sampul
 seri jurnalistik
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut
mailing list

twitter   facebook   


ceritanet              situs karya tulis - edisi 252, 20 september 2015

Tulisan lain

Hukum - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 17 - Aminatul Faizah

Ancol

Pembinatangan Peringatan 17 Agustus - Imron Supriyadi

Aku - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 16 - Aminatul Faizah

Tangkahan

Pelarian - Chairil Anwar

Puisi - Jajang Kawentar

Teheran Dalam Stoples 15 - Aminatul Faizah

Dymchurch

Poltak dan Mamak, pada suatu sore - Liston P Siregar

Sia-sia - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 14 - Aminatul Faizah

Broadstairs

Ambruknya, atau munculnya, keping-keping Jokowi - Liston P Siregar

Nisan - Chairil Anwar

Teheran Dalam Stoples 13 - Aminatul Faizah

novel Dari Kehidupan Para Jutawan
Victoria Tokareva
Penerjemah: Victor Pogadaev

Aku sedang dalam penerbangan ke Paris atas undangan sebuah badan penerbit. Di sebelah aku duduk seorang penerjemah Nastya yang dalam bahasa Prancis namanya disebut Anestezi.

Sebenarnya, dia itu berbangsa Rusia tetapi bernikah dengan seorang Prancis dan menetap pula di Paris. Di Moskow tinggal orang tuanya dan beberapa teman wanita yang dirinduinya. Dan di Moskow juga tinggal beberapa penulis Rusia yang sesudah perestroyka menjadi populer di Barat. Nastya pergi  ke Moskow dan memilih penulis-penulis itu seperti baju di lemari pakaian untuk mendapatkan yang terbaik. Itulah bidang usahanya.

Dan karena penulis-penulis itu kebanyakannya orang lelaki dan Nastya, penerjemah itu pula seorang perempuan berusia 37 tahun, maka pencarian dan pemilihan itu selalu menjadi proses yang begitu istimewa, gembira, dan penuh petualangan.

Nastya berpaling kepadaku sambil menanyakan secara mistrius:
-Apakah Ivanov sudah berumah tangga?

Saya menjawab:
-Sudah
-Bagaimana dengan Sidorov?
-Berumah tangga juga, - jawab aku.

Penulis Moskow, entah mengapa semuanya ternyata sudah berumah tangga. Begitulah dengan Anestezi juga sudah bernikah. Dia secara tak sadar mencari cinta dengan ikatan dan perspektif. Kita, perempuan, sukakan perspektif meskipun ia tidak selalu diperlukan.

Anestezi yang berambut perang, buah dada yang menegang cantik dan pinggang yang ramping serta dengan memakai baju kekuning-kuningan sungguh tampak anggun. Dia biasa membeli pakaiannya di toko yang mewah, sebab itulah bajunya mahal sekali. Tetapi selalunya terdapat bercak kotor hampir di bagian depannya, atau tanpa sebuah kancing karena kehilangan entah di mana.

Kelalaian merupakan sebagian dari pesonanya. Dia digilai lelaki  yang menyukainya. Mereka itu seperti kehilangan akalnya, menjadi tak terkawal dan rela  membuat apa saja yang dikehendaki Anestezi. Termasuk perniagaannya: Nastya membeli penulis-penulis Rusia hampir dengan percuma dan mereka itu pula suka cita dengan cara itu.

Pesawat terbang bergerak. Aku melihat bagaimana seorang penumpang di depan membuat tanda salib pada diri sendiri dan sesudah itu mengulurkan tangannya sedikit ke depan dan ke atas – membuat tanda salib untuk seluruh pesawat terbang. Aku merasa sedih entah mengapa.

Pesawat terbang selalunya perbatasan hidup dan mati. Aku heran: sekiranya semua penumpang mati sekaligus. Apakah hal itu tidak mengecewakan berbanding dengan kematian seorang diri? Atau sama saja?

-Aku mencintai suamiku, - kata Anestezi dengan tiba-tiba.

