sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 261, 25 juli 2016

Tulisan lain

Ladu - Tosca Santoso

Surat dari Jawa: Menimbang Ladu - Wahyudi Nugroho

Dari Kehidupan Para Jutawan 10 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Selamat Tinggal - Chairil Anwar

Herne Bay

Kota Melampaui Perutmu - Jajang Kawentar

Detik Yang Memudarkan Cinta - Ani Mulyani

Ada Lelah Tanpa Upah - Arifah Nugraheni

Cerita - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 9 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Teheran Dalam Stoples 25 - Aminatul Faizah

Bewl Water

"Itu Maleo, Nak. Bukan Ayam Besar. Jangan Dimakan Lagi!" - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 8 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Bercerai - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 24 - Aminatul Faizah

Antibes

Ibu Izin Membaca Buku Di Sini, Rabu-Rabu* Saja - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 7 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Kawanku dan Aku - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 23 - Aminatul Faizah

Rochester

Joey, Rio, Media, dan Menpora - Liston P Siregar

Siapa Takut Kawan! - Bela Kusumah

Hampa - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 6 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Teheran Dalam Stoples 22 - Aminatul Faizah

Bradford upon Avon

Kenangan - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 5 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Teheran Dalam Stoples 21 - Aminatul Faizah

Leeds

Musim Dingin - Liston P Siregar

Tubuh Miskin - Jajang Kawentar

Dari Kehidupan Para Jutawan 4 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Kesabaran - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 20 - Aminatul Faizah

bradford

novel Teheran Dalam Stoples
Aminatul Faizah

_. Eek mubarok
Itulah kalimat yang muncul saat aku bangun pagi di hari itu. ibuku membuat banyak makanan kecil dan juga minuman. Ibu membuka pintu gerbang
selebar mungkin dan membersihkan rumah sebersih mungkin. Setelah salat kami semua duduk. Ayah membagikan banyak hadiah untuk kami.

Kami saling membagikan hadiah seperti natal. Ayah mungkin tak bisa melupakan adat kebarat-baratannya. Ia memberikan aku setumbuk boneka munggil, ia memberikan Ali mobil-mobilan. Ghazali dibelikan hadiah yang sama dengan Ali. Tak berapa lama para tetangga datang dan kami bertiga terusik. Kami hanya punya kawasan di halaman depan dengan dua ayunan dan juga semak-semak. 

Aku memangku Ghazali sambil memakan kue kenari yang dicampur dengan madu. Ghazali dan faris sangat menyukainya. Mereka akan berkosentrasi memakan kue itu. Ali hanya diam dan juga menunduk. Aku melihat banyak anak lainnya yang bergandeng tangan dengan banyak orang. Mungkin pamannya, bibinya atau mungkin saudaranya.

Aku iri dengan mereka yang memiliki saudara. Rumah mereka penuh sesak dan juga banyak tawa. Sedangkan rumahku selalu saja ramai di pagi hari dan sepi untuk selamanya. Pintu gerbangnya pun akan tertutup kembali setelah dhuhur. Aku dan Ali juhga Ghazali adikku tengah terdiam dan kami hanya terfokus pada halaman depan rumah. Kami layaknya kucing rumahan yang mengintai mangsa. Hanya lewat cendela kami menatap keramaian yang ada di luar sana. rsanya disana terlintas sebuah surga yang tak pernah kami miliki.

“Ali, aku mau pulang ke rumah nenekku,” kataku sambil melirik Ali.
“Aku ingin punya mereka. aku ingin punya paman, bibi, saudara sepupu dan kakek nenek. Aku ingin mendapat rangkulan hangat mereka. aku ingin mendapatkan mereka secepat mungkin.”

Ali menegokku. Ia melihatku dengan penuh welas asih.

Aku tak mau kesepihan di hari idul fitri. Aku menahan tangisku dan aku menuju kamarku. Aku menutup diriku dengan selimut tebal. Aku menangisi kemalanganku dan juga aku ingin kebahagiaan itu. Tak ada manusia dewasa yang memperhatikan aku kala itu. Mereka sibuk dengan tamu yang tak aku kenal sama sekali. Aku asing bagi mereka sama halnya mereka asing bagiku. Keterasingan yang membuat aku bingung.

Mungkin ini takdirku di Iran, selalu menjadi mahluk asing baik di sekolah, jalanan, tempat main bahkan di rumahku. Ali jongkok di bawah ranjangku. Aku hanya bisa mendengar helaan nafasnya. Ia memegang tanganku. Mungkin hanya itu yang mampu ia lakuka untukku.

