sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter   facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 254, 19 november 2015
Tulisan lain

Dari Kehidupan Para Jutawan 2- Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Lagu Biasa - Chairil Anwar

Suatu Pagi di Kantin Sekolah - Imron Supriyadi

Teheran Dalam Stoples 18 - Aminatul Faizah

Kepulauan Seribu

Dari Kehidupan Para Jutawan 1- Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Hukum - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 17 - Aminatul Faizah

Ancol

Pembinatangan Peringatan 17 Agustus - Imron Supriyadi

Aku - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 16 - Aminatul Faizah

Tangkahan

Pelarian - Chairil Anwar

Puisi - Jajang Kawentar

Teheran Dalam Stoples 15 - Aminatul Faizah

Dymchurch

Poltak dan Mamak, pada suatu sore - Liston P Siregar

Sia-sia - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 14 - Aminatul Faizah

 Kaki kisut di tanah mengkerut
tanah yang lama tak dibasuh hujan.
Ia coba menggangsir-gangsir
guludan  yang tak lagi lurus.
Mata tuanya tak sanggup bedakan : legok dan gundukan

Tapi ia terus berharap
benih masih akan subur disemaika
n
Lelaki dan Kebunnya
- Tosca Santoso

Tetapi ketika kita mengerti bahwa itu Pushkin, maka kita tidak memerhatikan tinggi badannya atau corak wajahnya. Kita hanya mengagumi tenaga kreatif geniusnya dan menyesal dia meninggal jauh sebelum kita lahir. Ada baiknya kalau orang seperti dia hidup selama-lamanya. Alam harus memberi pengecualian kepada orang seperti itu. Dari Kehidupan Para Jutawan - Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Penerimaan
- Chairil Anwar

Essex
Essex

Keramaian di rumah keluarga Khan juga terlihat di beberapa rumah lain, dan pada tanggal 7 Muharram, suasana di sekolah terasa lebih riang. Beberapa murid dari kelas lain, yang hanya kukenal wajahnya, mendekati semua orang ketika memasuki pintu gerbang, Mereka seperti berlomba-loemba menyentuh dan murid lain yang datang. Teheran Dalam Stoples - Aminatul Faizah

ceritanet©listonpsiregar2000