sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 263, 15 september 2016

Tulisan lain

Membara - Arifah Nugraheni

Merdeka - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 28 - Aminatul Faizah

Berlin

Apa Cita-citamu Nak? - Arifah Nugraheni

Purnama Tak Bisa Memilih - Liston P Siregar

Mulutmu Mencubit di Mulutku - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 11 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Teheran Dalam Stoples 27 - Aminatul Faizah

Tangkahan

Ladu - Tosca Santoso

Surat dari Jawa: Menimbang Ladu - Wahyudi Nugroho

Dari Kehidupan Para Jutawan 10 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Selamat Tinggal - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 26 - Aminatul Faizah

Herne Bay

Kota Melampaui Perutmu - Jajang Kawentar

Detik Yang Memudarkan Cinta - Ani Mulyani

Ada Lelah Tanpa Upah - Arifah Nugraheni

Cerita - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 9 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Teheran Dalam Stoples 25 - Aminatul Faizah

Bewl Water

"Itu Maleo, Nak. Bukan Ayam Besar. Jangan Dimakan Lagi!" - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 8 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Bercerai - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 24 - Aminatul Faizah

Antibes

novel Dari Kehidupan Para Jutawan
Victoria Tokareva
Penerjemah: Victor Pogadaev

Pada keesokan harinya, Maurice membawaku ke bandara. Naik Jaguar biru.

Koporku tak juga ditemui tetapi aku diyakinkan kopor itu akan  ditemui juga nanti. Aku sudah biasa dengan kehilangan. Aku memperoleh gaun baru dan dengan wajah baru bergaya seorang perempuan penggoda lelaki.

Apakah itu sama nilainya dengan satu kopor?

Aku melalui tempat pemeriksaan paspor. Maurice berdiri di luar dan dengan sayu memandangku.

Aku berpaling ke belakang, bertemu dengan matanya dan terpikir: mungkin seorang petani tua berpakaian compang-camping di sebuah desa Rusia hidup lebih berpijak pada dunia dan diri sendiri dari pada Maurice yang berpakaian rapi dan mewah.

Bahkan dengan uang yang banyak, dia tak bisa membeli semuanya.

Sampai ketemu lagi, Moriska. Harap, kau berbahagia meskipun tidak mudah. Aku tak melupakanmu seperti juga topan Oscar. Aku tak melupakanmu seumur hidup…

Empat bulan berlalu.

Koporku akhirnya ditemukan. Sepanjang masa itu, aku telah  pergi ke Warsaw dan Bombay. Yang membawa koporku adalah Anestezi. Kasihan! Kopor itu berat sekali.

Dia datang ke rumahku pada suatu hari, waktu sore. Dia berpakaian mantel dari kulit berbulu mewah.

Pada bagian lutut di mantel itu tampak lubang berukuran piring teh.

"Apa itu," tanyaku.
"Bobka menggigit.""
"Bobka itu kekasih barumu?"
"Anak anjing. Karena lapar," Anestezi menjelaskan.
"Di mana kau mengambilnya?"
"Di tangga rumah."

Anestezi memelihara anak anjing tetapi lupa memberi makan jadi anak anjing itu menggigit mantelnya. Anestezi selalu lalai.
"Buka pakaian," aku persilakan. "Kita akan makan bersama."

Di flatku terhidang bau daging yang dipanggang di dapur, terdengar bunyi kehidupan berkeluarga: petikan perbualan telepon, pancuran air di kamar mandi.

"-Aku tak bisa," Anesrezi menolak. "Mobil menunggu di bawah. Aku singgah sebentar saja."

Penerjemahku ini jauh dari kebisingan bunyi dan bau kehidupan berkeluarga orang lain. Dia menyimpan  niat dan tujuan sendiri.
"Apa kabar Maurice," kutanya.
"Moriska berpindah kepada Sofie. Madelaine tak mau memberi uang kepadanya lagi. Siapa yang bersalah mesti menebus kesalahannya."

Anestezi teringat sesuatu dan mulai mencari-cari di dalam tas tangannya yang bertali panjang.
"Dahsyat betul," katanya. "Aku kehilangan buku catatan."
"Dan bagaimana sekarang?"
"Sekarang aku tak punya satu nomor telepon pun."
"Bukan, aku tanya mengenai Maurice."
"Ah, tentu… Dia kembali ke Madelaine."
"Karena uang?"
"Karena segala-galanya sekaligus. Dia mengerti bahwa susah hendak memulai kehidupan baru. Lagi pula kesehatannya tidak seperti dulu."
"Jadi karena uang?"
"Bukan. Tak mungkin mulai dari awal lagi… Itu hanya tampak mudah."
"Kau tahu dari mana?" tanyaku.
"Tahu, kalau berbicara begitu."

Anestezi selesai mencari di dalam tas dan bertemu dengan mataku.

"Perlu mengakhiri cinta yang lama. Patut mencintai yang diberi oleh nasib dan tidak memulakan yang baru."

Aku hendak menanyakan mengenai suaminya tetapi dia sudah mengatakan cukup.
"Boleh aku telepon dari sini?" tanya Anestezi.

Aku membawa telepon. Dia mulai memutar satu nomor demi satu dan menanyakan mengenai buku catatannya, hitam, tebal, berjilid kulit.

Aku membayangkan Maurice dan Madelaine di meja makan. Mereka makan dan bertikam lidah. Dan dengan saling berdiam dan saling merenung menempuh masa depan yang tersisa dalam kehidupannya.

Sedangkan bintang hitam Sofie terbang entah ke mana dan ada lelaki lain yang mengangkat kopornya dari ban berjalan.
***
tamat

ceritanet©listonpsiregar2000