“Ali, aku ingin mereka. aku ingin punya cerita tentang mereka. aku ingin memamerkan mereka di depan teman-temanku. Aku ingin aku punya cerita untuk mengimbangi cerita Zahro, Damimah dan juga Wadiyah.”

Aku lalu menyibakkan selimutku dan menatap ke arah cendela kamarku lagi. Aku tak mau mengatakan apapun mungkin karena aku masih anak-anak. Ah… Sebuah alasan lagi. Alasan yang bahkan aku juga bingung mengurainya sebagai anak-anak. Seolah apa yang aku lakukan disini tiada berarti. Tanah lapang, sekolah, ayunan, pohon delima , rumah keluarga Khan dan tempat-tempat itu tak ubahnya lubang yang hitam dan juga dalam tanpa ada misteri.

Kosong dan hanya kosong.

Aku buru-buru menutupi diriku dengan selimut lagi saat aku mendengar derap langkah kaki. Seolah ada banyak ribuan langkah kaki yang mengimbangi atau mungkin bukan. Itu merupakan imenasiku yang berlebihan.

Kudengar suara seseorang membuka pintu kamarku. Ibuku masuk dan ia membuka selimutku. Ia mengangkat tubuhku dan menitikkan air mata di depanku. Ini adalah pertama kalinya ibu menangis di depanku. Aku ingat dengan jelas air mata itu hingga kini. Ia merapikan rambutku. Menatapku dengan tajam dan penuh maaf.

“Apa yang terjadi sayang?”
Ibu menganggkat Ali dan memangkunya. Ia biarkan tangan pemuda itu tetap menggandengku.

“Aku mau paman dan bibi atau saudara yang lainnya,” kataku dengan manja.
“Bukankah kau punya ibu Ali, keluarga Khan, ummu dan juga ayah dan ibu Khafsah.”

Aku semakin cemberut dengan kata-kata ibu. Tahukah ia tentang labirin kosong dalam diriku yang dipenuhi dengan kegelapan? Bukan kepalsuan yang aku mau melainkan yang asli. Asli milikku secara lahiriyah.

“Ibu….. bukan itu.”

Ibu mengangguk pelan. Ia tahu rupanya yang aku mau. Mungkin sebagai seorang penulis ia lebih tahu atau bahkan tahu. aku lupa dengan tanggapan kritikus Perancis abad XIX, Sainte-Beuve. Dia percaya bahwa untuk menjadi seorang penulis, diperlukan mengetahui sebanyak mungkin lahiriah manusia, detail-detail hidupnya. Ini adalah metode yang memerdaya, dengan menggunakan manusia untuk menerangi suatu karya.

Ibu telah melewati tahapan itu. ia tahu apa yang aku pikirkan dan apa yang Ali pikirkan.

“Apakah kamu marah karena wakil kepala sekolahmu pernah memukul tanganmu karena kau lupa memotong kuku?”

Aku mengangguk pelan.

“Sayang… Kadang kala kita perlu hukuman karena kelalaian kita.”
“Tapi sakit Bu?” kataku dengan logat candelku.
“Di hari nan suci ini maafkanlah dia. Bukankah kau umat Nabi. Dan nabi adalah seorang pemaaf.”

Hanya dengan satu kata-katanya aku mengangguk setuju. Lalu ia menaruh tangannya diatas tanganku dan Ali.

‘Kau masih marah dengan temanmu sekolahmu?”
“Tidak.”
“Bagus.”
“Lalu kami kenapa sayang?”
“Aku ingin punya paman, bibi, saudara sepupu dan kakek nenek. Aku ingin memamerkan mereka di depan teman-temanku. Aku ingin aku punya cerita untuk mengimbangi cerita Zahro, Damimah, dan juga Wadiyah.”

Ibu terdiam sejenak. Kali ini ia kehabisan kata-kata. Mungkin apa yang ada dipikiranku terbaca semua. Ibu mungkin tahu dengan labirin kosong yang ada di dalam jiwaku. Ia sadari kesalahannya memilih hijrah ke tanah yang labil dan sebuah ciuman mendarat di keningku. Dengan hanya ciuman tanpa kata-kata yang terlontar aku tahu ibu akan mengabulkan inginku.

“Maafkan ibu sayang. Maaf… ibu tahu ibu tak bisa membahagiakanmu. Tapi ibu janji kau akan dapatkan kebahagiaan ibu. Ibu janji kita akan pulang dan kau akan isa memeluk erat mereka yang kau rindukan.”

Ali dengan tanggap melepas tanganku. Ia tahu jika aku akan pergi dan jika aku pergi ia tak akan memiliki aku lagi. Kami akan berpisah. Aku memeluk ibuku. Ibu menghapus air matanya. Aku mencium aroma tubuh ibuku dan aku hanya melihat Ali meninggalkan aku.