Kiranya dia juga berasa cemas.

Pesawat terbang bertolak dari landasan dan menuju ke Paris. Pada waktu itu juga di suatu tempat di Greenland, topan muncul di angkasa (kemudian diberi nama Oscar) dan juga menuju ke arah Paris. Oscar dan pesawat terbang dari arahan yang berlainan mendekati ibu kota Prancis.

-Aku sungguh-sungguh mencintainya, - Anestezi meneruskan dengan suara parau.
-Kalau begitu, mengapa kau sering meninggalkannya di rumah? – aku heran.
-Dia ada hubungan rahasia dengan sekretarisnya Polett. Tapi jangan ungkapkan hal itu kepada orang lain.
-Dari mana kau tahu?
-Mereka bekerja di kantor yang sama selama delapan jam.
-Apa anehnya? Itu kerja mereka.
-Ketika dua orang selalu bersama, mereka akan menjadi SATU. Dia pulang ke rumah hanya untuk bermalam.
-Itu dah cukup, - kata aku. – Ke mana pun dia "terbang", dia pulang ke "bandara" sendiri juga.
-Aku tidak mau jadi bandaranya. Aku hendak menjadi udara, supaya dia selalu terbang dalam aku dan tak pernah mendarat.
-Sudah berapa lama kamu berumah tangga?
-Dua puluh tahun. Dia lelaki pertama dalam kehidupanku, dan aku juga perempuan pertama dalam kehidupannya. Kiranya kini dia ingin mendapat pengalaman seks yang baru.

Kalimat terakhir  berbunyi sama seperti terjemahan harfiah dan aku mengerti bahwa Nastya merasa kecemasan dan mulai berpikir dalam bahasa Prancis.

Aku tidak menduga bahwa Anestezi memendam perasaan dalam. Aku pikir dia memandang kehidupan dengan sederhana seperti orang Prancis lain. Antara kakinya yang tinggi tersembunyilah segi tiga kecil serupa segi tiga “Bermuda” di mana semuanya hilang tanpa  jejak. Semuanya kecuali seorang saja, iaitu suaminya.

-Kau khawatir dia akan meninggalkanmu? – aku bertanya.
-Tidak. Dia terlalu mengasihi anak perempuan kami.
-Jadi dia akan tetap bersamamu.
-Tetapi pikirannya terpusat pada perempuan lain.
-Biarlah dia memikirkan mengenai siapa pun, asalkan dia tetap ada di rumah.
-Hanya orang Rusia bisa berpikir begitu.
-Tetapi kau juga orang Rusia!
-Suka menggenggam dalam tangan apa yang tidak ada. Tetapi terus menggenggamnya. Lebih baik mati dari hidup seperti ini.

Aku dididik begitu sehingga keluarga bagiku merupakan nilai yang tertinggi. Aku perlu menjaganya dengan segala pengorbanan termasuk harga diri. Krisis akhirnya akan selesai dan keluarga akan tetap ada.

Anestezi biasa dipandang oleh suaminya sebagai perempuan yang terbaik. Dan penggantian segi tiganya dengan yang lain diterimanya terlalu tragis seakan-akan dia mati, tetapi terus hidup. Dia coba membantah sikap suaminya dengan kata-kata dan tindakan tetapi ini hampir tidak ada gunanya.

-Aku sangat mencintainya, - dia mengulang lagi.

Pada saat itu pesawat terbang dan Oscar ketemu. Oscar membanting pesawat terbang dengan kuat. Pesawat terbang menggeletar seperti seekor ikan yang dilemparkan ombak ke pantai.
Lampu padam. Seseorang menjerit.
Anestezi bertindak seperti cacing kepanasan dan mulai mencari sesuatu dalam tas tangannya.

-Kau ada pen? – tanya dia.
-Untuk apa?
-Aku mau menulis surat perpisahan kepada suamiku supaya dia jangan bernikah dengan Polett.
-Itu egoistis sekali, - kataku.

