sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 255, 11 januari 2016

Tulisan lain

Musim Dingin - Liston P Siregar

Tubuh Miskin - Jajang Kawentar

Dari Kehidupan Para Jutawan 4 - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Kesabaran - Chairil Anwar

Lelaki dan Kebunnya - Tosca Santoso

Dari Kehidupan Para Jutawan 3 - VictoriaTokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Penerimaan - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 19 - Aminatul Faizah

Essex

Dari Kehidupan Para Jutawan 2 - VictoriaTokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Lagu Biasa - Chairil Anwar

Suatu Pagi di Kantin Sekolah - Imron Supriyadi

Teheran Dalam Stoples 18 - Aminatul Faizah

Kepulauan Seribu

Dari Kehidupan Para Jutawan 1 - VictoriaTokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Hukum - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 17 - Aminatul Faizah

Ancol

Pembinatangan Peringatan 17 Agustus - Imron Supriyadi

Aku - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 16 - Aminatul Faizah

Tangkahan

Pelarian - Chairil Anwar

Puisi - Jajang Kawentar

Teheran Dalam Stoples 15 - Aminatul Faizah

novel Teheran Dalam Stoples
Aminatul Faizah

Ia ikut masuk rumah dan ibuku menyambutnya dengan senyuman hangat di samping Ali dan adikku. Khala sedang mengepel lantai dan langsung berdiri menyambut pelukanku dan juga guruku. Ibu mengajak guruku menuju teras samping rumah sambil tetap mengajari Ali.

Dua wanita itu duduk bersama dan mereka sama-sama meminum teh. Khala mengajakku menuju kamar atas. Ia membantuku untuk berganti pakaian. Ku lihat dari kamar, ibu dan juga ummu memiliki banyak kesamaan keculi bentuk fisik.

Cara bicara ibu dengan ummu sangat berbeda dengan cara bicara ibu pada khala. Semua kosa katanya banyak yang menggunakan kosa kata asing. Inikah gaya bicara kaum intelek itu? Aku bertanya pada diriku sendiri, pantas saja khala memilih untuk menjauh karena ia tahu kalau ia tak akan pernah menjadi seperti mereka. Khala kan orang yang buta huruf.

Kenapa khala tak sekolah, kalau sekolah pasti khala akan pandai. Itu yang aku pikirkan. Dia menyisir rambutku dan memakaikan bandana merah mudah di kepalaku. Aku meraih bahunya dan aku tersenyum.

Ia memelukku lalu ia duduk di sampingku siap mendengarkan sekolahku. Ia ingin tahu banyak hal tentang sekolahku dan juga apa yang aku alami. Ia adalah pendengar yang baik, sama dengan Ali.

Aku bercerita tentang peta itu, tenda-tenda itu dan juga banyak hal serta ajakan ummu Khoirah. Ia juga mendengarkan balas dendamku pada Zahro anak yang usil itu. Dan ia tersenyum menunjukan giginya yang lebih putih dari pada saat kita bertemu untuk pertama kalinya itu.

“Ayo kita makan Leila!”

Ia mengandeng tanganku dan ia mengajakku menuruni tangga. Aku mengandeng tangannya melihat ibu yang sdang menyajikan makanan. Ali sudah menyendok makanannya dan Ghazali sudah tak ada. Ia pasti sedang tidur di kamar ibu. Aku duduk di samping Ali dan ibu. Sedang khala duduk di samping Ali.

Kami memakan makanan Iran seperti keluarga lainnya. yakni nan, mentega, dan selai apricot buatan khala. Aku tahu ibu tak begitu suka dengan apa yang kami makan. Tapi ia bisa menutupinya. Memang aku akui kalau masakan khala tak seenak masakan ibu tapi entah kenapa ibu dan juga ayah tak pernah mempermasalahkannya.

“Aisyah, apakah kau ingin pergi ke Zainabiah bersama ummu Khoirah?’’
“Jika anda mengizinkan.”
“Jika kau mau kau boleh pergi nanti malam bersama Leila dan juga Ali.” Kata ibu sambil mengelus pundakku.
“Terima kasih.”

Zainabiah adalah semacam sanggar pengajian kaum wanita. Saat pertama kali datang aku sudah berada di lingkungan wanita yang berchadur. Ada banyak wanita yang berada di masjid ini.

Kami duduk di tengah-tengahnya. Aku berada di dekat ummu dan Ali selalu mengandeng tanganku. Madda kali ini sangat hebat. Ia bisa membuat emosi para hadirin terguncang sehingga sebagian dari mereka menepuk-nepuk dadanya sendiri dengan keras, ada juga ibu yang sengaja memukul-mukul kepalanya dengan keras sambil menangis terseduh-seduh.

Aku dan juga Ali sangat ketakutan. Aku menggenggam tangan Ali sangat kuat dan aku berkali-kali menutup mataku.

Di tengah-tengah para ibu-ibu yang menangis histeris ada yang pingsan. Jaraknya sangat jauh dengan tempat dudukku. Teman yang ada di sampingnya berusaha menyadarkannya dengan mengipas-ngipasinya dan memberinya minum.

