sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 259, 17 mei 2016

Tulisan lain

Dari Kehidupan Para Jutawan 8 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Bercerai - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 24 - Aminatul Faizah

Antibes

Ibu Izin Membaca Buku Di Sini, Rabu-Rabu* Saja - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 7 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Kawanku dan Aku - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 23 - Aminatul Faizah

Rochester

Joey, Rio, Media, dan Menpora - Liston P Siregar

Siapa Takut Kawan! - Bela Kusumah

Hampa - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 6 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Teheran Dalam Stoples 22 - Aminatul Faizah

Bradford upon Avon

Kenangan - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 5 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Teheran Dalam Stoples 21 - Aminatul Faizah

Leeds

Musim Dingin - Liston P Siregar

Tubuh Miskin - Jajang Kawentar

Dari Kehidupan Para Jutawan 4 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Kesabaran - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 20 - Aminatul Faizah

bradford

Lelaki dan Kebunnya - Tosca Santoso

Dari Kehidupan Para Jutawan 3 - VictoriaTokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Penerimaan - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 19 - Aminatul Faizah

Essex

komentar "Itu Maleo, Nak. Bukan Ayam Besar. Jangan Dimakan Lagi!"
Arifah Nurgaheni

Siang yang cerah di minggu kedua di bulan Mei, trio Manuru sudah bermain di rumah kami. Saat kami bertiga akan memasak. Mereka bertiga bermain hula hop, tertawa riang begitu lincah.

“Rumah ini sudah mirip tempat penitipan anak, kita sekarang punya anak piara 3 orang”, unkap Linda sembari melihat atraksi ketiga bocah itu.

Sudah beberapa menit Henny mencoba menyalakan kompor minyak, hampir menyerah karena tidak mau menyala. Aku mencari tahu apa yang terjadi. Mataku menyapu ke dalam kompor, minyaknya masih banyak.

Ah, betul sumbunya sudah usang.

Indonesia Timur memang masih menggunakan kompor minyak. Konversi bahan bakar gas tidak menyentuh wilayah ini. Kota Ternate yang notabene adalah jantung Maluku Utara saja tidak tersentuh bahan bakar gas.

Semenjak pindah ke Morotai kami betiga belajar menggunakan kompor minyak. Aku kira menggunakan kompor minyak tidak akan rumit. Tapi ternyata perlu perawatan rutin setiap minggu agar api yang dihasilkan bagus. Agar makanan cepat matang. Kami bertiga tidak tahu harus melakukan apa.

“Wah, ibu pe kompor musti dikasih bersih, harus tong bongkar!” kata Ical saat ikut nimbrung melihat kompor.
“Memangnya kamu bisa?”
“Tentu ibu, mama pe kompor juga saya yang kasih bersih setiap minggu”

Dia angkat kompor ke depan rumah agar minyaknya tidak mengotori lantai. Berbekal gunting dan lap dia memulai pekerjaannya. Mula-mula membuka besi penopang alat masak, lalu mengeluarkan komponen dalam kompor, termasuk mengentaskan pengait sumbu beserta sumbu-sumbunya. Dia potong bagian sumbu kompor bagian hitamnya yang sudah usang dimakan api sampai terlihat rapi lagi.

Aku menyusul ke teras sambil membawa majalah satwa. Edisi ini membahas tentang Taman Nasional Baluran di Banyuwangi: Jawa rasa Afrika.

Sudah sejak lama aku ingin mengunjunginya.

Banyak burung rangkok

Selagi Ical membersihkan kompor aku baca majalah ini. Sesekali aku tanyakan kepada Ical tentang satwanya, jika pas ada gambar satwa di ulasannya. Kami membahas apakah hewan-hewan itu juga ada di Morotai.

Pertama elang, jelas disini ada. Maskot kabupaten ini elang laut. Sekitar pukul 09.00-12.00 WIT biasanya elang-elang terbang di atas pedesaan, kadang mereka terbang di antara kebun kelapa di pinggir pantai, kadang juga di antara pohon-pohon besar sepanjang jalan kabupaten.

Mereka biasanya keluar dalam jumlah besar dan baru-baru ini bersama dan Henny melihat mereka ke luar sekitar 50 ekor lebih. Terbang meliuk-liuk dengan gagah, menukik di jalan raya, kadang mereka seperti menghujam laut secepat kilat: pasukan pencari mangsa.

Selanjutnya kami melihat gambar burung rangkok bertengger di atas pohon dengan paruh yang besar dan indah. Aku bertanya lagi: “Apakah juga ada di sini?”