Aku merasa mual. Seakan-akan jantungku mendekati anak tekak. Ini disebabkan pesawat terbang menjunam dengan cepat.

Aku hendak menanyakan Anestezi, siapa akan menyerahkan surat kepada suaminya kalau pesawat terbang hancur berantakan? Benar juga, secarik kertas tidak diapa-apakan, ianya bisa ditemui antara pecahan puspa warna dari tubuh orang dan rangka pesawat terbang.

Seorang Jepang memanjatkan doa dengan diam-diam. Aku memejamkan mata dan mulai berdoa. Sebenarnya aku tidak pandai berdoa, hanya memohon Tuhan dengan kata-kata biasa: Tuhan yang Pengasih, tolonglah aku! Tepat dengan kata-kata seperti itu anakku perempuan pernah minta tidak diantarnya ke taman kanak-kanak dan menyembah tangan seakan-akan dalam sembahyang.

Orang Jepang berdiam dengan mata tertutup. Seorang Eropa menjerit. Tetapi ternyata sia-sia saja. Pilot pesawat terbang menurunkan pesawat dengan pantas, masuk ke aliran udara lain dan terlepas dari pelukan Oscar. Dan sesudah mendarat dengan selamat, dia menyeka keringat dan minum seteguk cognac.

Dan semua penumpang – orang Jepang Eropa, Afrika, orang berkulit putih, berkulit hitam dan sawo matang– menepuk tangan dengan berterima kasih kepadanya. Dia sendiri dalam kabinnya mendengar tepukan gemuruh itu tetapi tidak mampu berdiri karena keletihan.

Oscar berputar-putar di atas udara kota, merampas atap dari rumah dan mencabut pohon dari tanah.

Pesawat terbang tidak mampu mendekati gedung bandara. Semua penumpang mulai turun tangga ke padang. Di bawah ada pasukan penyelamat berpakaian rompi berwarna oranye. Mereka menyerahkan penumpang seorang demi seorang.

Oscar coba menumpaskan penumpang itu di padang tetapi para penyelamat berdiri rapat, selang satu meter. Seorang dari mereka menghempasku seperti bola ke tangan penyelamat yang kedua, yang itu – ke tangan penyelamat yang ketiga dan seterusnya hingga sampai ke gedung bandara.

Akhirnya aku didorong masuk ke gedung. Segala bahaya tertinggal  di belakang. Aku ketawa, tetapi air mata berlinang di pipi. Pengalaman dilemparkan seperti bola ialah kurang menyenangkan.

Seorang penyelamat menghampiriku dan bertanya:

-Ibu merasa kurang sehat? Muka Ibu pucat sekali.
-Tidak. Aku okelah.  Makasih, - jawab aku.

Dan kami pergi mengambil bagasi dari ban berjalan. Anestezi mengangkat kopor pakaiannya yang besar dan beroda itu. Kami masih menunggu koporku. Tetapi ia tidak tampak sama sekali. Kami  berdiri dan terus menunggu. Ban kosong sudah berputar tiga kali, tetapi koporku tidak juga muncul-muncul.

-Tunggu sini, - kata Nastya dan dia pergi bertanyakan apa terjadi.

Dia kembali setengah jam kemudian dan memberitahu disebabkan topan komputer telah rusak dan koporku tersalah kirim ke Kanada.

-Astaga! – khawatir aku. Dalam kopor itu semua pakaianku.
-Syukurlah, hanya kopor kehilangan, - kata Nastya.
-Syukur, - ujar aku.

Kami pergi ke kantor dan mengisi beberapa formulir, memberitahu bentuk dan warna kopor yang hilang itu. Perempuan Prancis yang menolong kami menyerupai kuda dengan wajah yang panjang.

Aku tetap merasa mual. Tubuhku belum pulih dari kejutan yang amat sangat. Pikiranku coba melupakan tetapi tubuh masih ingat.
***
Diterjemahkan dari: Iz zhizni millionerov

bersambung

Komentar ke ceritanet di Facebook dan Twitter

ceritanet©listonpsiregar2000