sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 261, 25 juli 2016

Tulisan lain

Ladu - Tosca Santoso

Dari Kehidupan Para Jutawan 10 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Selamat Tinggal - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 26 - Aminatul Faizah

Herne Bay

Kota Melampaui Perutmu - Jajang Kawentar

Detik Yang Memudarkan Cinta - Ani Mulyani

Ada Lelah Tanpa Upah - Arifah Nugraheni

Cerita - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 9 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Teheran Dalam Stoples 25 - Aminatul Faizah

Bewl Water

"Itu Maleo, Nak. Bukan Ayam Besar. Jangan Dimakan Lagi!" - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 8 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Bercerai - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 24 - Aminatul Faizah

Antibes

Ibu Izin Membaca Buku Di Sini, Rabu-Rabu* Saja - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 7 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Kawanku dan Aku - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 23 - Aminatul Faizah

Rochester

Joey, Rio, Media, dan Menpora - Liston P Siregar

Siapa Takut Kawan! - Bela Kusumah

Hampa - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 6 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Teheran Dalam Stoples 22 - Aminatul Faizah

Bradford upon Avon

Kenangan - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 5 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Teheran Dalam Stoples 21 - Aminatul Faizah

Leeds

Musim Dingin - Liston P Siregar

Tubuh Miskin - Jajang Kawentar

Dari Kehidupan Para Jutawan 4 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Kesabaran - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 20 - Aminatul Faizah

bradford

catatan Surat Dari Jawa: Menimbang Ladu
Wahyudi Nugroho

Selesai sudah aku baca novel keduamu, Ladu.  Sebagaimana janji yang telah aku ucapkan, untuk memberi  komentar atas karya sastra racikanmu ini, sepucuk surat aku kirim kepadamu.  Dalam hati muncul perasaan tak puas jika komentar hanya dengan satu-dua kalimat saja.  Agar  plong maka aku tulis surat ini untukmu, surat pertama dari desa.  Dengan hadirnya surat ini di tanganmu, maka janji telah aku genapi.

Sejak aku membaca novelmu ini, mulai dari bab pertama, masuk bab dua, tiga dan empat, terus terang hatiku agak deg-degan.  Ada buaian rasa kawatir yang mengilhami tumbuhnya pikiran di kepalaku; bahwa sahabatku, yang dulu di Bogor saban pagi mandi di sungai tengah sawah bersamaku, kini sedang ber ‘vivere vericoloso’, alias nyrempet-nyrempet bahaya.

Orang Jawa bilang, kau sedang berjalan di atas wot ogal-agil, jembatan tipis yang bergoyang. 
Salah sedikit membangun keseimbangan, risikonya akan jatuh entah ke mana.

Dengan sengaja kau angkat kembali tema besar yang telah berabad-abad jadi bahan perdebatan manusia. Tema tentang asal-asul dunia, awal dan akhir  kehidupan.  Masyarakat Jawa merumuskannya dalam istilah sangkan-paraning dumadi.

Sebagaimana kita ketahui, perdebatan berabad-abad yang tak pernah kunjung selesai ini telah membagi manusia di dunia ini jadi dua golongan. Satu sama lain bersitegang.  Ketegangan yang telah menelan jutaan korban dari golongan yang mengatas namakan diri sebagai 'Theis' dan golongan yang dituding sebagai 'Atheis'. 

Golongan yang menganggap manusia berasal dari tiada akan kembali ke tiada, dari debu kembali menjadi debu, dari ladu kembali jadi ladu saja, titik. Melawan golongan yang menganggap manusia sebagai makluk yang dicipta akan kembali kepada Sang Pencipta, dari Allah kembali ke Allah.  Inna lillahi wa inna lillahi rojiun.

Terlebih dengan hadirnya tokoh Arti dalam novelmu.  Nama yang ia pilih sendiri sebagai panggilan sehari-hari dari nama pemberian orang tuanya, Sunarti.  Pilihan yang menyimpang dari kebiasaan umum orang Jawa, yang memakai nama panggilan sehari-hari dari penggalan nama aslinya.  Jika mengikuti kebiasaan tentunya ada dua pilihan nama panggilan, Sunar atau Narti.  Bahkan bisa jadi empat, dengan memilih Sun atau Arti.  

