sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 262, 15 agustus 2016

Tulisan lain

Purnama Tak Bisa Memilih - Liston P Siregar

Mulutmu Mencubit di Mulutku - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 11 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Teheran Dalam Stoples 27 - Aminatul Faizah

Tangkahan

Ladu - Tosca Santoso

Surat dari Jawa: Menimbang Ladu - Wahyudi Nugroho

Dari Kehidupan Para Jutawan 10 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Selamat Tinggal - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 26 - Aminatul Faizah

Herne Bay

Kota Melampaui Perutmu - Jajang Kawentar

Detik Yang Memudarkan Cinta - Ani Mulyani

Ada Lelah Tanpa Upah - Arifah Nugraheni

Cerita - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 9 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Teheran Dalam Stoples 25 - Aminatul Faizah

Bewl Water

"Itu Maleo, Nak. Bukan Ayam Besar. Jangan Dimakan Lagi!" - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 8 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Bercerai - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 24 - Aminatul Faizah

Antibes

Ibu Izin Membaca Buku Di Sini, Rabu-Rabu* Saja - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 7 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Kawanku dan Aku - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 23 - Aminatul Faizah

Rochester

Joey, Rio, Media, dan Menpora - Liston P Siregar

Siapa Takut Kawan! - Bela Kusumah

Hampa - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 6 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Teheran Dalam Stoples 22 - Aminatul Faizah

Bradford upon Avon

Kenangan - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 5 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Teheran Dalam Stoples 21 - Aminatul Faizah

Leeds

Musim Dingin - Liston P Siregar

Tubuh Miskin - Jajang Kawentar

Dari Kehidupan Para Jutawan 4 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Kesabaran - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 20 - Aminatul Faizah

bradford

catatan Apa Cita-citamu Nak?
Arifah Nugraheni

Siang itu Morotai begitu panas, seperti biasanya. Dibantu teman-teman satu rumah, Henny dan Linda, aku mulai menempelkan potongan setengah kertas ukuran hvs di dinding kamar kami.

Ini kertas ajaib, bagiku. Kenapa?

Hari ini aku mengajar tiga kelas, semuanya adalah kelas IX. Karena hidup seseorang harus memiliki tujuan, begitu juga kehidupan anak-anak di SMP N 2 Pulau Morotai, seringkali aku bertanya kepada mereka, “Apa cita-citamu, nak?”

Morotai

Bibirku akan menyimpul jika anak yang aku tanya dengan tegas menjawab, “Saya ingin jadi tentara nanti kalau sudah besar”. Sedang menghadapi anak yang hanya menunduk, berpikir atau hanya garuk-garuk kepala, mataku akan lekat tanpa berkedip memandang wajahnya.

Jika saja aku bisa membantu menemukan cita-cita semua anak, dengan senang hati akan kubantu. Tapi, cita-cita akan sangat indah untuk dikejar jika berasal dari dasar hati anak-anak ini sendiri. Mereka harus melakukan yang benar-benar mereka ingin lakukan, biar mereka menikmati setiap jengkal proses mewujudkan cita-cita.

Pelajaran hari ini kuganti dengan aktivitas menulis harapan, cita-cita dan doa mereka. Aku tidak ingin lagi menjumpai anak-anak yang malu mengungkapkan isi hati. Setiap anak mendapatkan setengah potongan kertas ukuran hvs, dan mereka bebas untuk menulis isi hatinya. Bahkan bebask untuk menggambar cita-cita mereka jika tidak ingin menulis.

Aku memiliki beberapa siswa yang kesulitan mengenali huruf dan angka. Slah satunya Jihan, anak baik yang jujur dan berani. Sejak awal kami bertemu, dia sudah mengatakan keadaannya.
“Ibu, saya belum bisa baca”.

Aku menghargai pengakuan jujurnya, dan bangga. Bukan dia tidak berusaha karena segala cara sudah kami coba. Aku curiga jika dia disleksia dan sampai hari ini dia masih kesulitan membedakan angka dan huruf.

Aku juga merasa turut andil dalam ketidakmampuannya membaca. Program Morotai Membaca belum bisa menyelamatkan salah satu anakku. Jika saja aku sempat membaca tentang perlakuan untuk anak disleksia, mungkin saat ini dia sudah sedikit terbantu.