“Benarkah Bu?”
“Ya..”

Ali menjauh dariku. Ia terdiam dan juga terpuruk. Aku tak tahu kalau yang aku inginkan malah akan menyakitinya. Aku tak tahu kalau ia akan terluka dengan angan mimpiku.
“ibu janji?”
“Janji.” Kata ibu. Aku tak menyadari perasaan Ali saat itu.

Mungkin aku adalah mahluk bodoh yang tak tahu perasaan teman yang selama hampir lima tahun berteman. Ali sangat murung. Namun ibu malah mengajaknya untuk berpelukan. Kami malah menyakitinya secara tak sadar.

Dengan bangga aku bercerita pada teman baikku kalau aku akan pergi. Aku malah meminta ibuku untuk memotret mereka. Akulah manusia yang paling jahat diantara manusia lain. Aku malah berbangga hati saat teman-temanku menangis. Aku malah tersenyum riang saat semua berduka. Inilah aku, dan aku sangat jahat. Itulah satu hal yang aku ketahui.

Musim gugur datang. kami mengadakan upacara sekolah. Setiap Senin jika ada waktu kami mengadakan upacara sekolah. Bendera Iran dikibarkan dan kami memberikan salam hormat. Kami akan memasuki kelas seperti anak itik. Satu persatu dan Ummu menunggu kami di samping pintu.

Kami dengan sengaja menyalaminya dan ia juga melakukannya. Mengulurkan tangannya, membiarkan kami mencium tangannya. Tangannya tidaklah harum, tidaklah selembut kaspir dan tidaklah seempuk mentega namun tangan itu sangat menyejukan hatiku.

Ummu menemaniku saat kami istirahat.

Kulihat temanku Khafsah membawa roti nan setengah dan kentang yang dihaluskan untuk menganti mentega. Keluarga Khafsah jika tak memiliki banyak uang untuk belanja, mengganti mentega dengan kentang rebus yang dihaluskan. Kentangnya pun kualitas rendah yang ukurannya tak lebih dari satu jempol orang dewasa.

Aku pernah ikut belanja. Ibunya berkeliling pasar hanya untuk mengetahui mana makanan yang murah dan paling murah. Dia membagi makanannya denganku dan aku juga membagi makananku untuknya. Ummu tersenyum, ia melihatku dengan seksama dan mengelus kepala kami. kami tak tahu apa artinya itu. tapi ia kemudian terdiam dan menatap mataku dengan tajam. Wajah yang berbalut kain hitam itu membuatku tak nyaman.

“Ada apa Ummu?”
“Tidak ada.” katanya.
“Lalu kenapa Ummu seperti itu?’ aku melihatnya sambil minum air putih yang ibu bawakan.
“Jika kalian terpisah apa yang akan kalian rasakan?”

Khafsah terdiam. Kami saling memandang dan kami melanjutkan makan bekal makan siang kami. Pikiranku tak punya jawaban untuk pertanyaan itu.

“Maka aku tak akan memiliki teman seperti dia.” Kata Khafsah.
“Apa kau akan mengingat Teheran ?”
“Tentu Ummu,” kataku sambil melihat Ummu yang memandangi kami.
“Apa yang akan kau lakukan di Indonesia?”
“Bertemu kakek nenek dan juga banyak saudara ibu.”
“Apakah kami bukan saudaramu Leila?”

Aku hanya menggelengkan kepala. Niatku untuk bertemu kakek nenek sudah bulat. Emosi itu sudah memuncak. Aku sangat ingin memiliki keluarga besar. Yang kami dengan bebas berkunjung satu sama lain. Aku juga ingin bersilaturahmi ke banyak saudara. Tak cukup sehari menjalin tali silaturahmi. Inilah yang aku inginkan saat itu.

Aku berjalan di jalan yang berbata. Aku melihat sebuah biji kenari yang tergeletak di tengah jalan. Aku memungutnya. Memungut sebuah biji dan aku masukan ke dalam saku celanaku. Jalanan ini sangat tandus dengan banyak daun-daun yang berguguran. Aku takut untuk melangkah pergi karena mungkin aku tak akan mengalami hari ini lagi. Harusnya aku mengabadikan moment itu dalam satu foto hitam putih. Namun sayangnya potret itu hanya mampu aku abadikan dalam melodi hatiku. Alunan yang tak tahu kapan akan menjadi dawai-dawai yang mengalunkan lagu kembali pulang.