Pilihan Arti jatuh karena kecenderungan pribadinya yang senantiasa menggunakan kekuatan akal pikirannya mencari arti dalam setiap fenomena hidup yang ia temui.  Segala hal yang tidak masuk akal, tak dapat dinalar akan ditolak.  Sehingga sampailah ia pada sikap tidak percaya terhadap eksistensi Tuhan, keberadaan Allah.  Ia jadi atheis.  Bertentangan dengan doa kedua orang tuanya yang memberi nama padanya Sunarti, sunaring ati, cahaya kalbu, yang sempat dibanggakan ibunya karena pernah menginspirasinya bermukenah.

Sobat, hadirnya tokoh Arti yang atheis itu sempat mengharu-biru hatiku.  Memunculkan ragam pertanyaan  gentayangan dalam kepalaku. Mengusik pikiran, dan membuat otakku yang kecil ini harus merenung dan merenung sambil bergumam sendiri; benarkah? Benarkah?

Maafkan aku sobatku, jika sempat muncul syak wasangka dalam hatiku, dengan deretan pertanyaan seperti berikut ini.  Benarkah? Saudaraku, sahabatku, Tosca Santosa, mengulang kembali novelis tersohor zaman kebangkitan Indonesia, Ahdiyat Kartamiharja, dengan novel Atheisnya?  

Aktifis dan Novelis zaman kebangkitan yang di sekolah-sekolah dikelompokkan sebagai sastrawan kiri itu? Benarkah teman satu almamaterku, IPB, yang juga sesama alumni GMNI di kota hujan ini menebar paham anti Tuhan, sebagaimana cerita yang sering aku dengar tentang aktifitas kader-kader partai komunis zaman Orla itu?   

Dengan bahasa yang lincah, jalinan cerita romatisme yang indah yang disukai oleh remaja-remaja, adakah sahabatku berniat mempengaruhi generasi muda dengan paham anti Tuhan?  Tidakkah ia takut terhadap kelompok-kelompok masyarakat yang selalu melempar isu akan munculnya kembali kelompok kiri, yang mengancam Pancasila, idiologi kita?  Kelompok-kelompok masyarakat yang berikrar hendak berjihad menumpas habis segala anasir kiri di negeri ini?  Dll, Dsb.

Apalagi akhir-akhir ini banyak berita ditayangkan di TV, tentang munculnya kembali simbol 'palu arit' yang menghiasi kaos-kaos yang dipakai anak-anak muda. Kekhawatiranku membuncah. 

Karena alasan di atas tanggapan atas novelmu dariku agak terlambat.  Barangkali sudah ratusan tanggapan hadir dari pembaca karya-karyamu, yang telah menghiasi halaman demi halaman facebook atau Whatsapp-mu, namun dariku terpaksa agak tertunda. 

Sebagaimana makna ladu sebagai endapan tanah merah, partikel lembut hasil erupsi gunung berapi, yang telah hilang sisa panasnya karena guyuran hujan, maka hatikupun perlu aku endapkan lebih dahulu.  Biar dingin, dan bisa dicetak menjadi bata-merah untuk menyusun bangunan pemikiran yang runtut dan bermanfaat.
***

Secara fisik, organ manusia akan berubah.  Demikian juga jazad makluk hidup lainnya.  Dari ladu kembali jadi ladu, dari debu kembali jadi debu.  Sedangkan manusia akan lenyap.  Semula tidak ada akan kembali tidak ada.   Deretan kalimat ini, menurutku mewakili pandangan kosmologismu.     

Sebenarnya ini bukan pandangan yang baru. Tak lebih hanya kosmologi lama yang didaur ulang.  Kau hanya menambahkan kata 'ladu' dalam kasanah istilah dunia kosmologis.  Sebagai hasil pengembaraanmu menjelajahi gunung-gunung di Nusantara, sambil mengumpulkan material terlembut yang dilontarkan gunung-gunung itu kala erupsi.

Sejauh yang aku pahami tentang budaya Jawa, pandangannya tak jauh beda dengan pandanganmu. Dalam tatacara adat pernikahan, ketika seseorang menyelenggarakan hajad pernikahan pertama untuk putrinya (tidak harus putri sulung, karena bisa jadi anak sulungnya laki-laki) disarankan untuk mengadakan acara yang di sebut bubak

Dalam ubarampe sesaji acara bubak terdapat dua kendhil berisi aneka macam biji-bijian hasil produksi pertanian.  Satu kendhil berwarna putih, disebut Kendhaga Seta/Kendhaga Kencana, simbul ayah.  Satunya lagi berwarna merah, disebut Kendaga Rekta/Kendhaga Mulya, simbol ibu.  Kendhil-kendhil itu adalah symbol manusia yang terbuat dari tanah, dari ladu.

