sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 260, 11 juni 2016

Tulisan lain

Kota Melampaui Perutmu - Jajang Kawentar

Detik Yang Memudarkan Cinta - Ani Mulyani

Cerita - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 9 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Teheran Dalam Stoples 25 - Aminatul Faizah

Bewl Water

"Itu Maleo, Nak. Bukan Ayam Besar. Jangan Dimakan Lagi!" - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 8 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Bercerai - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 24 - Aminatul Faizah

Antibes

Ibu Izin Membaca Buku Di Sini, Rabu-Rabu* Saja - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 7 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Kawanku dan Aku - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 23 - Aminatul Faizah

Rochester

Joey, Rio, Media, dan Menpora - Liston P Siregar

Siapa Takut Kawan! - Bela Kusumah

Hampa - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 6 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Teheran Dalam Stoples 22 - Aminatul Faizah

Bradford upon Avon

Kenangan - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 5 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Teheran Dalam Stoples 21 - Aminatul Faizah

Leeds

Musim Dingin - Liston P Siregar

Tubuh Miskin - Jajang Kawentar

Dari Kehidupan Para Jutawan 4 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Kesabaran - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 20 - Aminatul Faizah

bradford

komentar Ada Lelah Tanpa Upah
Arifah Nugraheni

Ibu, mari katong pigi kebon jauh deng Mama, Papa, Ita, deng Sani nanti kitorang petik rambutan, Ical punya Ibu”, katanya bersemangat saat mengajakku dan teman-teman pergi ke kebun.

Dia pernah bilang bahwa kebun adalah tempat yang paling dia sukai, tempat segala sumber ceritanya.

Keluarga Manuru memang unik, setiap anak memiliki tugas sendiri-sendiri. Satu anak punya satu tanaman miliknya sendiri, jadi dia yang bertanggungjawab penuh terhadap tanaman yang dia miliki.

Jadi Ical adalah pemilik pohon rambutan dan adiknya, Sani, adalah pemilik pohon cengkeh sedang adik paling kecil, Ita, pemilik pohon jeruk. Dua kakaknya juga masing-masing punya satu pohon milik sendiri.

Mulai dari menanam, merawat, hingga berbuah, sang pemilik lah yang mengurusi. Peraturan panen juga unik, meskipun ditanam di kebun keluarga namun tidak semua anggota keluarga bisa memetik tanpa izin.

jika Sani ingin makan buah rambutan maka Sani harus meminta ijin kepada Ical untuk memetik, dan begitu pula sebaliknya.

Sama dengan hewan peliharaan.

Tanggal 22 Maret, Ical berulang tahun ke-12. Saya mendapat beberapa potong ayam goreng, dan ayam itu milik Ical sendiri. Satu anak memiliki sepasang ayam untuk dipelihara, sampai beranak pinak. Jika ingin menyembelih ayam, maka dia akan menyembelih ayam miliknya sendiri.

Si bontot, Ita, yang masih berumur empat tahun sudah paham dengan peraturan ini. Anak sekecil itu bahkan tahu yang mana ayam miliknya dan yang mana ayam milik kakak-kakaknya. Luar biasa, setiap anak dibebani satu tanggungjawab sejak kecil. Pantas saja mereka sangat mandiri.

Muhamad Irsal Manuru, putra kelima dari keluarga Manuru. Perawakannya tinggi, kurus, dengan kulit gelap khas orang pesisir. Dia memiliki dua gigi kelinci yang selalu menghiasi wajahnya saat berbicara. Ya, betul dia berbicara tanpa henti.

Dengan gamblang dia mengungkapkan yang dia rasakan, dengan tegas dia menceritakan semua hal yang sudah dia alami, dengan jelas pula dia menjelaskan yang dia tahu. Ketika dia bercerita, jangan harap matamu bisa berpaling darinya: tangan yang terus bergerak, mimik muka, dan gigi kelincinya menjadi perpaduan sempurna untuk terus diperhatikan sepanjang dia bercerita. Kadang dia bercerita sambil memperagakan - anak cerdas.

Ketika itu hari Rabu minggu keempat bulan Februari. Aku dan kedua guru SM3T lainnya bersama keluarga Manuru berkebun di hutan. Kami akan memetik rambutan milik Ical.

Matahari sore menyengat menggelitik kulit. Kami berjalan kurang lebih dua kilometer menyusuri jalan tanah liat setapak, menyusuri kebun warga yang ditanami padi gogo yang bersungut-sungut melambai-lambai dihempas angin. Aroma khas dedaunan sepanjang jalan, dan hanya hijau yang terpapar di depan mata -cengkeh, pala, pohon sagu, mangga, dan tentu saja kelapa.

