sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 257, 10 maret 2016

Tulisan lain

Joey, Rio, Media, dan Menpora - Liston P Siregar

Siapa Takut Kawan! - Bela Kusumah

Hampa - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 22 - Aminatul Faizah

Bradford upon Avon

Kenangan - Chairil Anwar

Dari Kehidupan Para Jutawan 5 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Teheran Dalam Stoples 21 - Aminatul Faizah

Leeds

Musim Dingin - Liston P Siregar

Tubuh Miskin - Jajang Kawentar

Dari Kehidupan Para Jutawan 4 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Kesabaran - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 20 - Aminatul Faizah

Lelaki dan Kebunnya - Tosca Santoso

Dari Kehidupan Para Jutawan 3 - VictoriaTokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Penerimaan - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 19 - Aminatul Faizah

Essex

 

novel Dari Kehidupan Para Jutawan
Victoria Tokareva
Penerjemah: Victor Pogadae

Maurice pergi. Aku naik sepeda statis dan mulai mengayuhnya. Komputer di kemudinya menunjukkan jumlah putaran, denyutan nadi dan waktu. Aku bisa mengikuti segala angka petunjuk, dan bersamaan itu bisa juga melihat ke jendela.

Di luar musim luruh dan sebuah ranting bergoyang dilatarbelakangi  langit. Warna biru muda dan hijau. Ranting itu masih kuat dan hijau tetapi ini tidak akan berterusan. Aku juga mengalami musim luruh dalam kehidupanku tetapi berasa diri seakan-akan pada musim semi.

"Tragedi seorang manusia bukan karena dia semakin tua melainkan karena dia berasa diri sentiasa muda".

Kata-kata siapakah itu? Aku tidak ingat.

Aku adalah Cinderella yang berhalangan untuk tiba di pesta dansa. Buku yang kutulis bagiku sama seperti kuali dan panci bagi Cinderella. Tetapi langkahku masih cepat, sendi badan bergerak, jantung berdebar-debar dan darah mengalir dengan tekanan seperlunya…

Muncul seorang pembantu perempuan. Wajahnya seperti orang Meksiko. Kasar dan hitam. Tampak periang orangnya karena selalu bersenandung sesuatu.

Perempuan Meksiko itu memandangku dan bertanya:

"Vodka? Caviar?"

Aku mengerti orang Rusia baginya berhubungan dengan  caviar dan vodka.

Aku mengembangkan tangan: aku tidak ada suvenir. Kopor pun hilang dan aku tidak ada pakaian untuk bersalin.

Perempuan Meksiko itu mengerti dan tetap ceria. Dia pindah ke kamar sebelah untuk seterika sambil  menyanyi lagu cinta. Aku menangkap kata 'corazón' yang bererti 'jantung'.

Aku heran adakah perempuan Meksiko itu periang orangnya karena sifat pembawaan atau sebagai  salah satu syarat kontraknya. Seorang pembantu harus meninggalkan masalahnya di luar pintu bersama dengan sepatunya.

Aku bisa bertanya tetapi aku hanya bisa bertanya dalam bahasa Rusia. Jadi kutanyakan:

" Meksiko?" dan menuding ke arahnya.
"No travaho," jawab perempuan itu. "Travaho – Paris."

Aku mengagak: tidak ada kerja di sana, kerja hanya ada di Paris.

Jalan raya yang kami  lalui amat bagus seperti semua jalan raya di Eropa. Aku dan Maurice naik Jaguar putih. Mobil yang biru diantarkan untuk servis.

Maurice menyetir dengan cekap mobilnya  yang kuat itu. Itu pekerjaan mudah baginya.

Menyetirnya tenteram dan menenangkan. Kami berdiam disatukan oleh kelajuan. Diamnya adalah bersama.

Aku berpikir: alangkah baik duduk di sebelah seorang jutawan, perjalanan yang jauh lagi lama dan tanpa memikirkan apa-apa.