Jawabnya: ”Ada, itu di hutan masih banyak”.
“Luar biasa!”, pikirku.

Terakhir kami membahas tentang pantai dan terumbu karang. Di Taman Nasional Baluran juga ada spot pantai dan terumbu karang. Indah, sangat indah. Tapi Pulau Moroti juga, tidak diragukan lagi. Mutiara di bibir samudera Pasifik. Tanah Moro* yang begitu subur. Laut dengan banyak penghuninya: ikan yang melimpah dan terumbu karang yang indah.

Pemilik senja yang tiada duanya, bintang yang bertaburan, purnama yang kepalang terang, dan matahari yang begitu menyengat.

Betul, menyengat, bayangkan jika kau sedang di depan api yang berkobar ketika kau membakar sampah dan hadapkan langsung di depan wajahmu.

Kurang lebih begitu rasanya.

Terlepas dari mataharinya, pasir pantai paling putih mirip susu bubuk baru aku temui di sini. Pulau-pulau kecil di laut lepas sana mampu memanjakan kita dengan pasirnya dan airnya.

Satu minggu dalam sebulan, kita akan melihat purnama, inilah waktu paling tepat untuk mengail. Cumi, suntung, ubur-ubur, ikan menuju ke permukaan air laut. Bukan cuma itu, sore hari sebelum senja, air laut surut sekitar 50 meter ke arah lautan.

Inilah waktu yang tepat untuk melihat terumbu karang berwarna-warni dan -tidak perlu menyela- lihatlah sepuasmu dengan mata telanjang!

Pada saat seperti ini anak-anak banyak yang turun ke pantai untuk sekedar mengumpulkan ikan, kerang, bayi lobster, teripang, udang, kepiting, bahkan belut listrik.

Sekawanan lumba-lumba juga kadang muncul berenang mendekat ke pantai, bukankah aku begitu beruntung.

Tangisan ikan sudu**

Ada cerita sedih bulan Desember tahun lalu. Sore itu kami bertiga sedang berenang di pantai belakang desa. Kami diteriaki warga untuk segera menepi.

“Ada ikan sudu! ada ikan sudu! Naiklah ke darat, kalian bisa ditarik kelaut lepas oleh ikan itu!” mereka berteriak dan tergesa.

Dengan susah payah kami menepi secepat mungkin. Sekitar 30 meter di depan sana ada beberapa kapal nelayan mengejar ikan itu. Satu orang berdiri di depan kapal sambil memegang tombak. Ikan itu terus dikepung. Aku semakin penasaran dan berpikir sebetulnya ikan apa yang mereka kejar. Sebegitu mengancamkah ikan ini, hingga harus dibunuh?

Setelah pengejaran beberapa menit, ikan sudah tertangkap.

Dibawa menepi dengan perahu lalu diturunkan diatas aspal Morotai yang panas tersengat matahari. Menjadi tontonan warga bahkan pengguna jalan yang berhenti lalu menonton.

Aku menyelinap divantara kerumunan orang-orang, aku ingin memuaskan rasa penasaranku. Aku ingin melihat bentuknya. Oh, ini ikan duyung. Bukankah ikan ini dilindungi?

Terdiam dalam kerumunan, kakiku lemas melihat luka berdarah bekas sayatan tombak di punggung ikan tak bersalah ini, matanya mengeluarkan air yang mata membuatku ikut menangis juga.

Akhirnya ikan duyung diangkut dengan truk pasir menuju desa sebelah. Ketika diangkut dia belum mati: pastilah amat kesakitan. Paginya aku mendapat kabar bahwa ikan duyung kemarin disembelih lalu dimakan warga desa Mandiri.

Kata salah satu muridku, ikan itu terus menangis sebelum betul-betul dibunuh. Yang menyedihkan lagi ketika perutnya dibuka: dia mengandung bayi duyung. Ibu dan bayi ikan berharga ini mati sia-sia.

Aku masih tidak bisa percaya sampai saat ini. Aku menyimpan foto terakhir sebelum ikanvdiangkut, aku ingin mengabadikannya tapi aku enggan melihatnya lagi, dia terlihat begitu menyedihkan.

Aku hanya berdoa semoga masyarakat di sini menghentikan kebiasaannya menangkap ikan duyung, penyu, telur penyu, dan hewan lain yang dilindungi.

Kitorang bakar maleo

Kompor telah selesai dibetulkan, setiap incinya dilap oleh Ical hingga mengkilap. Kompor kami telah siap digunakan. Dia memang serba bisa, cerdas.

