sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter   facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 254, 19 november 2015

Tulisan lain

Dari Kehidupan Para Jutawan 3- Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Penerimaan - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 19 - Aminatul Faizah

Essex

Dari Kehidupan Para Jutawan 2- Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Lagu Biasa - Chairil Anwar

Suatu Pagi di Kantin Sekolah - Imron Supriyadi

Teheran Dalam Stoples 18 - Aminatul Faizah

Kepulauan Seribu

Dari Kehidupan Para Jutawan 1- Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Hukum - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 17 - Aminatul Faizah

Ancol

Pembinatangan Peringatan 17 Agustus - Imron Supriyadi

Aku - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 16 - Aminatul Faizah

Tangkahan

Pelarian - Chairil Anwar

Puisi - Jajang Kawentar

Teheran Dalam Stoples 15 - Aminatul Faizah

Dymchurch

Poltak dan Mamak, pada suatu sore - Liston P Siregar

Sia-sia - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 14 - Aminatul Faizah

 

sajak Lelaki dan Kebunnya
Tosca Santoso

Kaki kisut di tanah mengkerut
tanah yang lama tak dibasuh hujan.

Ia coba menggangsir-gangsir
guludan  yang tak lagi lurus.
Mata tuanya tak sanggup bedakan : legok dan gundukan
Tapi ia terus berharap
benih masih akan subur disemaikan

“Abah, nanti saja cangkul kebunnya. Tunggu hujan,” kataku.
“Ada bibit wortel dan bawang daun,” katanya
“Kalau ditabur sekarang. Pasti akan mati juga,” ujarku.
“Ada bibit wortel dan bawang daun,”ujarnya.
“Mari berteduh. Biarkan terik ini lewat,” ajakku.
“Ada bibit wortel dan bawang daun,” tegasnya.

Lelaki tua dan kebunnya
adalah sejenis cinta yang keras kepala.

Lama, ia pandangi potret tua :
berdua dengan istri di depan balai rumahnya
Matanya berkaca-kaca
air mengalir dari parit-parit di pipi rentanya
Diusap wajah istrinya, semesra ia cangkuli lahan sayuran
Dielus kening istrinya, selembut ia taburkan bibit di kebun
Diraba pipi istrinya, sehangat matahari yang hampir pergi.
“Istriku sudah mati,” bisiknya.

Kaki kisut dan luka yang tak pernah kering
melintas panjang cerita manusia.

Ia tiba di gigir hutan ini,
Setelah awan hitam menggulung negerinya.
Dan ia tanggungkan pedih prahara
dari satu penjara ke penjara.
Tanpa kejelasan : apa yang sedang dihadapinya.

Ketika hari kebebasan tiba,
ia diantar penjaga penjara ke tepi hutan ini.
Diberikan padanya hak membuka hutan jadi kebun sayur.
Lalu satu per satu anaknya lahir di sana
Lalu satu per satu cucunya lahir di sana
di tepi hutan itu.

Ia mencintai istri dan anak-cucunya
Seteguh cinta pada kebun sayur dan hutan di tepinya…

“Istriku sudah mati,” katanya lagi.
Tapi ia tak hendak beranjak pergi
dari kebun yang tak lagi lurus bedengannya.
Ia siapkan bibit wortel dan daun bawang
meski hujan belum pasti datangnya.

Lelaki tua dan kebunnya
menanda cinta yang tak mudah menyerah.

Sarongge, 2015

Berapa Lama ...

Di danau Inle
aku bertemu Yesus.
Ia masih berjalan di atas air
tapi wajahnya kusut
gemetar dibelai angin perbukitan.

Kudengar letih ia berdoa :
Bapa, berapa lama  
anak-anak ini mesti lapar kedinginan?
Sebelum tiba hangatmu abadi…

Di kota Bagan
aku berjumpa Buddha Gautama
senyumnya senja
seteduh candi di tengah kebun.

Ia terus nyalakan dupa
yang seperti keringat petani,
segera kering ditiup musim kemarau.
Berapa lama :
orang-orang tua itu akan bebas dari samsara?
dan boleh memeluk nirwana.

Nabi datang dan pergi
manusia tak beranjak dari sengsara
juga sepi
yang tak seorang pun tahu
akan berapa lama…

Burma, 2014

Kenangan

Hitam cemara
rebah merengkuh tepi segara.
Ia simpan sepinya sendiri.

Duh, Dewi Anjani
duka apa telah terjadi
selama delapan abad kamu menanti ?
Sedang sekejap   
Rindumu begitu melumpuhkan.

Tiap tubir Sangkereang
adalah pertanda bahagia kita.
Pada tebing-tebing Gunung Baru Jari
semua harapan pernah kita tatah.

Kalau nanti
Tulang-tulang lantak dihisap bumi
sesal itu tak perlu lagi. 

Kita tak bicara keabadian.
Hanya sepi
berpeluk hangat kenangan.
                                                              
Rinjani, 2012

ceritanet©listonpsiregar2000