sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 258, 7 april 2016

Tulisan lain

Ibu Izin Membaca Buku Di Sini, Rabu-Rabu* Saja - Arifah Nugraheni

Kawanku dan Aku - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 23 - Aminatul Faizah

Rochester

Joey, Rio, Media, dan Menpora - Liston P Siregar

Siapa Takut Kawan! - Bela Kusumah

Hampa - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 6 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Teheran Dalam Stoples 22 - Aminatul Faizah

Bradford upon Avon

Kenangan - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 5 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Teheran Dalam Stoples 21 - Aminatul Faizah

Leeds

Musim Dingin - Liston P Siregar

Tubuh Miskin - Jajang Kawentar

Dari Kehidupan Para Jutawan 4 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Kesabaran - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 20 - Aminatul Faizah

bradford

Lelaki dan Kebunnya - Tosca Santoso

Dari Kehidupan Para Jutawan 3 - VictoriaTokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Penerimaan - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 19 - Aminatul Faizah

Essex

novel Dari Kehidupan Para Jutawan
Victoria Tokareva
Penerjemah: Victor Pogadae

Di Etiopia wabah penyakit sedang merebak dan orang mati kelaparan, tapi di Paris ada seorang jutawan dengan kehidupan yang nyaman.

Itu di Etiopia namun Etiopa menawan Maurice dengan usia mudanya dan penuh cinta berahi.

Etiopa menangkap 'zizi' Maurice (zizi dalam bahasa Prancis berarti kemaluan lelaki). Dia menjepit zizi Maurice dengan 'celah'nya yang hitam di luar dan merah jambu seperti buah ranum di dalam. Dan setiap kali dia berusaha dengan tekun seperti menempuh ujian, diperagakan kebisaannya.

Mungkin segalanya terjadi dengan cara yang lain. Tetapi pada umumnya sama.

"Apa kerjanya?"
"Peragawati. Top-model."

Oke, wabah dan kelaparan bukan halnya. Kiranya dia seperti boneka yang mahal, tidak sedikit perempuan sundal yang menemani para jutawan dalam perjalanannya. Sekarang perempuan mulato amat populer, mereka itu dipanggil 'cafe o le'. Kopi susu.

Tetapi mungkin aku salah dan gadis muda itu adalah insan biasa yang sangat sibuk. Top-model mendapat uang yang banyak dan dia tidak membutuhkan uang jutawan. Namun uang tambahan selalunya diperlukan. Model kelas tinggi merupakan bidang karier yang membutuhkan usaha yang berat.

Etiopa tampak letih bagaikan seekor kuda. Untuk apa 'studio' kalau dia sudah mempunyai bungalo sendiri. Dalam hal itu mengapa dia harus berteman dengan  Maurice yang sudah  berusia enam puluh tiga tahun?

Tetapi aku belum tahu Maurice  yang sebenarnya? Bak kata seorang penyair: "Pada usia tua, cinta kita lebih lembut dan berperasangka".

Tak mustahil Maurice mampu memperlihatkan keajaiban dalam seks dan bukan si gadis muda itu. Mungkin Maurice baginya adalah SEGALA-GALANYA: ayah, kekasih dan pembela. Mestilah. Gadis itu sendirian di sini, keluarganya jauh.

"Berapa usianya?" tanyaku sambil mengembalikan fotonya.
"Dua puluh lima."
"Dan istri?"
"Lima puluh."
"Kau bernikah karena jatuh cinta?"
"O, ya… Cinta kami dulu memang besar. (Grande amour.) Seperti air terjun Niagara."
"Dan ke manakah Niagara itu mengalir hilang?"
"Entah," Tak tahu.

Asmara selalu hilang entah ke mana. Itu tragedi nomor dua. Kederasan hidup dan kehilangan cinta. Tetapi itu norma kehidupan. Manusia lelaki cenderung kepada poligami menurut nalurinya. Di dunia binatang hanya serigala dan burung angsa yang setia pada  pasangan tetap. Yang lain berpasangan hanya untuk sementara bagi menghasilkan keturunan. Dan sesudah itu berpisah. Dan tak ada masalah.

Aku mengira-ngira dalam pikiranku jumlah perempuan yang berada dalam kehidupan Maurice: istri pertama, istri kedua, Anestezi, Etiopa.

Apakah untuk orang berusia enam puluh empat tahun itu banyak? Mungkin banyak. Tetapi bisa diterima. Di antara kenalanku, ada dalam waktu sebulan mempunyai lebih banyak perempuan ketimpang  Maurice yang berusia  enam puluh tahun lebih.