Malangnya lagi, anak-anak yang belum bisa membaca seringkali diabaikan guru. Tapi belum bisa membaca bukan berarti belum boleh punya cita-cita, justru seharusnya ada cita-cita untuk mencapai yang lebih baik, termasuk bisa membaca.

Cita-cita Jihan membuatku terkagum-kagum. Jika yang lain ingin menjadi pesepak bola, atlet karate, tentara atau guru, maka Jihan agak berbeda. Dia menggambar desanya sendiri dengan pena hitam, jajaran rumah dan perahu ketinting di sepanjang bibir pantai desa Joubela. Dia ingin menjadi kepala desa. Luar biasa.

Kelas sebelah lebih unik, karena seisi kelas memiliki karakteristik wajah yang berbeda-beda. Ada yang berkulit putih bermata sipit, ada yang berwajah khas Portugis, ada pula yang berwajah Jawa, berwajah tirus, hidung mancung, maupun mata belok yang dilengkapi bulu mata yang aduhai cantiknya.

Dari semua wajah itu, yang menjadi favoritku adalah Riski Arsad, si pemilik wajah bulat yang sangat mirip dengan kartun Astro Boy.

Dia anak yang sangat pendiam. Ketika aku mengajar di dua bulan pertama dulu, dia jarang sekali masuk sekolah. Adalah hal yang luar bisa jika bisa bertemu dengannya saat pelajaranku. Namun aku enggan memarahinya, khawatir jika marah maka dia malah benar-benar tidak mau masuk sekolah.

Seiring berjalannya waktu, dia tidak pernah bolos lagi. Dia sudah rajin masuka walau memang hanya diam saja. Jika aku bertanya, paling-paling dia hanya tersenyum tanpa memperlihatkan gigi dan tidak mengucapkan satu kata pun.

Selama menulis cita-citanya, dia selalu menutup kertasnya dengan rapat, hingga aku betul-betul tidak tahu apa yang dibuatnya dan apa pula cita-citanya. Kalau pun aku bertanya, seperti biasa dia hanya tersenyum, tanpa menampakkan giginya.

Tapi dia membuat kejutan. Berjalan kedepan kelas sambil membawa cita-citanya, dia lalu berkata,
“Ibu, ini cita-cita saya.”

Riski yang tidak pernah berbicara, yang tidak pernah menjawab pertanyaanku dengan suara, kini berbicara untuk membicarakan cita-citanya, memintaku melihat cita-citanya.

Dia menggambar cita-citanya dengan sangat lengkap: pohon kelapa dan perahu di sepanjang pantai, ada orang-orang yang sedang di laut, pemukiman penduduk  lengkap dengan bukit kapur di belakang desa, dan di atas desa dia menggambar pesawat terbang.

Di sekitar gambar awan di langit dia menulis: saya ingin menjadi pilot dan seluruh warga desa akan saya ajak berkeliling dengan pesawat yang saya bawa.Ternyata si pendiam Riski seromantis ini dengan warga desanya. Mengharukan!

Murid lainnya, Aramin, menulis dan menggambar cita-citanya dengan sederhana. Dia menggambar gunung dengan pola coretan pena yang tergesa-gesa lalu menuliskan -saya akan kuliah di Jawa dan saya akan mendaki Gunung Bromo.

Cita-cita mendaki gunung mungkin sangat sederhana untuk anak-anak yang tinggal di pulau Jawa. Tapi untuk anak-anak Pulau Morotai, yang tidak pernah melihat gunung, cita-cita itu sangat luar biasa. Dan dia ingin kuliah, yang membuatku sangat bahagia melihatnya memiliki semangat belajar.

Seringkali terjadi perdebatan sengit di kelas mengenai kelangsungan pendidikan mereka. Rata-rata orang tua belum sadar betul pentingnya sekolah.

Maluku Utara memiliki sistem kekerabatan patrilineal, jadi, anak laki-laki memiliki keberadaan yang sangat penting, bukan saja sebagai pemimpin namun juga sebagai penerus keluarga.

Tapi sayang, keistimewaan itu justru seringkali menghasilkan anak laki-laki yang hanya mau berkuasa di rumah dan lingkungan tempat tinggalnya saja. Anak laki-laki tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan rumah tangga, seperti menyapu halaman, atau sekedar mencuci sepatunya sendiri. Bahkan untuk makanpun ada yang harus diambilkan oleh sang mama.

