sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter   facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 253, 14 oktober 2015

Tulisan lain

Lagu Biasa - Chairil Anwar

Suatu Pagi di Kantin Sekolah - Imron Supriyadi

Teheran Dalam Stoples 18 - Aminatul Faizah

Kepulauan Seribu

Dari Kehidupan Para Jutawan 1- Victoria Tokareva, Penerjemah: Victor Pogadaev

Hukum - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 17 - Aminatul Faizah

Ancol

Pembinatangan Peringatan 17 Agustus - Imron Supriyadi

Aku - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 16 - Aminatul Faizah

Tangkahan

Pelarian - Chairil Anwar

Puisi - Jajang Kawentar

Teheran Dalam Stoples 15 - Aminatul Faizah

Dymchurch

Poltak dan Mamak, pada suatu sore - Liston P Siregar

Sia-sia - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 14 - Aminatul Faizah

Broadstairs

Ambruknya, atau munculnya, keping-keping Jokowi - Liston P Siregar

Nisan - Chairil Anwar

novel Dari Kehidupan Para Jutawan
Victoria Tokareva
Penerjemah: Victor Pogadaev

2.
Bisa dikatakan bahwa segala yang buruk sudah berlalu. Aku masih menghadapi empat hari di Paris, wawancara di TV, pertemuan dengan para wartawan. Anestezi harus 'mengiklankan' aku. Yang menantikan kami adalah Notre Dame de Paris, Menara Eiffel, sup bawang dan kunjungan ke Galeries Lafayetts.

Aku kenal Prancis hanya melalui film-filmnya, lagu-lagu Yves Montand dan Charles Aznavour, wajah berwarna mutiara Catherine Deneuve*. Aku ingin lihat apakah benar apa yang aku sangkakan dengan apa yang akan aku saksikan.

"Di mana aku akan menginap?" aku terpikir tiba-tiba.
"Pada Moriska."
"Moriska itu hotel?"
"Bukan, itu nama orang. Moriska merupakan nama julukan temanku Maurice."
"Apakah aku tidak patut diberi kamar hotel?" tanya aku dengan dingin.
Patut. Tetapi pihak penerbit mau berhemat sedikit," Nastya menjelaskan.

Aku mengerti, masalah itu ada baiknya dibicarakan dulu di Moskow. Sekarang tidak ada gunanya. Aku sudah di Paris. Mustahil seandainya hendak pulang. Terpulanglah pada pertimbangannya. Dan kiranya nanti aku akan menumpang bermalam pada Moriska di dipan.

"Berapa usianya?" tanya aku.
"Enam puluh," Nastya menjawab, merenung sebentar dan menambah: "Lebih tepat, enam puluh tiga."

Pasal apa orang yang lanjut usia itu mau memberi tempat di rumahnya kepada wanita yang tak dikenalinya?

"Apa dia kekasih kau?" aku coba mengagak.

Anestezi tidak menjawab. Mukanya menunjukkan kegelisahan.

Pesawat terbang terlambat dua jam. Aku takut Maurice tidak mau menunggu lama dan pergi…

Kami lewat bea cukai dan masuk ruang tunggu.

Anestezi memusing-musingkan kepala seperti seekor burung mencari temannya. Mukanya menampakkan keprihatinan dengan masalah yang bakal dihadapinya. Di mana aku akan ditempatkan? Di hotel dengan membayar 300 franc sehari atau aku terpaksa dibawa ke rumahnya, ke tengah-tengah keluarganya? Dari seorang teman, aku tiba-tiba menjadi beban baginya.

"Ini dia!"

Tiba-tiba Anestezi melihatnya.

"Maurice!" teriak dia begitu kuat seakan-akan dia dibawa untuk menjalani hukuman mati. "Maurice!"

Dan dia lari ke arah kanan.

Maurice, lelaki berbadan tinggi dalam jas hujan panjang, dengan topi kecil berdiri dari kursi untuk menemuinya. Mereka berdekapan dan aku mengerti: mereka itu memang kekasih atau bekas kekasih. Justru karena itu Maurice bersetuju supaya aku bermalam empat hari di rumahnya. Dia mau membantu Anestezi.

Aku tidak menatapi wajah Maurice dengan teliti tetapi sempat melihat segala-galanya sekali gus. Tubuhnya tinggi dan berpakaian oke. Yang lain aku tidak suka: mata bulat yang tak berkedip, hidung besar, dagu lebar dan gelambir di bawah dagu membuatnya serupa dengan ayam Belanda. Ayam Belanda hidup!

Anestezi memperkenalkan kami. Aku menyebut namaku, dia mengulurkan tangan besar, panas dan kering dan keserupaan dengan ayam Belanda hilang.

