sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

Twittwr   Facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 255, 11 januari 2016

Tulisan lain

Musim Dingin - Liston P Siregar

Tubuh Miskin - Jajang Kawentar

Kesabaran - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 20 - Aminatul Faizah

Lelaki dan Kebunnya - Tosca Santoso

Dari Kehidupan Para Jutawan 3 - VictoriaTokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Penerimaan - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 19 - Aminatul Faizah

Essex

Dari Kehidupan Para Jutawan 2 - VictoriaTokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Lagu Biasa - Chairil Anwar

Suatu Pagi di Kantin Sekolah - Imron Supriyadi

Teheran Dalam Stoples 18 - Aminatul Faizah

Kepulauan Seribu

Dari Kehidupan Para Jutawan 1 - VictoriaTokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Hukum - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 17 - Aminatul Faizah

Ancol

Pembinatangan Peringatan 17 Agustus - Imron Supriyadi

Aku - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 16 - Aminatul Faizah

Tangkahan

Pelarian - Chairil Anwar

Puisi - Jajang Kawentar

Teheran Dalam Stoples 15 - Aminatul Faizah

novel Dari Kehidupan Para Jutawan
Victoria Tokareva
Penerjemah: Victor Pogadaev

Maurice tinggal di rumahnya sendiri di jalan persendirian yang kecil, dibarisi  dengan enam buah rumah. Rumah persendirian pernah aku lihat. Aku sendiri memiliki rumah pribadi di luar kota.

Tentunya  tidak sebesar rumah Maurice tetapi rumah juga. Sedang jalan persendirian tak pernah aku lihat. Dan tidak kubayangkan bagaimana jalan itu bisa tampak.

Maurice mendekati palang jalan dan membuka kuncinya. Anak kunci itu kecil saja seperti anak kunci  mobil, dan palang jalan itu pula  ringan, berjalur dan bersih seperti mainan.

Palang jalan dengan mudah angkat. 'Jaguar' melewatinya. Maurice turun dari mobil dan mengunci palang jalan seperti pintu pagar.

Kami mendekati rumah tiga tingkat. Di tingkat bawah ada dapur, kamar makan dan ruang besar dengan tempat perapian. Di dalamnya tidak ada pintu atau sekat apa pun.

Di tingkat pertama terdapat kamar-kamar tidur. Tingkat kedua untuk tamu.

Dia pernah memanggil pendesain untuk menciptakan rancang rumah -Nastya memberitahu- bayarannya US$100.000.

Aku memandang sekitar.

"Apakah dia punya istri" tanyaku.
"Madelaine," jawab Nastya. "Dia berada di bungalo luar kota."
"Apakah dia muda?"
"Lima puluh."
"Cantik?"
"Serupa dengan perempuan Georgia."

Perempuan Georgia ada dua jenis: jelita yang ramping dan yang jelek berhidung besar. Di atas meja kecil antik aku melihat gambar foto dalam bingkai logam tebal berwarna putih: Maurice masih muda dan perempuan muda juga memandang sesama penuh cinta.

"Apakah itu dia?" tanya aku.
"Benar," Nasta mengiakan dengan nada jengkel.

Aku mengamat-amati Madelaine. Mukanya yang cerah bercahaya dengan api cinta yang penuh makna dan menampakkan berketurunan tinggi. Terasa juga padaku  bahwa dia mendapat pendidikan yang baik.

Maurice dalam usia muda itu menyerupai ayam Belanda jantan yang muda. Tetapi apakah itu penting? Burung merak juga menyerupai ayam Belanda. Aku sendiri menyerupai anjing dan Nastya menyerupai kucing. Semua menyerupai sesuatu.

"Apakah mereka punya anak," tanyaku.
"Seorang anak lelaki," jawab Nastya. "Berusia empat puluh tahun."
"Bagaimana bisa? Madelaine berusia lima puluh dan anaknya berusia empat puluh tahun," aku bingung.
"Anak itu dari pernikahan Maurice yang pertama," Nastya menjelaskan. "Dia juru rias yang terkenal, 'menciptakan' wajah untuk bintang dan peragawati."
"Apakah dia kaya?"
"Kaya dan tampan. Banci."
"Lazimlah," kataku.

Aku memerhatikan semua perancang busana dan kritikus film ialah banci. Sementara peragawati biasanya dengan buah dada leper dan pinggang ramping seperti pria karena memperlihatkan aestetik homoseks.

Buah dada besar dan pantat gemuk disukai oleh orang biasa. Semakin rendah taraf budaya semakin gemuknya pantat.

Maurice mengundang aku melihat kamar tamu. Kami naik ke tingkat dua. Dalam kamar ada ranjang dobel, dekat pintu tempat pancuran mandi dengan dinding berkaca bening, di bagian lain meja tulis, sedikit lebih jauh – sepeda statis. Kamar tidur, kamar kerja dan gimnasium sekaligus.

Jadi pagi-pagi ketika bangun, membuat senaman, mengambil pancuran mandi dan mulai bekerja. Dan di luar jendela ranting pohon bergoyang ditiup angin. Seakan-akan bernapas. Justru inilah yang sebenarnya diperlukan orang: olahraga, kerja dan kesepian. Alangkah baik!

Jam sudah pukul sebelas malam, yakni satu jam pagi waktu Moskow. Maurice mengucapkan 'bon nuit' (selamat malam) dan pergi.

Aku mengambil pancuran mandi dan pergi tidur. Aku terdengar perdebatan sengit antara Nastya dan Maurice. Mereka bertengkar dan tidak malu didengari oleh orang ketiga. Kata-kata caci maki mencurah seperti hujan batu ke atap.

Maurice berbicara mencoba menahan diri. Aku menangkap kata-katanya: "Tu ne voulais pas prendre le risk". Kau tidak mau mengambil risiko.
***
bersambung

Untuk membaca bagian sebelumnya, klik novel

ceritanet©listonpsiregar2000