Setelah usai kami memperoleh satu kotak makanan.

Kami pulang kembali melewati jalan yang aku lewati pagi hari. Kini aku tahu kenapa banyak orang yang sibuk menyiapkan makanan di hari ini. Mereka bernazar dengan membagikan makanan di hari duka cita ini. Kami juga ikut mengantri di dua rumah itu dan akhirnya kami pulang dengan tiga kotak makanan.

Saat membuka pintu aku melihat ayahku sedang membaca sesuatu. Ia langsung kaget dengan yang kami bawa. Dengan bangga aku meraih bahunya dan aku bercerita tentang apa yang aku alami. Khala menaruh kesembilan boks tadi di meja ruang makan.

Ibu yang menggendong Ghazali membukanya. Ada nasi dari beras Iran yang kualitasnnya bagus dan ditaburi nasi kuning dan irisan kacang walnut. Lauknya adalah ayam bumbu pasta tomat yang enak.

Ayah mengambil sedikit ayamnya dan memakannya. Ibuku juga melakukan hal yang sama. Sebelum ia melakukannya ia terlebih dahulu menyuapi Ali. Ayah, ibu dan juga aku memakan hanya satu boks dan khala serta Ali juga memakan satu boks. Masih ada tuju kotak dan tak mungkin kami menghabiskannya. Kami bercerita hampir semua hal.

Tanggal 10 Muhharam, pembagian makanan dilakukan di siang hari. Kali ini aku dan juga kelima temanku berburuh makanan. Sekolah anak laki-laki sengaja diliburkan. Kali ini kami bisa bermain besama. Ayah Maarif dan juga Jalalluddin sedang bertugas di jalan untuk mengatur parade dasteh. Dasteh adalah rombongan lelaki, tua-muda dan mengikuti seseorang yang memanggul alam, semacam perisai besi yang katanya sangat berat.

Tapi sebelum melihat parade itu kami ingin berburu makanan. Kami memiliki banyak alasan tersendiri. Kalau aku hanya ikut-ikutan. Ali juga tak tahu harus melakukan apa. Jadi ia hanya mengikuti aku. Khafsah ingin mengumpulkan banyak makanan untuk meringankan beban ibunya dan ketika klain Khan itu hanya melakukannya untuk ingin tahu. Setiap memperoleh dua kotak, kami akan pulang ke rumah masing-masing. Aku menaruhnya di teras rumah dekat ruang tamu. Aku menyembunyikannya dari ibuku karena aku tak mau ibuku binggung harus bagaimana.

Tujuh kotak yang lalu ibu biarkan berada di meja makan dan setelah itu ibu hanya bilang pada khala untuk melakukannya sesuka hatinya. Hal yang aneh malahan yang dilakukan ketiga keluarga Khan itu. Mereka bertiga memberikannya langsung kepada para pembantu mereka.

Takut kalau orang tua mereka merasa terhina. Khafsah lain lagi semakin ia membawa banyak makanan ia semakin senang bukan main. Kami melakukan al itu hingga kakiku merasa pegal dan ada sekitar dua puluhan boks di depan rumahku. Saat yang terakhir kami hanya membawa satu kotak karena hari sudah sore dan akan ada dasteh.

Saat membuka pintu gerbang kulihat mobil ayah sudah terparkir. Dengan menjemurkan jas di bahunya dan juga tas hitam di pundaknya ayah melihat apa yang aku lakukan. Aku takut dan juga tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku membayangkan kalau ayah akan marah atau yang lainnya.

Ayah memanggilku dan ia duduk tepat di samping gudukan itu. Ia memanggil ibu dan juga khala. Ibu kaget dengan banyak makanan yang ada. Ia pun hanya menarik nafas panjang dan duduk di dekat ayah.

Ayah  menyuruh kami membuka pintu gerbang. Aku melakukannya katanya akan ada dasteh yang  melewati gang kami. dengan tanpa rasa malu ayah maupun ibu memakannya. Mereka sangat menghargai yang kami peroleh. Ibu bahkan harus mengakui kekalahannya untuk hari ini karena kami tak menyentuh makanannya. Ia tak merasa malu atau heran.

Rombongan dasteh terdengar.

Kami semua melihatnya. Mereka melewati pintu gerbang dan seseorang menabuh perisai besar dengan banyak bendera-bendera hitam yang bertuliskan nama para imam syiah. Ada juga foto Imam Husein dan beberapa orang yang mengikutinya. Ada yang menangis, ada yang memukul dada dan kepalanya dan ada yang tersenyum seperti ketika klain khan itu.

Mereka sempatkan melambaikan tangannya pada kami dan dengan senangnya aku juga melambaikan tangan pada mereka. Kukira mereka akan mengikuti rombongan itu namun mereka berbalik ke rumah kami dan ikut makan nasi dalam kotak.

Kami harus berbicara dengan nada yang keras karena suara rombongan itu memekakkan telingah. Adikku bahkan langsung menangis ibu membawanya dan menenangkannya.