Bendera gula kelapa pada zaman Majapahit, dan merah-putih bendera kita, bisa jadi akar inspirasinya dari sini.  Merupakan symbol ayah dan ibu, orang tua kita, leluhur terdekat kita, penghubung leluhur-leluhur yang telah tiada.  Makna 'berani karena suci' lebih bersifat instrumental-insidental, sesaat, sesuai kebutuhan momentum sejarah yang membutuhkan kebangkitan semangat patriotis anak-anak bangsa.

Setiap malam Jum’at, bagi keluarga yang masih ngleluri tatacara manembah kepada Gusti Kang Maha Agung, selalu menyelenggarakan acara caos atau atur sesaji.  Orang tuaku dulu melakukan hal ini.  Menurut orang Jawa, hari Kamis (Respati) itu ratune dina (rajanya hari) ia berada di paling belakang.  Sedangkan Jum’at (Sukra) itu awaling dina.  Masuk awaling dina dalam seminggu diselenggarakan ritual. 

Demikian juga saat awaling tahun tanggal 1 bulan Sura, orang Jawa melakukan ritual.  Jum’at – Legi, adalah paduan awaling dina dan pungkasaning/akhir pasaran punya makna khusus.  Pada hari dan pasaran ini biasanya sesaji agak istimewa, lebih lengkap.  Jum’at Legi adalah paduan system penanggalan berdasarkan peredaran matahari dan rembulan.  Jum’at awal hari, Legi akhir pasaran. Keduanya simbol pandangan hidup tentang awal dan akhir, atau kawruh Sangkan-Paran.  

Dalam fase kehidupan manusia secara keseluruhan, awal dan akhir merupakan hal yang dianggap paling penting bagi kehidupan manusia Jawa.  Oleh karena itu selalu diselenggarakan upacara khusus yang disebut slametan atau kenduri.  Harapan dari kegiatan ini jelas agar slamet.  Kata kenduri hingga kini aku tak tahu apa maknanya. Bisa jadi perubahan nama dari istilah ngunduri – kunduri – kenduri, maknanya menarik ke belakang, menyisihkan agar tidak menghalangi perjalanan manusia ke depan. 

Jika tafsiran ini benar maknanya adalah mencegah segala hal yang bisa menjadi perintang, termasuk yang datang dari makluk yang tidak kasat mata.  Orang Islam hanya mengenal makluk tak kasat mata dengan istilah Jin. Tapi orang Jawa lebih lengkap perbendaharaan ilmunya; wedon (pocong), gendruwo, wewe, Sundel bolong, thuyul, kemamang, glundhung plecek, bajobarat, dhemit, brekasakan, peri, prayangan, elo-elo, banaspati dll, dsb.

Pada fase kelahiranpun berbagai upacara dilakukan.  Saat janin dalam kandungan ibu berumur tiga bulan, ketika urip dimasukkan kedalam jasadnya, diselanggarakan upacara telonan.  Itu pertanda adanya awal kehidupan si bayi. Fase ini dianggap fase yang gawat, sering disebut fase memasuki  alam gondar-gandir. Saat umur sekitar tujuh bulan diselenggarakan upacara pitonan si bayi telah genap seluruh perlengkapan indrianya untuk hidup di dunia.

Seandainya ia keluar dari rahim ia akan hidup normal.  Selanjutnya upacara dilakukan saat bayen, si janin keluar dari rahim, awal menghirup udara di dunia. Acara ini dirayakan dengan berbagai jajanan khusus yang entah apa saja maknanya. Yang khusus iwel-iwel.  Ketika ia mulai bisa berjalan diselenggarakan upacara tedhak siti, pertama kali si bayi menginjak tanah. 

Fase berikutnya adalah pernikahan.  Bagi orang Jawa pernikahan ibarat menanam tanaman berumur panjang, oleh karena itu dalam prosesi pernikahan disimbulkan dengan istilah tanem jero.   Ini adalah akhir dan awal.  Akhir kehidupan lajang dan awal hidup berkeluarga.

Dalam kehidupan pertanian, terutama jika menanam dan panen padi dan tebu, prosesi-prosesi ritual semacam di atas masih sering kita saksikan dalam tayangan televisi.  Masyarakat Badui masih mempertahankan tradisi ini, terutama saat tanam dan panen padi.  Awal dan akhir kehidupan.  Demikian pula pabrik-pabrik gula tetap setia menjaga tradisi.  Saat buka giling, awal produksi gula,  bahkan menye-lengarakan pagelaran wayang kulit.

