sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 261, 25 juli 2016

Tulisan lain

Ladu - Tosca Santoso

Surat dari Jawa: Menimbang Ladu - Wahyudi Nugroho

Selamat Tinggal - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 26 - Aminatul Faizah

Herne Bay

Kota Melampaui Perutmu - Jajang Kawentar

Detik Yang Memudarkan Cinta - Ani Mulyani

Ada Lelah Tanpa Upah - Arifah Nugraheni

Cerita - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 9 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadae

Teheran Dalam Stoples 25 - Aminatul Faizah

Bewl Water

"Itu Maleo, Nak. Bukan Ayam Besar. Jangan Dimakan Lagi!" - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 8 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Bercerai - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 24 - Aminatul Faizah

Antibes

Ibu Izin Membaca Buku Di Sini, Rabu-Rabu* Saja - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 7 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Kawanku dan Aku - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 23 - Aminatul Faizah

Rochester

Joey, Rio, Media, dan Menpora - Liston P Siregar

Siapa Takut Kawan! - Bela Kusumah

Hampa - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 6 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Teheran Dalam Stoples 22 - Aminatul Faizah

Bradford upon Avon

Kenangan - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 5 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Teheran Dalam Stoples 21 - Aminatul Faizah

Leeds

Musim Dingin - Liston P Siregar

Tubuh Miskin - Jajang Kawentar

Dari Kehidupan Para Jutawan 4 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Kesabaran - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 20 - Aminatul Faizah

bradford

novel Dari Kehidupan Para Jutawan
Victoria Tokareva
Penerjemah: Victor Pogadaev

Kadang-kadang ketika aku mengalami waktu yang terlalu cerah, aku meninggalkan meja tulis dengan rasa bahagia dan keluar berjalan-jalan dengan tak memerhatikan apa-apa di sekitar seperti orang yang jatuh cinta.

Tetapi cinta tidak bisa mengubah objek. Itulah keunggulanku.

Bagaimanapun ada juga,  aku sedikit menyimpang dari inti pertanyaan. Aku akan menjawab: "Ya". Sastra perempuan ada. Lelaki dalam kerja kreatif berpandukan kepada Tuhan, sementara perempuan berpandukan kepada lelaki. Perempuan mendekati Tuhan melalui lelaki, melalui cinta. Namun objek biasanya jarang sesuai dengan ideal. Maka dalam hal ini perempuan menderita dan menulis mengenai penderitaan  itu.

Tema utama kerja kreatif perempuan ialah kerinduan akan ideal.

Tetapi apakah orang Prancis akan mengerti itu?

Soal kedua mengenai feminisme. Orang Barat gila dengan feminisme. Gagasan feminisme: perempuan juga manusia. Tetapi bagiku itu sudah lama, sudah ketinggalan.

Perempuan harus bekerja dengan  pemerintah. Tetapi terpulanglah  jika mau.

Lelaki sepatutnya melakukan separuh dari kerja rumah tangga. Suamiku sudah sejak lama melakukan tiga perempat kerja rumah tangga. Tak ada masalah.

Perempuan feminis yang ekstrem akan menjadi lesbian. Lelaki sudah tidak dibutuhkan lagi. Tidak untuk apa-apa. Kalau begitu, mengapa Tuhan menciptakannya? Pastinya ada tujuan tertentu. Kadang-kadang aku hendak menanyakan perempuan ekstremis itu: mengapa mereka perlu bercinta sesama perempuan?

Lelaki bisa membuat segala-galanya itu juga, lagi dia mempunyai zizi. Tetapi apakah mungkin untuk mengajukan pertanyaan seperti itu? Semua perempuan ekstrem itu pastinya akan tersinggung.

"Apa yang mesti aku jawab?" aku minta nasehat pada Nastya.
"Yang penting jangan bersikap seperti orang Soviet."
"Tetapi aku orang Soviet."
"Kau di Paris," Nastya mengingatkan kepadaku. "Perlu bersikap seperti orang moderen dan mengejutkan mereka dengan sesuatu. Katakanlah bahwa kau adalah biseks."
"Mereka tidak akan percaya padaku. Pada kau mungkin ya, percaya."

Penerjemah itu merenung sejenak.

"Mungkin ada baiknya kalau kau mengemukakan gagasan keluarga berbahagia. Wabah AIDS akan membuatkan semua orang kembali kepada keluarganya."