Khala membawa minuman untuk kami. Sari apel yang diberi banyak susu dan gula. Ia duduk sambil menyuapi anaknya Ali. Klain Khan sangat heran dengan sikap ayahku yang sangat hangat pada mereka. Ia bahkan tak sungkan bercanda dengan ayahku. Ia juga menggodaku dengan mengaku kalau ayahku adalah babanya.

“Memang babamu ada di mana Faris?” tanya ayah sambil memakan pasta ayam.
“Mengikuti pawai, sebentar lagi ia juga akan menjemputku,” kata Faris.

Ibuku keluar dengan Ghazali yang sudah tak panik lagi. Ia membawa banyak kue dan juga permen. Ketiga klain itu langsung melahapnya dan sesekali memuji buku.

“Khanum (nyonya) Hamidah boleh kami main ke rumahmu?”
“Boleh asalkan kalian tak nakal,” kata ibuku sambil ikut makan nasi kotak.

Tak lama kemudian, tiga orang wanita yang cantik dengan rambut yang di cat merah dan mengunakan chadur asal-asalan datang dengan pria berjambul kriwul. Aku tahu kalau pria itu adalah ayah dari temanku Faris.

Pria itu langsung mengacungkan tangannya pada ayahku. Ia seolah tahu dengan baik siapa ayahku. Pria itu juga memuji ibuku. Katanya ibuku sangat cantik. Ketiga klan itu memanggil ketiga wanita itu sebutan ibu.

Ibuku berdiri mempersilahkan ketiganya untuk masuk namun mereka menolaknya. Ibu hanya berdiri dengan mengambil banyak kue dan juga makanan serta minuman. Ketiga wanita ini dengan segera memuji ibuku dan juga masakannya. Mereka memenuhi ruangan teras kami dan aku tak menyangka kalau mereka adalah keluarga Khan. Bangsawan yang kaya dan juga berada duduk dengan kami di teras dan mau tak mau menikmati nasi boks kotak biasanya enggan mereka lakukan.

Esok paginya sebelum aku menuju sekolah bendera hitam yang ada dihalamanku sudah tak ada lagi. Semua perayaan dukacita sudah berakhir.

Tak berapa lama tiang itu dihiasai bendera hitam lagi. Manusia setengah dewa Iran telah tiada. Seluruh kota berduka dan aku yang tak mengertipun ikut serta. Masa yang kelam di tahun 1989, ketika imam Khomeni berpulang. Semua pembicaraan dari penjuru Teheran hanyalah manusia itu.

Manusia yang menjadi ikon tentang revolusi Iran. Negara muda ini sangat kehilangan seseorang yang memberikan mereka inspirasi. Hari ini adalah malam duka yang panjang.

Ibuku terdiam dan hanya sedikit ikut prihatin. Tapi di tahun itu juga ibu merasakan kesenangan sebagai kaum yang memuja akan kebebasan. Tembok Berlin diruntuhkan dan dua Jerman akhirnya bersatu. Bangsa Iran memang membenci bangsa Barat hingga selalu mengumpat setiap kali bangsa Eropa itu muncul dalam pemberitaan.

Tapi kesenangan itu tak mampu mengalahkan kehilangan bangsa Iran atas wafatnya Mullah berbaju hitam itu. Aku pernah melihat sosoknya yang penuh kharisma itu. Wajah yang selalu ingin aku miliki. Sempat aku berpikir kalau Iran adalah surga kaum sufi namun semuanya kandas ketika aku mengingat adanya jalan panjang negara ini untuk memperoleh revolusi.

Jalan yang panjang dan juga berliku atas negara yang selalu dikecam teror dan juga dikecam dunia atas tindakannya.

Rezim monarki di tempat ini sangat anarkis. Pejuang banyak yang diculik dan juga banyak yang dibunuh. Para pejuang dipimpin para ulama. Kulminasi dari para pejuang itu melawan rezim morakhi adalah ketika muncul seorang ulama yang sangat aku kagumi. Mungkin bukan hanya aku saja namun banyak orang. Namanya adalah Ruhullah Khomeini. Meskipun beliau telah diasingkan di Irak dan juga Paris namun beliau masih mampu mengobarkan semangat jiwa bangsa Iran.

Akhirnya pada tanggal 1 febuari 1979 ia kembali ke Iran dari pengasingannya di Paris.

Tentara yang sudah siap menembak pesawat, tak berdaya melihat barikade empat juta massa yang berbondong-bondong datang ke bandara Mchrabad Teheran.

Banyak masa yang membawa bunga mawar merah dan menaruhnya di sepanjang jalan yang akan dilalui Imam dari bandara menuju Taman Makam Pahlawan Behest-e Zahra, sehingga tanggal 1 Febuari disebut sebagai Ruz-e Golbaran, hari hujan bunga.

Setelah kemenangan sejenak itu, Irak mengivansi Iran dan Amerika Serikat mengembargo Iran. Dan sekarang Iran harus kehilangan manusia yang memberikan arti perjuangan dan juga keyakinan.   
***
bersambung

Baca dari bagian 1 di klik novel

ceritanet©listonpsiregar2000