sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter   facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 253, 14 oktober 2015

Tulisan lain

Dari Kehidupan Para Jutawan 2- Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Lagu Biasa - Chairil Anwar

Suatu Pagi di Kantin Sekolah - Imron Supriyadi

Kepulauan Seribu

Dari Kehidupan Para Jutawan 1- Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Hukum - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 17 - Aminatul Faizah

Ancol

Pembinatangan Peringatan 17 Agustus - Imron Supriyadi

Aku - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 16 - Aminatul Faizah

Tangkahan

Pelarian - Chairil Anwar

Puisi - Jajang Kawentar

Teheran Dalam Stoples 15 - Aminatul Faizah

Dymchurch

Poltak dan Mamak, pada suatu sore - Liston P Siregar

Sia-sia - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 14 - Aminatul Faizah

Broadstairs

Ambruknya, atau munculnya, keping-keping Jokowi - Liston P Siregar

Nisan - Chairil Anwar

novel Teheran Dalam Stoples
Aminatul Faizah

-. Rumah Keluarga Khan
Setiap pulang sekolah, kini, ada perasaan yang bersemangat. Aku ingin bertemu ketiga anak keluarga Khan untuk mengatur pertemuan permintaan maaf mereka dengan Ali dan juga memamerkan langsung kepada ibu tentang kekuatan baru yang kumiliki. Tapi tak pernah terwujud: mereka tidak pernah terlihat lagi sampai kami berbelok ke jalan arah rumah.

Rada kesal karena pikiranku semakin memastikan bahwa mereka memang meminta maaf karena diminta baba mereka. Maka khususlah mereka menunggu aku, dan setelah itu maka urusan beres.

Tapi aku tidak menyerah dan esoknya pelan-pelan aku membangun kembali semangat itu. Bukan hanya karena aku sudah berjanji dengan Ali, juga ingin memastikan apakah sebenarnya kekuatanku yang menaklukkan mereka atau sebenarnya dari ummu. Apakah aku sebenarnya hanya menjadi tertawaan mereka saja ketika sudah berdiri sendiri sebagai seorang anak perempuan, yang sedang tidak bersama ummu Khoira.

Aku harus bertemu mereka dan mereka harus meminta maaf pada Ali, itulah tekadku. Bahkan sudah muncul rencana untuk bertemu baba mereka untuk menagih janji maaf kepada Ali.

Suatu hari, aku harus pulang sendiri. Ibu pelan-pelan memang semakin sering melepasku sendiri untuk pergi dan pulang sekolah. Menjelang akhir pelajaran, aku juga tidak melihat isyarat dari ummu untuk pulang bersamaku, dan di dalam hati aku menduga dia dan ibu sudah berbicara dan memang sengaja membiarkanku untuk mandiri. Hari itu, lega rasanya ibu tidak menjemput dan ummu tidak berjalan bersamaku.

Begitu lonceng sekolah berbunyi, kulirik Khafsah dan kucolek tangannya. Temanku itu tahu bahwa itu artinya kami akan jalan bersama. Begitu ke luar kelas, aku langsung berbisik, “antar aku ke rumah Khan.”

Khafsah tampak terkejut. “Untuk apa?”
“Hanya melihat saja, kita lewat saja.”
“Untuk apa?” tanyanya lagi ragu. Khafsah punya alasan khawatir karena dia melihat kami diludahi oleh anak kriwul keluarga Khan. Mungkin dia takut aku mengetuk pintu rumah itu atau melemparnya.
“Aku mau tahu rumah mereka.”
“Hanya itu…”
“Ya, hanya itu,” senyum kecil serta anggukan lembut aku keluarkan lagi dan Khafsah bersedia.
Kami berjalan pelan dan membiarkan teman-teman lain bergegas ke luar dari gerbang sekolah.

Kami seolah-olah akan melakukan misi rahasia.

Khafsah berjalan di depan dan aku sekitar seujung sepatu agak ke belakang di sampingnya. Berdua kami lewati tempatku bertemu dengan tiga anak Khan dan berjalan terus melewati persimpangan tempat aku biasanya berbelok ke kanan. Rumah-rumah di jalan itu sebenarnya tidak banyak berbeda dengan di jalanan tempat kami. Bertingkat dua dengan pagar tinggi. Beberapa tampak memiliki halaman luas dan beberapa tampak lebih besar.

“Nomor lima di sebelah kiri depan sana, yang ada dua pohon besarnya,” Khafsah berbisik tetap memandang lurus ke depan. Aku melirik kecil dan masih ada dua rumah lagi sebelum dua pohon besar yang dimaksud Khafsah. Aku bergeser ke sebelah kiri Khafsah supaya lebih dekat ke rumah itu kelak dan dia sempat bergerak mencegahku.

“Hanya melihat, Khafsah,” bisikku menenangkan.

Semakin mendekat, aku lihat ada beberapa orang di kaki lima di depan rumah itu. Beberapa orang dewasa, jadi bukan Faris, Maarif, atau Jalaludin. Mungkin aku bisa tanya mereka, tapi aku sudah berjanji untuk lewat saja. Aku perhatikan lagi kedua pohon dengan seksama, untuk memastikan lain kali aku tidak akan kesasar ke rumah yang lain.