Banyak juga tanaman buah biji tunggal yang biasa dimakan burung rangkong. Buah sebiji kelereng, kuning merona, bergetah seputih susu. Rasanya masam dihisap-hisap senikmat stroberi dan seharum buah kiwi. Perjalanan masih panjang, baru secuil hutan dipijaki.

Ical tidak berhenti bicara: kami terengah dia malah tertawa. Dia bilang kami payah, langkah kami kecil, jadi kebunnya terasa jauh. Dia menceritakan tentang pohon-pohon yang kami lewati. Pohon woku -sejenis pinang dengan daun lebar- yang daunnya biasa dijadikan atap rumah papan. Atau daun-daun yang lebih mirip rumput liar -yang Ical paham betul manfaatnya- hadiah dari alam untuknya.

Jalan semakin berkelok, lebih mirip track off road, dengan tanah liat tebal yang menempel di alas kaki, langkah menjadi benar-benar berat. Selepas hujan seharian -berkah bagi warga desa- tanah pun jadi gampang menempel.

Kami tiba di sebuah penampungan air besar, air gunung yang dulunya untuk mengaliri air ke desa. Paralon-paralon kering yang kini tidak berfungsi. Airnya penuh, segar, dan tidak mengandung kapur seperti karakteristik air pesisir pantai. Dulunya desa ini dialiri dari penampungan air ini dua kali seminggu, kini sebulan sekali pun air tidak sampai lagi ke desa.

Air dialirkan dengan tenaga diesel berbahan bakar solar dan warga membayar biaya Rp. 10.000 per keluarga dengan jatah dua kali seminggu. Jika ditampung, cukup lah untuk kebutuhan tiga hari, jadi warga tidak susah-susah membuang waktu dan tenaga mengangkat air dengan jeriken 25 liter. Karena air dialirkan sampai ke rumah, maka bisa juga digunakan mencuci dan mandi di rumah.

Ada segelintir warga berpemikiran kolot karena keberatan membayar iuran Rp. 10.000 per bulan. Si warga kolot itu lah yang memecah paralon di hutan dekat penampung air. Sebenarnya Rp. 10.000 bukanlah jumlah besar untuk mendapat air yang mengalir dua kali seminggu dibandingkan waktu dan tenaga yang terbuang untuk sekedar mengangkat air 25 liter dari sumur pinggir pantai. Tapi begitulah adanya bagi beberapa orang.

“Lihat Ibu, lihat... lihat, itu elang, dia pe sarang tinggi-tinggi sekali, orang tara suka tangkap, barang dia makan daging bukan pisang”, pekiknya cepat kala melihat sekawanan elang melayang-layang divantara pohon-pohon kelapa. Elang-elang yang serasa mengintai kami untuk dijadikan makan siangnya. Ical bilang bukan cuma ada elang saja karena di Morotai burung nuri dan kakatua yang paling banyak.

Selain warnanya yang cantik, kedua burung terbanyak itu juga bisa menirukan kata-kata majikannya -makanannya adalah pisang sama seperti majikannya. Jadi nuri dan kakatua banyak diburu untuk dipelihara dan diajari memanggil-manggil nama majikannya.

Ical juga bercerita tentang ayam hutan yang tubuhnya lebih besar dari ayam-ayam di rumahnya, telurnya juga lebih besar. Rasa dagingnya lebih gurih dibanding ayam kampung, telurnya lebih banyak isinya dan lebih sedap. Dia menambahkan sarangnya biasanya di bawah pohon-pohon besar.

Ayam besar ini akan menggali tanah untuk menyimpan telur-telurnya. Dia membuat sarang berbentuk gundukan mirip pemakaman, menutup gundukan dengan ranting dan daun kering. Katanya ayam betina akan pergi mencari makan, untuk diri sendiri dan pejantannya. Ayam jantan seharian menjaga sarang agar tidak ada predator yang mencuri telur.

Kami sangat berharap menemukan satu sarangnya, kami akan membawa pulang telurnya.

Sampai saat itu, ketika kami belum keluar dari hutan, aku masih berpikir bahwa itu adalah jenis ayam pada umumnya. Beruntung si ayam besar itu karena kami tidak menemukan satu pun sarangnya jadi telurnya pun aman.

Kami pun kembali ke tujuan utama menuju pohon rambutan yang ditanam Ical ketika dia masih balita, ketika dia ikut tinggal di hutan selama tiga bulan karena orangtuanya harus membuka lahan untuk bercocok tanam.