Kami membuka majalah kedua, kali ini tentang Sail Komodo di Nusa Tenggara Timur. Ketika aku membuka buku yang membahas tentang Sail Komodo, mereka teringat tentang Sail Morotai.

Tahun 2012 lalu pulau ini memiliki hajatan, Sail Morotai. Jalan aspal di depan rumah juga hasil perhelatan itu, pelabuhan di Daruba dipugar saat Sail Morotai, museum Perang Dunia II dibangun juga dan begitu pula museum Trikora.

Sail, acara cerdas dari pemerintah untuk mengangkat daerah kecil nan tertinggal agar berkembang dalam waktu singkat.

Karena majalah tentang Sail Komodo, maka isinya juga tentang komodo. Mereka kira kadal yang sama dengan yang ada di sini. Kami bercerita tentang komodo, katanya Ical akan ke sana suatu hari nanti. Lagi-lagi buku yang kami baca membahas tentang pantai dan segala hal yang behubungan dengan pantai.

“Pantai saya lebih bagus!”, itu yang selalu dia katakan.
“Indonesia memang bagus, Morotai memang bagus. Kita punya berapa laut di dunia, Cal?”
“Satu ibu.”
“Jangan dikotori ya, kamu tidak mau kan nantinya mandi air sampah?”
“Oh, tentu tidak, saya tidak buang sampah di pantai.”

Tibalah di halaman terakhir, ada potret seekor burung besar. Dia menggali tanah untuk dijadikan sarang, bulunya hitam mengkilap, kaki dan paruhnya berwarna merah. Dia menutupi sarangnya yang berbentuk gundukan dengan ranting-ranting kering. Matanya sangat tajam. Nama burung ini maleo.

“Cal, burung ini di sini ada tidak?”
“Oh, itu ibu. Itu paling banyak di hutan, dia pe telur paling sedap. Itu ayam besar yang baru-baru ini saya ceritakan, bu!”
“Ini yang kalian makan itu?”
“Iya ibu, dia pe daging paling besar, paling sedap, mari kitorang cari, kitorang bakar”
“Itu burung Maleo, nak. Bukan ayam besar. Jangan dimakan lagi! Maleo itu hewan yang dilindungi”

Aku kembali terkejut, salah satu spesies burung yang dilindungi ini masih diburu dan dimakan disini. Orang-orang selalu berkata bahwa burung ini masih banyak di hutan, jadi sah-sah saja jika dimakan.

Mereka tidak bisa disalahkan begitu saja karena ketidaktahuan tentang hewan yang dilindungi: bahwa ada hewan yang jika mereka tangkap maka mereka bisa dipidanakan.

Tingkat literasi di Kabupaten Morotai masih rendah. Tidak adanya sosialisasi tentang hewan dan tumbuhan yang dilindungi juga menjadi salah satu sebab. Kebiasaan salah yang diwariskan terus menerus kepada setiap generasi tanpa ada kesadaran baru.

Dua majalah satwa ini sangat membantu. Bayangkan jika ada lebih banyak buku tentang segala sesuatu tentang Indonesia yang dikirim ke sini. Akan ada lebih banyak anak-anak yang bisa membaca dan mendapat pengetahuan baru, termasuk tentang flora dan fauna yang dilindungi di Indonesia.

Untuk masyarakat yang hidup berdampingan langsung dengan hewan-hewan langka, pengetahuan itu akan sangat berguna. Jika masyarakat teredukasi tentang pentingnya menjaga alam dan hewan liar, pasti masa depan negara akan lebih baik lagi.

Semua orang Indonesia akan bisa mendapat banyak manfaat, mulai dari sektor pariwisata, ekonomi hingga kelestarian flora dan fauna. Tidak ada lagi kisah-kisah kebakaran hutan, kisah-kisah banjir tahunan, kisah-kisah kekeringan yang mencekik warga, kisah-kisah tanah longsor, atau bahkan kisah air laut yang menyumbang air rob.

Dan setidaknya tidak akan ada lagi orang utan yang jadi peliharaan atau dijadikan hewan buruan, tidak ada lagi sisik penyu yang dijadikan bahan kosmetik, tidak ada lagi burung kakatua yang diselundupkan, tidak ada lagi ikan duyung yang dimasak, tidak ada lagi omelet telur penyu, dan tidak ada lagi burung maleo bakar!
***

*Moro: Suku tak kasatmata yang dipercayai masyarakat lokal sebagai pemilik Pulau Morotai.
**Sudu: Bahasa Galela yang berarti ikan duyung

ceritanet©listonpsiregar2000