sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 263, 15 september 2016

Tulisan lain

Membara - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 12 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Merdeka - Chairil Anwar

Berlin

Apa Cita-citamu Nak? - Arifah Nugraheni

Purnama Tak Bisa Memilih - Liston P Siregar

Mulutmu Mencubit di Mulutku - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 11 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Teheran Dalam Stoples 27 - Aminatul Faizah

Tangkahan

Ladu - Tosca Santoso

Surat dari Jawa: Menimbang Ladu - Wahyudi Nugroho

Dari Kehidupan Para Jutawan 10 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Selamat Tinggal - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 26 - Aminatul Faizah

Herne Bay

Kota Melampaui Perutmu - Jajang Kawentar

Detik Yang Memudarkan Cinta - Ani Mulyani

Ada Lelah Tanpa Upah - Arifah Nugraheni

Cerita - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 9 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Teheran Dalam Stoples 25 - Aminatul Faizah

Bewl Water

"Itu Maleo, Nak. Bukan Ayam Besar. Jangan Dimakan Lagi!" - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 8 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Bercerai - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 24 - Aminatul Faizah

Antibes

novel Teheran Dalam Stoples
Aminatul Faizah

-. Perasaan Adalah Pengelana Waktu

Aku merasakan duniaku yang normal saat aku kembali ke Indonesia, rumahku dan tanah airku. Dari beribu-ribu pulau dan dari berjuta-juta kota, Kediri yang ibu pilih sebagai tempat untuk menulis novel dan tempat aku tumbuh menjadi remaja yang normal.

Aku orang asing namun berbeda dengan saat di Iran, aku diperlakukan bak dewi, bukan dihina melainkan pujian dan perlakukan khusus datang padaku baik waktu main atau saat menimba ilmu. Aku bahagia. Kakek dan nenek serta keluarga besar ibu sering mengunjungiku. Kadang kala mereka membawa buah-buahan atau kadang kala jajanan tradisional yang beraneka ragam.

Selalu di Senin pagi ayah berangkat bekerja ke Surabaya dan Jum’at sore ia pulang. Kali ini, pada Hari Minggu, ia tengah menunggu Ghazali pulang bermain. Berkali-kali ia mondar-mandir di depan pintu pagar rumah, gelisah menunggu jagoan ciliknya pulang. Ibu dan aku yang tengah asyik membaca koran mau terganggu juga oleh tingkah pola ayah.

Ibu menatap ayah dengan serius, lebih serius dibanding jika ia mendapat surat dari empat wanita Iran atau teman-temannya di luar negeri.

“Ghazali kan anak laki-laki. Wajar saja jika ia bermain mencari burung puyuh,” kata Ibu sembari mendekati ayah.
“Ini terik, aku tak mau anakku sakit nantinya.”
“Ah… Sudahlah duduklah, toh waktunya pulang ia akan pulang.”

Ayah tetap menerawang kearah jalan kampung yang menuju ke hamparan sawah yang menghijau.

“Kau ini, bagaimana kalau anak kita jatuh.”
“Laki-laki wajar jatuh, itu pembelajaran hidup.”
“Lalu kalau menghilang?”
“Tidak, ia sudah biasa menaklukkan sawah-sawah itu.”

Mendengar perdebatan itu, aku tersenyum. Aku dan teman-temanku mungkin akan berlama-lama bermain menahlukkan sawa.h Teman-teman Iranku tak punya kesempatan untuk menikmati sawah denganku.

Hijau, sengar dan beraroma embun. Itulah yang kutahu tentang sawah. Aku bermain dengan sawah lebih lama dari anak Indonesia lainnya ketika aku baru tiba di tempat ini. Sawah adalah surga baru bagiku.

“Leila… Cari adikmu sana!” perintah ayah.
“Ayah… panas… ntar aku hitam.”

Ayah hanya tersenyum lalu ia mengambil topinya dan meninggalkan kami. Dua jam kami menunggu dengan tumpukan koran dan ayah tak pulang-pulang. Kami tak tahu ia di mana.

“ibu… ayah kok lama.’
‘Paling juga ikut Ghazali menangkap burung puyuh.”
“Masa sih!”
“Kau juga pernah alami itu kan?” kata ibu dengan spontan sambil melipat koran
“Iya juga.”
***

Dunia yang sempurna. Itulah yang kurasakan. Tenang tanpa gejolak ataupun revolusi. Kehidupan seolah mengalir tiada hentinya dalam ritme ketenangan yang damai. Entah apa yang sedang terjadi di sana temanku?

Pertanyaan itu mengantung. Ibu tak lagi dapati surat dari Ummu atau wanita khan lainnya. Mungkin mereka berempat telah pergi meninggalkan kami atau berada dalam kulminasi bosan. Ibu membanggakan hatinya karena yakin sebuah hubungan akan datang tanpa ada yang tahu dan pergi seolah tak pernah terjadi. Hubungan yang semu, tapi rasa itu nyata dan ada.