Maurice baik orangnya. Dia tidak seharusnya menolongku, dengan membawa kopi ke tempat tidurku, kemudian bersama ke luar kota untuk memperkenalkan istrinya. Untuk apakah  semua itu? Tetapi mungkin dia mau menghiburkan istrinya dengan tamu dari Rusia? Bukankah aku penulis ternama?

Di sekitarnya tidak ada orang sepertiku. Walaupun banyak kawan tetapi tidak ada yang sepertiku. Maurice membeli buket bunga untuk istrinya, dan dibawanya  aku. Aku seperti kartu truf di perangkat kartunya.

Mungkin jawabannya sederhana saja: aku memahaminya dan karena itu dia berasa menarik dengan aku.

Aku bertanya kepadanya:

"Kau ada sahabat? "
"Dua," kata Maurice. "Seorang sudah meninggal dan seorang lagi di Amerika."
"Jadi tak seorang pun ada," aku mengerti.
"Dua," dia mengulang. "Yang meninggal juga dikira."

Segala-galanya jelas. Dia kesepian. Dia seorang jutawan yang kesepian. Dalam kehidupannya dia kekurangan sokongan para sahabat. Yang di Amerika itu jauh sekali. Dan yang meninggal, lebih jauh lagi. Maurice tampaknya mendapat kegembiraan hidup dari cinta.

"-Kau cintakan Anestezi?" tanyaku.

Maurice mulai berbicara cepat, cemas dan beberapa kali mengulang: "Etiopa, etiopa…"

"Apa?" tanyaku karena tidak mengerti maksudnya.

Maurice membuka laci mobil dan mengambil beberapa gambar foto berwarna. Semua foto itu menampakkan wajah seorang gadis berkulit hitam yang serupa dengan Sophia Loren pada masa muda. Bermulut lebar dari satu telinga sampai telinga lain, gigi putih, mata seperti mata harimau kumbang.

"-Etiopa," Maurice mengulang lagi.
"Apa itu nama?"
"No. Geografi…"

Dan tiba-tiba aku mengerti apa yang hendak dia katakan. Etiopia. Gadis itu dari Etiopia. Aku mengamati foto sekali lagi. Aku pernah dengar, orang Etiopia merupakan kaum Semit yang hitam. Memang kecantikan Semitnya  menyolok mata.

"Nastya tahu tentang dia?"
"No."

Nastya tidak tahu, dan jikalau tahu pun sudah tak bisa mengubah apa-apa.
"Etiopa la femme pour moi. (Perempuan untuk aku).

Jadi Nastya tidak ada harapan lagi. Mungkin itulah puncak kekhawatirannya tadi. Kalau begitu mengapa Maurice mengizinkan aku tinggal di rumahnya? Ah, begitu saja. Maurice orang yang baik hatinya. Nastya meminta, dan dia setuju.

Aku mengeluh karena mengasihani Nastya. Mestilah! Aku adalah teman Nastya, bukannya teman Etiopa itu.

"Dan di mana kamu berkenalan?" tanyaku.
"Di udara," kata Maurice. "Aku melihatnya di pesawat terbang dan sesudah itu menolongnya mengangkat kopor dari ban berjalan."

Khayalanku sebagai seorang penulis memberi gambaran selanjutnya. Dia mengangkat kopor dan mengantarkannya ke rumah. Dengan menaiki taksi. Sesudah itu mereka bertemu waktu malam dan gadis itu memperlihatkan kebolehannya melayani lelaki.

Kemudian Maurice menyewa untuknya sebuah flat kecil yang di Paris disebut 'studio'. Mereka membeli ranjang dobel, mungkin bukan ranjang, tetapi tilam lebar dari satu dinding sampai dinding lain agar mereka bisa bergolek-golek di atasnya dengan bebas. Dan kalau jatuh ke lantai, mereka tidak berasa sakit karena tingginya tidak seberapa.
***
bersambung

Untuk membaca bagian sebelumnya, klik novel

ceritanet©listonpsiregar2000