sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 264, 15 oktober 2016

Tulisan lain

G3 WA (Gara-gara Grup WhatsApp) - Liston P Siregar

Jangan Kita Di Sini Berhenti - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 29 - Aminatul Faizah

Tilbury

Membara - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 12 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Merdeka - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 28 - Aminatul Faizah

Berlin

Apa Cita-citamu Nak? - Arifah Nugraheni

Purnama Tak Bisa Memilih - Liston P Siregar

Mulutmu Mencubit di Mulutku - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 11 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Teheran Dalam Stoples 27 - Aminatul Faizah

Tangkahan

Ladu - Tosca Santoso

Surat dari Jawa: Menimbang Ladu - Wahyudi Nugroho

Dari Kehidupan Para Jutawan 10 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Selamat Tinggal - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 26 - Aminatul Faizah

Herne Bay

catatan Sepatu Linda dan Seorang Murid
Arifah Nugraheni

Siang itu agak berbeda dengan biasanya. Linda masuk rumah tanpa salam, dia tidak berkata apa-apa. Sambil menenteng sepatu pantofel yangdikenakannya tadi pagi dia berjalan menuju ke samping rumah.

Lalu dengan kuat dia lemparkan pantofel hitam miliknya itu ke tempat sampah.

Melihat pemandangan itu, aku dan Henny cepat-cepat mendekatinya yang sedang berdiri di bawah pohon pepaya. Dia hanya melihat sepasang sepatu yang sudah tergeletak di gundukan sampah.

“Kenapa dibuang sepatunya, Nda?”

Henny mendekati tempat sampah, tempat sepatu itu kini berada. Dia mengambil satu di antaranya. Hak tinggi di sepatunya hampir lepas.

“Belum terlalu rusak, tinggal di lem saja ini, Nda!”
“Sudah taruh lagi saja, itu aku buang.”
“Lha, besok kamu pakai apa?”
“Pakai sepatu karet merek buaya saja!”

Linda berjalan masuk rumah.

Aku dan Henny hanya saling lirik. Kami paham suasana hatinya sedang tidak bagus. Mungkin terjadi sesuatu di sekolah, atau mungkin dia sudah bosan dengan sepatunya. Aku berjalan mengikutinya masuk, ingin menanyakan apa yang membuatnya murung.

“Biar, biar makan dulu. Mungkin tadi di sekolah tidak dapat makan.”
“Betul betul betul, aku kalau lapar juga begitu. Hahaha.”

Kami berdua hanya tertawa.

Linda is back!

Dia menenteng sepiring nasi ikan, sudah berganti baju, sudah beribadah pula. Dia menghabiskan nasinya sambil bersandar pada dinding. Setelah piring dia singkirkan, diraihnya telpon genggamnya, dia menggeser-geser layar tanpa melihat kami.

Padahal aku sudah berharap dia akan segera bercerita. Jadinya aku yang tidak sabar dengan diamnya.

“Nda, kamu ngapain mainin handphone? Kan sudah tiga hari ini listrik sama sinyak tidak muncul.”

Henny menyenggol buku mewarnai yang kupegang. Katanya biar Linda cerita sendiri.

Akhirnya Linda mendekat kepada kami berdua.

“Iya ini ngapain aku mainin handphone. Sinyal *tarada bai.

Linda terbahak. Tanpa kami bertanya perihal sepatu Linda. Dia mulai bercerita.

“Kalian mau tahu kenapa sepatuku kubuang?”

Aku dan Henny menaruh pensil warna, lalu kami mengambil posisi duduk bersila menghadap Linda. Kami menyiapkan telinga untuk mendengar cerita sepatu Linda.

“Apa Nda apa, apa, apa, apa? Sepatumu kenapa haknya copot?” tanyaku mendesak.

Henny menimpali pertanyaanku sebelum sampai Linda menjawab pertanyaanku.

“Tadi pagi sepatumu belum rusak, apa kamu tadi jatuh di jalan? Terus kenapa harus dibuang? Di lem saja kan bisa, lagian di pulau ini tidak ada yang jual sepatu bagus dan kuat.”

Linda melambai-lambaikan tangannya menyuruh kami diam karena dia ingin bercerita.

“Kapan aku critanya, nih?”
“Iya, iya maaf. Lanjut!” jawabku kepadanya.

“Hari ini aku mendapat jatah jam mengajar setelah istirahat. Jadi begini......”

