ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 25,Rabu 17 Oktober 2001
___________________________________

novel Dokter Zhivago 25
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
Disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960 dengan penulisan ejaan baru.

Suatu malam pada akhir November, Yura pulang terlambat dari Universitas; ia capek dan belum makan apa-apa sepanjang hari. Ia dengar bahwa senja tadi orang mengalami ketakukan yang sangat. Anna menderita kegoncangan; beberapa dokter telah memeriksanya; sekali mereka menasehatkan pada Alexander Alexandrovich supaya memanggil pendeta, tapi kemudian mereka berubah pikiran. Kini ia merasa lebih baik, ia sadar dan iapun meminta orang mendatangkan Yura kepadanya pada saat ia pulang. Yura segera naik tangga.

Kamar menunjukkan akibat kerepotan yang baru terjadi. Seorang perawat sedang mengatur sesuatu dengan tenangnya di meja. Beberapa tuala dan saputangan yang dipakai untuk kompres masih terserak-serak, basah lagi kumal. Air dalam ember cucian berwarna merah jingga, akibat darah yang dimuntahkan; beberapa ampul pecah-pecah dan petikan kapas yang melembung mengambang dipermukaannya.

Anna terbaring bersimbah peluh dengan bibir terhangus. Sejak pagi air-mukanya menjadi liar.

"Salahkah diagnosisnya ?" Yura bertanya diri. "Semua tanda radang paru ada padanya dan inilah tentu krisisnya." Sesudah menyalam serta mengatakan sesuatu untuk membesarkan hati, sebagaimana lazimnya dalam keadaan demikian, disuruhnya perawat keluar, diangkatnya pergelangan Anna untuk ditepam, lantas merogoh kantong jasnya untuk mengambil stetoskop. Si sakit menggerakkan kepala seakan berkata : "Tak guna, apa soalnya?" Ia mengerti bahwa ada hal lain yang diinginkannya. Anna berbicara dengan susah payah.

"Kata mereka...sakramen terakhir...Maut menunggu...Tiap saat...Orang takut bila giginya akan dicabut, itu sakit, orang menyiapkan diri...Tapi ini bukan gigi...ini seluruh diriku, seluruh hidupku...sedang dicabut...Apa artinya? Tak ada yang tahu...Dan hatiku pilu dan takut.

Iapun diam. Air mata mengalir di pipinya. Yura bungkam. Sejenak lagi Anna menyambung.

"Kau pandai, berbakat...Itu sebabnya kau lain..Katakan apa-apa padaku...Biar pikiranku mengaso."

"Apa hendak kukatakan," jawab Yura. Ia gelisah di kursinya. Ia bangkit, berjalan di kamar, duduk lagi. "Pertama-tama, kau akan baik besok pagi, kutahu tanda-tandanya, kau boleh percaya. Lalu soal maut, kesadaran yang pulih, kebangkitan kembali...Kau ingin tahu pendapatku sebagai ahli ilmu? Atau lain kali saja? Tidak? Sekarang juga? Nah sesukamulah. Tapi maklumlah, hal ini sulit diperkatakan tanpa persiapan." Maka dibuatnya di situ ceramah dari luar kepala, hingga heranlah ia tentang diri sendiri.

"Kebangkitan kembali, dalam bentuk kasarnya seperti yang dikhotbahkan untuk menghibur kaum lemah, gagasan ini tak berbicara padaku. Ucapan Kristus tentang yang hidup dan yang mati selalu kuartikan dalam pengertian lain. Dimanakah terdapat tempat untuk segenap gerombolan mansuia yang terhimpun selama beribu-ribu tahun? Semesta tak cukup besar, Tuhan dan budi dan maksud baik akan kewalahan. Mereka akan tertindih lebur oleh sekawanan hewan yang pelahap dan mendesak-desak itu.

"Namun dalam tiap masa, penghidupan yang esa dan tak berubah, yang secara tak terpahamkan itu selalu dikenal sebagai penghidupan, dia mengisi semesta dan tiap saat diperbaharaui dalam perpaduan dan pergantian ujud tak terbilang. Kamu kuatir, apakah kamu akan bangkit dari maut atau tidak, tapi kamu sudah bangkit --kamu bangkit dari kematikan ketika lahir, namun tak kamu sadarkan. Apakah kamu rasakan nyeri nanti? Soalnya, apakah jaringan-jaringan merasakan disintegrasi mereka? Dengan kata lain, apa akan terjadi dengan kesadaran kamu? Tapi apa pula kesadaran itu? Pikirlah. Kalau kita coba dengan sadar untuk tidur, dengan begitu pastilah kita tak dapat tidur; kalau kita coba menyadarkan diri punya digesti, pastilah kacau perut kira. Kesadaran adalah pancaran sinar yang diarahkan keluar, jalan mau diteranginya agar kita tak tergelincir. tak beda dengan lampu sorot di lokomotif, bila sinarnya dibelokkan ke dalam akan timbul malapetaka.

"Jadi apa akan terjadi dengan kesadaran kamu. Kesadaran kamu, bukan kesadaran orang lain. Nah apakah kamu? Inilah masalah tak terpecahkan. Mari kita selidiki? Apakah dirimu itu yang selalu kamu kenal sebagai diri sendiri? Apa yang kamu sadari dalam dirimu? Ginjal? Jantung? Pembuluh darahmu? Bukan. Betapa jauhpun kamu menoleh ke wilayah ingatanmu, selalu kamu temukan identitasmu dalam suatu manifestasi diri yang aktif di luar --dalam karya tanganmu, dalam keluargamu dalam orang-orang lain. Sekarang perhatikan. Kamu dalam orang-orang lain adalah kamu sendiri, nyawamu sendiri. Inilah kamu. Ini pula nafas kesadaranmu, tempat hidupnya, buah kesenangannya seumur hidup. Jiwamu, keabadianmu, hidupmu dalam orang-orang lain. Dan bagaimana sekarang? Kamu selalu dalam orang lain dan kamu akan tetap di situ. Tak jadi apakah, kalau kelak itu disebut ingatanmu. Itulah kamu nantinya --kekamuan yang masuk ke hari depan dan menjadi bagian daripadanya."

"Dan kini hal yang terakhir. Tak ada yang perlu dikuatirkan. Tak ada kematian. Kematian bukanlah urusan kita. tapi kamu sebut tadi bakat --itu lain, itu yang kita punya, itu tersedia bagi kita. Dan berbakat dalam artian terluas dan tertinggi adalah berbakat untuk hidup.

"Mati tak akan ada, kata Santa Johanes; lihat saja betapa sederhana buah pikirannya. Tak akan ada mati, sebab yang lampau sudahlah lampau; itu hampir sama dengan mengatakan bahwa tak akan ada kematian, sebab kematian sudah tak laku lagi, sudah tua dan kita sudah bosan dengannya. Yang kita perlukan ialah yang baru dan yang baru itu ialah hidup kekal."

Ia jalan kian kemari sambil bicara. "Tidurlah," ujarnya; ia mendekati ranjang dan menepam kening Anna. Beberapa saat kemudian Anna berangsur-angsur terselap.

Diam-diam Yura meninggalkan kamar; dimintanya Yegorovna menyuruh jururawat masuk. "Persetan," pikirnya, "sudahkah aku menjadi syarlatan sekarang? Membacakan mantera segala, menepam-nepam dengan tangan?"

Esok harinya sembuhlan Anna.
***

ceritanet
kirim tulisan
©listonpsiregar2000