Sekitar 30 menit berjalan kaki membuat peluh sudah membasahi kaos dan semakin masuk kami ke hitan yang semakin lebat. Juga semakin hening, semakin menjauh dari pemukiman, dan alang-alang semakin tak beraturan. Kami menuai gatal bekas gigitan agas dan nyamuk Morotai.

Hanya Ical yang tampaknya tetap ceria, “Sampai, sampai! Kita sudah sampai, mari naik saya pe pohon rambutan, semua untuk Ibu, semuanya!”. Nada suaranya meninggi dan tegas pada bagian semuanya.

Cepat sekali dia berlari, menerobos cempedak milik Ete, kakaknya, menerobos pohon jeruk milik Ita. Putri malu berduri dia injak dengan ringannya, berlari meninggalkan kami di belakang.

Tiba-tiba suaranya hening, dia berjongkok di bawah pohon rambutannya, melihat dengan mata terbelalak sambil mengais kulit rambutan merah di bawah pohon. Buah yang seminggu lalu dia sambangi berbuah lebat sudah menguning menunggu dipetiknamun kini hilang menyisakan beberapa biji.

Betapa hatinya hancur kecewa, tanaman yang dia tanam sedari balita yang katanya akan diberikan 'semuanya' untuk Ibu guru gagal dipersembahkan. Kami sedih, jelas, melihat Ical. Baginya rambutan itu begitu berharga dan hatinya hancur karena pohon miliknya dipanen orang tak dikenal.

“Ibu, bagaimana ini kita su bajalan jauh tapi rambutan orang su petik”, suaranya sudah tidak seceria beberapa menit yang lalu. Tapi Ical tidak menyerah. Lagi, dia berlari, katanya, akan memetik rambutan milik Onco*-nya di kebun dekat sungai besar.

Kali ini dia menyuruh saya, Henny dan Linda untuk menunggu di kebunnya: jauh jadi biar dia sendiri yang ke sana. Kami menunggu sekitar 15 menit, berharap kekecewaannya bisa terbayarkan dengan rambutan milik Onco-nya.

Namun dia kembali dengan tangan kosong. Rambutan milik Onco masih hijau, belum bisa dipetik. Lagi-lagi dia muram. Saya tidak betul-betul menginginkan rambutan, tapi ingin Ical tertawa.

Tapi sebenarnya aku sudah mendapatkan sesuatu dalam perjalanan sekitar 30 menit itu. Hidup bukan selalu tentang hasil semata tapi juga proses. Sepanjang perjalanan ke hutan, kami menjalani proses yang indah: banyak pengetahuan di luar sana yang harus dengan sengaja dicari, ada juga pelajaran ikhlas karena kadang ada lelah tanpa upah. Ada kebaikan yang tark terukur tapi terasakan hangatnya.

Dan Ical memaknainya dengan baik. Karena tak ada rambutan dia memetik kelapa muda. Maka kami duduk di bawah pohon mangga kueni yang besar, duduk beralas daun kelapa dan menikmati beberapa kelapa muda yang membasahkan dahaga kami.

Dia kembali bercerita tentang tentang ayam besar ber daging gurih, yang membuatku semakin penasaran. Katanya di sekitar tempat kami duduk ini masih banyak ayam besar.

“Tong gali, tong ambil dia pe telur, tong goreng. Wuihhhh... itu paling sedap, paling besar. Tong ambil dia pe daging, tong goreng lain masak kuah. Ahhh, itu paling gurih, ayam di rumah me su jauh tara enak sama deng ayam hutan besar,” dia bercerita, kembali penuh semangat dengan ekspresi bahagia. Seperti biasa tangannya memperagakan dan menggoreskan garis di udara yang tak terlihat namun kami tahu dia sedang menggambar ayam besar. Mungkin tadi dia kelelahan dan haus, jadi sekarang semangatnya kembali lagi setelah minum dua kelapa muda, melupakan rambutannya yang dijarah orang.

Kami memutuskan pulang: matahari turun mengucapkan selamat tinggal lewat awan aurora senja jingga nan sendu. Panasnya sudah tidak seterik siang dan kami menikmati pemandangan indah yang lain: siluet pohon-pohon yang diterpa cahaya matahari sore.

Jangan lelah, jangan lengah, dan terus melangkah. Akan ada manis-manis madu pada setiap peluh yang jatuh.

***

Onco: panggilan dari seorang keponakan untuk anak terakhir dari saudara ayah atau ibunya.

ceritanet©listonpsiregar2000