Jadi anak perempuan di Pulau Morotai yang menanggung semua pekerjaan rumah tangga, menjadi tulang punggung keluarga juga. Tradisi itu mempengaruhi daya juang anak-anak di sekolah. Karena biasa dimanjakan, maka anak laki-laki cenderung tidak mau meneruskan pendidikan jauh dari rumah. Alasannya sepele: “Nanti kalau saya kuliah jauh dari rumah bagaimana saya makan? Biasanya disiapkan mama”. Menyedihkan.

Hari itu aku melihat rona mata berbinar dan senyum penuh harap di wajah anak-anak. Aku berjanji akan menempelkan cita-cita mereka di dinding kamarku. Bukan untuk mengapresiasi karya mereka tapi juga sebagai pemandanganindah yang akan memulai setiap pagiku. Hadiah dari anak-anakku tercinta.

Tapi ada yang iri karena aku tidak menanyakan cita-citanya. Ical Manuru namanya. Jadi kutanya.
“Apa cita-citamu, nak?”
“Itu ibu, orang yang gali-gali tanah untuk cari tulang dinosorus seperti di buku itu, yang baru-baru ini saya baca”, dengan cepat tangannya mengacak-acak buku di kardus kiriman salah seorang kawan yang baik hati dari Jawa. Lalu dia menunjukan buku berjudul Science Up Evolution.

“Oh...,arkeolog”. Aku tertawa terbahak-bahak hingga merasakan keharuan yang luar biasa. Bukan karena cita-citanya aneh atau kurang prestige. Sejak di sekolah dasar dulu sampai sekarang, aku masih terus berusaha agar bisa bersekolah di jurusan arkeologi. Linda dan Henny jadi ikut tertawa mendengar cita-cita Ical. Sebuah kebetulan yang indah karena aku sama sekali tidak pernah membicarakan arkelologi kepada Ical. Namun sekarang aku seperti punya pengikut.

Jadi sampai sore, kami membicarakan tentang ilmu menggali tanah untuk mencari harta karun. Bukan saja tulang, bukan saja batu, tapi benda-benda kuno sisa peradaban, kebudayaan, bahkan sisa perang manusia jaman dulu.

Malam hari Ical datang lagi, membawa koin kuningan yang sudah sangat kusut terkena banyak goresan. Agak hitam dan bertuliskan Wilhelmina Koningin Der Nederlanden, dengan ukiran mahkota sang Ratu.

“Ini saya dapat di kebun. Saya sudah jadi arkeolog belum, Bu? Di sini paling banyak, barang. Pulau Morotai ini dulu jadi markas perang. Di kebun sana masih banyak senjata, Bu. Torang mau bacari lagi yang banyak”.

Luar biasa lucunya anak ini.

Pulau Morotai memang amat kaya dengan peninggalan sejarah. Banyak sisa-sisa Perang Dunia II yang terbengkalai atau disalahgunakan. Seringkali terlihat pemandangan depan di rumah warga yang pagarnya terbuat dari sisa tank amfibi. Ini sebuah masalah bagi bagi para arkeolog dunia.

Perang Dunia yang berdampak besar atas perubahan dunia menempatkan Pulau Morotai sebagai pilihan sebagai markas dari dua kekuatan besar perang saat itu. Setelah perang  berakhir, banyak barang-barang yang ditinggalkan. Ada tank, puing-puing kapal, gua penuh senjata, atau pulau kecil yang dijadikan tempat sembunyi dengan bungker. Bahkan ditemukan
mortir di kebun-kebun warga.

Sayang, belum ada tindakan ekskavasi dari pemerintah Indonesia secara menyeluruh agar benda-benda peninggalan Perang Dunia II itu bisa diamankan.

Kelak semoga Ical akan benar-benar menjadi seorang arkeolog yang melindungi dan memajukan pulau tempat tinggalnya.

Dari sebuah buku, seorang anak bisa menemukan cita-citanya, menemukan yang benar-benar ingin ia lakukan dan perjuangkan. Bayangkan jika lebih banyak buku untuk semua daerah di Indonesia. That would be excessively amazing place called Indonesia!
***

 

 

 

ceritanet©listonpsiregar2000