ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 25, Rabu 17 Oktober 2001
___________________________________
sajak senja di champ d'elysses
Lily Glorida Nababan
suatu senja di champ d'elysses
saat meneguk air jeruk sambil menenggelamkan diri di kursi kayu
riang dan ria sajalah sekelilingku..
berpasang-pasangan tua dan muda berjalan sepanjang trotoar
sambil berpelukan
kadang berhenti untuk saling memandang
lalu saling mengecup...betapa romantis,
sementara aku sendiri saja..
mencoba alihkan tatapan pada arc de triomphe yang berdiri di ujung kanan...
sinar mentari sore menguningkan batuan kokohnya..
lalu terasa angin menusuk-nusuk hingga ke balik mantel...betapa dingin... dan redup...
padahal sore di akhir musim gugur Paris masih cerah
senda gurau keluarga di bangku-bangku sekitarku kadang melempar kenyataan,
aku sendiri saja...
mereka berbicara dengan bahasa yang sedikit kumengerti
namun terdengar merdu dan membangunkan banyak mimpiku setelah itu...
dunia seperti berhenti hanya disitu...
memenuhi udara dengan wewangian dedaunan maple,
harum kopi, bau masakan khas...
aku sendiri saja,
tapi hati bergolak riang
bagai mabuk anggur petualangan...aku telah sampai disini,
walau sendiri....
menuntaskan mimpi-mimpi perjalanan hati...
mencoba menata hati yang sempat mengeras karena kesakitan...
meraih dedaunan yang mulai menguning saat berjalan
menyusuri champ d'elysses...paris,
16 september 2001
sepidimanakah kehangatan....
saat terduduk sendiri menahan dingin,
satu-satu suapan bagai mengunyah kenangan
kala sepi bukan jawaban malam hari...dimanakah belaian...
saat dentang kaiser wilhelm kirsch mendalu-dalu
gaungnya menelusup hingga relung hati nan merindu...
(mengapa seperti ingin mengintip isinya...?)dimanakah dekapan..
saat menyusuri kurfustendamm perlahan,
menyibak guguran maple yang mulai menguning,
menekan dalam-dalam kedua tangan dalam saku
saat angin dingin mengusap wajah meninggalkan rasa beku..dimanakah langkah yang kurindu...
pandangan hanya berlari-lari nanar mencari sosok berjalan
dengan langkah lebar dan wajah bagai tak tersentuh keramaian
sekitar...
dimanakah ia...
mengapa kucari dia...?dimanakah diantara wajah-wajah bagai dari dunia maya yang
bercengkerama,
berkerumun di depan pengamen yang memainkan fur elise dengan
keyboardnya,
atau berjalan berdekapan...
dimanakah dekapan.....seribu wajah kusapu sekilas
seribu langkah kujelang sejenak
tak ada tatapannya
tak ada ayunan langkahnya
dimanakah....(sayup mengalun suara lembut enya...
"who can say if your love grows,
as your heart chose,
only time...")mengapa begitu lirih namun menusuk, sepi ini .....
september 2001,
berlin
ceritanet
kirim tulisan
©listonpsiregar2000