Perasaan adalah pengelana waktu yang tak bisa kita lupakan. Perasaanku tentang Iran tak mampu aku buang begitu saja. Bahkan aku semakin yakin kalau ini bukanlah dunia yang aku mau. Dengan jelas aku bisa merasakan kerinduanku pada Khafsah, Mullah Fairus, Ummu Khoirah, tiga Khan, Ali, dan juga khala.

Aku merindukan semuanya. Merindukan ketika bermain di halaman bersama Ali, membaca buku cerita di kebun rahasia, roti nan, dan juga banyak hal yang semuanya semakin menyakitkanku.

Aku jatuh cinta pada seorang lelaki untuk pertama kalinya seumur hidupku. Cinta itu sangat melekat di hatiku. Mengalahkan semua yang ada sejenak.

Saat itu aku sekolah di SMA 1 Kediri. Ibu selalu bercerita kalau banyak hal yang akan aku alami saat aku dewasa dan memang benar. Aku selalu bertanya, apa yang akan aku peroleh dan itu adalah cinta.

Lelakih saleh itu adalah tetangga depan rumahku. Ayahnya seorang guru mengaji di surau di dekat rumah. Ibu tahu namun tak begitu ambil pusing. Ibu malah memberikanku kebebasan yang luas.

Setiap pagi saat aku dan adikku mengeluarkan motor merah Honda tahun 1997 dari garasi, aku melihatnya yang sedang mengeluarkan sepedanya. Sepeda jengki tua dengan bel yang berbunyi kring.

Sekolah kami berbeda. Ia sekolah di madrsah dan sampai sekarang aku masih belum punya kesempatan untuk mengenalnya. Aku terlalu sibuk dengan tugasku dan juga terlalu sibuk dengan kursus bahasa yang diberikan ibuku. Serta dia tak mungkin tertarik padaku. Rasanya, mana ada pemuda yang tertarik padaku. Aku tak punya pribadi yang bisa aku banggakan.

Ibu sangat sibuk dengan bukunya dan juga adikku yang akan berjalan akil balik.

Namun hari ini ada yang berbeda. Untuk pertama kalinya aku melihat ia melirikku yang memakai baju putih-putih dengan span. Aku akan menuju sekolah untuk menjadi pembawa upacara. Aku tersenyum dan ia juga tersenyum padaku. Oh… senangnya hari itu, hari ketika akhirnya Allah membuka kan pintu menuju dunia yang penuh cinta.

Waktu aku menceritakan pada temanku yang aku alami, mereka -seperti biasa- meremehkannya. Dengan entengnya Reni temanku berkata.

“Walah… toh kamu itu cantik kenapa harus menunggu anak Kyai Mus. Anaknya alim ngak akan pernah mengerti yang namanya pacaran.”

Reni tahu dengan jelas wajah pemuda itu. Ia adalah tetanggaku dan juga teman baikku. Dia memiliki wajah yang bulat dengan hidung kurang mancung. Ia juga selalu mengepang rambutnya dengan kepangan sebahu. Jika teman lelaki kelasku sedang iseng mereka akan mengejeknya dengan menarik rambutnya atau berceloteh semua hal yang berkaitan dengan kuda lumping.

“Tapi aku suka,” tegasku.
“Masa anak Indo gitu suka ama anak kyai. Mana mungkin abanya mau dengan keluargamu. Mereka pasti agak minder. Bayangkan cucu ibu Nur yang juara dengan seafood restauran, anak dari bapak Yusuf seorang manager pertamina dan juga anak dari Hamidah seorang penulis buku yang terkenal bisa menikah dengan anaknya.”
“Baguskan?” aku menaruh tasku di kolong bangku jati yang aku duduki sehari-hari. Aku duduk di depan kelas dan di samping pintu. Aku mulai dilirik oleh jejaka Kediri.
“Apanya yang bagus. Dunia kyai itu tanpa pacaran dan juga tanpa lirikan mata. Di sana adalah dunia siti Nurbaya yang berakhir dengan kisah cinta yang kandas. Pertunangan, kau tahu bahkan aku dengar saat mereka masih kecil pertunangan itu ada.”
“Masa?” aku mulai mengambil kopyaku dan berjalan menuju lapangan.
“Siapa tahu kalau ia ditunangkan dan kau akan patah hati?”
“Ah... kamu, byok yo teman sedang kasmaran didukung.”

Aku mulai memasang kopyaku dan mulai berdiri tegak disisi teman yang lain.

Saat bendera merah putih dikibarkan entah kenapa rasa itu ada. Entah kenapa aku malah teringat ketika melakukan upacara di negara orang lain. Rasanya aku sangat merindukan mereka. Iran bagaimana kabarmu? Apakah kau masih penuh gejolak seperti hari-hari itu? Apakah kau masih labil hingga banyak kecemasan dan juga semangat untuk berubah?

Sebenarnya bukan Iran yang harus aku tanyakan, melainkan negaraku yang dilanda krisis fundamentalis.

