sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 264, 15 oktober 2016

Tulisan lain

G3 WA (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Sepatu Linda dan Seorang Murid - Arifah Nugraheni

Jangan Kita Di Sini Berhenti - Chairil Anwar

Tilbury

Membara - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 12 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Merdeka - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 28 - Aminatul Faizah

Berlin

Apa Cita-citamu Nak? - Arifah Nugraheni

Purnama Tak Bisa Memilih - Liston P Siregar

Mulutmu Mencubit di Mulutku - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 11 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Teheran Dalam Stoples 27 - Aminatul Faizah

Tangkahan

Ladu - Tosca Santoso

Surat dari Jawa: Menimbang Ladu - Wahyudi Nugroho

Dari Kehidupan Para Jutawan 10 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Selamat Tinggal - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 26 - Aminatul Faizah

Herne Bay

novel Teheran Dalam Stoples
Aminatul Faizah

-. Khasan
Akhirnya setelah enam tahun berlalu, hari perkenalan itu ada juga. Saat itu kami sedang menikmati sore hari di halaman. Adikku memanjat pohon jambu air dan aku menunggunya di bawah.

Ibu sedang melihat acara televisi yang menayangkan betapa panasnya persaingan elit politik. Betapa kritisnya kejenuhan saat itu. Saat itu bulan Mei awal. Ibu selalu bilang kalau Indonesia akan mengalami yang namanya revolusi. Tak tahu kapan, tapi ibu yakin akan terjadi.

Hanya saja pertanyaannya siapa yang akan menjadi manusia setengah dewanya. Akankah ada Imam Khomeini ataukah hanya segelintir mahluk setengah dewa gadungan yang setelah revolusi tercapai akan memicu tarik ulur kepentingan.

Ibu mengambil selang air dan mulai menyirami tanaman yang da tanam dengan selng air. Sedangkan di depan rumah kami ada sebuah keluarga sederhada yang menyirami tanaman mereka dengan ember.

Halaman depannya lebih mirip dengan kebun. Kulihat bapak Sadikin sedang menyiangi tanaman kacangnya, istrinya sedang membujuk anaknya,- adik dari lelaki dambaanku itu.

Tak ada anak lelaki yang terus saja mengisi hatiku, selain dia. Aku memperhatikan dengan seksama yang terlihat di hadapanku. Aku berharap-harap cemas kalau anak itu akan muncul.

Dan dia datang, ke luar dari rumah. Aku melihatnya dengan seksama. Saat ia melintasi jalan kampung aku berharap ia tak jalan terus. Aku membalikan badanku malu dengan yang kulakukan. Jantungku bergetar tiada habisnya.

“Assalamualaikum..”
“Waalaikum salam,” jawabku dan juga adikku. Aku terpaksa menoleh. Kulihat ia berada di depanku. Dengan kaos putih dan sarung, ia tersenyum. Aku membalas senyuman itu.
“Anuh… maaf. Boleh tidak aku mita koran buat kliping ?”
“Boleh... kliping apa?” tanyaku sambil melihat wajahnya sedekat mungkin untuk pertama kalinya.
“Ekonomi.”
“Mari. Anak IPS... ya? Tunggu sebentar.”

Aku mengambil tumpukan koran yang ada di bawah meja tamu. Aku taruh di dekatnya yang duduk di bangku teras. Aku kembali menuju ruang makan dan aku ambilkan minuman untuknya.

“Makasih Leila, tak usah repot-repot,” katanya.
“Kau tahu namaku?” tanyaku dengan heran.
“Tentu saja, mana ada orang desa yang tak tahu keluarga kalian.”
“Kalau begitu namamu siapa?”
“Aku Khasan.”

Khasan, nama yang bagus. Aku tak mengatakannya namun aku hanya diam dan tetap diam.

Itulah awal pertemuan kami. Setelah hari itu kami banyak bercerita, berdiskusi dan melakukan banyak hal. Tapi aku tetap tak tahu apa yang ada dipikirannya dan juga tak tahu yang ia pikirkan.

Suatu hari, tepat dua hari sebelum tragedi 21 Mei. Hari itu adalah Rabu terakhir mendekati tanggal sakral itu. Saat itu aku melihatnya menggunakan sapu tangan biru muda. Ia duduk didekatku dan menggunakan sapu tangan birunya untuk mengelap keringat.

