sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 259, 17 mei 2016

Tulisan lain

"Itu Maleo, Nak. Bukan Ayam Besar. Jangan Dimakan Lagi!" - Arifah Nugraheni

Bercerai - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 24 - Aminatul Faizah

Antibes

Ibu Izin Membaca Buku Di Sini, Rabu-Rabu* Saja - Arifah Nugraheni

Dari Kehidupan Para Jutawan 7 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Kawanku dan Aku - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 23 - Aminatul Faizah

Rochester

Joey, Rio, Media, dan Menpora - Liston P Siregar

Siapa Takut Kawan! - Bela Kusumah

Hampa - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 6 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Teheran Dalam Stoples 22 - Aminatul Faizah

Bradford upon Avon

Kenangan - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 5 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Teheran Dalam Stoples 21 - Aminatul Faizah

Leeds

Musim Dingin - Liston P Siregar

Tubuh Miskin - Jajang Kawentar

Dari Kehidupan Para Jutawan 4 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Kesabaran - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 20 - Aminatul Faizah

bradford

Lelaki dan Kebunnya - Tosca Santoso

Dari Kehidupan Para Jutawan 3 - VictoriaTokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Penerimaan - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 19 - Aminatul Faizah

Essex

novel Dari Kehidupan Para Jutawan
Victoria Tokareva
Penerjemah: Victor Pogadaev

Kami kembali ke rumah. Selama kami berada di luar, telah datang kawan wanita Madelaine dengan suaminya yang bernama Charles.

Semua duduk di meja. Pembantu rumah tidak kelihatan. Mungkin dia di dapur menyediakan hidangan dan sesudah itu langsung pulang.

Yang dihidangkan ialah ayam hutan yang ditembak pagi tadi di hutan. Yang memburu tentunya bukan Madelaine: di antara banyak pembantu rumah, ada seorang yang dikhaskan kerjanya sebagai  pemburu.

Di makanan sampingan  aku melihat pure dari bayam dan daun bawang. Kedua-dua makanan itu memang baik untuk kesehatan.

Pai apel dibawa oleh kawan wanita yang bernama Francoise. Matanya seperti bunga violet: biru dengan bagian tengah yang kuning. Dia bekerja sebagai bidan di rumah bersalin. Dia periang orangnya dan senyuman tak pernah luput  dari wajah bulatnya, seakan-akan sedang  menunggu orang lain mengucapkan: "Alangkah menarik matamu!" Dan semua orang  berkata begitu.

Aku selalu pikir bahwa para jutawan berkawan hanya dengan jutawan lain. Ternyata mereka berkawan dengan siapa  saja yang disukainya.

Charles  berbicara lebih banyak dari orang lain tetapi aku tak mengerti apa-apa. Bahkan topik bicaranya aku tidak paham. Dan hal itu aneh sekali.

Kalau Maurice berbicara aku mengerti hampir seratus persen, lain pula Charles, tak sepatah kata pun aku paham. Jadi aliran pikiran kami saling bertentangan. Dia itu bukanlah  orang yang sejiwa denganku.

Francoise ketawa kecil tetapi aku tidak mengerti apakah dia seorang intelek atau tidak. Dia bisa saja jadi pandai tetapi mungkin juga bodoh. Penampilannya membayangkan kedua-dua kemungkinan itu.

Maurice dan Madelaine tidak memandang antara satu sama lain dan tidak mesra pula. Aku menerka, Maurice tidak merahasiakan cintanya pada Etiopa dan tidak mau berpura-pura.

Madelaine dalam keadaan itu ada dua pilihan. Menerimanya seperti kenyataan demi status istri seorang jutawan dan berkelakuan seperti tak terjadi apa-apa. Dan pilihan kedua: berkelahi, membantah, membela ke bagiannya hingga ke titisan  darah terakhir.

Madelaine memilih yang ketiga: meninggalkan rumah di kota dengan berpindah ke bungalo dan dengan diam menyimpan dendam.

Sepanjang jamuan makan, dia kadang-kadang mengangkat matanya yang penuh kebencian dan melemparkan kata-kata yang sedikit kurang sopan. Maurice pula yang membentak pendek. Dia  tidak merasa salah. Bukankah dia tuan yang memiliki kehidupan sendiri. Dan perasaannya adalah juga miliknya sendiri.

Sesudah makan pai, semua pindah ke tempat perapian. Tempat itu dilapisi dengan batu kasar yang seakan-akan dipahat pada sebuah gunung.