Sepulang sekolah aku menjemput adikku. Aku yakin ibu akan menunggu kami sambil memasak dan menanti telpon dari ayah. Ibu akan meluangkan waktu untuk berkebun dan juga untuk sedikit berbaur dengan para tetangga.

Melintasi aspal yang hitam dengan banyak sawah di kanan dan juga kiri aku sangatlah senang. Jarak rumahku dengan kota besar kurang lebih 18 kilometer namun aku menikmatinya.

Banyak hal yang bisa aku lihat. Ada perkebunan tebu, ada pabrik tebu, perkebunan bawang dan juga tembakau saat aku akan berbelok menuju gapura desa. Aku selalu meluangkan beberapa detik dari perjalananku untuk menoleh pada bangunan enam gedung yang berjajar dengan pagar yang terbuat dari bambu dan halaman yang masih berupa tanah lapang.

Di sana ada jantung hatiku yang akan pulang sebentar lagi. Di sana akan ada dia yang mengayuh sepedanya dan kutinggal jauh kedepan.
“Ibu aku pulang!”
“Ya... cepat salat, ganti baju dan makan! Ibu sedang membuat adonan kue,” teriak ibu dari dapur. Tanpa pamit adikku langsung menuju dapur dan membuka kulkas. Ia mengambil segelas air putih sambil berjalan menuju kamarnya.

Aku membuka jendela kamarku. Rumah kami yang bergaya bangunan tempo dulu memiliki jendela yang lebar. Aku bisa melihat taman dari lantai dua ini. Taman yang sengaja ibu rawat dengan penuh perhatian. 

Aku makan siang dengan adikku. Tentu saja kami perang mulut dahulu, lalu menuju ibu untuk berlomba bercerita tentang pagi yang baru saja kami jalani. Ritual ini kami lakukan sejak dahulu, sejak aku mengenal bangku sekolah.

Kali ini ibu membuat kue kukus. Ia harus memarut banyak kelapa dan menjinjing bajunya. Akan ada hajatan malam jumat di surau sebelah. Sebuah ritual keagamaan. Malam Jumat adalah malam yang sakral. Seperti malam yang suci, ketika pintu antara yang mati dan yang hidup terhubung. Itulah yang mereka yakini.

“Ibu jika ibu besar ibu mau jadi apa?’ tanya adikku yang berusia 12 tahun.
“Ibu mau jadi ibu yang baik, mau jadi penulis dan istri dari ayahmu.”
“Tidak boleh bu, ibu kan sudah jadi itu sekarang. Ibu harus jadi yang lain,” ia mengambil sejumput kelapa parutan dan memasukannya ke dalam mulutnya.
“Ibu mau jadi… jadi… Ah... ibu kan sudah tua. ibu mau jadi nenek yang baik untuk cucunya,” jawab ibu sambil menaruh parutan.

Adikku melirikku sambil sedikit, memberi wajah yang meremehkanku. Aku mulai geram dengan yang ia lakukan. Aku berbalik dan menuju ruang baca sambil membuka komputer yang baru dibeli ibu untukku.

“Kakak kalau kakak besar mau jadi apa?’’ tanya adikku sambil membaca buku.
“Tak ada. Aku hanya mau jadi seperti ibu atau mungkin fotografer.”
“Berarti kakak harus sekolah di luar negeri dong. Kan di Indonesia masih belum ada yang gituan.”
“Siapa bilang!”
“Aku….” katanya dengan yakin seolah aku akan meninggalkan Indonesia lagi.

Aku tak mau. Rasanya cukup di sini saja aku berada. Cukup, hanya tempat ini yang aku gantungkan untu kehidupan damaiku.
“Kalau kau?’
“Aku akan jadi orang yang menghargai sejarah dan juga masa lalu,” jawabnya enteng.
“Aku akan pergi ke daerah Dieng, ikut para professor dari UGM mengali banyak candi. Membuat parit, melihat kala yang ada di pintu candi dan juga, aku akan berada di dalam parit dan menggali bangunan yang ada. Sungguh aku tak sabar melakukan hal itu,” adikku mulai berandai-andai dengan dunia filosofi sejarahnya.

Ia setahap lebih maju karena ia memiliki yang dinamakan tujuan masa depan. Aku tak punya. Yang aku punyai hanyalah prestasi yang tak tahu akan aku bawa kemana.

Ibu ke luar dengan membawa sepiring kue kukus santannya. Ia melihatku yang sedang santai sambil mengerjakan tugasku.
“Ibu mau ke mana?”
“Mau ke rumah depan. Ibu tadi meminta daun suji untuk membuat ini,” ia menunjuk rumah tinggal pemuda yang selama enam tahun menjadi tetangga yang kami tak saling kenal.

Aku melirik ibu yang beramah tamah dengan ibunya. Mereka berdua saling tersenyum, berbasa-basi sebelum ibu kembali.

Kira-kira kapan aku bisa melakukannya.
***
bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000