Dalam sesaji setiap Jum’at-Legi, berbagai ubarampe sesaji disiapkan menjelang magrib.  Antara lain: sekar telon (bunga tiga warna, kanthil-kenanga-mawar),  kendhi berisi air putih, pisang dua lirang (setangkep), kinangan (daun sirih, pinang, kapur (njet), dan tembakau susur). Ditambah dengan lentera (damar), rokok (pengganti dupa).

Disanalah bagi mereka yang cerdas menangkap sasmita sinandhi ajaran leluhur akan tahu apa maksudnya.  Jadi inipun tak ubahnya sebuah kitab.  Hanya tidak ditulis seperti kitab-kitab agama lainnya.

Kendi (wadah air) adalah simbol manusia (laki-laki) (sedangkan wanitanya disimbolkan celengan/tempat menyimpan uang, benda ini tak masuk dalam ubarampe sesaji).  Keduanya dibuat dari tanah.  Air lambang ilmu pengetahuan dan kehidupan,  demikian juga dengan uang.  Keduanya dipersepsikan sebagai benda/barang yang sama-sama bisa mengalir dan harus selalu mengalir.  Kurang bagus jika ia menggenang di suatu tempat, sama sekali tidak mengalir, karena kurang bermanfaat, dan tidak mampu memutar roda kehidupan.  Agar menjadi orang yang berilmu (dan beruang) ia harus mengasah tiga macam piranti jiwanya cipta-rasa-karsa yang disimbolkan dalam wujud bunga tiga warna (telon = teluan = telu-teluning atunggal, tiga jadi satu); mawar, kanthil dan kenanga. 

Sekar dalam kasanah sastra Jawa, dimaknai di sek-sek dimen mekar.  Di sek-sek, maksudnya diasah. Mekar maknanya berkembang.  Dari sini muncul filosofi dalam kehidupan masyarakat bagaimana sebaiknya berinteraksi dengan orang lain, dasarnya adalah asah-asih-asuh.  Dengan berprinsip asah-asih-asuh, mereka yang berinteraksi mengasah cipta-rasa dan karsanya masing-masing. Agar sama-sama berkembang. Dalam perangkat gamelan Jawa, simbolnya rebab. Menggesek atau mengasahnya tak bisa sembarangan, harus berirama agar enak dirasakan.

Dengan ilmu yang dimiliki, di manapun ia berada diharapkan akan selalu berbuah, seperti pohon pisang (gedhang = digegadhang = diharapkan. Aku nggak tahu apakah pohon pisang bisa tumbuh di daerah kutub dan di padang pasir).  Dengan jumlah uang yang berlebih ia bisa lebih banyak berdarma.  Jika manusia sudah mampu memenuhi ajaran semacam itu, artinya ia sudah sejahtera dan bisa menjadi pepadhang (dimar) bagi orang lain.  Bisa memperingan beban hidup saudaranya baik dengan harta maupun nasehat nya. 

Orang demikian dianggap sebagai aki-aki sing menang, simbolnya kinang, bisa menjadi sumber kawruh (suruh = sumber kawruh) tempat orang bertanya, menjadi motivator siapapun yang datang untuk membangkitkan semangatnya (njet / grenjet = kemauan = niat-semangat-tekad), ucapannya tidak akan membikin orang ruwet seperti tembakau susur (sasar-susur = sledat-sledot = tersasar).

Jika ubarampe sesaji telah siap, damar dinyalakan, rokok juga demikian.  Beberapa kali isapan asap akan mengepul, kemudian diletakkan agar terus kemendheng alias tetap menyala dan berasap.  Gelas kosong diisi air putih, lantas bunga tiga warna dimasukkan.  Dengan memusatkan pandangan mata pada bunga dalam gelas itu, dimulailah meditasi.  Kondisi neng diubah kearah ning sejalan dengan keluar-masuknya nafas. Tanpa kata tanpa doa.  Segala macam kata dan doa telah terwakili oleh aneka ubarampe yang ada.  Jika meditasi berhasil akan ada tanda-tandanya. Ada pendar cahaya melingkupi seluruh ubarampe sesaji.  Gelas berisi bunga tiga warna nampak membesar dan membesar, gemerlapan.

