ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 25, Rabu 17 Oktober 2001
___________________________________


novel
Pangeran Jawa Atawa Jagger Melayu
Bramantyo Prijosusilo

Mobil Vauxhall yang dikendarai Keith memasuki kota dan lalu-lintas menjadi lebih perlahan dan padat. Di dalam mobil, diam. Tak ada yang berbicara. Keith sibuk berkonsentrasi pada jalanan, sedangkan Elaine dan Jagger tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Memang, awal ihwal percintaan Jagger dengan Elaine, sedikit banyaknya terpengaruh oleh dunia media massa dan pemberitaan. Dahulu, Jagger pernah bekerja pada suatu tabloid gossip di Jakarta. Saat itu, Jagger bekerja sebagai reporter, ke sana ke mari mengikuti kegiatan artis. Bersama editiornya, Jagger dan kawan-kawan lain mengembangkan satu jenis jurnalisme yang untuk kala itu, terbilang baru di Indonesia. Itulah, jurnalisme tabloid gosip, yang di Jakarta di beri nama khas Jogja, yakni, jurnalisme lher! Maksudnya, memberitakan gossip dan skandal artis yang seru-seru.

Namun, malang tak dapat di tolak. Suatu ketika tabloid tersebut berkeinginan meningkatkan peran serta pembacanya dengan membuat satu poll pendapat berhadiah. Dalam poll itu ditanyakan siapa tokoh favorit mereka. Hasil akhir dari polling pendapat tersebut ternyata menempatkan Suharto, Habibie, dan seorang penyanyi lagu protes di peringkat teratas, sedangkan Nabi Muhammad s.a.w, mendapat urutan jauh dibawahnya. Hasil ini pun, tanpa banyak pikiran, dimuat di halaman dalam tabloid tersebut.

Serta merta, urutan tokoh favorit yang meletakkan Nabi Muhammad s.a.w di deretan bawah itu, mendapatkan reaksi keras dari banyak kalangan, yang berpendapat bahwa pemuatan hasil poll pendapat itu sebagai penghojatan terhadap Nabi, dan penghinaan terhadap ummat Islam. Apalagi, tabloid yang selalu menampilkan tubuh seksi artis seronok dalam cetak warna di halaman depannya itu, diam-diam, memang sudah tidak disukai berbagai kalangan konserfatip, karena kandungannya yang tidak bermutu, bahkan meracuni alam batin para muda dengan memperkuat krisis nilai dan menjadi corong konsumerisme.

Massa menyerang kantor redaksi tabloid itu, dan editornya ditangkap polisi. Dalam suasana yang diciptakan lewat opini publik yang membayangkan amuk masa, dia diadili. Hasilnya, dia salah dan dijebloskan untuk meringkuk di dalam penjara. Perusahaan yang semula mengeruk untung besar dari penjualan foto paha dada dan cerita berklasifikasi " lher! " itupun ciut, dan tak berani berbuat apa-apa. Tidak berusaha membela tabloid yang sempat menjadi sumber uang gampang bagi perusahaan itu. Jagger, dan banyak kawan lain resah, kehilangan pekerjaan. Ada juga yang dipindahkan, bertugas tak jelas di penerbitan-penerbitan lain yang seinduk. Merasa ditawari tawaran sumbang seperti itu, Jagger tidak lagi bersemangat menggeluti dunia wartawan. Apalagi memburuh pada perusahaan pengecut itu. Serba salah jadi wartawan, begitulah pikiran penolakannya pada kenyataan kehidupan pekerja pers di Indonesia saat itu.

Jagger pulang ke Jogja. Dengan berniat dia mengucapkan Bismillah, dan meneruskan hobi menulis puisi menjadi kegiatannya yang utama. Kadang-kadang dia mengirimkan puisinya ke koran dan majalah, namun lebih sering dia membacakan puisinya sebagai undangan pada berbagai kegiatan mahasiswa dan sanggar-sanggar seni yang menyebar di sekitar rumah-tangga banyak seniman di Indonesia. Kegemaran menyair itulah yang mempertemukannya dengan Elaine, menjadi awal perkenalan mereka. Saat itu, Jagger mendapat undangan membacakan puisi-puisinya di dalam acara satu perguruan tinggi di Bandung. Dia pun berangkat ke Bandung seorang diri, dan membacakan puisi-puisinya.