Nastya memberitahu dia mengenai kehilangan kopor. Aku mengerti karena mendengar kata 'bagasi'. Maurice mengerutkan kening karena keprihatinannya dan mereka bersama pergi menguruskan hal itu.

Tentu dia tidak patut uruskan tentang hal itu, tetapi karena rasa tanggung jawab yang mendalam dia uruskan. Dia pandai menyelami perasaan orang lain.

Mereka cepat pergi dan agak cepat pula datang kembali.

"Hari ini kopor itu tak mungkin ditemui, tetapi sebelum kau pulang ia pasti muncul," kata Nastya.
"Ya, tetapi apa akan aku pakai nanti di TV?" tanyaku.

Wajahku murung. Maurice melihat dan menanyakan apakah masalahnya. Aku mengerti karena dia menggunakan kata 'problem'. Nastya menjawab. Aku memahami kata 'robe' yang berarti 'gaun'.

Maurice berbicara cepat dengan melambaikan tangannya di udara, justru seperti yang semua orang Prancis biasa buat.

"-Dia bilang akan membelikan kau gaun pada Sonya Rykiel."

Sonya Rykiel adalah perancang busana terbaik di Prancis. Seluruh uang yang aku bawa tidak cukup untuk membeli gaun modelnya, bahkan satu gaun belum cukup. Terus aku menjawab.

"Jangan susah. Aku mengenakan pada bahu syal Rusia yang beraneka warna dan akan serupa boneka Rusia matryosyka. "

Maurice dengan pandangan seorang anak lali-laki mengamati wajah kami seperti bisu dan pekak. Dia tidak mengerti apa-apa dalam bahasa Rusia. Aku sudah memerhatikan orang Barat bisa bertutur banyak bahasa kecuali bahasa Rusia. Bahasa Rusia dipandang tidak perlu dipelajari berbanding dengan bahasa Jepang atau Suakhili.

Kita keluar dari gedung bandara.

Anestezi melangkah dengan cepat sambil sedikit meloncat. Dia puas dengan keadaan itu: pesawat terbang mendarat, Maurice menyambut kami, sebentar lagi kita akan pergi makan malam di restoran.

Meskipun Anestezi menderita karena rasa cemburu, hal itu tidak mengganggunya untuk bersuka ria: membuat lawatan, mengurus penerbitan buku, menerjemahkan, bermain cinta dengan Moriska, mempergunakannya demi kepentingan diri. Dan dia berhasil dalam segala hal, termasuk kerja penerjemahan. Dia berbakat dalam segala-galanya.

Aku berjalan di sebelahnya seperti teman jeleknya. Pada umumnya aku selalu puas dengan penampilanku dan tidak biasa memainkan peranan kedua. Tetapi di sisinya, aku berasa diri ini seperti orang berwajah jelek. Wajahnya yang cantik dari asalnya dirias pula oleh juru solek pintar, sedangkan juru solek mukaku hanya dari Moskow masa perestroyka.

Anestezi bisa memilih 'ayam Belanda' yang tua itu atau seorang pemuda tampan dan mungkin juga teman lesbian karena dialah menjadi pemilik kehidupan dan segi tiganya. Dia adalah orang bebas melainkan aku terbatas dengan moral Soviet yang misalnya berbunyi: "Jangan mencium kalau tidak cinta. Ciuman tanpa cinta ialah tidak bermoral".

Selain dari cinta di dunia itu, ada gairah, berahi, dan kasih. Justru rasa itu, demi memenuhi kehidupan dan menyerikannya seperti berbunga di langit gelap. Tetapi hal-hal yang remeh seperti berahi tidak diambil kira oleh akhlak komunis. Dan meskipun ideologi itu tidak ada lagi, ide-ide ala Soviet melekat kuat seperti debu di paru-paru seorang buruh tambang.

Aku berjalan di sebelah Anestezi dan mengerti segala-galanya. Itu adalah kelebihanku. Kalau seseorang pandai menilai keadaan dan diri sendiri itu, dia tak pernah menemui diri dalam keadaan ganjil.

Maurice membawa kami ke mobil panjang berwarna biru bermerek Jaguar.

"Itu mobil miliknya?" heran aku.
"Dia punya tiga buah mobil," kata Nastya.
"Apa dia itu orang kaya? – aku meraba.
-Seorang jutawan. Dia termasuk sepuluh orang yang paling kaya di Prancis."

Kami naik mobil. Aku duduk di sebelah Maurice. Anestezi di belakang, di tempat yang paling selamat.

Kita berangkat. Tangan Maurice yang cantik dan kuat menyentuh setir. Aku dengan ekor mata menjelingnya.
***

Diterjemahkan dari: Iz zhizni millionerov

bersambung

Komentar ke ceritanet di Facebook dan Twitter

ceritanet©listonpsiregar2000