Jalan raya dilintasi oleh seekor rusa.

"Kita sudah sampai," kata Maurice.

Mobil membelok ke ladang dengan sebuah bungalo.

Bungalo itu terbangun di wilayah yang sama luasnya dengan seluruh propinsi Kaluga di Rusia. Maurice telah menanam  modal untuk membeli tanah. Di sekeliling ada hutan, sungai dan kincir lama. Tanahnya tidak dipagari karena terlalu luas.

Bungalo sederhana tetapi kuat itu –kesederhanaan seorang jutawan– dicat putih. Rancang serupa huruf L, setiap sayapnya kira-kira tiga puluh meter. Gayanya seperti rumah petani yang mencerminkan nostalgia Maurice terhadap masa silam dan akar tradisinya.

Maurice keluar mobil. Serentak seekor anjing putih berbintik kelabu dan besar seperti anak sapi lari menghampirinya dan meletakkan kaki depannya pada bahu Maurice. Maurice  mulai membelai-belainya dengan lembut dan mengamitkan sesuatu. Menarik sekali pada pandangku. Kasih mereka tampak jujur dan ikhlas.

Kami masuk rumah dan disambut oleh istri Maurice, perempuan kecil yang bertubuh ramping, kelihatan masih muda, tetapi wajahnya kurang ramah. Dia seperti wanita bangsawan Georgia meskipun rambutnya coklat, bukan hitam.

Dia mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri. Aku ikut berbuat demikian. Madelaine dengan perlahan  memberitahu bahwa dia pernah membaca buku tulisanku. Buku itu dihadiahkan oleh Anestezi. Buku itu menakjubkan dan meninggalkan kesan sebab itulah Madelaine hendak berkenalan dan berbicara denganku.

Dia memaparkan pikirannya secara sopan seperti di jamuan resmi. Aku mendengar dengan memiringkan kepala coba menangkap kata-kata dan pada umumnya mengerti apa dikatakannya.

Bahkan aku mengerti lebih banyak dari dikehendakinya: Maurice tidak membutuhkan lagi tubuh dan cintanya. Dia membelai-belai perempuan Etiopia yang hitam seperti gagang telepon. Madelaine lambat laun akan menjadi tua. Walaupun belum tua tetapi dia sudah tidak dibutuhkan lagi.

Maurice berdiri di sebelah. Madelaine tidak mau memandangnya. Dengan itu dia memperlihatkan sikap acuh tak acuh dan berdiam. Maurice berpura-pura tidak menyadari sikap istrinya itu.

Madelaine membawaku meninjau rumah kacanya. Dia menanam tiga puluh jenis bunga floks dan sepuluh jenis bunga mawar.

Floks itu berkembang dengan puspa warna, ungu muda dan jingga, putih dan hitam, berlapis-lapis biasanya. Madelaine berhenti pada setiap bunga seakan-akan bunga itu makhluk hidup.
Aku sendiri tak berapa minat terhadap bunga. Aku suka musik dan buku. Tetapi aku faham, aku tak bisa sekali-kali memperlihatkan rasa jengkelku dan karena itu kubuka mata lebar dengan kagumnya.

Tetapi aku tiba-tiba tercengang apabila terpandang mawar hitam. Mawar hitam tanda kesedihan. Kecantikan meriah dan ngeri membeku dalam bunga itu.

Sesudah meninjau rumah kaca, Madelaine membawaku ke kolam renang. Dasarnya dilapisi dengan ubin biru dan air kelihatan biru seperti batu zamrud.

Aku terbayang bagaimana di waktu pagi dia yang rapi dan kecil masuk ke kolam dan berenang dengan gerakan renangnya membayangkan kesedihannya. Sesudah itu dia menggunting mawar yang kekuning-kuningan dan menyusunnya ke vas. Atau pun ke dalam bekas perak.

Aku menumpahkan kesedihanku ke dalam buku, dia – ke dalam bunga. Ada baiknya jika ada tempat ke mana kesedihan itu bisa ditumpahkan. Tetapi mungkin juga mawar atau buku tidak dibutuhkan sama sekali. Segala-galanya itu bisa diganti dengan kesetiaan… Menarik menanyakan Madelaine apa yang dia akan pilih: kekayaan atau cinta.

Wajahnya seakan-akan tertutup. Kemungkinan besar jawabnya, dia menghendaki kedua-dua: kekayaan dan cinta. Roti dan mawar.
***

bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000