Terpikat oleh penyair besar yang menonjol karena keberaniannya melantangkan sajak-sajak protes, Jagger pun cenderung menulis mengenai situasi umum di Indonesia, dan bukan tentang hal-hal kecil yang ada di dalam batinnya sendiri. Elaine, yang berada di antara penonton, terkagum dengan gaya penampilan dan sajak-sajak garangnya, yang sloganistis dan mengajak pendengarnya untuk berontak kepada rejim pemerintahan Orde Baru yang represif.

Pohon jati tinggi-tinggi
Tumbuh di batu cadas!

Jagger menyeru-nyeru di atas panggung, penonton terkesima. Dia tambah bersemangat. Dari bagian belakang penonton, di kegelapan, Elaine menonton calon pacarnya bergaya.

Pagar besi dan kawat duri
Tak mampu halangi imajinasi!

Jagger mengakhiri satu sajaknya, dan penonton bertepuk tangan. Suasana agak tegang, tetapi mempesona juga. Elaine, yang sedikit-sedikit memahami apa yang dibacakan, merasa agak terganggu dengan pakaian penggemar sepedamotor besar yang dikenakan Jagger di panggung. Jaket kulit hitam yang ditempeli sulaman-sulaman logo Harley Davidson, Hell's Angels, bibir dower Rolling Stones serta merek minyak pelumas, di pakai di panas cuaca tropis, membuat pikiran Elaine gerah melihatnya. Apalagi Jagger juga mengenakan celana kulit berpengaman dengkul dan sepatu boot pengendara motor yang berat.

Di panggung, Jagger bercerita bahwa sajak ini dipersembahkan kepada seorang aktris yang membawakan peran pejuang wanita Aceh di dalam suatu film yang menjadi salah satu tonggak kreatifitas sinema Indonesia. Setelah memberikan pengantar singkat itu, Jagger lalu melantangkan sajaknya:

Film bagus, lalu kamu
Menyulut cintaku,
Bagai mancis menyulut bensin....
Saat itu, kuingat, mahasiswa Korea bakar diri lagi.

Mahasiswa Indonesia sibuk ngerumpi,
Menciptakan bahasa gaul yang tanpa isi,
Bergaya kelas menengah yang dipelajari di televisi,
Bermimpi, belanja ke Amrik dan berlibur,
Setidaknya ke pulau Bali.

Ketidak adilan bebal di masa kini
Adalah nanti kekerasan yang pasti
Berdarah tak terelakkan
Datangnya :
Banjir bandang slogan-slogan.

Slogan dilawan dan didukung oleh slogan
Terdengar seperti penonton sepakbola
Molotov dan peluru tajam bicara

Istana-istana dibarikade,
Kota-kota dilalap api
Akan terjadi lagi dan lagi

Penonton bertepuk tangan. Meski sebal dengan dandanan Jagger, ada juga sesuatu pada diri penyair itu yang membuatnya lebih di mata Elaine. Selain vokalnya yang lantang dan gaya revolusionernya yang kadang-kadang terlampau dibuat-buat, yang sangat menarik pada Jagger, adalah riwayatnya sebagai pejuang kebebasan perpendapat, korban pemberangusan pers yang primitif. Kesan sebagai pahlawan demokrasi itulah yang paling mempengaruhi hati Elaine, hingga dia jatuh cinta kepada Jagger.

Setelah selesai acara pembacaan sajak, Elaine menemui Jagger untuk berbincang-bincang. Jadinya mereka malahan pergi ke jalan Dago untuk makan siomay. Jagger juga rupanya tertarik kepada Elaine. Setidaknya dia tidak menolak ketika Elaine mengajak berdiskusi mengenai banyak hal sampai larut malam bergeser menjadi hari yang baru. Elaine menulis di buku hariannya:

"I think that this is love. It is definitely not only a holiday romance. I love him, his long black hair, his pizza-delivery bike, his pure idealism. His naïve and macho style, is annoying sometimes, no- it is absolutely embarrassing! - but he is sooo sensitive, unlike the typical Englishman!"