Hari-hari lain cukup menjalankan prinsip-prinsip hidup manusia Jawa sebagaimana telah diajarkan.  Baik saat berinteraksi dengan orang lain, maupun hal-hal tertentu yang terkait dengan kecukupan kebutuhan hidupnya.  Banyak sekali pepatah-petitih yang telah terumuskan dalam kalimat yang sederhana, gampang diingat, tinggal menyelaraskan diri dengan substansi makna yang terkandung dalam rumusan-rumusan itu.  Baik dalam berperilaku, bertutur kata dan sikap batin.  

Di kala senggang, tidak ada pekerjaan lain untuk kepentingan hidup di dunia, sambil duduk, berdiri atau rebahan, di manapun ia berada, menjalankan meditasi.  Mengatur nafas dan neng-ning.  Tanpa kata tanpa doa.

Digunakannya rokok sebagai pengganti dupa atau kemenyan, menurut pendapatku merupakan bagian dari kebijakan hidup manusia Jawa.  Berbeda dengan zaman dulu, hampir setiap keluarga menjalani laku demikian, sekarang tetangga kanan-kiri kebanyakan memiliki keyakinan yang berbeda.  

Agar tidak jadi bahan gunjingan, dan segalanya berjalan tenang, maka rokoklah solusinya.  Bisa dibawa kemanapun. Tidak menarik perhatian siapapun. Diam, tenang.  Dengan sebatang rokok, di manapun ia berada, manusia Jawa bisa 'mi’rajh' menghadap 'Pangeran'.  Sebagaimana orang beriman bisa 'mi’rajh' saat ia sholat dalam ajaran Islam (As sholatu mi’rajhul mu’minin).

Pada fase kematian, banyak sekali upacara slametan diselenggarakan.  Tiga hari, tujuh hari, 40 hari, 100 hari, setahun (pendhak siji), dua tahun (pendhak pindho), dan seribu hari.  Setelah itu acara dilakukan sekedar untuk pangeling-eling mengingat-ingat.  Aku belum banyak tahu tentang ini, mengapa harus diselenggarakan upacara slametan demikian banyak itu, alasannya apa.  Kelak akan aku ceritakan jika data-data tentang ini telah cukup.

Menurut pendapatku orang Jawa tidak percaya tentang surga dan neraka sebagai hadiah dan hukuman Tuhan bagi seseorang yang telah bersikap dan berperilaku tertentu kala di dunia.  Karena orang Jawa tidak mengenal istilah dosa.  Surga-neraka-dosa-pahala, itu unsur baru dalam kasanah istilah dunia kosmologis Jawa. Datangnya dari kosmologi bangsa lain. Bagi manusia Jawa, tingkah laku, tutur kata dan sikap batin diukur dengan tiga kriteria utama-madya-nistha

Buah dari perilaku tersebut akan dipaneni di dunia. Kapan? Tergantung sangate/titi wancine atau waktu yang telah ditentukan oleh putaran kehidupan.  Jika perilaku, tutur kata dan sikap batin selalu menggenapi substansi petatah-petitih yang ada, kelak drajat hidupnya akan naik, hidupnya bakal mulya  dan kajen keringan sapadha-padha, dihormati sesama.  Namun jika sebaliknya, selalu berbuat nistha maka akan mendapat piweleh.  Wujud  piweleh bermacam-macam; sakit, anggota keluarga meninggal, usahanya bangkrut, kecelakaan, atau musibah lain yang bertubi-tubi.  Sampai orang kembali sadar atas kesalahan perilakunya.  

Setelah meninggal, jasad manusia kembali ke asal; bumi, geni, hawa, banyu.  Bagi mereka yang selalu berbuat utama maka asma akan tetap selalu dikenang, berbagai pujian akan selalu disanjungkan, abadi dalam kenangan.  Dan urip akan kembali ke Sumbering Urip, yang bertahta di alam kelanggengan atau alam Sunyoruri  juga sering disebut  alam heneng-hening.  Karena yakin bahwa urip itu linimputi lan anglimputi (diselimuti dan menyelimuti) jagat gumelar/alam semesta, maka maknanya bisa disimpulkan bahwa urip kembali ke haribaan alam semesta. 

Karena diyakini bahwa mereka masih bersifat urip maka mereka masih bisa berkomunikasi dengan anak-cucunya.  Mengingat mereka yang telah meninggal tak lagi memiliki organ tubuh sebagaimana manusia, komunikasi dengan mereka memakai cara yang khusus.  Karena tidak semua manusia mampu menembus dua batas alam ini.  Kecuali orang-orang tertentu.