Linda berangkat sekolah pukul tujuh kurang 15 menit. Sekolah masuk jam setengah delapan. Karena jarak sekolah tempat Linda mengajar dari rumah cukup jauh, jadi dia selelu berangkat lebih pagi dibandingkan aku dan Henny. Dia berjalan kaki seperti biasa.

“Karena aku mengajar setelah istirahat, seperti biasanya aku membantu Ibu Deli menyiapkan kue untuk konsumsi guru-guru.”
“Terus hubungannya sama sepatumu apa?” Tanyaku tidak sabar.
“Sebentar to. Saat istirahat murid kelas 11 IPS tadi, yang berangkat ada tujuh orang. Eh, pas aku masuk kelas muridnya cuma tinggal 1 saja.”
“Lha yang lain kemana? Bolos?”
“Iya. Katanya mereka main ke hutan belakang sekolah.”
“Lha terus kamu?”
“Aku cari mereka, di hutan... sepatuku rusak.”

Linda memutuskan untuk masuk ke hutan belakang sekolah. Anak-anak belum terlalu jauh ke dalam hutan. Sendirian, matanya menyapu ke kanan dan ke kiri. Barangkali enam muridnya yang bolos itu ada di salah satu sudut yang dia lihat.

Benar saja, enam remaja putra putri itu sedang duduk-duduk dibawah pohon mangga sabut kelapa yang sama sekali tidak sedap dimakan. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Begitu melihat ibu guru Linda mendekat, sontak mereka kaget lalu berlarian masuk lebih dalam ke hutan.

Tiada menyerah, Linda yang bertubuh pendek agak gemuk, memakai rok hitam panjang, bersepatu pantofel, dengan bersemangat mengejar mereka. Dia berlari sekencang yang dia bisa dengan sepatu hak tingginya di tanah liat, pohon rimbun, dan semak belukar.

Jelas Linda tidak bisa mengejar remaja-remaja kuat itu, mereka lahir dan besar di pulau ini. Laut dan hutan adalah kawan sehari-hari untuk mereka. Dan, berhentilah Linda ketika satu sepatunya tertancap di tanah liat yang agak gembur.

Diangkatnya sepatu itu, enam muridnya sudah benar-benar menghilang di antara pepohonan. Lagipula, kalau diteruskan mengejar, mungkin Linda akan tersesat. Jadi dia kembali ke kelas dengan sepatu rusaknya, dan seorang murid.

“Meskipun cuma satu, tapi tetap pelajaran sampai selesai kok. Kasian, Yofenti setia nungguin aku di kelas. Bukan sepatu yang kusesalkan. Tapi kenapa aku ditinggal?”

Sebetulnya aku dan Henny merasa prihatin dengan Linda dan sepatunya. Tapi kami tertawa terbahak-bahak.

“Nda, kamu guru yang baik!” kataku sambil masih tertawa. “Beberapa hari yang lalu aku juga ditinggal, bedanya aku tidak mengejar mereka.”

Sama seperti kasus Linda, aku mengajar setelah jam istirahat. Pagi hari muridku kelas 7 ada delapan orang yang berangkat. Ketika aku masuk ke kelas hanya ada empat yang tersisa. Katanya, empat orang yang pulang tadi pamit untuk sarapan, kutunggu sampai 15 menit berlalu tidak ada satu pun yang kembali ke sekolah.

Kuminta tolong Lukas dan Jefri untuk memanggil empat temannya yang pulang tadi. Tapi tidak ada yang mau kembali untuk belajar. Betapa sedihnya aku.

Tapi kami tetap melanyelesaikan pelajaran sampai jam sekolah usai.

“Biarlah. Mungkin empat muridku yang pulang memang sangat lapar. Atau mungkin orangtuanya mengira sekolah sudah usai jadi tidak disuruh kembali lagi ke sekolah. Entahlah!”
“Kok aku tidak pernah ditinggal anak-anak ya?”
“Jangan sampai, Hen. Saat pagi muridmu ada lalu siang, ketika pelajaranmu, mereka menghilang rasanya seperti ada petasan dan terompet tahun baru yang berbunyi di dada. Bikin kaget!”

Kami percaya, mereka anak-anak yang baik. Hanya sekali saja pengalaman berharga itu terjadi.

Aku dan Linda harus belajar memberi yang lebih baik lagi untuk anak-anak. Begitu pikirku. Mereka juga berproses menjadi lebih baik. Selanjutnya, mereka tidak pernah lagi menghilang saat pelajaran berlangsung.
***

*Tarada bai: tidak ada bro/sis.

ceritanet©listonpsiregar2000