Elaine merasa bahwa dia sudah jatuh cinta. Maka esok harinya dia temui lagi penyair dari Jogja itu. Seharian mereka berdiskusi, lalu sorenya, mereka berjalan-jalan ke fakultas senirupa dan desain ITB di mana ada beberapa kawan dan kenalan Jagger yang menjadi mahasiswa dan memiliki studio di situ. Pada diri Jagger dan kawan-kawannya, Elaine merasa mendapatkan sekutu. Bila dia dulu melawan Margaret Thatcher, maka Jagger dan kawan-kawannya melawan Suharto. Elaine mencatat di lain hari:

"He says he fights for democracy in his country. I told him about our struggles for our rights in Britain. I told him of the closing of the coal mines up North. I told him of the anti-nuclear protests and the police brutality. Just because Britain is a rich country, it doesn't mean that it is a true democracy. People are herded like sheep by the media, which is run by the big businesses.....I told him that his country was lucky because it had tradition, but he thinks that the traditions are fading fast...."

Akhirnya, ketika Jagger memutuskan pulang ke Jogja, Elaine mengikutinya. Dan setelah dia kembali ke Bandung, dia selalu memikirkannya, menyuratinya, dan mendatanginya setiap kesempatan. Elaine mulai menantikan saat-saat cuti dengan penuh harapan. Bahkan, akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri kerja sebagai relawan, padahal seharusnya masih kurang enam bulan dia tinggal di Bandung.

Percintaan dengan Jagger dihayatinya sebagai satu peristiwa alam yang murni dan surgawi. Mereka bepergian menyusuri pantai selatan Jogja yang Purba, mengendarai Honda C-70 merah karatan buatan tahun 1969, dan menginap di rumah penduduk ataupun tidur diselimuti langit berbintang ditemani api pendian.

" This is our love life, intellectual discussions by the magical South coast of Java. Ganja and guitar music by camp fires. Fresh fish, papaya and rambutans, exotic vegetables and young coconut juice .... Jagger, -his name is from the front man of the Stones- is the most sensitive and gentle lover I have ever had. I strongly feel that I want his baby .... I hope that I am not turning in to a hippy.

Jagger sendiri, pada awalnya tidak begitu memperhatikan ataupun memikirkan perasaannya pada wanita bule yang mungil dan manis itu. Dia tidak terbiasa menghargai perempuan sebagai individu. Sebagai ibu, sebagai guru, sebagai kekasih, itu dia bisa menghayatinya. Namun menghayati perempuan sebagai pribadi yang unik dan sah dan indah, agak sulit baginya. Jalanan Jogja dan Jakarta tempat dia besar, adalah tempat yang sangat didominasi nilai-nilai keperkasaan pria. Keras dan jantan. Namun dibalik kerasnya, dia juga berjiwa pangeran kecil, manja, romantis dan pemimpi yang angkuh.

Pada kawan-kawannya Jagger pernah membual bahwa baginya, cewek bule pada dasarnya lain daripada cewek Indonesia, terutama dalam soal sex. Banyak sudah pengalamannya bercinta dengan cewek bule, dan selalu saja percintaan itu diawali dengan sex. Sedangkan cewek Indonesia harus didekati dulu untuk waktu lama, baru bisa diajak tidur. Itupun dengan jalan yang berputar-putar dan berkelok-kelok, menahan siksa berahi. Pada generasi Jagger, terutama di kalangan kawan-kawannya di Jogja dan di Jakarta, kalau berpacaran serius dan mendalam hampir pasti berhubungan sex. Sedang dengan cewek bule, yang mau diajak tidur tanpa harus serius pacaran bukan perempuan bodoh saja.

Sewaktu masih menjadi wartawan tabloid, banyak juga cewek Indonesia yang kepingin jadi artis dan berusaha tidur dengan wartawan untuk memperoleh kemajuan di dalam karirnya, namun Jagger tak tertarik dengan mereka, karena umumnya mereka berpandangan dangkal, picik, menyedihkan dan memuakkan. Oleh karena itu, belum banyak pengalaman Jagger bercinta dengan cewek Indonesia, dibandingkan dengan dengan cewek bule. Sekali dia pacaran dengan gadis Jogja. Itu di waktu dia masih di SMA, dan percintaan itu berakhir dengan Jagger menderita patah hati.