Bagaimana bagi mereka yang hidupnya selalu berbuat nistha?  Mereka akan mrayang menjadi demit atau brekasakan yang menghuni tempat wingit dan angker.  Batu-batu besar, pohon-pohon besar.  Meski mereka juga masih urip namun selalu dirundung ketakutan.  Mereka tinggal di alam panglimunan

Mereka inilah yang dianggap oleh orang Jawa yang selalu mengganggu kehidupan manusia di dunia.   Maka dalam setiap acara hajadan yang penting, mereka selalu diberi bagian, dengan disediakannya sesaji tertentu di tempat-tempat tertentu; pojok halaman rumah, pojok rumah, pojok dapur, dll.  Jadi mereka tetap disantuni.  Dirangkul bak saudara seperti saat hidup normal sebagai manusia.  Agar hidupnya tetap nyaman dan tenang.  Koeksistensi damai. Tidak dikejar-kejar dan setelah tertangkap dimasukkan botol, seperti cara orang lain.

Itulah pandanganku tentang sikap religious manusia Jawa.  Hasil pengembaraan intelektual dan spiritualku sendiri, jadi masih subyektif.  Orang lain boleh berpandangan lain tentang Jawa.  Why not?  Dan akupun tak mendaku bahwa pandanganku ini sudah benar, apalagi kebenaran satu-satunya di muka bumi ini. 
***

“Tidakkah sudah cukup, dengan cinta kebersamaan bisa dibangun?  Tanpa perlu mempersoalkan keyakinan kita masing-masing? “  Tanya Arti pada Yanis.

Dua kalimat tanya ini muncul dalam dialog antara dua tokohmu yang atheis dengan yang beragama Kristen dalam novelmu.  Ladu. 

Bak kabut yang menyelimuti bumi, hilang lenyap tertimpa sinar matahari pagi.  Demikian pula rasa kawatir dan syakwasangka dalam hatiku, lenyap ketika bertemu kalimat itu terselip dalam rangkaian dialog tokohmu.  Pyaarrr.

Mudah-mudahan para pembaca novelmu dapat menangkap pesan muliamu ini. Syukur selanjutnya bisa menghayati dan mengamalkannya dalam hidup di tengah masyarakat yang pluralis seperti nusantara.  Dengan cinta semua jadi indah.

Dalam novelmu ini kau hendak memberikan contoh kehidupan, bahwa persahabatan dan kebersamaan bisa dibangun tanpa harus mempersoalkan keyakinan masing-masing.  Cukup dengan cinta persahabatan dan kebersamaan bisa dilakukan.

Atau kalimatnya bisa dibalik, hanya karena perbedaan keyakinan seseorang jangan membenci saudaranya, kelompok masyarakat yang satu jangan membenci kelompok yang lain.  Apalagi sampai berikrar mentiadakan eksistensi orang lain, kelompok lain, karena beranggapan tidak dapat hidup dalam satu naungan langit di waktu yang sama, atau non-koeksistensi.

Tentunya kesadaran semacam ini yang hendak engkau proyeksikan ke depan, menjadi kesadaran generasi muda kita. Agar mereka memiliki sikap toleran yang otentik dan murni terhadap saudara-saudaranya yang berbeda keyakinan dengannya.  Termasuk kepada mereka yang atheis sekalipun.  Tanpa syarat, dan tanpa alasan apapun.  Tanpa argumen macam-macam, termasuk terkait dengan ideologi sekalipun. Kesadaran semacam inilah yang aku maksudkan dengan istilah sudah 'Jowo'. 

Sikap skeptis terhadap keberadaan Tuhan, karena merasa akalnya tidak bisa menerima kemahakuasaannya, yang menyebabkan seseorang jatuh pada sikap batin yang atheistik, menurutku itu sikap orang yang belum selesai dalam belajar. Orang Jawa bilang 'durung tutug anggone sinau'.

Karena pada hakekatnya setiap manusia yang hidup di dunia ini sifatnya belajar, termasuk tentang hal-hal yang bersifat spiritual, jika ia belum lulus, maka layaklah untuk ditolerir.  Dengan harapan anak itu tetap terus mencari kebenaran, dengan seluruh perangkat jiwa yang dimiliki, cipta-rasa-karsa.