Hari-hari berikutnya adalah perpisahan yang panjang. Ummu dan ibu dari ketiga klan Khan berkumpul di suatu sore yang hangat. Mereka berempat duduk dengan pakaian hitam yang sama. Chadur melingkari tubuh mereka dengan serba hitam. Ibuku ke luar ruangan dengan empat cangkir porselen berisi teh hangat, teko, setoples gula bit dan sepiring roti kerang.

Roti yang kukenal namanya saat aku menginjakkan kakiku di Perancis. Petite Madeleine kue yang dicelupkan dalam teh yang menimbulkan aroma masa silam. Kemewahan ala eropa seolah terindukan oleh keempat wanita Iran itu.

Aku dan teman-temanku hanya bermain di teras rumah di samping mereka. Kelima wanita itu asyik dengan dunia yang mereka pertanyaan. Jika aku dewasa mungkin juga aku akan bertanya. Bertanya kenapa hitam terus saja mengalun di tubuh indah mereka.

Ssayangnya aku belum cukup umur. Ya…

Sore itu cukup dingin namun wanita itu datang dengan kehangatan yang tersimpan rapi dalam batinnya. Kehangatan penuh emosi atas ketidakberdayaan dalam perlawanan. Mungkin musim dingin akan datang lagi dan sekali lagi untuk kesekian kalinya dalam sepanjang masa Iran akan dipenuhi dengan salju putih tanpa riasan.

“Yakh syud…..” kata Ummu sambil tersenyum.

Yakh syud arti hafiahnya adalah sudah menjadi es. Ya… orang Iran suka meminum teh saat panas. Mereka ternyata tak biasa dengan gaya berkelas yang dikenalkan ibuku pada mereka.

“Kau harus mengubah sesuatu yang menjadi kebiasaan. Inilah gaya meminum teh ala Eropa,” kata ibu Faris.
“Kau benar. Bergaya… hanya bergaya.”

Aku lalu tak tertarik dengan kalimat tingkat tinggi yang dibicarakan mereka, malah menatap ke arah ibu Ali yang tengah sibuk membuat asinan. Dia seolah tak peduli apa yang akan terjadi dengan Iran. Kaum ambal-ambal, itulah yang ibu berikan pada seorang manusia yang acuh tak acuh dan tak miliki pilihan. Hanya mengikuti. Ibu pernah menuliskan itu dalam novelnya saat di Indonesia.

Entah bagian mana yang aku lewatkan. Tiba-tiba saja pembicaraan kaum wanita yang ada di sampingku berubah dengan cepatnya dengan sedikt gelombang panas yang mengetarkan karang kokoh yang dingin.

“Sepanjang tahun antara musim gugur tahun 1979 dan musim panas tahun 1980 sebelum kepindahan kalian, banyak peristiwa yang mengubah arah revolusi dan pandangan Iran. Peperangan demi peperangan terjadi.”

“Perang?” tanya ibuku pada keempat wanita itu.

“Ya… perang dan perang yang paling signifikan adalah peperangan memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Sejak awal perintah telah mempersiapkan genderang perang melawan kaum perempuan,” kata Ummu dengan sedikit mengangkat cangkirnya. Kali ini ia lebih piawai menggunakan cangkir porselen sebagai atribut dalam berbicara.

“Dan jadilah kita dan anak-anak kita kelak dengan hitam yang terus melekat,” kata ibu Faris.
“Bukankah Reza Shah pada tahun 1936 pernah mencabut kewajiban mengenakan kerudung bagi perempuan.”
“Kita…bukan lagi di zamannya. Ini tinggalan Ayatollah,” kata ibu Faris dengan sedikit nada penekanan yang khas.
“Ini Negara islam. Wajib kita mematuhi hukum islam,” kata Ummu. Wanita tu amat tersinggung dengan apa yang dilakukan tiga wanita klan Khan itu.

Tiga wanita yang terkontaminasi dengan budaya barat, itulah yang ummu pikirkan. ibu hanya terdiam mendengarkan perdebatan itu. Kami tak tahu apa-apa tentang Iran. Revoluusi mungkin mengubah semuanya termasuk dunia itu. Iran itu atau apapun itu.

Ya, aku baru tahu kalau pada musim semi enam tahun sebelum kepindahan kami kata Iran diganti dengan Republik Islam Iran. Sebuah istilah yang mengubah semuanya.

“Ayolah…. Ummu kau juga kecewa kan? Karena kuliahmu telah di tutup. Bukan hanya bioskop yang di tutup melainkan juga kampusmu. Perang revolusi tak ubahnya setan bermata dua,” tutur salah satu wanita khan yang tak ku perhatikan siapa namanya.
***

ceritanet©listonpsiregar2000