yang urusannya menjamin semua pesanan terpenuhi sesuai dengan permintaan dan sekaligus pula memastikan semua orang bekerja secara padu dalam satu tim yang kompak demi efisiensi dan efektifitas.

Soal efisiensi dan efektifitas ini, demi menghindari kebingungan, sudah pernah dijelaskan langsung oleh Direktur Utama dalam briefing mingguan. “Jika Direktur Perencanaan pada tingkat eksplorasi atas berbagai winning formula maka Direktur Operasi, dengan willingness and cooperation rekan-sekan sekalian, berperan untuk memfasilitasi implementasinya dalam operasi sehari-hari,” katanya.

Kami semua mengangguk-angguk waktu mendengarnya.

Memang bos utama kami bukan tipe pemimpin yang pasif, melainkan aktif, gesit, dan cepat turun tangan untuk banyak hal -yang menurut kelompok yang senasib tadi- sebenarnya justru membuktikan bahwa Direktur Perencanaan dan Direktur Operasi tidak bekerja secara efisien dan efektif.

Perusahaan tempatku bekerja bergerak di bidang percetakan internasional, dengan pelanggan di Eropa, Amerika Serikat, Timur Tengah, Australia, Jepang, Korea dan negara-negara lain yang ‘mahal’.

Yang kami cetak juga segala macam, mulai dari laporan keuangan, brosur prospek saham, promo property, menu makanan, atau bahkan brosur permintaan sumbangan gereja, masjid, dan kuil.

Pernah pula ada pesanan dari Taiwan tentang senam Fa Lun Gong, dan aku sempat minta satu brosur itu dari orang percetakan karena sekedar pingin tahu saja..

Jadi segala macam pesanan kami terima dengan prinsip ‘kualitas sama, tapi biaya di Indonesia lebih murah’.

Dulu saingan utama kami Singapura walau pelan-pelan seperti terbentuk secara alami kalau klien-klien super mewah untuk mereka dan di bawahnya untuk kami. Belakangan muncul Cina yang bukan cuma lebih murah, juga lebih agresif, dan lebih berani untuk investasi di teknologi. Kalau ada pesanan yang perlu spesifikasi khusus, misalnya, maka mereka tak segan-segan langsung beli software dan printernya.

Dan persaingan dengan Cina ini terjadi di zaman grup WA.

Sebelum ada grup WA, aku suka kerja malam –berhubung kami harus menyesuaikan diri dengan jam kerja di belahan utara dunia sana. Bukan karena cuma kerja malam sepi - empat orang yang kerja dibanding 36 orang di siang hari- juga tak usah harus menyaksikan segala aksi –yang menurut saya dan sekelompok kawan  yang tak naik-naik pangkat dan gaji itu- tergolong upaya penjilatan maupun persaingan tidak sehat.

Jadi kerja malam, menurutku, lebih efisien dan efektif. Sandainyalah ada jabatan Direktur Malam, rasanya aku yang paling pas untuk mendudukinya.

Kalau rekan kerja malam adalah rekan-rekan yang lebih muda, mereka sudah paham bahwa aku karyawan ‘hopeless’ yang tak punya ambisi dan tak punya semangat teamwork karena tinggal nunggu pensiun. Bahkan kudengar-dengar, kelompok kami -yang tak naik pernah naik pangkat dan gaji tadi- disebut memiliki keahlian mengecam –yang menurut mereka lagi- ditujukan untuk mendapat tawaran pensiun dini.

Maka setiap kerja malam mereka lebih suka riuh bersama sesamanya saja dan membiarkan aku hening dan sepi sendiri. Itu sudah jadi semacam persetujuan bersama kami.

Sedang jika bareng sama kawan-kawan sepangkatan yang tidak naik-naik pangkat dan gaji, kami semua masing-masing memilih hening-hening sendiri. Paling sesekali bersuara kalau ada yang perlu ditanyakan atau dijawab, tapi berkat belasan tahun mengerjakan hal yang sama dengan pangkat yang sama dan gaji yang daya belinya sama di perusahaan yang sama, maka semakin tahun semakin sedikit pula yang perlu ditanya ke rekan lain.

Kerja malam memang sempurna buatku, sampai ada WA grup: Viva Teamwork!

Setelah menyaksikan pesan demi pesan berlalu selama sekitar sepekan saja, aku yakin seratus persen kalau ketiga bos yang doyan WA itu membawa iPhone-nya ke tempat tidur.

Mau berangkat tidur, mereka cek dulu iPhone sebelum ditaruh di meja samping tempat tidur atau di samping bantal. Dan, yang ini dugaan saya, setiap terbangun –entah tersentak karena tersikut istri dan suami atau kebelet pipis ke kamar mandi- mereka sempatkan pula untuk mencek iPhone.

Juga, ini pun masih dugaan, ketika akan bercinta mereka periksa iPhone dan usai bercinta cek iPhone lagi sebelum terlelap tidur dengan nikmat. Lantas bangun pagi sebelum sembahyang subuh, cek iPhone, begitu pula sehabis sembahyang subuh, cek iPhone.   

Apa pun alasannya, pesan-pesan WA dari ketiga bos tersebut tidak mengenal waktu: jam 10 malam, 11 malam, 1 subuh, 2 subuh, atau 3 subuh. Jam berapa saja bisa terjadi.

Sebenarnya aku–yang memegang kuat prinsip ‘orang bisa karena biasa’- berhasil mengatasi keriuhan pesan di grup WA Viva Teamwork!

Bagaimanapun aku tak berani membungkamnya. Maklumlah ini soal nafkah, soal kelanjutan hidup keluarga, soal masa depan anak dan keturunan mendatang kelak. Cuma kuncinya adalah membiarkan bunyi dung dung dan getar sret sret berlalu begitu saja karena kelak semuanya akan beres.

Soalnya akan banyak rekan -selain kelompok karyawan yang tidak naik-naik pangkat dan tidak naik-naik gaji itu- yang berlomba-lomba pula menanggapi pesan-pesan WA.

Hanya kalau ada @Simatupang: ‘tolong kirim preview pesanan dari  AS itu’, barulah langsung kubalas: ‘segera Pak/Bu’.

Selebihya cuekin saja.

Entah itu urusan kerja atau yang cuma berniat melucu tapi tidak lucu. Bos bos sebenarnya sudah pernah menegaskan –lewat pesan WA- ‘mohon yang bukan urusan kantor jangan di sini’ walau mereka pun sebenarnya pelan-pelan terjerembab juga ke budaya WA dan foto narsis.

Sudah hampir sama dengan orang yang kecanduan obat bius: tidak menyadari kalau matanya sudah kuyu dan hidup terus berjalan.
***
bersambung

*. pomparan Ompu = turunan satu Ompung (Kakek)

ceritanet©listonpsiregar2000