Nenek moyang kita suku Jawa, pada suatu waktu di zaman dahulu, barangkali juga mengalami hal yang sama, bersikap skeptis terhadap keberadaan Tuhan.  Ketika ia menggunakan akal-pikirnya semata.  Mereka menghadapi kenyataan bahwa akal-pikir manusia sangat terbatas.

Tak mampu menjangkau realitas yang tak terbatas alam semesta ini.  Maka jalan yang dilalui diubah, tidak dengan akal, tapi dengan rasa.  Setelah jalan baru ini ditempuh, banyak pengalaman dipaneni, barulah akal-pikirnya bekerja untuk merumuskan kesimpulan-kesimpulan. Dari kumpulan kesimpulan-kesimpulan itu kemudian disusun dalam sebuah sistem pandangan hidupnya yang ia wariskan kepada kita. 

Namun cara nenek moyang kita juga unik sekali.  Metode pewarisan nilai/pengetahuan itu tidak digelar dalam bentuk tulisan, sehingga bisa kita serap dan pahami isinya dengan gampang, sebagaimana bangsa-bangsa lain.  Tetapi ia tulis dalam bentuk lain, berupa simbol-simbol menggunakan berbagai piranti atau benda di lingkungan kita yang diberi nama penuh makna. Benda-benda itu disusun sedemikian rupa sehingga hadir di dunia dengan nilai artistic yang menyentuh rasa keindahan kita. Sehingga anak cucunya terpaksa harus ngothak-athik bagaimana agar gathuk dulu agar tahu apa maksudnya, misteri yang terkandung di dalamnya, dengan menggunakan cipta atau akal pikirnya. 

Sebagaimana cara Tuhan mengingatkan manusia yang tertulis dalam Kitab Al Qur’an; Tidakkah kamu berpikir…? Tidakkah kamu merenung…? Setelah diajak untuk takjub menyaksikan aneka ragam keindahan dunia, ciptaan-Nya.  Atau ketakutan ketika alam murka.  Takjub dan takut adalah manifestasi rasa dalam hati kita.  Dengan rasa kita akan mengalir menuju lautan rasa.

Bukankah itu sebuah kepiawaian yang patut diacungi jempol?  Aku bangga kepada mereka, nenek moyangku, bangsa petani.  Hebat! Yang bangga bahwa nenek moyangnya bangsa pelaut, silakan!  Tidak apa-apa. 

Demikian juga yang merasa bangga bahwa leluhurnya dari padang pasir.  Silahkan!  Monggo, nyumanggaaken!  Asal kita tidak jotosan. 

Dari riwayat para nabi yang kita baca dalam Al Kitab maupun Al Quran, mereka juga memperlihatkan adanya proses pencarian.  Adanya sebuah proses itu sangat mencolok pada riwayat perjalanan hidup Abraham atau Ibrahim.  Inipun garis besarnya saja.  Kita tak tahu persis bagaimana suasana kejiwaan beliau saat kecil, remaja, saat telah beristeri, hingga punya dua anak Iskak dan Ismail, serta saat ia mempersembahkan anaknya kepada Tuhan. Apa yang mendorong proses pencarian itu, apakah ada kaitannya dengan keinginan beliau punya anak?  Tak juga jelas. 

Namun dalam riwayat perjalanan hidup beliau aku anggap pernah mengalami sasar-susur terblasuk-blasuk, tersesat-sesat.  Tidak hanya sekali, berulang kali tersesat.  Memutuskan hendak menyembah rembulan, batal.  Kemudian menyembah matahari, batal lagi.  Menyembah berhala, sebagaimana masyarakat lingkungannya melakukannya, nggak jadi juga.  Lantas ia menghancurkan berhala-berhala itu.  Hanya menyisakan patung yang paling besar, dan meletakkan kapak di leher berhala raksasa itu. Agar masyarakat lingkungannya menganggap bahwa berhala yang paling besar itulah yang menghancurkan berhala-berhala kecil. (inilah cerita yang pernah aku dengar saat masih kecil). 

Bagaimana suasana kejiwaan Ibrahim saat menghancurkan berhala itu?  Marah, senang, atau biasa-biasa saja?  Mestinya dengan marah, karena berhala itu ternyata tidak mampu memenuhi keinginannya. Keinginan apa? 