Sahabat-sahabatnyanya waktu itu, beranggapan bahwa dia harus "dibaptis" dengan cara melacur, supaya sembuh patah hatinya. Begitulah nasib keperjakaan Jagger Melayu yang besar di Jogja, yang di tahun 1980-an merupakan kota dengan populasi pelacur yang tinggi dan tersedia selama 24 jam.

Di antara sebagian masyarakat pria, kebiasaan melacur dilakukan bagai kewajaran, bahkan kebutuhan. Jagger mencoba dan mencoba lagi, namun tak bisa menikmati berhubungan dengan pelacur. Hatinya kering dan kesepian. Sebagai seorang yang berjiwa romantis dia kepingin memiliki hubungan yang hangat dan mesra, bukan transaksi yang dingin. Jadilah Jagger tertarik dengan gadis-gadis asing yang lebih terbuka pada sex dan cinta. Apalagi Jogja sudah menjadi tempat persinggahan beberapa generasi pelancong dari Barat dalam perjalanan tradisi mereka, dari atau ke Asia daratan.

Elaine sendiri bukan bagian dari para travellers. Dia datang ke Indonesia sebagai relawan, mengikuti sebuah organisasi yang memasok relawan ke seluruh dunia. Dia memilih Indonesia karena beberapa hal. Pertama; letaknya jauh dari Inggris. Elaine sudah bosan dengan apa-apa yang dari Inggris. Indonesia adalah satu negara yang menarik hatinya. Kedua; dia sudah bosan dan gerah dengan kariernya di dunia pertelevisian Inggris yang keras dan penuh intrik. Bukannya dia ingin beralih karier. Tetapi, dia membutuhkan istirahat, membutuhkan pengalaman yang lain, dan ingin berbuat sesuatu yang berguna.

Menurut laporan Amnesty International, Indonesia memiliki banyak narapidana yang dipenjara dan disiksa karena menyuarakan nurani mereka. Elaine membayangkan bisa sedikit banyak mengadakan kontak dengan para aktivis demokrasi di Indonesia, dan berbuat sesuatu untuk perjuangan kemanusian. Itu alasan pembenarannya. Tetapi alasan yang paling penting dan sejujurnya, Elaine memilih Indonesia karena di negeri itu ada pulau Bali, pulau yang berbudaya tinggi, tujuan berlibur trendy orang-orang kaya dan para bintang, dan lokasi pemotretan dunia fashion.

Dari sungsum tulangnya Elaine benar-benar membutuhkan suatu liburan yang mengesankan, bukan hanya karena dia sangat letih diperas bekerja, di atas itu, dia baru saja patah hati, dikecewakan mendalam oleh kolega pria yang dipacarinya dan sangat dicintainya. Jadilah dia bekerja sebagai relawan pada sebuah organisasi di Bandung.

Elaine memiliki naluri kuat untuk membedakan yang baik dan yang buruk. Demokrasi lebih baik dari otoriterisme. Vegetarian lebih baik daripada carnivora. Natural lebih baik daripada sintetis. Melawan adalah lebih baik daripada diam dianiaya. Elaine tertarik kepada Jagger karena Jagger tidak diam dianiaya, bahkan dia menyeru-nyeru mengingatkan dengan sajak-sajaknya. Rekaman perasaan was-was:

Seperti angin kemarau
Seperti hutan terbakar
Setiap detik mendentam
Bertubi - tubi

Pengalaman kehilangan pekerjaan sebagai wartawan dengan cara kekerasan yang sangat serta merta, membekas di dalam batin Jagger. Terlihat jelas di dalam sajaknya yang lain:

Hati rawan di dalam kabut
Histeria di dalam kalut
Gugur karang di dasar laut
Sia-sia!