Dekat tempat perapian terdapat pintu kecil, seperti di gubuk ayah Pinoccio. Maurice membuka pintu dan aku melihat deretan rak dari besi dengan potongan kayu. Potongan kayu itu diatur bukan secara sembarangan tetapi berupa satu huruf. Ada orang yang menyusunnya. Dari barisan pembantu rumah, ada seorang  pakar khusus untuk tugas itu.

Aku memandang potongan kayu yang disusun rapi itu dan air mata berlinangan di pipiku.
Pada saat itu Maurice membawa kayu ke tempat perapian dan membakarnya. Api dengan cepat menjilat kayu. Kayu itu benar-benar kering.

Aku memandang api dan air mata berlinangan dengan sendirinya. Mungkin aku menyesal karena kehilangan kopor. Atau mungkin aku meratapi kehidupanku, kehidupan Cinderella yang terhalang untuk datang ke pesta dansa.

Maurice dan Madelaine berbantahan, sementara di bilik kecil potongan kayu yang disusun membentuk huruf M sedang dikeringkan. Kayu itu tidak penting bagi mereka yang hidup berlatar belakang wilayah ladang  luas, kolam renang yang biru, dan bunga mawar yang kekuning-kuningan.

Aku coba menyembunyikan tangisanku tetapi tidak berhasil dan tangisan itu dianggap orang sebagai tanda kekurangajaran. Aku diundang datang, diberi penghormatan, dihidangkan makanan lezat. Mengapa aku berkelakuan demikian?

Menangis itu kurang sopan. Kalau kau ada masalah pergilah ke dokter psikiatri, membayar tujuh puluh dolar dan biarlah dia yang menolongmu.

Seandainya aku menangis di rumah orang Rusia, aku pasti dikasihani dan ditanyai, apa yang terjadi, dan diberi nasehat. Orang Rusia sedia bertenggang rasa, karena merasa diperlukan bersama.

Di sini sama sekali lain. Maurice mengerutkan kening dan berpaling ke api. Madelaine menjauhi aku seakan-akan ada urusan rumah tangga. Charles dan Francoise berkelakuan seakan-akan tak terjadi apa-apa. Charles terus bercakap sedangkan Francoise, yang menggerakkan bahunya dengan mata birunya tetap bersinar.

Dan aku juga berpura-pura tak terjadi apa-apa.

Aku menjilat air mata dengan lidah di bawah dagu dan menyekanya dengan telapak tangan. Sesudah itu aku tersenyum kepada api dan kepada Maurice. Dan sedia menjawab atas semua pertanyaan tentang keadaan di negaraku.

Ya, perestroyka. Revolusi yang begitu lama dibicarakan orang Bolshevik, telah dibatalkan. Dan sekarang kami akan menempuh jalan lain. Dunia kejam kami runtuhkan hingga ke akar dan dunia baru akan mulai. Kami akan mempunyai jutawan sendiri, tempat perapian sendiri , dan mendapat kesempatan menikmati ketika memandang api hidup.

Tetapi sekiranya seseorang di antara kami menangis, maka kami tidak berpaling muka melainkan mecoba menghibur dan menenangkannya.

Maurice menoleh pada arloji. Tampaknya seperti mau cepat pergi ketemu Etiopa.

Dia tertawan oleh tubuh perempuan yang berusia dua puluh lima tahun itu, oleh jeritan dan bisikan nafsu berahi. Kelebihan Madelaine adalah tiga puluh tahun kehidupan berumah tangga, dan kelebihan Etiopa tidak memikirkan tiga puluh tahun kehidupan berumah tangga.

Segala-galanya baru bagi Maurice. Ya, baru seakan-akan dia lahir semalam saja.

Ketidaksabaran Maurice berjangkit kepadaku pula. Aku ingin cepat meninggalkan tempat di mana penghinaan, kebanggaan, dan kebencian Madelaine melayang-layang di atas kepala kita.

Kami naik Jaguar. Dan terus melajun. Kami berdua diam membisu, tetapi berpikir tentang  hal yang sama.

"Madelaine baik orangnya," kata aku.
"Ya, sangat baik."
"Kau mengasihani dia."
"Ya, benar. Tetapi aku mengasihani diri sendiri juga."
"Apakah tidak mungkin melayani kedua perempuan itu?"
"Aku tidak ada waktu untuk dua perempuan. Aku selalu sibuk bekerja. Kalau kau tanya, siapa sahabatku, aku menjawab: pekerjaan."

Aku merenung: apa artinya kerja bagiku?