Mungkin pingin punya anak itu.  Hingga pada suatu masa, entah beliau berusia berapa, beliau mendapatkan iluminasi alias pencerahan. Tuhanpun membuka hati istrinya sehingga dengan lapang dada mempersilahkan suaminya menikahi pembantunya, Hagar. Namun ketika Hagar hamil cobaan dan ujian datang lagi, sang istri meminta suaminya agar mengusir istri keduanya pergi. Karena istri pertamanya juga tengah hamil.  Nah sobat, sejak zaman Abraham kita telah disodori dengan contoh problima-tika hidup poligami.

Saat mendengar cerita itu mulutku ternganga.  Tak satupun muncul pertanyaan nakal yang kritis dari kepalaku.  Namun sekarang kayaknya perlu juga dikritisi serba sedikit, bukan bermaksud apa-apa.  Sekedar ingin memperjelas.

Saat beliau menghancurkan berhala-berhala itu kejadiannya siang atau malam? Diketahui orang-orang yang menyembah berhala-berhala itu apa tidak?  Saat itu sudahkah beliau mengalami pencerahan, dan telah sampai pada kesadaran bahwa hanya 'Yehova' lah yang patut disembah? Hingga muncul keberanian yang mengagumkan penuh heroisme menghancurkan sesembahan/tempat berdoa  masyarakat di sekitarnya? 

Saat itu sudahkah Abraham memiliki stabilitas emosi yang sepadan dan layak dimiliki oleh seseorang yang sekarang kita kategorikan sebagai nabi?  Dan masih banyak deretan pertanyaan yang bisa kita ajukan.

Aku tidak berniat merendahkan martabat beliau.  Salah satu figure yang mendapatkan tempat dihati umat beragama, sebagai nabi.  Apa yang aku utarakan hanyalah keinginan untuk memperjelas pendapat sendiri; bahwa nabi-nabipun, sebelum mendapat iluminasi/ pencerahan, dan ditahbiskan Tuhan sebagai utusan/Rosul, juga mengalami proses.  Iapun menjalani laku.  Dan pernah juga keliru, tersesat.

Stabilitas emosi yang dimiliki tumbuh sejalan dengan laku yang telah ia jalani. Kesadaran jiwa menghadapi lingkungan yang berbeda sejalan pula dengan usia dan panjangnya perjalanan spiritual yang telah ditempuh.

Berlandaskan pemikiran di atas maka dapat aku simpulkan, terkait dengan aksi Abraham menghancurkan berhala-berhala itu, bahwa heroisme Ibrahim adalah heroisme anak muda, yang belum menyadari ada syetan bersemayam di hati sendiri, yang seharusnya diperangi.  Jihad akbar.

Terkait dengan sikap Arti, meskipun ia telah memutuskan dengan akalnya sebagai atheis, namun hatinya berpegangan pada cinta demi kebersamaan dan kebahagiaan hidupnya.  Dan cinta adalah satu dari beberapa perwujudan rasa dalam hati manusia. 

Cinta itu bisa ditumbuh kembangkan, tidak sekedar dalam hubungannya dengan sahabat yang kemudian jadi suaminya, namun lebih luas lagi, lebih besar lagi dan lebih dalam lagi.  Kepada bangsa dan negara, budaya dan alam, hidup dan kehidupan.  

Jika rasa cinta itu terus menerus diasah, demikian juga dengan rasanya yang lain; kesabaran, berterima kasih kepada alam, keikhlasan, keluhuran budi, jujur, dll, maka mungkin saja pada suatu saat  akan 'Pyaaarrrr' mengalami iluminasi/pencerahan.  Tidak percaya? Coba saja!!!!

Nah sobat, aku kira suratku terlalu panjang.  Tiba saatnya untuk diakhiri.  Meski masih banyak uneg-unegku yang belum tersalurkan.  Kutulis surat ini agar isi kepala ini mengalir, dan tidak menjadikannya penyakit. 

Sekali lagi, aku setuju dengan pesan yang ingin kau sampaikan, dan contoh kebersamaan yang dilandasi inti pesanmu.  Dengan cinta.  Bukankah dua kata itu juga dilantunkan lewat lagu yang legendaris karya Kanjeng Ustad Iwan Fals?  Eh maaf, Begawan Iwan Fals, yang komponis, gitaris, vokalis hebat itu? 

Sayang aku hanya hafal bagian akhirnya : 

Dengan cinta, o oo !
     Dengan cinta, o oo!!
          Dengan cinta, o ooooooo !!!!! 
***

6 Juni 2016

ceritanet©listonpsiregar2000