Kemarahan Jagger terhadap kecenderungan kehidupan kapitalistik yang konsumeristik, yang mengakibatkan exploitation de la homme par la homme juga tergambar, meski secara abstrak, dalam sajaknya yang lain dari waktu itu:

Jerit jutaan orang yang bisu
memantul di bukit-bukit:

Aniaya!
Aniaya!
Orang merampok Allah dari Hak-Nya!

Banyak sajak-sajak seperti ini yang dibuat Jagger saat berpacaran dengan Elaine. Setelah membebaskan diri dari tugas-tugas di Bandung, Elaine dengan bersemangat datang ke Jogja dan mengajak Jagger jalan-jalan menjelajahi Indonesia.

Mengendarai kendaraan umum mereka berjalan-jalan ke Solo, lereng gunung Lawu, Pacitan, Malang, Bromo, lalu ke Bali, Lombok, Sumbawa, sampai menyeberang ke Flores. Setiap malam, bila mereka menginap di losmen kecil ataupun di alam terbuka, di dalam sleeping bag, ataupun di atas kasur berkepinding, selalu saja Elaine menyempatkan diri mengisi buku hariannya. Itu membuat Jagger cenderung berbuat yang sama, menggoreskan pena dan menulis. Apalagi, menurut Elaine, lelaki yang menulis puisi menunjukkan bahwa jiwanya lembut. Elaine selalu meminta Jagger membacakan sajaknya:

"Bahasa is such a musical language!" kata Elaine, suatu ketika setelah Jagger membacakan satu puisinya yang berirama. Mereka berada di atas sebuah bukit di desa Senaru, di kaki gunung Rinjani di Lombok, saat malam kemarau dingin, api unggun kayu kering. Langit sangat terang dengan bintang-bintang amat padat. Elaine menulis sambil duduk bersila :

"I am in love with a poet who writes in a mysterious language: poems of protest and anger. He never writes about me. Why? He says he loves me. Should I worry that I never feature in his poetry?...Tonight is so beautifull, I have never seen so many stars in the sky! This entry, I am writing by the light of the stars!"

Bila dia bertanya kepada Jagger, selalu Jagger menjawab bahwa dia mencintainya. Namun, kenapa tak pernah Elaine dibuatkan sajak oleh Jagger? Setelah lama berpacaran, Jagger mulai memikirkan perasaannya kepada Elaine. Apakah dia mencintai gadis itu? Dia sendiri tidak mengerti. Yang jelas, dia tidak terdorong untuk menulis puisi untuk Elaine. Dan Jagger sudah lama belajar bahwa menulis puisi yang tidak berasal dari dorong batin adalah usaha sia-sia yang pada akhirnya akan memalukan penyairnya saja.

Suatu senja, saat matahari terbenam, mereka duduk di dek kapal kecil berawak empat orang dan berpenumpang enam orang, yang berangkat dari Sape di Sumbawa menuju ke Labuhan Bajo di Flores, namun sengaja berlabuh di lepas pantai pulau Rinca, untuk bermalam menikmati pemandangan laut nan indah. Awak kapal membuang kail dan memasak nasi di bagian belakang kapal itu, dan Elaine bersama Jagger mengagumi warna laut yang di sinari berbagai gurat cahaya kuning emas, jingga, dan merah api dari matahari yang membesar saat tenggelam di ufuk Barat.

Langit berawan, tinggi dan tipis bergaris-garis. Di bawah lapisan awan tipis itu, ribuan kelelawar raksasa beterbangan menuju ke arah Barat, menyeberangi langit yang membentang. Laut berkilau berpendar seiring gelombang-gelombangnya yang tenang. Kepak-kepak sayap terdengar jelas, apalagi banyak di antara kelelawar raksasa tersebut terbang rendah. Malam datang, dan cahaya matahari perlahan lenyap ditelan cakrawala, digantikan jutaan kerlip hewan fosfor di laut, tak terhingga indahnya, bagai sutra gaib bertatah permata dimainkan ribuan bidadari di atas permukaan gelombang laut yang tenang.

"I love you, Elaine."
"Hm?"
"I said I love you. We get married. OK?"
"OK. We will get married."
"As soon as possible?"
"Cool."
***
bersambung


ceritanet
kirim tulisan
©listonpsiregar2000