Aku ingat banyak perempuan yang berkisar di sekitar kehidupan Maurice yang dahagakan kasih dan mengeluh:

"Tak jadi."

Tiada sesuatu yang bisa  mengalihkan manusia dari naluri utama. Orang tidak menunggu bencana dari cinta…

Aku tidak mau membicarakan topik itu dan meminta Nastya:

"Katakanlah kepada pengacara, biarlah dia tanyakan mengenai perestroyka."
"Semua sudah bosan dengan perestroyka," kata Nastya. "Dan menjadi orang Rusia, tidak menarik lagi. Dan kita kesuntukan waktu. Tinggal lima menit saja lagi."
Nastya menunjukkan pada daftar:

"Pertanyaan ketiga: ciri khas orang Prancis. Apa yang kau perhatikan di sini?"

Aku termenung. Orang Prancis tak pernah mengatakan "tidak". Berbanding dengan orang Jerman. Orang Jerman selalu menjawab jelas: "ya atau tidak". Orang Prancis menjawab: "Bisa jadi". Pet-etre.

Pasal apa? Untuk kenyamaan hidup. Kalau jawab "tidak", itu bisa menimbulkan rasa negatif kepada kawan yang berbicara. Dia bisa menjadi marah, mengeluarkan terlalu banyak adrenalin.

Kau akan berada di tengah-tengah awan adrenalin dan bernapas adrenalin, padahal itu kurang sehat dan tidak  nyaman. Yang penting untuk  mengelakkan stres, baik stres sendiri, maupun stres orang lain. Dalam sistem kapitalisme mottonya: segala-galanya demi manusia, demi kebaikannya.

Pengacara sampai dan berkata:
"Attencion!"

Penerjemahku menjilat bibir seperti seekor kucing di bawah panas terik matahari. Penggambaran mulai.

Pada keesokan harinya Madelaine datang untuk mengucapkan selamat jalan kepadaku. Tentunya dia tidak harus  datang tetapi sebagai seorang yang berbahasa dia memiliki kebiasaannya sendiri. Mungkin juga Madelaine dipanggil oleh Maurice karena dia sendiri terlalu sibuk untuk memberi perhatian kepadaku.

Gaun yang aku beli dengan potongan separuh harga untukku (hadiah karena sikap rendah hati). Itulah  bermanfaatnya menjadi orang baik. Tetapi itu hanya kadang-kadang saja. Biasanya sifat begitu tidak diperhitungkan orang.

Aku masih punya sejumlah uang, dan Madelaine membawaku ke Galeries Lafayetts.*

Kami bersiar-siar di sana, mencoba pakaian. Madelaine berasa bosan karena tak pernah singgah ke toserba semurah itu. Kali ini dia hadir  hanya karena menemani  aku.

Aku juga tidak suka barang-barang murah dan selalu membeli hanya satu barang untuk semua uang yang ada. Tapi 'satu barang itu' membuat Madelaine jemu. Aku melihat itu pada wajahnya.

Aku masuk ke kamar pas. Madelaine menunggu dengan duduk bertinggung seperti orang Timur di Rusia. Dengan cara itu dia beristirahat. Madelaine bertopang dagu pada tinjunya. Dagu dan tinjunya begitu kurus. Hal itu menimbulkan rasa pilu dalam diriku. Aku hendak membelainya. Aku khawatir, takut orang lalu mendorongnya dan dia jatuh  ke lantai. Aku keluar dari kamar pas dan berkata:

"Mari pulang."

Kami pulang ke rumah Maurice, lebih tepat ke rumah mereka bersama. Madelaine mengusulkan untuk pergi makan ke restoran. Itu sesuai dengan jadwal biasanya. Tetapi aku tidak mau menyusahkannya dan mengusulkan makan di rumah.

Madelaine membuka kulkas, mengambil sesuatu dan mulai membuka bungkusan. Aku melihat sepotong daging tipis yang dibungkus dalam kertas dan digulung.

Madelaine membuka kertas, mengangkat daging dan meletakkannya ke dalam kuali, kemudian menerbalikkannya. Proses memasak mengambil masa lima menit saja.
***
bersambung
*. Salah satu toserba terbesar di Paris

ceritanet©listonpsiregar2000