Rumah itu memang lebih besar dibanding rumah-rumah di sekitarnya dan juga rumah kami. Halamannya tampak luas dan dari sela-sela pagar tinggi, aku bisa melihat ada beberapa pohon palem di halamannya, yang tidak serapi halaman rumahku.

Semakin mendekati para lelaki di depan rumah itu, Khafsah mempercepat langkahnya, berjalan kaku, dengan wajah lurus ke depan tapi aku justru menahan tarikannya dan berjalan santai melihat ke rumah itu seperti sedang memperlihatkan sebuah kekaguman. Dua anak sekolah yang berjalan melintas jelas bukan ancaman maupun menjadi perhatian dari laki-laki dewasa. Kulirik mereka sibuk ngobrol dan tertawa-tawa, beberapa sambil merokok.

Aku juga memperlambat langkah dengan harapan siapa tahu salah seorang dari anak bengalnya itu melihatku berjalan di luar rumah mereka. Tidak ada sedikit pun ketakutanku maupun kebencianku lagi pada anak keluarga Khan.

Mereka sama saja dengan anak-anak lain, ada yang bandal, ada yang baik, ada yang berani dan ada yang penakut. Urusanku dengan mereka hanya soal janji permintaan maaf kepada Ali dan setelah itu, aku tidak keberatan berteman dan tidak keberatan pula tidak berteman.  

Hari itu masih pada masa Muharram, dan aku lihat beberapa tenda dan peralatan masak di halaman rumahnya. Di dalam halaman lebih banyak lagi orang lalu-lalang. Sama seperti keluarga-keluarga lain, mereka juga sudah menyiapkan hajatan Muharram. Jelas keluarga Khan menggelarnya secara besar-besaran.

Lepas dari depan rumah itu, aku yang mempercepat langkah.

“Kita menyeberang Khafsah dan nanti lewat dari seberang,” saranku ke Khafsah sehingga aku bisa melihat rumah itu dari jauh dan semakin utuhlah pengetahuanku akan rumah Khan.
“Tidak, kau bisa berbelok di gang depan sana.”
“Tidak Khafsaf, terlalu jauh.”
“Kalau gitu kamu sendirian.”

Aku tidak menjawab dan bukan saatnya untuk tersenyum dan mengangguk jadi aku tarik kuat lengan Khafsah menyeberang jalan dan berbalik arah. Terkejut, dia tidak sempat melawan.

Kulirik para lelaki di depan rumah keluarga Khan, ada lima dan mereka tetap sibuk dengan obrolannya. Aku semakin tenang dan ingin membagi ketenangan itu kepada Khafsah.

“Nanti kamu singgah di rumahku dulu ya.”

Tapi Khafsah sepertinya sudah terlalu tegang dan tidak menjawab. Kusandingkan lengan kiriku dan kuangkat sedikit lengannya ke atas. Aku yang berjalan di depan dan dia sedikit di belakang. Dalam hati, aku tersenyum, “Anak kriwul, aku sudah tahu rumahmu, jangan macam-macam.”

Melihat dari seberang, rumah itu tampak memang jauh lebih besar dari rumah-rumah lainnya. Banyaknya orang di depan rumah dan di halaman rumah membuat rumah itu jadi semakin berbeda pula dengan rumah lainnya.

Begitu berbelok ke jalan rumahku, kulepas lenganku dari Khafsah karena aku bisa merasakan badannya tidak tegang lagi.

“Benar kan hanya melihat,”
“Tapi untuk apa,” tanyanya masih ingin tahu.
“Hanya melihat Khafsah.”
“Aku tidak percaya…”

Aku lepas tawaku dan berlari-lari kecil. “Ayo Khafsah kita main ayunan saja di rumah.” Tubuh dan jiwaku memang terasa seperti sedang berayun-ayun.

Khafsah ikut berlari-lari kecil di sampingku. Aku senang dia tenang kembali.Sebenrnya aku juga merasa lega. Di balik ketenanganku berjalan bolak balik di depan rumah keluarga Khan, sebenarnya ada rasa cemas juga cuma terkalahkan oleh rasa ingin tahuku yang bergelora.

Setibanya di halaman belakang rumah, kutarik Ali ikut ke ayunan dan kududukkan dia di ayunan yangs atu lagi. Khafsah sudah bisa mengaun sendiri, tapi Ali tidak. Kudorong dia perlahan-lahan dan kulihat dia mempererat pegangannya di tali ayunan dan kudorong semakin kencang. Melihat Ali berayun lebih tinggi dan cepat, Kahfsah ikut mengayun lebih cepat dan dia tertawa lepas. Kudorong Ali lebih kuat beberapa kali dan aku berlari ke depan mereka.

Khafsah dan Ali tertawa lepas dan besar, walau tak ada suara yang ke luar dari tawa Ali.
Aku rasanya semakin yakin untuk meminta tiga anak keluarga Khan datang ke depan Ali dan meminta maaf. Misiku untuk mengetahui rumah keluarga Khan berakhir dengan baik, aku tahu rumahnya dan Khafsah tenang dan senang kembali, ditambah Ali yang tertawa. Itu jelas pertanda baik.

Tawa Ali dan Khafsah di ayunan itu melekat terus di benakku, seperti sebuah film pendek yang disimpan rapi di laci dan bisa kuambil kapan saja, dan di mana saja, untuk kulihat kembali.
***
bersambung

Komentar ke ceritanet di Facebook dan Twitter

ceritanet©listonpsiregar2000