Ia tersenyum melihatku yang menghafalkan bahasa Prancis yang ibu ajarkan.

“Mau pergi ke Paris?”
“Ah… tidak. Mana mungkin aku punya uang. Palingan aku hanya bisa kuliah di dalam negeri,” balasku sambil melihat adiknya yang memanjat jambu airku.
“Kamu?"
“Apa?" Ia terperanjak dan mendekati adiknya yang turun. Sepintas kulihat sapu tangan birunya yang sangat usang. Lebih parah dari kain pel ibu. Aku melihatnya dan berpikir ingin memberikannya sapu tangan yang baru.

Aku bertanya pada adiknya apa warna kesukaannya. Dan dia bilang biru. Lelaki yang baik menyukai warna biru. Itu sangat menyenangkan.

Aku kemudian mengjak Reni untuk membeli sapu tangan di pasar Kediri, memilih sapu tangan yang terhalus dan juga yang termahal. Aku mendapatkan sapu tangan berwarna biru tua. Kainnya sangat halus dan harganya waktu itu tiga ribu rupiah. Cukup mahal untuk kami yang tinggal di desa.

Semalaman suntuk aku membuat bungkus yang tepat, dari kotak sepatu namun hasilnya jelek. Jadi kubungkus biasa saja, tapi hasilnya pun sama jeleknya. Aku terdiam lalu melihat lembaran plastik. Aku membuat bungkusan kecul dan me masukkannya.

Lalu permasalahan muncul.

Apa yang akan aku lakukan untuk memberikannya. Alasan apa? Bukankah wanita harus menjaga harga dirinya. Aku terdiam dan juga melihat ke awang-awang. Kututp mataku. Aku kira saat itu aku melihat wajahnya namun bukan, yang kulihat ternyata adalah wajah Ali, boneka besarku.

Kira-kira apa yang Ali lakukan saat ini. biasanya jika malam tiba, ia akan ikut aku belajar. Kami akan bermain dan kami melakukan banyak hal bersama.

Aku tertidur dengan jendela kamar yang terbuka. Kubiarkan daun-daun itu melakukan dansa malam. Dan urat-urat ranting menghentakkan mereka. Kubiarkan ngengar dan juga nyamuk bertamu di kamarku namun aku pastikan kalau hatiku untuknya. Aku bermimpi ia mengunakan sapu tangan biru tua dan ia mengucapkan terima kasih. Konyol namun impian cinta untuk anak muda seusiaku sangatlah menyenangkan.

Reformasi terjadi.

ibuku terhentak dari alamnya. Ia selalu berharap-harap cemas dan selalu menunggu koran Jawa Pos. Setiap pagi sebelum aku berangkat ke sekolah, ibu sudah menunggu korannya datang. Sikap ibu berbeda dengan sikap para penduduk setempat.

Para penduduk sekitar tak ambil pusing dengan yang terjadi. Mereka tak seantusias warga Teheran saat terjadi Perang Teluk, saat ada selentingan konflik di pemerintahan. Semuanya menganggap bahwa walaupun ada reformasi namun semuanya tak akan berubah. Baik Soeharto mapun Soekarno, yang penting bahan pokok harus murah. Ekonomi adalah kunci mutlak dari pemerintahan yang diinginkan rakyat. Bukan bualan politik dan juga janji kesejahteraan.

Ayah pulang. Ia bercerita tentang kekacauan yang terjadi di Jakarta, Surabaya, Semarang dan juga kota-kota lainnya. Seperti biasa ibu tak mau ambil pusing. Dengan enteng ibu hanya bilang.
“Buat apa seperti ini. Reformasi bukanlah merusak namun mengubah. Bukan anarkis namun hanya mengubah dengan jalan yang damai.”
Dan ayah akan menanggapi: “Memang sudah waktunya. Ada orang yang berbahagia di balik semua ini. Tak peduli siapa yang mengaku pejuang reformasi namun saat duduk mereka akan menjadi seperti pemerintahan yang lalu.”
Seperti biasa pula ibu menjawab: ”Itu adalah rotasi politik.”

Dan pembicaraan akan selelesai. Sementara pikiranku tentang yang harus kulakukan dengan sapu tangan masih terus berputar.
***

bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000