Sebenarnya aku menkah dengan karierku. Adalah karier  yang memberi nafkah hidup kepadaku, menghiburkan, memberi peluang melawat ke tempat lain dan berkenalan dengan orang lain pula, termasuk Maurice.

Siapa aku tanpa kerja? Perempuan yang lanjut usia.

Sebaik-baik saja aku menunduk kepala di atas kertas yang putih maka ternyata tiada orang lain setara denganku.

"Dan jikalau Anestezi mengambil risiko, apakah dia berpeluang menjadi bagian dari kehidupanmu?" tanyaku.

Maurice memerhatikan nada pertanyaan dari suaraku dan kata 'Anestezi'. Dia diam sebentar dan berkata:

"Bisa jadi. Sekiranya begitu, aku bertanggung jawab atas dirinya."

Siapa pun yang tidak berani mengambil risiko maka tak jadi berjaya.

Anestezi tidak mendapat apa-apa, dan Maurice melintasi di sampingnya seperti hujan miring. Lebih tepat, Anestezilah yang berlalu di sampingnya. Perhubungannya dengan lelaki lain sebenarnya hanya karena bertengkar dengan sekretaris suaminya.

Penerjemahku ini mudah tersinggung hati orangnya. Dia berpikir hanya tentang suaminya, yang bersamanya memiliki seorang anak perempuan dewasa. Suami adalah  kekasihnya juga tetapi akhir-akhir ini dia hanya menafkah hidupnya dan keluarga terdekat.

Tampaknya dia tidak mencintai Anestezi sebagai perempuan lagi tetapi tetap mencintainya sebagai istri. Bagi Anestezi itu tidak cikup. Dan karena itu dia mencuranginya. Bagai menegakkan jati dirinya, dia mengasah kukunya seperti seekor kucing pada kaki dipan.

Tetapi kecemasan dalam hati tidak berlalu. Luka tak pernah sembuh. Dia tak bisa mengubah apa-apa dalam kehidupannya. Langsung, tiada apa-apa. Tentu dia bisa meninggalkan suaminya dan memilih kebebasan.

Tetapi apakah kini dia tidak bebas? Satu-satunya jalan keluar dengan jatuh cinta lagi. Tetapi itu tidak mungkin karena dia amat mencintai suaminya.

Keadaan Madelaine seperti biasa tapi perilaku Madelaine sendiri sama sekali berubah. Dia tidak mau berlaku curang. Madelaine dari golongan bangsawan. Tetapi apakah itu akan mengubah keadaan?

Kami sampai di Paris.

Maurice menghentikan mobil dan membuka pintu belakang.

Etiopa seperti kupu-kupu hitam dengan cepat masuk mobil. Tampaknya mereka sudah berjanji.

"Sofie," kata Etiopa dan mengulurkan tangan hitam dengan telapak yang merah jambu.

Aku memperkenalkan diri juga.

Kami berjalan beberapa waktu dan keluar dekat stasiun kereta api. Sesudah itu naik ke tingkat dua dan duduk di warung kopi kecil tempat kami bisa minum anggur, wiski, dan makan kacang asin.

Aku tidak mengerti mengapa Maurice memilih warung di stasiun itu. Kemudian baru aku paham: Maurice berumah tangga, menduduki tempat kehormatan dalam masyarakat dan tidak bisa tampil dengan kekasih hitam di restoran mewah.

Itu yang akan menjadi tantangan. Sekiranya dia kaya seperti Rothschild, dia bisa mengendahkan pandangan umum dan membuat APA SAJA sesuka hati. Uang adalah lebih tinggi kedudukannya dari moral, tepatnya: uang ialah moral paling utama. Nilai  uang adalah  SANGAT besar maknanya.

Sofie memang serupa Sophia Loren, hanya lebih kecil dan lembut. Orang cantik tidak mempunyai kebangsaannya. Tetapi wanita Etiopia tahu tempat mana yang dia inginkan dan tidak akan berpindah. Jadi, hati-hatilah Maurice!

Sofie hampir tidak menaruh perhatian kepadaku. Dia sibuk melayani Maurice: memegang tangannya dan tidak berpindah matanya dari Maurice.

Di telinganya yang hitam dan kecil, berlian bersinar cemerlang seperti titik embun. Dia memakai penutup bahu dari bulu rubah perak. Bulu itu berselang dengan kulit dan ketika Sofie berjalan atau menggerakkan bahunya, bulu itu juga bergerak  seperti rubah hidup. Luar biasa indahnya!

Begitulah pakaian kekasih seorang jutawan.
***

bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000